Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 11


__ADS_3

"Kok aneh ya. Nana itu mantan asisten rumah tangga kita sayang."Nyonya Diana sedikit ragu menjelaskan tentang Nana di depan Jun. Dia teringat dengan masalah Nana dulu.


"Terus kemana di amah?"tanya Jun dengan antusias. Selama di rumah dia tidak pernah melihat ada asisten rumah tangga yang cantik itu.


"Dia sudah keluar dan nggak kerja disini."jawab Nyonya Diana sambil mengambil air putih jua lalu meminumnya. Dia merasa berat sekali harus mengungkit masalah Nana.


"Kenapa mah?"tanya Jun. Nyonya Diana langsung menatap Jun, bingung menjelaskannya.


"Dia ada urusan sama keluarganya di kampung."jawab Nyonya Diana mencari alasan yang lain dan menutupi kebenarannya.


"Kampungnya dimana mah?"


"Sudah ah. Mamah ada urusan di luar. Makan ya. Sudah mamah masakin itu."Nyonya Diana pergi agar Jun tidak menginterogasinya terus mengenai Nana. Jun merasa sedikit tahu tentang Nana.


Selama perjalanan menuju rumah Nana terus menangis. Bi Sumi tidak bisa apa-apa selain menuntun Nana jalan agar tidak terjatuh. Dalam pikiran Bi Sumi sebenarnya tersimpan banyak pertanyaan kepada Nana. Ada hubungan apa antara Nana dengan pria parubaya tadi yang sudah ditemuinya dua kali itu.


"Masak orang tadi itu ayah Mbak Nana?"tanya Bi Sumi dalam hati sambil menuntun Nana berjalan. Sedari tadi Nana hanya diam saja saat berjalan. Tatapannya kosong selama berjalan.


Di tengah perjalanan Nana dan Bi sumi dikejutkan dengan mobil yang tiba-tiba berhenti tepat disamping mereka. Nana yang berjalan sambil melamun tidak sadar kalau ada mobil sedang berhenti tepat disamping mereka.


"Mbak berhenti. Ada mobil yang berhenti itu."Bi Sumi menarik tangan Nana. Nana langsung berhenti.


Nana melihat kearah sampingnya. Terlihat ada mobil putih mengkilap disamping mereka. Karena perasaannya sekarang sedang sedih jadi dia tidak peduli dengan mobil itu. Nana berjalan lagi dengan pikiran kalut.


"Nana."teriak seseorang dari belakang. Nana dan Bi Sumi mendengar langsung berhenti.

__ADS_1


Ketika Nana menoleh kebelakang terlihat seorang laki-laki berdiri di depannya. Laki-laki itu sedang menggendong tas ransel berwarna hitam dan terlihat pula ada kacaata hitam menutupi kedua bola matanya. Nana ragu kalau yang didepannya itu orang yang memanggilnya tadi.


"Siapa dia? Apa dia tadi memanggilku?'tanya Nana sambil membatin.


"Apa mbak Nana kenal sama orang itu?"tanya Bi Sumi menunjuk orang asing yang berdiri lumayan jauh dari tempat berdiri mereka.


"Entahlah bi. Saya juga merasa asing dengan pria itu."Nana melihat dari atas sampai bawah tubuh laki-laki itu. Nampaknya dia tidak mengenali laki-laki itu.


Saat Nana berusaha mengenali laki-laki yang sedari tadi melihatnya dari kejauhan itu, tiba-tiba laki-laki itu malah mendatanginya dengan langkah khasnya. Nana mulai mengerutkan kedua alisnya karena bingung dan tidak tahu siapa laki-laki itu.


"Nana."laki-laki itu sudah tepat di depan Nana dan langsung membuka kacamatanya.


"Fa…faris."Nana tersentak ketika menyadari kalau laki-laki itu adalah Faris. Teman lamanya saat masih duduk di bangku SMP. Faris memandangi Nana yang sedang memakai daster longgar.


"Kamu kok disini?"Faris sesekali menoleh kearah Bi Sumi yang ada disamping Nana.


"Maaf kalau boleh tahu, ibu siapanya Nana?'Faris penasaran dengan wanita parubaya yang sedari tadi berdiri disamping Nana.


"Saya Bi Sumi."Bi Sumi terlihat bingung menjelaskan dirinya itu siapanya Nana.


