
“zia” ucap mama papa serentak
“pa” ucap zia ada rasa terharu, rindu , juga takut bercampur
menja satu
“kemarilah” ucap papa dingin. Zia tampak ragu-ragu
melangkahkan kaki dan dia menatap raka dan dibalas anggukan.
“maafin zia pa” sambil tertunduk zia memberanikan diri
berbicara. Papanya tidak berbicara tapi terus menatap zia lalu lebih mendekat
kearah putrinya, zia semakin takut.
Tiba-tiba papa menarik zia kedalam pelukanya
“maafkan papa sayang” ucap papa penuh haru
“maafkan papa yang tidak pernah bisa mengerti keinginanmu”
Zia yang mendengar itu pun langsung membalas memeluk erat
papanya dan menumpahkan segala kerinduannya, sambil menangis sesenggukan
“tidak pa, zia yang salah zia yang tidak bias membahagiakan
papa dan mama, zia selalu menyusahkan kalian”
“tidak saying, zia tidak pernah menyusahkan keluarga, yang
ada zia adalah sumber kebahagiaan dirumah ini, maka dari itu kami sangat
menghawatirkanmu zia sayang, mama tidak tega melihatmu harus bekerja seperti
itu” ucap mama zia sambil membelai rambut putrinya
“benar zia kau adalah adik kesayangan kami” tambah raka
Zia semakin terharu mendengar pernyataan dari keluarganya,
dia berfikir tadi dia tidak akan dimaafkan, papanya mungkin akan membencinya,
tapi semua kebalikanya.
“maafin zia.. hiks… hiks.. hikss”
“sudahlah sudah sekarang kamu istirahatlah dulu tentu kamu
lelahkan sayang” Tanya papa
“iya kamu mandi dulu, mama akan menyiapkan makan malam untuk
kita, mama akan memasak masakan kesukaan kamu sayang”ucap mama
“baik ma zia keatas dulu”.
-------
Saat ini Hari-hari pun berlalu bahagia bagi zia karena
orangtuanya telah memberinya kebebasan dengan syarat zia tetap tinggal bersama
kedua orangtuanyadan zia pun sudah menyetujuinya.
DiKampus
Zia baru saja sampai dia menggunakan ojek online, dia tidak
mau diantar baik oleh Raka ataupun pengawal sehingga ada beberapa mahasiswa
yang tidak mengetahui mengenai kehidupan zia yang sesungguhnya.
Dian lari tergopoh-gopoh menyusul zia
“zia” teriak dian
“zia” sekali lagi panggil dian
“apasih” jawab ketus zia
“gimana apa kakakmu memarahimu, atau mereka memukulmu atau..”
__ADS_1
belum sempat dian melanjutkan kata-katanya
“ssstttt.. lo itu berisik banget ya, dengerin gue baik-baik
keluarga gue sayang banget sama gue jadi mereka gak seperti yang lo tuduhkan
itu.. marah.. memukul? Heuuhhh” jawab zia
“syukurlah kalau begitu gue lega dengernya”
“gak jelas” ucap zia sambil berlalu meninggalkan dian
Sesampainya diruang kuliah zia mencari-cari sosok ana tapi
gak ada
“kemana sih tu anak udah jam segini belum juga dating, pasti
dia kesiangan” gumam zia
Kelaspun akhirnya selesai zia bersiap-siap untuk ketempet
kerjanya, dilihatnya sekitar tidak ada sipengganggu itu lega rasanya, ya siapa
lagi kalau bukan dian.
---------
Ditoko
“zia” panggil mira
“iya mir ada apa”
“zi gue minta maaf sama lo ya soal kemaren”
“iya mir gue udah maafin lo” ucap zia sambil tersenyum
“gua gak tau zi kalok lo pacarnya bos dian pokoknya maafin
gue ya”
“iya mir udah ah gak usah dibahas lagi”
pesen cake Red Velvet untuk pesta ulang tahun acaranya satu jam lagi” ucap mira
“hmmm boleh deh” ucap zia, sambil berlalu mengambil red
velvet
Kenak lo zia gue piker lo itu pinter, tapi nyatanya hmmmh
Sesampainya zia di loby hotel yang disebutkan mira tadi zia
langsung menghampiri receptionis mengenai ruangan yang nomor kamarnya diberikan
oleh mira
“selamt siang mba” ucap zia pada receptionis
“siang mba ada yang bias kami bantu”
“begini mba saya mau mengantar cake ini ke kamar nomor 122,
kalau boleh tau dimana ya mba”
“kamar nomor 122 di lantai 10 mba”
“oke terimakasih mba” ucap zia
Zia pun menaiki lift menuju kamar nomor 10, sesampainya
didepan kamar zia menekan bel dan pintu terbuka didalam sudah ada beberapa pria
berjas rapi.
“saya dari took kue ingin mengantarkan cake pesanan anda
tuan” ucap zia
“oke thank you nona” ucap salah satu pria berperawakan
tinggi, tegap, rambut pirang, mata biru seperti bule”
__ADS_1
“yo’re welcome” balas zia
“nona bisakah kau hidangkan cake ini dan juga beberapa cake
lainya” pinta pria itu
“baiklah tuan”
setelah usai menata beranekaragam cake dimeja pria itu
menawarkan minuman kepada zia, sejauh ini zia masih bersikap tenang, zia tidak
menaruh curiga karena memang sejujurnya dia sangat haus dan juga sangat lapar
karena dia belum sempat makan siang.
Tiba-tiba kepala zia terasa berat matanya seperti
berkunang-kunang dan Bruukkkkkk pingsanlah zia di kamar hotel itu.
“hahahhaha obat yang kau beri bekerja dengan bagus jhon”
ucap alex yang tidak lain adalah teman mira
“tentu, oke mana imbalan untuk ku” Tanya jhon
“kau mau berapa akan ku transfer sekarang juga” ucap alex
“tidak- tidak aku sudah memiliki banyak uang, jadi bukan itu
yang ku butuhkan”
“cihh… sombong sekali kau, baiklah jadi apa yang kau minta”
sambil merangkul pundak jhon
“aku… aku mau dia” melirik kearah zia
“hahahah kau sangat pintar jhon, baiklah tetapi dengan satu
syarat”
“katakan”
“aku ingin menidurinya duluan sebelum ka hahahah”
“sialan kau lex, aku tidak mau bekas mu”
“tidak mau kau bilang, tapi mira bekas ku kau embat juga”
“itu lain, tapi dia berbeda aku jatuh cinta padanya lex”
“apa aku tidak salah dengar, seorang jhonatan jatuh cinta
hhahahah, baiklah aku serahkan dia padamu jhon” tertawa meledek jhon
“oke thanks lex”
Lalu alex dan anak buahnya meninggalakn jhonatan dan zia
berdua didalam kamar itu.
Jhon kemudian membelai pipi zia, dia mencium puncak kepala
zia, dia kembali mengusap pipi leher tangan dan bibir zia,zia pun setengah
tersadar lau kaget saat melihat ada seseorang yang mencoba menindihnya.
“aaaa lepaskan mau apa kau”
“mari kita bersenang senag nona manis”
“tidak tidak tolong jangan” teriak zia
“ayolah nanti kau juga merasa nikmat dan akan ketagihan”
sambil mmengelus pipi zia yang mulai terkena tetesan air mata
“hikkks hikkks hikkk tolong jangan sentuh aku” ucap zia
memelas sambil berusaha mendorong tubuh jhonatan yang berada diatasnya,
jhonatan semakin bersemangat dan mencengkram kedua tangan zia
__ADS_1
Tiba-tiba bruaaaakkkkkkk