
Door
“ziaaaa” pekik dian dan langsung berlari memeluk zia dan zia pun mendekap dian dengan erat menenggelamkan wajahnya didada dian
zia memejamkan matanya kemudian suara tembakan kembali terlepas namun zia tidak merasakan sakit disekujur tubuhnya Suara tembakan menggema memenuhi ruangan.
Perlahan zia memberanikan diri membuka matanya dan menatap dian yang memeluknya dian pun tersenyum kearahnya, perlahan pandangan dian semakin melemah zia meraba punggung dian betapa terkejutnya zia saat mengetahui dian lah yang terkena tembakan dona.
“kak dian” panggil zia
“kak dian jangan seperti ini buka matamu “ ucap zia sambil mengguncang – guncang tubuh dian, tangis zia pun pecah saat dian benar-benar memejamkan mata ia menangis histeris
“kak dian bangun ayo bangun hikss hikss”
“diaannnnnn” teriak zia
Setelah itu zia melirik kearah dona yang kakinya juga terluka karena tembakan rupanya polisi telah berada disana bersama riko.
“zia kau tidak apa” riko menghampiri zia dan dian yang lemah tak berdaya
“kak riko, tolong… kak dian ia tertembak hiks hiks hiks” ucap zia sambil menangis
“tenangkan dirimu zia, ayo mari kita bawa tuan dian kerumah sakit”
Riko dan zia membawa dian kerumahsakit sedangkan polisi meringkus dona dan beberapa anak buah dona yang sempat kabur mereka akan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Di Rumah Sakit
Dian langsung dilarikan keruang ICU karena kondisinya sangat kritis dian kehilangan banyak darah
“pasien mengalami pendarahan dan membutuhkan banyak darah” ucap dokter
“ambil darah saya saja dokter” ucap zia
“maaf nona apakah anda yakin” Tanya dokter
“saya yakin dok saya mohon ambil saja darah saya”
Dokter menatap keadaan zia yang tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah.
Melihat ekspresi dokter yang menatap zia riko pun paham
“zia pasti kau kurang tidur kan dan kau juga sepertinya belum makan” ucap riko mencoba
“ia tapi kak..”
“sudahlah zia aku dan para dokter rumah sakit ini akan meneukan darah untuk dian” ucap riko menenangkan zia
“baiklah kak” ucap zia
Seluruh rumah sakit pun langsung sibuk pasalnya pasien yang sedang terbaring di ruang ICU itu adalah anak dari pemilik rumah sakit ini.
Begitu juga riko yang sibuk beberapa kali menghubungi orang orang untuk mencari pendonor darah. Setelah beberapa lama dapatlah pendonor darah.
Kedua orangtua dian baru saja sampai dan langsung menuju rumah sakit.
“tuan, nyonya” ucap riko yang langsung berdiri dan menundukan kepala
“riko bagaimana keadaan dian” Tanya papa
“bagaimana keadaanya” Tanya mama juga
“tuan dian sudah melewati masa kritisnya tuan” ucap riko
“syukurlah” ucap mereka kemudian mereka menatap gadis yang tengah duduk menangis disebelah riko
__ADS_1
Zia yang ditatap pun langsung menyalami mereka
“om tante maafkan saya hik hiks”
Mereka menatap riko meminta penjelasan
“nona ini bernama zia, tuan dian terluka karena berusaha menyelamatkan nona ini karena…” ucap riko terputus
“apa jadi karena wanita ini anak ku terluka” ucap mama memotong ucapan riko yang belum selesai sambil menangis
“maafkan saya tante ini semua salah saya hiks hiks”
Riko yang baru menyadari ucapanya malah mempersulit zia
“nona zia merupakan kekasih tuan dian nyonya, dan nona ini hampis saja dicelakai oleh nona dona anak dari tuan pram” terang riko zia langsung menatap riko tapi riko hanya biasa saja
“ini yang terbaik untuk mu zia” gumam riko dalam hati, karena riko yakin zia akan aman bersama keluarga satya apalagi dilihat dari perjuangan dian tadi mempertaruhkan nyawanya demi zia, maka riko dengan mantap mundur ia tidak lagi mengharap cinta zia.
