
"ini untuk mu" ucap dian
"apa ini" tanya zia
"bukalah aku tidak tau apakah kau suka atau tidak"
"aku suka" jawab zia cepat setelah membuka kotak berisi gelang mewah itu.
zia langsung memeluk dian
"aku mencintai mu sangat mencintaimu" mengeratkan pelukan
"aku tau semuanya"
"em bagaimana aku bisa ada d apartemen mu"
"apa kau tidak ingat sama sekali" tanya dian
zia hanya menggeleng
"huufftt kau tadi malam bersenang senang dengan seorang pemuda apa kau lupa" ucap dian
zia mencoba mencerna ucapan dian dan berfikir mengenai kejadian semalam.
flash back on
"kau mau pesan apa" tanya max pemuda yang menemani zia
"aku orange juice" ucap zia max tertawa
"apa dia benar benar polos" gumamnya
"baiklah" ucap max ia memesan orange juice untuk zia dan alkohol untuk dia sendiri
"kau minum apa itu" tanya zia
"ini.. ini minuman yang bisa membuat kita tenang seperti yang kukatakan padamu tadi aku akan membawamu ketempat yang bisa membuatmu tenang" ucapnya lalu dia menuang minuman kedalam gelasnya dengan kadar 75%
""apa rasanya enak" tanya zia
"hahah ini sangat nikmat bagi yang bisa menikmatinya" ucapnya zia menelan liurnya melihat max minum
"aku mau" ucap zia tiba tiba
"kau yakin" tanyanya
"iya aku ingin mencobanya"
"baiklah tapi jangan salahkan aku jika kau nanti mabuk ya" sambil menuangkan kedalam gelas kosong untuk zia dengan kadar 25%.
glek glek zia meminum minuman itu
"hmmm lumayan" ucap zia
max hanya tersenyum tidak menanggapi, ia menuangkan minuman lagi kedalam gelasnya zia yang melihat
"aku juga" ucap zia
"tidak boleh nanti kau mabuk aku yang repot"
"tidak tenang saja" zia langsung menuangkan minuman dan meminumnya seperti orang kehausan hingga dia mabuk sampai tiba riko dan juga dian menyelamatkan ya membawanya ke apartemen
❤flash back off❤
"apa kau sudah mengingatnya nona"
"hheeehe iya aku sudah ingat" ucap zia dengan menampakan giginya
"memang apa saja yang kau ingat"
"ya aku ingat saat aku mabuk dengan max lalu.."
__ADS_1
"jangan sebut namannya" ucap dian
"iya iya jadi ya intinya aku mabuk dan kau membawaku kemari"
"hanya itu" tanya dian
"ya memang hanya itu kan"
"tidak.. ada sedikit yang kurang, kau tau aku kini sudah mengetahui semua isi hatimu, aku tau kau kecewa padaku"
"apa iya aku mengatakan semua" ucap zia penasaran
"iya kau mengatakan semua"
"huuft apa aku juga tadi malam menjelek jelekkan nya ya" gumam zia
"apa aku juga menjelek jelekkan mu atau memarahimu" tanya zia memberanikan diri
"iya kau memarahiku kau memukul ku" ucap dian sengaja mengerjai zia
"haaah maafkan aku apa ada yang terluka mana yang terkena pukulanku" ucap zia panik
"hahahah tidak sayang kau tidak melakukan itu semua, yang ada kau malah memeluk dan menciumku" goda dian
"mencium memeluk tidak mungkin kau pasti bohong lagi" muka zia sudah memerah
"aku serius kau tidak percaya dengan ku sayang" sambil menatap zia dengan pandangan intens dan mendekatkan wajahnya pada wajah zia
"eh kau mau mau apa"
"aku mau kau... aku ingin memakanmu"
"hahah jangan dian kita belum menikah" zia menggeser duduknya tapi dian malah menarik zia kedalam pelukanya
"kalau begitu mari kita menikah"
"dian aku tidak mau... aku belum menyelesaikan pendidikan ku"
"dian...."
?lalu dian tiba tiba melepaskan zia dan bangkit lalu membelakangi zia
"kenapa kau selalu memanggilku dian dian dian"
"lalu aku harus memanggilmu apa"
"terserah" ucap dian cuek
"kakak bagaiman"
"tidak mau" jawab dian cepat
"kalau mas.. mas dian hihihi" zia cekikikan langsung mendapat tatapan tajam dari dian
"mas mas kau merindukan mas tatang mu itu kan"
"mas tatang mana" zia mengerutkan dahinya
"mas tatang kesayanganmu penjual bakso itu masa kau lupa"
"o mas tatang yang itu"
"memang ada berapa mas tatang yang menjadi pujaanmu" ucap dian ketus
zia langsung membalikan badan dian paksa lalu mencubit pipinya gemas
"hiiih pacarku ini kalau sedang cemburu lucu sekali sih, sayangku jangan cemburu cemburu lagi ya"
"apa kau memanggilku apa"
"sayang jangan cemburu lagi ya" sambil tersenyum semanis mungkin
__ADS_1
"apa aku tidak dengar"
"yasudah kalau tidak dengar aku akan pergi tempat mas tatang saja pasti dia mendengarkan ku tidak seperti kamu" ucap dia cemberut
"hhaha tidak sayang aku mendengarkanmu aku bahagia kau memanggilku seperti itu"
"memangnya aku tidak pernah ya"
"seingatku tidak pernah"
"mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang sayang sayang sebanyak mungkin" sambil menenggelamkan wajahnya di dada dian
"aku mencintaimu" ucap dian
"aku juga sangat mencintaimu"
🌸🌸🌸
Rumah zia
semua sudah mempersiapkan pesta ulang tahun untuk zia.
Zia memakai gaun berwarna ungu muda, ia juga memakai make up yang sederhana dengan sedikit menebalkan lipstik nya membuat aura kecantikanya terpancar
semua para tamu undangan telah berdatangan dirumah zia.
Dian pun datang kepesta ulang tahun yang diadakan Zia memakai stelan jas yang hampir senada dengan zia
"selamat ulang tahun keponakan ku" ucap uncle liem
" terimakasih uncle" sambil berpelukan
"zia selamat ulang tahun zia" ucap beberapa teman zia
kemudian orang yang d tunggu tunggu boleh zia datang juga ya siapa lagi kalau bukan dian.
"kau datang" tanya zia
" aku pasti datang, Selamat ulang tahun my dear"
"terimakasih sayang"
karena semua orang telah berkumpul maka acara pun dimulai zia meniupkan lilin dengan di dampingi mama papa dan kakak kakaknya.
"zia ikut papa kami ingin bicara" ucap papa saat zia mengobrol bersama dian dan juga ana
"baik pa, sebentar ya" pamit zia
zia mengikuti papa ke sebuah ruanganya ternyata didalam sudah ada uncle liem dan mama.
"ada apa apa" tanya zia
"uncle mu yang akan berbicara"
"ada apa uncle apa ada masalah"
"tidak sayang, justru uncle akan memberikanmu sebuah hadiah dan om berharap kamu bisa menjaganya"
"hadiah apa uncle" ucap zia sangat antusias
"uncle akan memberikanmu saham uncle atas namamu sayang"
"apa saham.. apa tidak berlebihan uncle"
"tidak sayang uncle sudah menyiapkan semuanya, dan kamu harus menerimanya"
"baiklah uncle zia terima, makasih ya uncle zia sayang uncle"
__ADS_1
"iya sayang"