Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 13


__ADS_3

Nana terus memandangi Bi Sumi dari kejauhan yang sedang duduk di kursi sendirian itu. Terbesit dalam hati Nana, sedang apa terjadi pada Bi Sumi .


Setelah mengambilkan air putih, dengan cepat Nana menyuruh Bi Sumi untuk segera meminumnya. Syok dan rasa lelah Bi Sumi bercampur menjadi satu hingga membuat Bi Sumi langsung menghabiskan seisi gelas tadi.


"Apa yang terjadi sama bibi?"mata Nana terus fokus melihat Bi Sumi minum hingga habis.


"Udah bi. Sini."Bi Sumi telah meminumnya hingga habis. Nana langsung mengambil gelas dan meletakkannya di atas meja dekat kursi yang diduduki Bi Sumi.


"Tarik nafas dulu bi."Bi Sumi menuruti perintah dan permintaan Nana.


Nana membiarkan Bi Sumi mengontrol emosinya dulu. Baru setelah itu menanyakan apa yang sedang terjadi.


"I…itu mbak ta…tadi…"pembicaraan Bi Sumi masih belum stabil.


"Bibi tenang ya."mata Nana terlihat membius mata tegang Bi Sumi.


"Itu mbak tadi bibi nggak sengaja lihat mas Jun di jalan saat jualan."ucap beberapa kata saja sudah membuat jantung Nana berhenti berdetak. Tentu yang dimaksud Bi Sumi itu pasti Jun yang telah menghamilinya.


Nana langsung kehilangan dayanya. Kemudian tubuhnya dijatuhkan langsung ke kursi dekat Bi Sumi. Dadanya seperti sesak sesaat mendengar nama Jun.


"Mbak Nana nggak papa?"Bi Sumi kini giliran mengkhawatirkan keadaan Nana. Nana mengangguk.


"Ya mbak. Tapi anehnya Mas Jun nggak mengenali saya."ucap Bi Sumi langsung membuat Nana mengernyitkan dahinya karena tidak paham dengan penjelasan Bi Sumi barusan.


Bagaimana bisa, Jun tidak mengenali Bi Sumi yang telah bekerja di rumahnya sendiri. Rasa tidak percaya mulai menguasai diri Nana. Pikirannya mulai dibingungkan dengan berita yang masih belum terbukti kebenarannya itu.


"Maksudnya bi?"Nana mengangkat tubuhnya dari sandarannya ke kursi. Kemudian dia memasangkan telinganya dengan baik agar bisa mendengarkan penjelasan Bi Sumi dengan jelas.


"Tadi saya tidak sengaja pas-pasan sama Mas Jun saat jualan tadi. Karena saya yakin itu mas Jun, jadi saya panggil saja mas Jun. Kemudian dia berbalik badan, dia menatap asing kearah bibi."Bi Sumi menjelaskan kronoligisnya. Nana mendengarkan dengan seksama.


"Asing gimana bi?'tanya Nana.

__ADS_1


"Tatapannya yang seperti tidak kenal sama bibi. Ditambah lagi dia tanya, ibu siapa?. Gitu mbak."Bi Sumi menirukan ucapan Jun. Nana langsung memajukan wajahnya dan melototkan bola matanya.


"Masak bi. Apa bibi salah lihat kali."Nana berusaha berpikiran positif pada Jun. Tidak mungkin melupakan Bi Sumi begitu saja.


"Beneran mbak. Itu mas Jun. tapi kalau dilihat-lihat dia memang tidak mengenali bibi. Sudah bibi jelaskan siapa bibi tapi dia tetap bingung."


"Tadinya bibi mau bertanya lebih sama dia. Cuma dia lagi buru-buru."Bi Sumi cemberut.


"Aku nggak percaya deh bi. Aku mau buktikan sendiri. Tadi bibi ketemu sama dia dimana?'tanya Nana sambil beranjak dari kursinya.


"Di perempatan jalan raya sana mbak."Bi Sumi menunjuk kearah luar rumah.


Cukup lama Jun meninggalkannya telah membuatnya rindu pada sosok Jun. Dulu pernah ada rasa rindu di hatinya kala dia masih tinggal di Bandung tapi rasa rindunya yang sekarang begitu jauh lebih besar. Kemungkinan itu bawaaan dari anaknya.


