
Dian POV
Tuuut tuuuut dian mencoba menelfon seseorang
“hallo, maaf ini siapa?” dari sebrang sana
Deg suara sosok gadis yang sedari tadi di bayangkan dan
membuatnya tersenyum ia tidak merespon panggilan nya.
Hanya terdengar hembusan nafasnya saja.
“hallo.. hallo.. halloooo….ada orang di sana”
Dian pun langsung mematikan telfon nya.
Zia POV
“siapa sih gak jelas banget” gerutu zia
“lo kenapa sih zi” Tanya ana
“tu tadi ada yang nelfon, gue udah buru-buru lari begitu
diangkat eh gak ada suara”
“udahlah zi mungkin Cuma salah sambung aja”
“ya seenggaknya kan kalau salah sambung bilang maaf kek atau
apa gitu” zia masih terus saja mengomel-ngomel. Ya di balik wajak
cantiknya memang zia memiliki
kepribadian yang lumayan cerewet dan suka ceplas-ceplos saat berbicara.
“oya zi besok lo jadi mulai kerja part time di toko kue
kemarin?” Tanya ana mengalihkan pembicaraan
“jadi an gue lagi butuh banyak duit hahaha”
“ya ela zi sebenernya hidup lo itu enak banget jadi anak
orang tajir, lo bisa aja minta ke papa lo zi atau ke kakak-kakak lo pasti di
kasih lo gak harus kerja part time gini, gak kayak gue”
“yang tajir itu orang tua gue, gue maunya orang kenal gue
karna jerih payah gue sendiri bukan karna orangtua gue an”
“lo memang hebat zi gue salut sama lo” ucap ana sambil mengacungkan kedua jempolnya
__ADS_1
“apaan sih an , oya makasih ya an selama ini cuman lo temen
gue yang paling tulus, gak kayak temen-temen yang lain yang Cuma maunya di ajak
hura-hura doang” ucap zia tulus
“lo itu udah gue anggap temen sekaligus sodara gue, lo sama
keluarga lo udah banyak bantuin gue gue di dunia ini gak punyak siapa-siapa
selain lo, gue gak tau dimana orang tua gue, apa gue punyak orangtua atau
enggak, gue udah sengsara dari sononya”
“sabar ya an lo sodara gue jadi papa mama guejuga orangtua lo” sambil memeluk ana
“makasih ya zi”.
---------------
Kampus
Zia sedang duduk di taman kampus sambil memainkan ponselnya
menunggu ana, dian yang melihat dari kejauhan langsung menghampiri zi.
“hai bidadari” sapa dian sambil duduk di sebelah zia
Zia hanya melirik sekilas acuh dan kembali menatap focus
“mulai sekarang dan selamanya aku akan terus berada di
dekatmu seperti ini” sambil terus
menggeser duduknya dan menatap zia
“hiiih apaan si aku aku sok akrab banget” sungut zia
“aku suka lihat kamu marah, tapi aku lebih suka lihat kamu
tersenyum” goda dian
Seketika zia pun tersenyum samar
“nah gitu sempurna”
Zia pun menutupi wajahnya yang merah menggunakan tanganya dan memunggungi dian
“hey zia kenapa harus malu” sambil membalikan bahu zia
“dari mana kamu tahu namaku”
“aku tau semua tentang mu zia, anak dari keluarga terkenal
__ADS_1
itu kan, dan kamu memiliki kakak seorang polisi dan seorang pengusaha muda yang
sukses , dan nanti kamu akan mulai bekerja part time di toko kue di sebrang
jalan kampus kan” ucap dian percaya diri
Seketika mata zia pun membulat sempurna
“dari mana dia tau semua tentang ku apa ana yang memberi
tahu” gumam zia
“aku benar kan zia”
“em ka-kamu tau dari mana, kamu penguntit ya atau psikopat
atau..” sebelum melanjutkan kata-katanya dian menempelkan jari telunjuknya
dibibir zia
“sssstttt aku udah bilang kamu itu pendamping hidupku dan
mulai sekarang aku akan selalu di sampingmu”
“kamu itu selalu ngomongin hal yang gak penting”
“kamu… jadi udah aku kamu oke hahah baguslah”
“eh maksud gue lo.. haduhh udah pergi aja lo dari sini
ganggu mood gue “ sambil memukul-mukul bahu dian
“aduhhhh… aduhhh.. iya iya kamu boleh galak ke cowo yang lain tapi jangan ke
aku gini dong”
Tiba-tiba ana datang
“eh ada kakak ganteng” ucap ana
“lo lama banget sih an, gara-gara lo gue jadi ngoborl gak
jelas sama orang ini” ucap zia sebal
“hehhe sorry zi gue tadi habis dari kelas ke toilet dulu”
“udah hayuuuk buruan gue udah telat nih mau ke toko” sambil
menarik tangan ana
“eh tapi itu kakak ganteng”
“biarin aja dia gak penting ayoookkk”
__ADS_1
Dian hanya tersenyum melihat mereka berdua.