
"Laki-laki kemarin yang mana?"Nana pura-pura tidak tahu. Sebenarnya dia tahu, yang dimaksud Faris itu tidak lain adalah Jun.
"Yang di taman kemarin."Faris mengingatkannya lagi.
Nana sudah tahu kalau Faris sekarang sangat kepo dengan keadaannya. Apalagi dulu Faris pernah menyukainya dan entah sekarang apakah tetap menyukainya atau tidak.
Membicarakan Jun sama saja membuka cerita lamanya yang begitu menyakitkannya tapi pada akhirnya malah meninggalkan kerinduan pada laki-laki yang bernama Jun. Sudah sebulan lebih ini Jun meninggalkannya tanpa kabar. Tapi sekarang dia sudah sedikit lega setelah mendapat berita pertemuan antara Bi Sumi dengan Jun.
"Memang ada apa sama dia?"Nana masih berusaha bersandiwara dan menutupi identitas Jun dari Faris.
"Apa memang kalau laki-laki yang ditaman itu adalah ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu Rin?"Faris mendekatkan tempat duduknya pada kursi Nana.
"Memangnya kenapa Ris. Jangan bahas itu ya. Kita bahas yang lain saja."Nana mengalihkan pandangannya dan menunduk.
Menunduk adalah cara jitunya untuk menyembunyikan matanya yang sudah pasti berkaca-kaca. Dia sudah hafal dengan kebiasaannya yang mudah menangis apabila disuruh membahas masalah yang tengah dihadapinya.
"Arin aku hanya ingin membantumu. Kamu sudah kenal aku, begitupulasebaliknya. Aku tahu kalau kamu sekarang ada masalah. Sikapmu seperti ini membuat ku yakin kalau kamu memang sedang mengalami kesulitan."Faris mendekatkan mulutnya kearah telinga Nana.
Arin kembali flashback ketika dia masih duduk di bangku SMP dulu. Faris sudah dianggapnya seperti sahabat sendiri. Meskipun dia dulu sudah pernah menolak cinta Faris dengan beralasan ingin fokus sekolah. Tapi hubungan pertemanan mereka malah berujung pada kata persahabatan.
Di sekolah, Faris selalu siap sedia membantunya tanpa dimintapun. Bahkan dulu ketika Nana mengalami kesulitan membayar SPP sekolah, Faris dengan baiknya mau membayarnya secara cuma-cuma dengan uang tabungannya sendiri.
"Ya kan Rin, laki-laki yang dulu itu adalah orang yang telah…"Nana langung menatap Jun dengan tatapan melotot dan berlinangan air mata. Faris tidak melanjutkan pembicaraannya lagi.
__ADS_1
"Ya. Puas. Sudah terbayarkan semua rasa penasaranmu itu."Nana langsung mengatupkan kedua tangannya di depan matanya. Dia berusaha menutupi tangisannya dari hadapan Faris.
Faris tidak bermaksud membuat Nana sedih seperti itu. Kedatangannya hari ini ingin bertemu dengan Nana sekalian ingin mengobrol dengan Nana. Tapi setelah bertemu malah membuatnya ingin tahu masalah Nana kemarin yang pernah tertunda ketika di taman.
Tanpa diketahui mereka berdua, ada sepasang bola mata yang sedang mengintip dan menguping pembicaraan mereka berdua dari dapur. Dialah Bi Sumi. Dari jauh, Bi Sumi terlihat sedih juga ketika melihat Nana.
"Arin maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."Faris merasa bersalah. Tangannya hendak memeluk Nana tapi dia sadar Nana sudah dimiliki laki-laki lain.
"Ya nggak papa."Nana menyeka air matanya dari hadapan Faris.
"Kalau kamu belum mau cerita ya nggak papa. Aku nggak memaksa. Aku hanya ingin tahu masalahmu saja siapa tahu aku bisa bantu ngasih solusi."Faris mengelus-elus punggung Nana dengan pelan.
"Terus dimana laki-laki itu?"tanya Faris sambil melihat-lihat ke sekelilingnya yang sudah membuat Nana sampai hamil.
