Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 7


__ADS_3

"Sudah bro. Kalau boleh tahu, cewek tadi yang lho liat itu ciri-cirinya seperti apa?"tanya Reihan mengalihkan perdebatan antara Jun dan Alena.


"Dia itu manis, cantik. Rambutnya lurus dan tadi dia pakai daster kedodoran gitu. kayaknya dia tengah hamil gitu."kata Jun smbil mengingat-ingat cewek terakhir kali yang dia lihat tadi.


"Hamil?"batin Alena sambil menebak-nebak. Dalam hati Alena tidak yakin kalau yang dilihat Jun itu adalah Nana. Tapi mendengar kata hamil dia masih ingat dengan Nana yang sedang hamil.


"Siapa emangnya cewek itu ya bro. Kok sampai buat lho kesakitan gitu. Apa lho sudah ingat sama cewek itu? Siapa gitu namanya?"tanya Reihan sambil menatap Jun yang juga mengingatnya.


"Bukankah kemarin kita pernah lihat Nana. Sepertinya saat itu dia sedang hamil."ucap Alena membantu Jun mengingat saat mereka berdua bertemu dengan Nana.


Mendengar nama Nana, Jun merasa aneh. Sepertinya dia tidak asing dengan nama itu. Dia berusaha mengenali nama itu. Tiba-tiba matanya buram dan penglihatannya menjadi gelap. Kepalanya mulai terasa sakit.


"Lho kenapa bro.Udah jangan dipikir lagi."Reihan melihat tangan Jun memegangi kepalanya sendiri.


"Aduh."Jun merasa sakit lagi di kepalanya.


"Sayang kamu kenapa?"Alena memegangi tangan Jun.


Jun merasa rishi mendengar panggilan kata sayang dari mulut Alena. Padahal sebelum amnesia, Alena selalu memanggilnya dengan panggilan sayang. Tangan Jun langsung menjauhkan tangan Alena dari tangannya.


Perlakuan Jun tadi itulah yang membuat Alena tega menusuk Jun dari belakang. Seperti tadi, saat dia sedang jalan-jalan dengan Doni di café. Itu karena dia merasa kesepian. Yang biasanya dia selalu pergi ditemani Jun tapi saat Jun amnesia malah tidak mau mengantarnya lagi. Terpaksa Alena mencari teman untuk diajaknya jalan-jalan yaitu Doni, mantan pacar semasa kuliahnya dulu.


"Sayang kamu kenapa?"tiba-tiba Nyonya Diana datang ke kamar Jun. Tas warna hitam yang tadi diselempangkan di tangannya diletakkan di atas meja.


Jun dirawat di kamar VVIP. Jadi satu kamar ditempati satu orang.


"Sayang kamu nggak papa kan?"tanya Nyonya Diana menghampiri Jun yang sedang terbaring di kasur rumah sakit. Tangan Nyonya Diana mengelus-elus kepala Jun. Jun mulai merasa sedikit membaik rasa sakit di kepalanya.


"Nggak papa mah."jawab Jun dengan mengangguk.

__ADS_1


Meskipun dia belum mengingat mamahnya, tapi dia mampu merasakan kalau Nyonya Diana adalah ibu yang telah melahirkannya.


Nyonya Diana terlihat lega sekali ketika melihat anaknya baik-baik saja di rumah sakit. Dia tidak membayangkan pertama kalinya saat dikabari Alena kalau Jun masuk ke dalam rumah sakit lagi. Dia membayangkan yang tidak-tidak pada Jun.


"Sayang mamah khawatir sekali sama kamu."Nyonya Diana mencium dahi anaknya.


"Nggak papa kok tante. Kata dokter tadi, ingatan Jun mulai kembali sedikit demi sedikit. Dan dia syok saat berusaha mengingat sesuatu tadi."jelas Reihan sambil meliat kearah Nyonya Diana di depannya.


"Ya kah Han. Memang apa yang sedang kamu ingat nak?"Nyonya Diana mengalihkan pandangannya dari Reihan kearah Jun lagi.


"Nggak tahu mah. Aku nggak tahu siapa dia. Tapirasa-rasanya aku tidak asing dengannya. Seingat aku dia itu cantik manis dan sedang hamil kayaknya."Jun menjelaskan ke mamahnya lagi.


"Hamil. Bukankah Nana tengah hamil."tiba-tiba Nyonya Diana kepikiran dengan Nana.