"Mbak Nana mau kemana?"Bi Sumi bangkit dari sofa dan mencegah Nana yang hendak pergi entah kemana itu.


"Saya mau memastikan apakah dia itu memang Jun atau bukan Bi."jawab Nana dengan cepat matanya seperti menyiratkan keinginan yang menggebu-gebu untuk bertemu dengan Jun.


Tok tok


"Ya."jawab Bi Sumi melepaskan tangannya Nana dan segera menghampiri tamu yang baru datang itu.


"Mas Faris temannya Mbak Nana yang kemarin ini ya?"ucap Bi Sumi yang terdengar sedikit keras hingga membuat Nana bisa mendengarnya.


"Faris."Nana mengulangi ucapan Bi Sumi dan langsung beranjak dari kursinya hendak melihat kedepan.


Nana melihat ke depan, dia ingin meyakinkan apakah yang didengarnya tadi itu benar atau tidak. Apakah mungkin Faris yang menjadi tamunya sekarang. Dia tidak bisa membayangkan kalau Faris yang menjadi tamunya sekarang.


"Faris."Nana terkejut saat tepat di dekat pintu.


Wajar saja Faris tahu dimana dia tinggal sekarang secara kemarin Faris telah mengantarnya pulang. Tapi yang membuatnya aneh, ada apa Faris mendatanginya. Itu yang terbesit dalam benaknya.

__ADS_1


Nana dan Bi Sumi mempersilahkan tamu barunya itu masuk. Faris terlihat senang sekali saat disambut Nana.


"Bi tolong jangan ceritakan masalah Jun ke dia."Nana memberi kode kearah Bi Sumi sambil menunjuk kearah Faris yang sudah masuk duluan.


"Ya mbak."Bi Sumi mengacungkan ibu jari kearah Nana.


Faris duduk di ruang tamu. Nana menemaninya sedangkan Bi Sumi pergi ke dapur untuk membuatkan segelas teh untuk tamunya itu.


"Gimana keadaanmu Rin?"Faris membuka pembicaraan mereka. Faris sesekali menatap kearah perut buncit Nana.


"Aku baik-baik saja. Kamu?"ucap Nana yang sudah tahu kalau dirinya sekarang dilihat Faris terus apalagi perutnya.


Nana mulai panik saat Faris sudah memulai pembicaraannya. Kalau saja dia tahu Faris akan mendatanginya, tentu dia akan kabur sebelum didatangi. Sayangnya Faris telah menciduknya terlebih dahulu. Mau tidak mau Nana harus menghadapi Faris termasuk segala pertanyaan yang akan dilontarkan Faris kepadanya nanti.


"Ini mas diminum."Bi Sumi membuatkan teh manis untuk Faris dan Nana.


"Makasih bi."Faris begitu sopan sekali kepada Bi Sumi.


"Kalau begitu saya kebelakang dulu."


Nana dan Faris mulai mengobrol hangat. Tapi tidak untuk perasaan Nana, justru dia malah merasa cemas sekaligus khawatir. Sebenarnya Faris ingin langsung bertanya mengenai kehamilan Nana yang belum selesai saat di taman. Tapi melihat ekspresi Nana yang sudah terlihat tidak nyaman membuat Faris untuk mengulur-ulurnya.


"Seharusnya aku tadi pagi kesininya. Cuma tadi ada kuliah. Jadi aku kuliah dulu."kata Faris melihat Nana yang terlihat panik sedari tadi. Mungkin takut ketika ditanyai keadaannya sekarang.


"Kamu kuliah Ris?"tanya Nana.


"Ya."jawab Faris sambil mengangguk.


"Hmmm. Terus kamu ngapain kesini? Apa kamu nggak capek?"Nana melihat kearah Faris yang tidak nampak kelelahan meskipun selesai kuliah.


"Nggak. Lagian tadi cuma presentasi saja."

__ADS_1


Melihat ekspresi dan tingkah Nana, Faris menduga kalau Nana sekarang berada dalam keadaan tidak baik. Pasti ada hubungannya dengan laki-laki yang dulu pernah menyeret Nana.


"Oh ya Rin. Laki-laki kemarin kemana?"Faris ingin menuntaskan rasa penasarannya. Dia tidak ahli dalam bersandiwara.


__ADS_2