“apa.. jadi anak si pram akan mencelakai calon mantuku, ini tidak bisa dibiarkan pa” ucap mama yang berubah drastis
“mama benar aku akan memberikan pelajaran kepada mereka akan kutarik saham ku diperusahaan pram , hmmmh main main dengan satya” ucap papa
“zia nama mu zia” ucap mama
“iya tante”
“sstttt jangan panggil tante tapi mama”
“baik tan..eh ma” ucap zia gugup
“bagus sayang, maafkan mama barusan ya” ucap mama
“i..iya ma zia juga minta maaf”
“tidak zia mama tau kamu tidak salah, kamu cantik dian memang pandai mencarikan mantu untuk mama”
“zia” panggil raka
Raka dan rama kakak zia tiba dirumah sakit
“kakak” ucap zia langsung memeluk mereka
“kau tidak papa zia” Tanya rama
“aku tidak papa kak tapi hikks hiks dian kak dia tertembak karena nyelamatin zia kak, ini semua karna zia kak” tangis zia
“sudahlah zi kamu tidak usah menyalahkan dirimu sendiri”
“iya zi kamu harus percaya kalau ini semua sudah takdir, kakak dan rekan kakak akan mengusut kasusu ini hingga tuntas kamu jangan khawatir” ucap rama
Zia hanya menganggukan kepalanya yang masih dipeluk raka, sedangkan rama menghampiri orang tua dian
“om tante saya rama” sapa rama dan mencium tangan keduanya
“kamu..zia” mama menatap seragam yang dikenakan rama, rama adalah seorang polisi
“iya tante saya kakak nya zia” ucap rama sambil tersenyum
“oo sayakira siapa nya zia” ucap mama yang hampir berprasangka buruk lagi pada zia
“begini om tante saya sudah menangkap dona dan teman yang mencelakai zia dan dian, kita tinggal menunggu keterangan dari dian sebagai saksi dan juga zia”
“baiklah nak rama saya percayakan semua sama kamu” ucap papa sambil menepuk pundak rama
“kakak papa mama sdah tau” Tanya zia yang sudah mulai tenang
__ADS_1
“belum jawab riko”
“jangan kasih tau mereka ya kak, zia gak mau mereka khawatir” riko pun tersenyu dan menganggguk begitu juga yang lainya yang juga mendengar zia
“baiklah zia sekarang ayo kita pulang” ucap riko
“tidak kak aku ingin disini, aku ingin menemani dian disini”
“tapi zia..”
“please boleh ya kak” ucap zia memasang popyeyes nya
“baiklah kalau begitu nanti akan kakak kirimkan baju untukmu” ucap rama yang menyetujui permintaan adiknya sedangkan riko menatap tajam kearah rama, rama hanya acuh
“terimakasih kak”
“iya yasudah kami pulang dulu ya” sambil mengacak-acak rambut zia
“om tante kami pamit dulu” pamit mereka
“baiklah, hati-hati dijalan” ucap papa
“ma zia bolehkan jagain dian” Tanya zia pada maa
“tentu dong sayang” jawab mama
“makasih ma”
“iya sayang” ucap mama
Zia menatap Wajah mama dan papa yang terlihat sangat letih dan menguap beberapa kali, ya benar saja mereka setelah sampai dibandara langsung menuju rumah sakit
“ma pa kenapa gak istirahat aja, pasti mama papa letih kan langsung kesini” ucap zia
“iya zia sebenarnya papa sangat letih badan dan juga fikiran karena sehabis meeting langsung dapat kabar seperti ini” jawab papa
“yaudah pzia bisa kok jagain dian” ucap zia
“kamu yakin sayang” Tanya mama
“iya zia yakin ma, nanti kalau dian sudah sadar, zia akan huungi mama”
“baiklah kalau begitu zia, papa mama titi dian ya”
“iya pa”
Mereka pun pulang tinggal zia sendiri riko pun harus pulang untuk mengurus keperluan yang tadi sempat tertunda karena menolong zia.
Zia yang duduk di kursi pinggir ranjang pun merasa sangat letih akhirnya dia menyandarkn kepalanya di perut dian”
-----
Pagi hari telah tiba dian yang telah sadar merasa nyeri di bagian punggungnya yang terluka ingin bangun tapi ia urungkan karena melihat bidadari yang tertidur di perutnya.
Ia tersenyum dan ingin membelai rambut zia tapi zia audah terbangun dian kembali pura-pura tidur
Zia merenggangkan badanya karena terasa sakit semua terlebih posisi tidur yang kurang pas. Zia menatap dian yang masih terpejam
“jaangan buka matamu dian, aku ingin memandang wajahmu lebih lama, wajah yang akhir akhir ini membuatku melamun sendiri” ucap zia sambil membelai wajah dian
Dian masih terus mendengarkan ucapan zia sebenarnya dia sangat geli ketika tangan zia menyentuh wajahnya
“kau tau aku sangat takut kehilanganmu, aku takut kamu pergi untuk selama lamanya, aku udah terbiasa sama kehadiran mu, aku udah biasa kamu gangguin, aku udah mulai nyaman sama kamu, tolong kamu cepet sembuh ya karna jujur aku juga mulai mencintaimu” ucap zia perlahan butiran air matanya menetes
“aku juga mencintaimu” jawab dian
__ADS_1
Zia terkejut..