"Dia sedang pergi."
"Apa dia bertanggung jawab sama anak yang kamu kandung?"Faris menatap Nana yang tidak murung lagi.
"Hmmm."Nana mengangguk saja.
"Terus orangtuanya sudah tahu kalau kamu sekarang tengah mengandung anaknya?"
"Belum. Nanti kalau sudah waktunya pasti akan diberitahu. Ini belum waktu yang pas. Aku mohon jangan membahas itu dulu ya."Nana memalingkan wajhnya dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.
__ADS_1
Meskipun sekarang Jun tidak berada disampingnya. Tapi beberapa waktu kemarin yang telah dilewatinya bersama Jun, menunjukkan kalau Jun berusaha memberinya perhatian dan bertanggung jawab sama anak yang dikandungnya. Dan itu telah membuat hati Nana sedikit luluh kepada Jun.
Mendengar pernyataan Nana barusan, Faris merasa sedikit lega karena laki-laki yang telah menghamili Nana itu sudah bertanggung jawab. Meskipun begitu dia juga masih sedikit tidak percaya kalau laki-laki kemarin benar-benar bertanggung jawab pada Nana. Secara kemarin saat ditemui di taman, nampak ada perlakuan kasar dari laki-laki itu kepada Nana meskipun Nana saat itu sedang mengandung anaknya.
Beberapa hari terkahir Nana merasa terpuruk dengan kejadian kemarin saat bertemu dengan ayahnya. Selama itu pula, Faris telah dengan sabarnya mau menemani dan menghiburnya. Itupun Nana tidak pernah meminta pada Faris. Bahkan Faris juga ikut membantu perekonomiannya juga.
Saking seringnya Faris berkunjung ke rumah, Nana pernah menegur Faris agar tidak terlalu sering datang ke rumahnya. Biargimanapun juga Faris sudah memiliki kesibukan sendiri yaitu kuliah. Dia tidak ingin menjadi mengganggu waktu belajar Faris.
"Arin kamu mau kemana?"tanya Faris melihat Nana hendak pergi dan sedang mengunci pagar rumah.
"Aku mau check up ke dokter."Nana mengelus perutnya. Hari ini Nana memakai pakaian longgar hingga menutupi perut buncitnya itu. Tubuhnya yang kecil dan mungiil itu membuatnya seperti tidak sedang hamil. Tapi kalau dari dekat, perut Nana terlihat buncit.
"Oh mau check up. Aku antar ya."Faris menawarkan bantuan ke Nana. Nana langsung melihat mobil yang sedang dipakai Faris.
Nana ingin menerima bantuan dari Faris terlebih lagi keadaannya sekarang yang tidak boleh sampai kecapekan. Kalau hendak naik angkutan umum, uangnya juga sudah menipis. Kalau harus jalan kaki dia sih masih bisa cuma perasaannya was-was saja. Jarak rumah dengan rumah sakit cukup jauh.
"Udah nggak usah sungkan-sungan gitu. Lagian hari ini aku free."kata Faris.
Faris sudah mengetahui watak Nana. Setiap ditawari bantuan pasti Nana tidak mau menerimanya. Karena tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Beneran nggak papa Ris?"Nana bukannya menjawab malah terlihat bertanya. Faris mengangguk dan langsung menarik tangan Nana untuk masuk ke mobilnya.
Nana terpaksa menerima bantuan Faris karena dipaksa. Lagian dia sendiri juga tidak menolak bantuan itu. Faris juga ikut senang Nana mau menerima tawarannya.
__ADS_1
Di dalam mobil, Nana tiba-tiba teringat dengan Jun. Sejak pertama dinyatakan hamil hingga sekarang, Jun tidak pernah mengantarnya check up ke dokter. Ini adalah check up pertamanya sambil ditemani seorang laki-laki selain Jun. Jujur dalam hatinya dia sangat menginginkan kalau Jun yang mengantarnya.
"Kamu kenapa diam saja?"Faris menyetir mobilnya sambil memakai kacamata birunya.