Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 3


__ADS_3

Nana tidak peduli dengan tatapan dan anggapan Bi Sumi terhadapnya. Sudah ada banyak makanan telah tersaji di atas meja makan tapi tidak dimakan sedikitpun malahan hanya minum segelas susu saja.


Tanpa Nana sadari, Bi Sumi akhir-akhir ini sangat mengkhawtirkan keadaan Nana. sejak Jun tidak berkunjung ke rumah itu, nafsu makan Nana turun drastis. Kalau tidak diingatkan untuk makan, tulus dia tidak akan makan. Padahal ibu hamil sangat membutuhkan asupan makanan bergizi.


"Ibu hamil itu sangat membutuhkan asupan nutrisi untuk janinnya. Kalau mbak Nana nggak makan kasihan anak mbak."kata Bi Sumi sambil mengambilkan sepiring nasi dan lauk pauk yang dibutuhkan ibu hamil. Dia tidak ingin Nana sampai jatu sakit.


Nana langsung menepuk dahinya dengan keras. Kerinduannya pada Jun malah membuatnya menjadi egois dan tidak memperdulikan kesehatan anaknya. Tapi dia tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja dia kebawa suasana hatinya yang sedang kalut hingga membuatnya lupa diri menjaga kesehatannya.


"Bibi tahu kalau mbak Nana sedang memikirkan mas Jun. Ya kan?"Bi Sumi duduk disamping Nana.


"Saya tahu, apalagi mbak Nana sekarang tengah hamil pasti sangat membutuhkan mas Jun untuk mendampingi Mbak Nana. Meskipun hanya melihatnya saja sudah merasa senang."Bi Sumi mengelus pundak Nana yang sedari tadi tidak menjawab pertanyaannya.


Nana tidak membantah pernyataan Bi Sumi bahwa dirinya tengah merindukan Jun karena itu memang benar adanya. Dia memang masih malu untuk mengakuinya di depan orang. Jadi kini dia hanya diam saja. Meskipun hatinya kini benar-benar merindukan sosok Jun.


Tidak terasa angin malam sudah masuk kedalam sela-sela rumah. Bi Sumi segera menutup semua pintu rumahnya. Masih terlihat ada beberapa bodyguard di depan. Tapi Bi Sumi tidak mau mengusiknya karena itu urusan majikannya.


Beda lagi dengan Jun. Setelah pulang dari rumah sakit,Jun kini dirawat di rumah orangtuanya. Sembari menunggu ingatannya Jun kembali untuk sementara waktu ayahnya mengambil alih pekerjaan Jun.


Selama amnesia itu, keluarganya dan Alena setia mendampingi dan merawatnya. Alena tidak pernah absen merawat Jun. Meskipun kadang dia juga kewalahan mengurusi kerjaan kantornya. Meskipun Jun sering menolak dan tidak mau berdekatan dengan Alena tapi Alena tidak pernah punya niatan sedikitpun untuk mundur.


"Kamu kenapa kok begitu sih?"Alena ingin menyuapi Jun yang sedang duduk manis di atas kasur empuknya.

__ADS_1


"Aku bisa makan sendiri. Lagian kamu itu siapa aku?"Jun menatap Alena dengan pandangan yang benar-benar asing sekali.


"Aku harus tahan emosiku."Alena ingat dengan pesan mamahnya untuk sementara waktu tidak membahas pernikahan mereka didepan Jun. Demi kesembuhan dan kebaikan Jun. Kalau membahas itu bisa saja Jun akan mengalami kesakitan pada kepalanya.


"Kamu itu siapa aku. Hah?"Jun terlihat mulai ngegas.Semenjak Jun dinyatakan amnesia itu, sikap Jun berubah drastis.


"Ok. Kamu harus tahu kalau kita sudah tunangan. Ini buktinya. Kamu sudah ngasih aku cincin ini."Alena tidak tahan lagi. Kemudian dia menunjukkan jari manisnya yang dulunya pernah dipasangkan cincin langsung oleh Jun.


Ini kedua kalinya dia melihat cincin itu. Tapi tetap saja dia tidak ingat sebenarnya apa hubungan antara dirinya dengan cincin itu. Menurutnya Alena tetap orang asing yang hanya mengganggu hidupnya sekarang.


