SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
10. Bunga cinta


__ADS_3

Bukan karena indahnya sore yang terang yang tengah bersinar dalam cerahnya hari, dari sejuknya semilir angin yang berhembus membelai lembut pucuk-pucuk hijau di antara nyanyian hewan yang beranjak atau terbang untuk pulang yang membuat mata Shely dan Lukijo saling beradu pandang, lalu termangu dalam diam seperti menatap sebuah keganjilan kembali.


Wati seperti tidak terganggu tengah asik menyapu perkarangan depan Rumah Bu Marimin yang juga tengah menyapu.


Keduanya begitu akrab dengan tawa yang memang tidak terdengar dari tempat duduk Shely dan Lukijo, namun dapat terlihat.


Telah beberapa hari berjalan sepertinya Wati sering melakukanya, setiap pagi dan sore. Hal itu juga yang membuat Shely dan Lukijo kian akrab dalam bingung masing-masing.


"Jo,Wati kok seperti enggak mau memperhatikan Kevin lagi Jo?"


Shely dengan menyandarkan kepalanya di tiang gubuk, matanya tetap melihat ke arah Wati dan Bu Marimin.


Lukijo hanya menjawab dengan tiada berkedip melihat kemana Shely melihat.


"Lebih suka bermain ke rumah Bu-de?"


Lukijo seperti tidak bergeming dari duduk dan tatapnya meski suara di dekatnya terdengar sedih.


"Jo!"


Lukijo tersentak pelan, mesem pahit melihat Shely. Lalu melihat ke arah puncak Bukit yang mulai redup dari sinar senjanya.


Bagaimana Ia menjelaskan tentang Wati, yang Ia tahu semua pasti ada hubungannya dengan Nasib, meski Ia pun belum tahu benar duduk permasalahan yang membuat Wati mengulangi lagi kebiasaan lamanya saat masih menjalin kasih dengan Nasib.


Jika Wati kembali bersama Nasib, sepertinya itu tiada mungkin lagi mengingat masing-masing telah memiliki pasangan.


Lukijo menggaruk keras kepala dengan anganya. Ruwet sekali! pikiranya diantara tanya Shely seperti menggema di lembah Bukit.


Dengan cepat melihat di mana Wati berada, masih nampak tengah menyapu, lagi-lagi masih menggunakan gaun hijaunya.


"Apa Wati selalu memakai gaun itu Shel?"


Lukijo tanpa melihat Shely yang menatap lesu ke arah Wati.


Tiada sahutan yang terdengar.


Lukijo menoleh ragu.


Nampak anggukkan lesu yang terlihat saat Ia menatap wajah cantik Shely.


Jelas sudah! Lukijo menghela nafasnya pelan seraya melihat kembali Wati.


Sepertinya Wati memang tengah mengulang semua tentang Nasib. Dari gaun yang memang itu adalah keusakaan Nasib jika Wati memakainya.


Tapi yang membuatnya tidak habis pikir pula, hal apa yang membuatnya melakukannya?


"Shely pasti punya sebuah kenangan manis?"


Lukijo dengan mengalihkan tatapnya ke arah persawahan di depan gubuk.


"Maksud mu Jo?"


Lukijo mesem tertunduk, lalu melihat Shely.


Shely kembali mengangguk lesu.


"Pastilah, orang cantik masa enggak punya kenangan manis bersama teman cowoknya!" mesem lebar Lukijo.


"Iya tapi maksudmu menanyakannya Jo?"


Shely dengan masih terdengar lesu.


"Begitu juga Wati," jawab Lukijo mesem melihat Wati.

__ADS_1


"Enggak ada salah kan, jika Wati ingin mengenang kembali masa di mana bunga yang manis tengah mekar," ucapnya lagi.


"Tapi jo!, semua sudah enggak mungkin terulang kembali!"


Shely seperti kesal, dengan melayangkan tatapnya ke arah debu jalan yang tertiup angin.


Lukijo menoleh mesem.


"Kecuali ada hal yang tertinggal di antara mereka?" Lukijo seperti menerka.


Shely langsung melihatnya heran. Lalu melihat ke arah Wati yang sepertinya telah usai menyapu dan tetap acuh ketika melihatnya dan Lukijo yang sejak tadi memperhatikan-nya.


"Jo, Aku benar-benar enggak ngerti!"


Lukijo kini menggaruk kepalanya tanda memang ia pun tidak mengerti dengan semua yang belum Ia ketahui.


"Mungkin seperti ini Shel." Lukijo berdiri seperti ingin menjelaskan sesuatu.


Matanya pun bergerilya ke arah sandalnya dan sandal Shely.


Lalu mengambil salah satu sandal Shely.


Shely memperhatikan dengan malas.


"Jika Kau meninggalkan salah satu sandalmu." Lukijo seperti ragu dan bingung untuk menjelaskan.


"Teruskan aja Jo," ucap Shely meski seperti malas mendengarkan.


