Semua Berawal Dari Tidak Sengaja

Semua Berawal Dari Tidak Sengaja
Bab 6


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Jun, hari ini Alena keluar jalan-jalan bersama seorang pria. Tapi tanpa sengaja malah bertemu dengan Reihan. Alena cepat-cepat berlari kearah Reihan.


"Reihan."Alena berdiri tepat disamping Reihan yang sedang menolong laki-laki yang sedang jongkok di depan Reihan.


Alena melihat kearah cowok di depan Reihan.


"Lho nggak papa kan Ji?"Reihan tidak menghiraukan keberadaan Alena yang sudah ada disampingnya sekarang. Yang dia pikirkan sekarang Jun.


"Aduh sakit."Jun mendongakkan kepalanya dan berteriak kesakitan.


"Astaga Jun."Alena terkejut melihat seorang pria yang ada di depan Reihan itu ternyata Jun. Sekarang dia merasa habis riwayatnya. Jun apakah tahu kalau dirinya tengah berjalan dengan cowok lain.


Pengunjung café mulai menghampiri Jun yang terus merasa kesakitan di kepalanya. Di seberang jalan ada Nana yang sedang melihat kearah kerumunan. Tidak sadar kalau yang ada dalam kerumunan itu adalah Jun.


"Itu kenapa ya Bi?"tanya Nana kepada Bi Sumi yang duduk disebelahnya. Mereka berdua berada tepat dipinggir jalan sedang berjualan makanan.


"Entahlah mbak. Bibi juga nggak tahu."jawab Bi Sumi sambil melihat kearah kerumunan itu. Banyak orang berkerumun di seberang jalan sana tepatnya di depan cafe.


"Mbak saya mau beli ini dong. Berapaan ini mbak?"Nana ingin mengamati lebih dekat dan fokus kearah kerumunan itu. Tiba-tiba ada orang yang datang kerah mereka dan hendak membeli makanan mereka.


Saat Nana dan Bi Sumi sedang melayani pembeli, Reihan dan Alena membawa Jun masuk kedalam mobil sambil dibantu beberapa orang pengunjung café. Jun terus berteriak menahan rasa sakit dikepalanya.


Nana merasa bahagia sekali, semua barang dagangannya tadi langsung diborong orang tadi. Begitupula dengan Bi Sumi. Padahal baru awal mereka berjualan tapi sudah laris manis. Tapi mereka tetap bersyukur dan tidak langsung berpuas diri. Itu malah jadi penyemnagat buat mereka buat besok untuk berjulan lagi.


"Syukurlah bi. Semua jajanan kita laku semua."Nana melihat semua jajanan yang telah dibuat bersama Bi Sumi tadi pagi habis dibeli orang.


"Ya mbak."Bi Sumi tersenyum bahagia kearah Nana. Begitupula dengan Nana.


Mereka berdua langsung pulang. Saat hendak beranjak dari tempatnya, Nana mencoba menoleh kearah kerumunan tadi. Tapi saat dilihat ternyata kerumunan tadi sudah tidak ada. Kemungkin sudah bubar saat dirinya sedang melayani pembeli tadi.

__ADS_1


Waktu belum mengizinkan mereka berdua untuk bertemu. Seharusnya hari ini mereka dipertemukan. Kalaupun bertemu, belum tentu Jun ingat dengannya.


Jun sedang dirawat di rumah sakit. Setelah tadi siang, Reihan dan Alena membawanya ke rumah sakit. Tidak lupa Alena memberi kabar kepada Nyonya Diana, mamah Jun. Sekarang Alena dan Reihan menunggu Jun yang sedang ditangani dokter di dalam salah satu kamar rawat.


"Apa dia tadi lihat aku juga?"Alena melihat kearah Reihan yang sedang mondar mandir di depan pintu kamar rawat Jun.


Alena merasa khawatir kalau Reihan dan Jun melihatnya sedang bergandengan dengan Doni di café. Sebelum Jun kesakitan itu.


"Kamu kenapa gelisah seperti itu?"Reihan melihat Alena yang terus melihat kearahnya tapi dengan tatapan gelisah.Alena langsung tersentak.


Dirinya terus kepikiran sama kejadian tadi saat dia tengah bergandengan tangann dengan teman laki-lakinya yang bernama Doni. Melihat Reihan yang mulai curiga dengannya membuatnya menjadi tambah takut. Jangan-jangan Reihan sudah melihatnya.