"Sudah aku tidak mau berdebat sama kamu. Aku ingin sendiri. Sana urus saja urusanmu sendiri."Jun mulai tidak betah berlama-lama dengan Alena. Semakin lama dia bersama Alena malah membuat dirinya tersulut emosi.


"Sayang jangan gitu. Sejak kamu sakit, dia terus merawat dan mendampingimu."nyonya Diana datang ke kamar Jun dan tidak sengaja melihat anaknya sedang berdebat dengan Alena. Kedatangan mamahnya itu membuat suasana tegang mulai mencair.


"Maaf ya tante."Alena keblablasan dan membuat Jun marah. Nyonya Diana melihatnya. Alena merasa bersalah.


Nyonya Diana ingin menjadi penengah dan melerai pertengkaran antara anaknya dan Alena. Jujur dalam hati Nyonya Diana merasa kasihan pada Alena. Setiap hari Alena selalu meluangkan waktunya untuk menjaga dan melayani Jun. Tapi Jun malah masih cuek dan tidak kenal padanya.


Tidak terasa sudah hampir satu bulan lebih Jun pergi tanpa memberi kabar. Tidak pernah mengunjungi Nana lagi. Menurut Bi Sumi seenggak-enggaknya Jun akan pulang ke rumah seminggu sekali. Kalaupun sedang sibuk dan tidak punya waktu datang ke rumah pasti Jun akan memberikan kabar lewat chat. Nah ini malah enggak sama sekali. Nana mendengar pengakuan Bi Sumi itu malah berpikiran yang tidak-tidak pada Jun.


Tepat sebulan lebih Jun menghilang, beberapa bodygurd Jun memilih untuk keluar dan tidak melanjutkan pekerjaannya. Sebelum keluar, mereka menuntuk hak mereka untuk mendapatkan gaji. Mereka bekerja untuk menjaga Nana juga membutuhkan uang. Tidak adanya Jun jelas tidak ada orang yang mampu membayar gaji mereka. Nana sempat dimintai gaji oleh beberapa bodyguard itu.

__ADS_1


"Gimana ini mbak, Mas Jun sudah tidak kesini lagi. Dan uang yang dikasihkan Mas anji bulan kemarin sudah mulai menipis. Gimana kita menggaji mereka?"Bi Sumi mengobrol dengan Nana di ruang tengah. Sedangkan beberapa bodyguard sudah menunggu diluar sambil menuntut gaji.


"Aduh gimana ya bi. Aku juga bingung. Aku sih punya tabungan tapi ya nggak terlalu banyak. Kalau untuk menggaji mereka jelas tidak cukup."Nana murung.


"Apalagi uang belanja saya mbak juga tidak terlalu banyak."Bi Sumi ikut murung juga.


"Aku takut mbak sama mereka."Bi Sumi melihat kearah pintu depan yang disana sudah berdiri empat bodyguard Jun untuk menagih gaji selama satu bulan.


Nana tidak mungkin membiarkan Bi Sumi sendirian dalam menyelesaikan masalah ini. Akhirnya Airni harus berani mengambil keputusan sendiri.


"Mbak Nana mau kemana?"Bi Sumi melihat Nana berdiri dan berjalan menghmpiri bodyguard yang ada di luar.


Nana berhadapan langsung dengan empat orang bodyguard yang sudah menunggunya diluar. Bi Sumi terlihat mengikuti dari belakang. Dalam hati Nana takut saat berhadapan dengan orang-orang yang tampangnya seperti preman itu.


"Saya bisa memberi gaji kalian semua. Tapi ya nggak banyak. "kata Nana sedikit takut dengan bodyguard yang badannya kekar dan tampangnya seperti preman itu.


"Berapa itu?"celetuk salah satu bodyguard dengan nada bulat dan besar. Mendengarnya sampai membuat Nana merinding.


"Ini yang aku punya. Kalian tahu kan aku tidak bekerja dan aku hanya jadi tawanan disini."Nana memberikan tabungannya yang masih tersimpan rapi di dalam amplop warna cokelat.


Semua bodyguard itu dengan cepat-cepat membuka amplop yang berisi uang itu. Setelah dilihat, mereka saling adu pandang.

__ADS_1


__ADS_2