Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 8


__ADS_3

“Bi kita mau masak apa?”tanya Nana sambil memotong kangkung dan duduk di kursi.


“Masak sayur kangkung, soup dan martabak telur mini ya mbak. Sementara buat itu dulu.”Bi Sumi sedang menghidupkan kompor.


“Ok bi, siap.”Nana setuju.


Nana kasihan melihat Bi Sumi harus memasak segitu banyaknya sendiri. Tapi mau gimana lagi, Bi Sumi telah melarangnya untuk membantu banyak. Jadinya setelah Nana memotong-motong sayur, dia langsung duduk manis dan istirahat di kursi meja makan. Nana memandangi Bi Sumi yang begitu telaten dan sabarnya memasak.


Tidak terasa semua makanan telah siap untuk dijual. Nana dan Bi Sumi siap-siap menata makananya di atas nampan besar berwarna hijau. Nana berjualan dengan mengenakan daster kedodoran milik Bi Sumi. Meskipun dasternya longgar untuknya tetap saja perut buncitnya masih terlihat. Tapi kalau dari kejauhan Nana tidak nampak hamil karena badannya terlihat kurus hanya bagian perutnya saja yang besar.


"Mbak kita jualan dimana ini?"tanya Bi Sumi setelah berjalan cukup lama menjauhi rumah. Ditambah lagi keadaan Nana yang sedang hamil besar tidak memungkinkan untuk berjalan terus menerus.


"Gimana kalau kita jualan di trotoar itu bi?"Nana menunjuk kearah trotoar di depan café pinggir jalan.


"Disitu mbak? Gitu juga bagus mbak."Bi Sumi melihat tempat yang ditunjuk Nana.


Akhirnya mereka berdua duduk di pinggir trotoar sambil menjajakan makanan mereka. Terlihat beberapa orang lewat di depan mereka.


"Ibu silahkan dibeli sayur mayurnya. Ada martabak telur juga bu."Nana berteriak-teriak dengan pelan untuk menawarkan jajanannya ke beberapa orang yang lewat di depannya. Bi Sumi melihat ketangguhan Nana ketika berjualan membuatnya salut.


"Mbak Nana memang orangnya baik sekali. Rugi kalau Mas Jun melupakannya begitu saja. Apalagi sudah ada anak."batin Bi Sumi memandangi Nana yang dengan semangatnya menawarkan jajanannya meskipun dalam keadaan hamil besar.


"Apa aja yang dijual mbak?"seorang ibu yang lewat merasa kasihan ketika melihat ada dua orang sedang berjualan di pinggir jalan. Barang dagangannya masih banyak.


"Ada sayur kangkung, soup sama martabak telur bu."jawab Bi Sumi sambil membuka nampan yang tertutupi dengan kain kacu.


"Kebetulan saya hari ini nggak masak. Ya sudah semua sayurnya saya borong bu."ibu tadi melihat-lihat sayurnya. Kalau dilihat-lihat sayurnya enak jadinya langsung diborong.


Nana dan Bi Sumi langsung ternganga. Baru saja jualan disitu tapi sudah ada orang yang beli dengan begitu banyaknya. Nana merasa lega sekaligus senang sekali.


"Semuanya bu?"Nana memastikan lagi.

__ADS_1


"Ya mbak. Berapa semuanya?"tanya ibu-ibu tadi sambil mengeluarkan dompet kecilnya.


"Semuanya berapa bi?"Nana tidak tahu berapa harganya jadi tanya sama Bi Sumi karena dia yang lebih tahu.


"Sayur kangkungnya 30 ribu, sayur soupnya 30 ribu. Jadi totalnya 60 ribu."Bi Sumi menjelaskan harga semua sayurnya.


"Eh ini mbaknya sedang hamil ya?"ibu pembeli tadi melirik kearah Nana yang terlihat kedodoran sekali dasternya.


"Ya bu."Bi Sumi cepat-cepat menjawab. Nana diam saja.


"Bi Sumi cepat-cepat membungkus semua sayur yang dibeli ibu tadi biar segera pergi dan tidak tanya-tanya mengenai Nana.


"Kok suaminya nggak melarang mbak jualan sih. Seharusnya kan di rumah saja."ibu pembeli tadi menatap Nana yang terlihat kasihan itu.


"Ini bu sayurnya. Makasih ya bu."Bi Sumi menyerahkan sayurnya dan mengambil uang dari pembeli itu.


