
Dan pemuda itu bernama Diandra
satyanagara putra tunggal dari Briyan
satyanagara dengan Ramayana atmajaya.
Keluarga mereka merupakan pengusahan yang terkenal dengan cabang perusahaan di
berbagai Negara dan harta yang tidak akan pernah habis selama tujuh turanan.
Kediaman Satyanagara
Dian baru saja sampai dirumah, ia
menuju kamarnya yang terletak di lantai atas, tetapi sebelum sampai ke atas ada
yang memanggilnya.
“eh anak mama sudah pulang ” ucap
mama saat melihat anaknya
“anak papa juga ma”ucap papa yang
baru saja keluar dari kamarnya
“mama..papa kapan sampai” ucap dian
sambil menyalami kedua orang tuanya
“tad..
sebelum mama menjawab terlebih dahulu papa menjawab
“siang tadi, dan kami langsung
kesini karena tidak sabar ingin melihat
anak papa yang bandel tidak pernah menemui orang tuanya”
“papa jangan begitu” sambil menyorotkan mata tajam kearah
papa
“kamu selalu seperti itu jika bertemu anakmu, pasti setelah
ini kamu tidak memperdulikanku lagi” ucap papa briyan sambil terus manyun terhadap istrinya.
__ADS_1
Sedangkan dian hanya bisa menggelengkan kepala melihat kedua
orang tuanya, ya memang selalu begitu rasa cemburu papa yang terlalu besar
bahkan terhadpa anak sendiri.
“tidak usah perdulikan papamu nak…sini peluk mama mama
sangat merindukan mu nak” sambil merentangkan kedua tanganya dan dian langsung
membalas pelukan mamanya
“ian juga sangat merindukan mama”
“oh hanya mama yang kamu rindukan baiklah” sungut papa
“yaya aku juga merindukan papa, aku sangat merindukan kalian
berdua ma pa” akhirnya mereka bertiga berpelukan
Kemudian mereka langsung duduk di meja makan karena para
pelayan telah menyajikan hidangan untuk makan malam diatas meja makan. Setelah
selesai makan mereka pun berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar bercengkrama
“bagaimana kuliahmu nak” Tanya mama
“Alhamdulillah ma lancar, ian udah mulai nyusun proposal
buat seminar”
“bagus segera selesaikan studimu agar perusahaan bisa papa
alihkan sepenuhnya kepadamu” ucap papa yakin
“masa secepat itu pa” Tanya dian
“cepat kamu bilang, papa sudah tua ian, kita tidak pernah
tau kapan datangnya maut”
“papa jangan bicara begitu, iyaiya ian akan cepat selesaikan kuliah ian”
“nah itu baru anak briyan satyanagara” ucap papa bangga
“sudah sudah kerjaan mulu di bahas, oya ian gimana apa kamu
__ADS_1
sudah dapat calon mantu buat mama” mama mengalihkan pembicaraan
“lo mama kok malah nanyain mantu, itu urusan nanti ma” ucap
papa
“ya gak boleh nanti nanti dong pa, papa gak tau sih mama tu
merasa bosan kalok sendirian dirumah,”
“kan ada inem, surti di rumah yang nemenin mama”
“itu lain pa, mama maunya punya mantu jadi bisa diajak
shoping bareng, masak bareng kan enak, apalagi kalok mereka punyak anak jadi
kita punya cucu ihhh gemesin banget pasti, hmmmm papa gak pengen punya cucu?”
goda mama
“ahh iya betul cucu ku akan memanggilku dengan sebutan opa dan dia memanggilmu oma” ucap
papa yang terbawa hayalan mama
“kalian ini apa-apan sih calon saja belum kelihatan sudah
ngomongin cucu udah ah ian mau kekamar dulu”
“loh ian mau kemana sayang kita belum selesai ngobrol nih yakan
pa”minta dukungan
“iya ian kamu gak pengen apa punya anak”
“pengen pa” jawab ian sambil terus menaiki tangga
“punya istri dulu ian baru bisa punya anak hahahhaha” ledek
mama
“tenang ma an sudah punya” jawab ian sambil tersenyum dari
kejauhan entah apa yang dibayangkan
“siapa dia nak, cepat bawa kerumah” semangat mama
Tidak ada jawaban karna ian sudah berlalu dan masuk kekamar.
__ADS_1