Mendengar pengakuan Jun, Nyonya Diana tiba-tiba teringat dengan Nana. Sudah lama tidak berjumpa lagi dengan Nana. Setelah sebelumnya Nana keluar dari rumahnya.


"Eh nggak papa kok."mamahnya langsung berusaha menutup-nutupi kisah tentang Nana dulu.


"Apa yang kamu lihat itu tadi Nana?"tanya Alena sekali lagi di depan semua orang.


"Nana."tanya Nyonya Diana.


"Kenapa dengan Nana?"nyonya Diana penasaran kenapa Alena bisa membahas Nana.


"Ya tante. Dulu sebelum Jun amnesia, kita pernah bertemu dengan Nana. Saat itu Nana tengah hamil deh kayaknya."Alena menjelaskan dengan yakin di depan Nyonya Diana.


"Nana bukankah sudah keluar dari rumah Jun cukup lama."kata Reihan. Reihan teringat kembali dengan perasaannya dulu yang pernah menaruh hati pada asisten rumah Jun yang bernama Nana.


"Tapi aku juga bingung masak Nana hamil. Secara dia kan masih terlalu kecil."Alena menatap semua orang satu persatu yang ada di depannya. Termasuk Jun yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Nana. Seperetinya aku tidak asing dengan nama itu."Jun menganguk-angguk pelan.


"Aduh gimana ini. Alena sudah tahu lagi masalah Nana. Pasti kandungannya sejarang sudah besar."batin Nyonya Diana cemas. Dia teringat dengan pesan Nana untuk tidak menyebarkan berita kalau Nana tengah hamil ke orang lain. Padahal dia sendiri tidak tahu kalau laki-laki yang telah menghamili Nana adalah Jun, anaknya sendiri.


"Sudah sudah. Yang penting sekarang kesehatan Jun. Yang penting dia baik-baik saja kan."Nyonya Diana mengalihkan topik pembicaraan agar tidak membahas Nana terus. Dia masih teringat dengan janjinya dengan Nana untuk tidak membocorkan masalah Nana. Meskipun dalam hatinya dia penasaran juga bagaimana kondisi Nana sekarang.


"Yang dimaksud Alena itu Nana yang pernah kerja di rumahnya Jun. Masak ya hamil? Bukankah dia masih kecil, baru lulus SMA. Nggak mungkin deh kalau hamil. Pasti dia salah lihat itu."Reihan bergumam dalam hati sambil tidak percaya dengan apa yang barusan dibilang Alena. Ingin rasanya dia meminta penjelasan lagi kepada Alena tapi melihat Nyonya Diana yang tidak mau membahas Nana di depan Jun membuatnya harus berbesar hati untuk mengurungkan niatnya itu.


Reihan mendekati Alena untuk menuntaskan rasa ingin tahunya dan ketidak percayaannya pada ucapan Alena barusan. Diam-diam Reihan berjalan kearah Alena.


"Yang kamu maksud itu Nana yyang dulu kerja di rumah Jun?"Reihan berdiri disamping Alena dan membisikkan sesuatu ke telinga Alena.


"Ya."jawab Alena dengan cepat dan pelan.


"Kamu yakin itu?"tanya Reihan sekali lagi. Jujur Reihan masih tidak percaya. DIa menganggap kalau Nana masih lugu dan polos. Mana mungkin sekarang wanita itu hamil. Kalaupun hamil terus sama siapa.


"Hmmm."Alene mangangguk.


"Tapi aku nggak percaya. Masak sih Nana sudah hamil. Aku harus mencari tahu sendiri deh kayaknya. Kalau tanya sama Jun pasti dia nggak tahu. Dia kan amnesia."gerutu Reihan sambil memandangi Jun.


Setelah berbelanja, Nana dan Bi Sumi langsung bahu membahu memasak bersama di dapur. Nana hanya bisa membantu sedikit saja karena nggak bisa kebanyakan gerak.


"Bi kita mau masak apa?"tanya Nana sambil memotong kangkung dan duduk di kursi.


"Masak sayur kangkung, soup dan martabak telur mini ya mbak. Sementara buat itu dulu."Bi Sumi sedang menghidupkan kompor.


"Ok bi, siap."Nana setuju.


Nana kasihan melihat Bi Sumi harus memasak segitu banyaknya sendiri. Tapi mau gimana lagi, Bi Sumi telah melarangnya untuk membantu banyak. Jadinya setelah Nana memotong-motong sayur, dia langsung duduk manis dan istirahat di kursi meja makan.

__ADS_1


__ADS_2