Awalnya Nana sedih tapi setelah melihat Faris kini aura sedihnya hilang. Justru rasa cemas yang dia rasakan sekarang.


"Gimana ini. Ada Faris segala lagi."batin Nana mulai cemas kalau ditanya-tanyai oleh Faris mengenai keadaannya.


"Faris aku ada urusan. Aku pulang dulu ya."Nana menarik tangan Bi Sumi agar mengikutiya pergi meninggalkan Faris.

__ADS_1


Baru melangkahkan beberapa jangkah, Faris dengan cepat menghadang Nana. Nana tidak bisa berkutik lagi. Melihat raut muka Faris terlihat ada rasa kepenasaran akan sesuatu. Dia sudah tahu yang sedang dipikirkan Faris sekarang. Tentu mengenai keadaannya sekarang yang sedang hamil itu.


"Kamu kenapa menghindariku?"tanya Faris menatap Nana di depannya yang terlihat ingin pergi darinya. Faris tentu masih ingat kalau Nana sedang hamil. Terakhir saat bertemu dengan Nana di taman, sebelum diseret paksa laki-laki yang tidak dikenalnya, kondisi Nana sedang hamil. Hendak bertanya keadaan Nana saat itu malah keburu diseret orang.


"Beneran Ris aku ada urusan mendadak ini."tiba-tiba keseimbangan tubuh Nana terganggu. Tubuhnya serasa lemas dan ingin jatuh ke tanah.


Dengan cepat Faris menangkap tubuh Nana agar tidak jatuh. Kejadian tadi ketika bertemu dengan ayahnya masih terngiang-ngiang dalam ingatan Nana. Perasaan sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Tanpa sadar dirinya mulai banyak pikiran hingga membuatnya hampir pingsan.


"Kamu nggak papa Rin?'tanya Faris sambil memegang tubuh Nana. Bi Sumi juga ikut memegang tubuh Airni yang sudah lemas sekali itu.


"Mbak Nana nggak papa?"Bi Sumi cemas dengan keadaan Nana.


"Ayo aku antar kamu pulang."kata Faris sambil melihat kearah Nana.


"Ng…ngak usah."


"Dengan keadaanmu seperti ini pasti nggak kuat berjalan lagi. Kasihan Bi Sumi juga harus menuntun kamu sampai rumah."Nana mengangguk artinya mau menerima bantuan Faris. Memang benar sedari tadi Bi Sumi telah banyak membantunya.


Nana dan Bi Sumi masuk ke dalam mobil Faris. Nana terpaksa mau diantar pulang Faris. Sebenarnya dia tidak mau karena itu sama saja dia memberitahu keberadaannya sekarang. Tapi mau gimana lagi keadaannya sekarang tidak memungkinkannya untuk berjalan lagi sampai ke rumah. Terlebih lagi jarak rumahnya yang sangat jauh sekali. Kalau naik angkutan umum bisa tapi disisi lain dia harus menghemat pengeluarannya.


Nana duduk di kursi depan samping Faris. Sedangkan Bi Sumi duduk di kursi belakang. Selama di mobil Nana hanya diam saja sambil menyangga kepalanya dan bersandar di pintu mobil. Pikirannya terus membayangkan akan kejadian tadi saat bertemu dengan ayahnya. Nana yakin kalau laki-laki tadi itu sama dengan yang ditemuinya di pasar adalah ayah kandungnya.


"Kamu kenapa Rin?"Faris menoleh kearah Nana sambil menyetir mobil. Nana mendengar pertanyaan Faris tapi lidahnya serasa kaku dan tidak nafsu berbicara. Nana hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Mbak Nana nggak papa kok mas. Cuma kecepekan saja."Bi Sumi membantu Nana menjawab. Faris tahu kalau Nana sekarang tidak mau diajak bicara. Jadi Faris kini diam saja.

__ADS_1


"Tuh kan dia memang hamil. Meskipun tertutupi dengan daster longgar tapi perut buncitnya tidak bisa berbohong."diam-diam Faris mencuri-curi pandang kearah Nana. Yang menjadi titik fokus Faris adalah perut Nana.


Bi Sumi menunjukkan arah jalan menuju rumah mereka. Faris mengikuti petunjuk yang diberikan Bi Sumi. Sedangkan Nana masih diam saja sambil bersandaran pintu mobil. Kali ini dia benar-benar ingin sendiri dan tidak mau berbicara dengan siapapun.


__ADS_2