"Ng…ngak papa."Alena tergagap menjawabnya sambil menunjukan raut muka biasa-biasa saja.


Saat Reihan hendak bertanya tentang apa yang dilihatnya tadi di depan café, keburu dokter yang menangani Jun sudah keluar.


"Oh ya dok. Kita keluarganya. Kebetulan nanti orangtuanya sedang menuju kesini."jawab Alena dengan cepat. Dia lega saat melihat dokter muncul. Itu berarti Reihan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya-tanya tentang kejadian tadi.


"Gini. Untuk sementara waktu pasien di dalam harus banyak istirahat dulu. Karena dia tadi telah mengalami syok ketika mengingat sesuatu."kata dokter sambil melihat Alena dan Reihan bergiliran.


"Ingatannya sudah pulih dok?"Alena kaget. Dia senang mendengarnya. Sedangkan Reihan malah bingung. Bagaimana bisa melihat Alena tengah bergandengan dengan cowok lain malah membuat Jun pulih dari amnesia.


"Kok bisa dok?"Reihan keceplosan lalu menutup mulutnya.


Alena dan Dokter tadi menoleh kearah Reihan. Mereka bingung dengan pernyataan Reihan barusan.


"Maaf dok."kata Reihan dengan nada bersalahnya.


"Apa kita boleh masuk dok?"tanya Alena tidak peduli dengan pernyataan Reihan tadi.

__ADS_1


"Boleh. Tapi dengan syarat tidak boleh membuat kegaduhan di dalam."pesan dokter kepada Alena.


"Ya dok. Makasih."Alena langsung meninggalkan dokter dan Reihan diluar.


Setibanya di dalam, Alena sudah disambut Jun yang sedang berbaring di atas kasur dan dalam keadaan sadar. Jun melihat Alena datang langsung memasang muka kesal. Lagi-lagi dia harus berhadapan dengan wanita pemaksa dan pemarah itu. Yang selalu memaksanya untuk mengingat dengan kejadian manis ketika bersama Alena dulu.


"Lho nggak papa Ji?"tiba-tiba Reihan datang dari belakang Alena.


"Nggak papa kok bro."Jun berubah menjadi senang melihat kehadiran Reihan sahabatnya itu.


"Gue hampir jantungan lihat lho kesakitan tadi."Reihan menghela nafas karena lega melihat Jun sekarang sudah baikan.


"Wkwkw."Jun terkekeh melihat ekspresi sahabatnya yang begitu mengkhawatirkannya.


"Dia kok malah tertawa. Masak dia nggak marah melihat ku tadi saat bergandengan dengan Dino. Apa dia tadi nggak melihatku."batin Alena sambil menatap Jun yang tertawa kearah Reihan.


"Tadi sebenarnya lho kenapa sih bro?"Reihan mendekat kearah kasur Jun. Sedangkan Alena kini diam saja sambil memikirkan sesuatu.


"Tadi itu, gue lihat seorang cewek di pinggir jalan. Sepertinya aku tidak asing dengan wanita itu. Tapi dimana dan kapan aku nggak tahu. Terus aku berusaha mengingatnya dia itu siapa. Tapi malah kepalaku tiba-tiba sakit saat mengingat cewek itu."kata Jun sambil menatap langit langit kamarnya.


Reihan mendengar pengakuan Jun tadi langsung menoleh kearah Alena. Seketika Alena langsung dibuat kaget dengan tatapan Reihan.


"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?"tanya Alena dengan mata melotot.


"Jadi yang dia lihat tadi bukan Alena dengan cowok selingkuhannya itu. Tapi yang dilihatnya malah orang lain."batin Reihan sambil menatap Alena.


"Kenapa kamu ngegas sama dia?"Jun kesal saat Alena memarahi Reihan.


Jun merasa kalau kedudukan Reihan jauh lebih berarti daripada Alena. Reihan melihat sikap Jun kepada Alena malah membuatnya terkejut. Mungkinkah karena amnesia, Jun lupa segalanya dengan Alena. Bukankan dulu Jun sangat mencintai dan perhatian sama Alena. Tapi sekarang malah sikap Jun terlihat acuh pada Alena.

__ADS_1


__ADS_2