"Oh ya sudah. Semoga cepat laris ya."ibu pembeli tadi mendoakan agar semua dagangan Nana cepat laris.


"Makasih ya bi."Nana menoleh kearah Bi Sumi yang tersenyum kearahnya.


"Mbak Nana nggak usah khawatir. Ada bibi disini."jawab Bi Sumi sambil melempar senyum kearah Airni.


"Bi bi itu ada apa ya?"Nana melihat ada kerumunan di seberang jalan. Terdengar ada suara teriakan kesakitan darisana.


Saat Nana dan Bi Sumi sedang asyik berjualan, tiba-tiba Nana mendengar teriakan orang yang sedang kesakitan. Saat dilihat, ternyata sudah ada benyak kerumunan disana. Nana ingin tahu siapa yang sedang berkurumun disana dan apa yang terjadi.


"Ada apa itu ya bi?"tanya Nana sambil memfokuskan matanya kearah kerumunan itu. Disela-sela kerumunan itu nampak ada seorang laki-laki yang jongkok.


"Nggak tahu juga bibi mbak."jawab Bi Sumi melihat kearah kerumunan yang ditunjuk Nana.


Nana tidak tahu kalau kerumunan diseberang jalan itu sedang mengerumuni Jun, laki-laki yang sangat dikenal oleh Nana. Jun yang selama ini hilang tanpa memberinya kabar, hingga membuat keadaan Nana dan Bi Sumi seperti sekarang harus berjualan di pinggir jalan.

__ADS_1


Saat Nana dan Bi Sumi sedang malayani pembeli, Jun yang berada di tengah kerumunan tadi hendak dibawa ke rumah sakit. Banyak pengunjung café yang membantunya.


Tahu-tahu saat Nana hendak menengok kearah kerumanan tadi malah sudah bubar. Nana penasaran, sebenarnya tadi itu ada apa dan siapa yang sedang menjadi perhatian banyak orang itu.


Mungkin saat ini semesta belum mengizinkan Nana dan Jun bertemu. Hanya waktulah yang bisa menjawab kapan mereka akan bertemu.


"Mbak tinggal ini saja."kata Bi Sumi sambil menengok tersisa martabak saja di nampan mereka. Nana masih melihat kearah bekas kerumunan tadi.


"Mbak apa kita pulang saja?"tanya Bi Sumi menengok kearah Nana yang ada disampingnya. Ternyata mata Nana masih fokus melihat kearah kerumunan tadi.


"Orang-orang tadi sudah bubar mbak."kata Bi Sumi menyadarkan Nana yang masih melamun .


"Ya bi."Nana langsung memalingkan pandangannya.


"Mbak Nana penasaran ya tadi ada apa ?"tanya Bi Sumi menatap Nana.


"Ya bi. Soalnya aku tadi sempat dengar ada yang berteriak kesakitan gitu darisana."jawab Nana sambil mengingat kejadian tadi yang telah dilihatnya. Padahal yang berteriak tadi adalah Jun. Mungkin kalau Nana tahu pasti ceritanya akan berbeda. Entah dia akan panik atau diam saja.


Melihat barang dagangannya tinggal hanya martabak saja, akhirnya mereka berdua sepakat untuk pulang. Penghasilan hari ini cukuplah untuk mereka.


Selama perjalanan pulang, Nana merasa aneh sendiri kenapa dia terus memikirkan kerumunan tadi. Padahal dirinya tidak ada hubungannya dengan kaejadian itu. Sampai-sampai Nana tidak sadar hendak menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Aduh."Nana melamun dan akhirnya menabrak seorang laki-laki di depannya. Badan Nana sempat terpental kebelakang.


"Kalau jalan lihat lihat dong."kata seorang laki-laki yang suaranya bulat dan besar itu.


"Mbak Nana nggak papa kan?"tanya Bi Sumi memastikan keadaan Nana yang tangannya sedang memegang perutnya.


"Nggak pa…"Nana tidak melanjutkan ucapannya karena dia terkejut melihat dengan apa yang ada di depannya sekarang.


"Ayah."Nana melihat orang yang telah ditabraknya tadi adalah ayahnya. Nana beradu pandang dengan laki-laki yang dianggapnya ayah itu dengan jarak yang sangat dekat sekali.

__ADS_1


"Kamu lagi."laki-laki parubaya yang ada di depan Nana kesal bertemu dengan Nana lagi.


__ADS_2