
Seperti biasa setelah zia selesai
Kuliah dia menuju tempat dimana zia bekerja, dan sedari tadi ada sepasang mata
yang terus mengikutinya dan ia tidak sadar akan hal itu, begitu sampai ditoko
zia langsung berganti pakaian khas karyawan ditoko itu.
Dia terlihat sangat cantik dengan
dandanan yang simple dipadukan dengan jeans hitam dan rambut sebahu yang
menambah aura kecantikanya. Waktu pun berjalan kini zia sudah mahir membuat
roll cake, lava cake, dan juga zia telah berhasil membuat puluhan cup cake yang
langsung ludes diburu pelanggan, karena harga cup cake yang terkesan murah tapi
tidak murahan dan instagrammable.
Zia hendak bersiap untuk pulang
tiba-tiba ada yang menarik tanganya
“awww sakitt”
“eh sorry zia” ucap dian
“lo.. ngapain lo narik- narik gue,
dan ngapain lo disini”
“gue mau nganterin lo pulang zia”
“gue bisa pulang sendiri” jawab
zia ketus
“tapi ini udah malem gak baek lo
pulang sendirian” ucap dian tulus sambil menggenggam tangan zia
“ihh lepasin gue bisa pulang
sendiri” sambil berusaha melepaskan tangan dian
“gue peduli sama lo zia, please
mau ya” dian tetap berusaha memohon tatepi zia malah menginjak kaki dian dan
mendorong tubuhnya samoai dian terduduk di lantai. Ya dia hanya pura-pura
kesakitan karena ingin melihat kepedulian wanita dihadapanya ini, padahal bisa
saja menahan dorongan tangan zia karena tenaganya lebih kuat.
Tiba-tiba byuuurrrr dari arah
belakang ada yang mengguyur zia
“awwww”
“rasain lo zia, anak baru aja
belagu mau nyelakain tuan muda anak dari pemilik toko ini” sungut salah satu
karyawan yang bernama Mira, dia adalah karyawan yang sudah cukup lama bekerja
di toko ini dan dia juga mengagumi tuan mudanya.
“apa ” terkejut zia
“iya dia adalah pewaris tunggal
yang hampir kamu celakai, kamu tahu itu” sambil menekan kepala zia dengan
telunjuknya
“cukup mira” bentak dian
“kenapa tuan, dia sudah mencoba
mencelakai tuan” ucap mira bingung
“kami hanya bermcanda mira”
“bercanda bagaimana tuan,
jelas-jelas tadi saya melihatnya”
__ADS_1
“hahahaha” tawa dia menggelegar
sampai diseluruh ruangan yang membuat mira jadi merinding
“asal kamu tau mira yang kau
siram ini adalah calon nona mudamu, dia kekasihku calon istriku” ucap dian
bangga sambil menarik zia kedalam pelukanya
“tuan pasti bercanda kan,
bagaimana bisa wanita rendahan dan murahan seperti dia jadi kekasih anda, pasti
dia sudah menggunakan guna-guna atau merayu tuan agar bisa mendapatkan harta
tuan, tuan harus hati-hati”cerca mira
“sudah hentikan mira sudah.. kamu
tidak tahu apa-apa tentang dia, dan juga jika kamu masih ingin tetap bekerja
disini kau harus menjaga sikapmu pada zia, atau kamu akan aku pecat dari sini
dan akan kupastikan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan dimanapun” ancam dian
yang sukses membuat mira lemas seketika
“ba-baik tuan saya janji” sambil
berlari meninggalkan mereka berdua.
Zia yang sedari tadi terdiam dan
perlahan meneteslah buliran bening yang sedari tadi ia bendungan akibat mendengar
ucapan mira. Dian kini beralih menatap zia.
“sudahlah zia, tidak usah
difikirkan ucapannya” sambil mengengelap air mata zia
“mari ku antar pulang” tawar dian
sekali lagi
“baiklah” senyum dian pun
zia.
Ketika sampai didepan pintu toko terlihat
seseorang yang tengah bersandar di depan mobil sport berwarna hitam itu, ia
perawakanya tinggi, tegap, dengan memakai setelan jas lengkap dan rapi.
“hai adik kesayanganku, lama tidak bertemu”
sapanya
“kak Rama” zia langsung berlari
menghambur kepelukan kakaknya dan meninggalkan dian yang membiarkan gadisnya
melepas rindu dengan kakaknya
“kau tidak merindukanku”
“tentu aku merindukanmu”
“lantas mengapa tidak pernah
memberi kabar pada kami” zia melepaskan pelukanya dan mendongak menatap
kakaknya
“apa papa menyuruhmu menjemputku”
“tepat sekali, papa mama sangat
merindukanmu, dan mereka mengizinkanmu untuk meniti karirmu sendiri, kau boleh
bekerja, berjualan, menyanyi, menari, lakukan apapun yang kau suka”
“kakak serius” Tanya zia tidak
percaya, pasalnya orangtua mereka terutama papa sangat tidak menyukai zia yang
seperti sekarang, tapi menurut raka inilah triknya dengan mengizinkan za
__ADS_1
melakukan apapun kesukaanya asalkan bisa kembali pulang kerumah.
“iya adik kecil” sambil mencubit
hidung zia “ tapi kamu harus pulang”
“baiklah aku akan ikut bersama
kakak”
“pilihan yang tepat, oya dia
siapamu” menunjuk dian dengan ekor mata
“emh diabos ku” jawab zia jujur.
“baguslah jika hanya sekedar bos
dan karyawan, jangan kau dekati dia”
“kenapa kak” Tanya zia penasaran
“sudah pokoknya jangan dekati
dia, dan hey kau jangan dekati adiku” rama meneriaki dian
“kami bukan hanya sekedar dekat
kakak tapi kami sudah menjadi sepasang kekasih” jawab dian sambil tersenyu licik
juga dian memanggilnya dengan sebutan kakak
“apa.. apa perkataanya itu benar
zia apa ini juga ulah laki-laki sialan itu” menunjuk baju zia yang basah, zia
tidak sadar jika dia masih memakai jas yang diberikan dian tadi
“sudahlahkan tidak usah pedulikan
dia”
“oke, tunggu” sambil membuka
jasnya sendiri dipakaikan pada zia lalu raka melempar jas milik dian dan
langsung ditangkap oleh dian.
------
Dimobil
“kaka pa papa membenciku” Tanya zia
“tidak mana mungkin mereka
membencimu
“tapi pasti setelah ini papa mama
akan memarahiku kan kak, aku takut”
“sudahlah tidak usah berfikir
yang tidak tidak”
“oya aku belum memberitahu ana
aku akan mengiriminya pesan saja”
----
Rumah zia
“kamu sudah pulang raka”
“papa mama” sapa raka sedangkan
zia bersembunyi dibalik punggung raka
“bagaimana apa dia mau kembali” Tanya papa yang tidak
sadar bahwa zia sudah berada dirumah
“seperti yang kukatakan aku
berjanji membawa nona muda ini kembali ke istananya” jawab raka sambil
menggeser tubuhnya sehingga terlihatlah zia
__ADS_1
“zia” ucap mama papa serentak