Lukijo menelan ludahnya pelan.


"Sedangkan kau tengah dalam perjalanan, Kau pasti kembali untuk mengambilnya dan memakainya lagi," ucapnya dengan malu melihat wajah Shely yang tengah menatapnya.


"Enggak jo! Aku pasti beli yang baru!" Shely dengan melengos pelan.


"Sandal putus! Mana bisa di pakai lagi!"


Lukijo mesem lebar mendengar celetukan di dekatnya.


"Wati kan, udah ada suami Jo! Anak!"


Wajah Shely memerah.


"Aku tau," mesem Lukijo.


"Tapi benih yang tertanam lama, akan menjadi bunga kembali saat tersirami sebuah rasa," ucapnya pelan.


"Tapi Jo! Semua udah enggak mungkin, Jo!" Shely seperti ingin menangis.


"Lagian Jo! Memang Kau pernah menanam bunga?" lanjutnya menatap sedih wajah Lukijo.


Lukijo mesem pahit, menghela nafas mengukir puncak Bukit yang terlihat hening.


"Pernah," jawabnya seperti bergumam.


"Hanya belum sempat tumbuh, layu dalam tanah," ucapnya dengan melihat Shely.


Shely melengos santuy.


"Sudah ku duga!" celetuknya.


Lukijo membenamkan senyumnya di antara suara gemercik air yang mengalir di pematang persawahan.


Bunga di hatinya mungkin hanya menjadi penyejuk langkah susahnya. Untuk benar-benar bersemi dalam harum di jambangan kasih yang indah akan hanya ada dalam cita dan angan-nya saja. Bunga-bunga duri yang hanya ada menumbuhi setiap kasih yang Ia coba dalami, gugur berderai dari rendahnya diri.

__ADS_1


Hanya hati yang coba melepas dalam kemelut cinta yang di rasakan, Ia tidak ingin coba menanam bunga yang tidak akan pernah berwarna dalam hidupnya.


Kini Ia hanya ingin menjalani semua, di sela-sela Taman yang berbunga.


Hanya menikmati setiap keindahan tanpa harus lagi berusaha memetiknya, dan jika Ia memiliki kembali bunga hati, bagimana harus memegangnya? Sedang tangannya pun telah merasa lemah.


"Jo!"


Lukijo tersentak pelan, seakan sirna gemercik suara air di telinganya.


Mesem pahit menoleh Shely yang baru mengagetkan-nya.


"Jo, jika Wati masih menyirami bunga cinta yang lama tersimpan, enggak akan pernah sama di saat pertama kali tumbuh, semua tidak akan pernah sama seperti masa yang telah bersemi dan berseri."


Shely melayangkan tatapan ke arah Rumah Bu Marimin. Halaman yang nampak sepi.


Lukijo menatap wajah muram di dekatnya, lalu cepat memalingkan wajahnya pelan saat Shely menatapnya.


Bukan sepinya halaman di depan Rumah yang membuatnya menghela nafas pelan, tapi gerutu ramai di hati yang menimbulkan kesan susah, susah! Untuk coba menatap binar terang yang tertutup embun-embun resah di mata Shely. Sedangkan sejuk angin senja masih pagi memberi belai yang menyapu wajah.


Sepertinya Ia tidak ingin kembali mencoba, menanam bunga di hati yang payah, Sepayah langkahnya selama ini, begitu kerdil dalam rasa dan diri.


"Jo!"


"Iya Shel, Aku mendengarkan,"kejutnya kembali.


Wajah Shely terlihat suntuk, pelan bangkit berdiri.


Lukijo pun segera berdiri mengikuti.


"Hampir malam Jo, sebaiknya Aku mengajak Wati pulang."


Lukijo mesem mengangguk dengan hanya mengikuti langkah Shely.


"Bunga cinta enggak akan seharum dulu Jo."


lukijo tetap mesem mengangguk, tanpa melihat bibir tipis yang berbicara di sampingnya berjalan.


Shely menatapnya dengan sedikit kesal.


"Jo?"


"Iya Shel, Aku mendengarkan," sahut Lukijo dengan hanya melihat jemari kakinya yang begitu kontras dengan jemari Shely.


"Apa?" Shely seperti menyimpan kesal.


Lukijo mesem.


"Iya kalo enggak harum, iya bau Shel."


Shely langsung menghentikan langakahnya.


"Maksud mu?" tanya-nya mulai mendongkol.


"Iya itu ... kaya bunga pasir." Lukijo dengan mesem-mesem.


"Joooooo!" kesal Shely menarik keras hidung mini Lukijo.


Lukijo menyeringai sakit.


Gurat-gurat malam kian menunjukan terang di awan. Embun malam pun sepertinya tengah bersiap menyelimuti segenap punggung Bukit. Begitu pun Wati yang terlihat di depan pintu Rumah untuk bersiap pulang menunggu Shely yang tengah bercanda kesal dalam murungnya hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2