SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
12. Jelita di pagi hari.


__ADS_3

Tumben! Mungkin hanya kata itu yang tengah berjubel mengkel di hati Lukijo. Tidak biasa-biasanya dan baru pagi ini Ia melihat Shely menyapu bersama Bu Marimin.


Sedangkan Wati yang lagi rajin-rajinya mengukir kenagannya terlihat absen piket bersih-bersih perkarangan belakang.


"Apa mungkin Wati yang menyuruhnya menggantikan piketnya?" tanya canda di hati melihat senyum kecil Shely melihatnya.


Seperti acuh Ia pun segera babelas ke arah sumur menutupi sebagian wajahnya dengan sarung selimutnya.


"Tumben udah bangun Jo?"


Lukijo hanya mesem di balik sarung dengan membuka pintu kamar mandi menjawab pertanyaan Shely.


"Namanya juga Lukijo!" Bu Marimin angkat bicara.


Shely tersenyum lebar, dengan kembali mengikuti Bu Marimin menyapu.


Seperti pagi di setiap pagi, hanya suara keras dari sapu lidi menggores tanah yang menghiasi Rumah, tiada kokok Ayam atau pun unggas seperti yang ada di Rumah-rumah yang tidak rapat yang menghiasi sepanjang jalan menuju Bukit.


Tiada pula suara mengembek yang memukau pagi, hanya suara batuk dari Bu Marimin yang kadang terdengar mengusik telinga.


Tinggal sendiri, untuk mempertahankan Rumah yang di tinggalkan mendiang suaminya.


"Jo! Tumben lama sekali!" Bu marimin masih dengan menyapu.


Shely tertawa kecil.


"Biasanya guyur bayam!"serunya menimpali ucapan Bu Marimin.


Tiada terdengar sahutan membelah pagi dari kamar mandi.


"Nongkrong Jo?" Shely menebak.


Namun sunyi yang masih juga menyahuti dari dalam kamar mandi.


Bu Marimin menutupi tawanya dengan memunguti dedunan yang basah dan lengket terinjak kaki di tanah lembek.


Suara pintu kamar mandi terbuka.


Lukijo mengikat sarungnya di pinggang, yang biasanya melingkari pundak dan pingganhnya.


Menyandarkan bokongnya di sumur, melihat keganjilan pagi yang berganti.


"Aku sering melakukannya! Jika kau bertanya?"


Shely melihat tatap Lukijo kepadanya.


Lukijo mesem mengusap wajahnya yang tersisa air cuci muka.


"Aku hanya menanyakan Wati?" sahutnya hampir menguap.

__ADS_1


"Masih tidur Jo!" senyum Shely kembali.


Terang, bagai terang mata yang masih mengantuk, melihat lesung mungil di bibir yang manis mengikis pagi yang dingin.


Terasa hangat saat benak mengingatnya dalam tunduk wajah menghindari tatap mata yang ayu.


Logat hati bagai asing mencerna bahasa lirih yang mengalir terasa jernih.


Kidung pagi dari beraroma kopi panas di atas pelataran mega, nikmat dalam getar yang mengungkit hati, jauh dalam angan pagi yang baru beranjak pergi.


Sesal-sesal diri kembali menggoyahkan hati, untuk mengingatkan kembali puing-puing cinta yang telah runtuh tanpa sanggup mendirikannya kembali.


Hembus nafas berat yang mampu menyudahi akan terasa di hati. Untuk tidak lagi berharap dalam tingginya langit.


Suara langkah kecil Shely yang mendekati, bagai detak jantung yang kini tengah terasa.


"Aku hanya ingin mendegar penjelasan Bu-De, tentang Wati yang aneh," pelan Shely di dekatnya.


Suara sapu lidi Bu Marimin masih jelas menggores tanah.


Lukijo mesem pahit.


"Bagaimana?" tanyanya dengan pelan pula.


Shely menggeleng sesal.


"Aku bingung jo," kesah Shely melihat ke arah Bu Marimin.


Lukijo menggaruk kepalanya lebih bingung.


Bukan karena persoalan Wati yang tengah hangat Ia dan Shely guncingkan, namun warna merah di bibir Shely yang membuatnya bingung dalam bersikap.


Lagi-an, ranum banget! Jika untuk menyapu di pagi hari, dengan aroma harum di tubunya.


Bahkan burung-burung kecil makin sibuk bersiul seperti menggoda jelita di pagi hari.


Bahkan Bunga-bunga kopi terasa malas untuk bermekaran melihatnya.


Sesaat menatap lekat jemari kakinya, dan jemari Shely di antara sapu lidi.


Pikir dari angan-nya bagai menembus langit yang tercermin di lantai semen yang tergenang air. Terasa jauh hatinya jika harus kembali mengukir langit dengan cinta dan rindu, bagai Pungguk yang hanya merindukan Bulan kembali.


Sesaat menatap curi wajah Shely yang masih memperhatikan Bu Marimin menyapu, dan kembali angan-nya seolah berterbangan di angakasa, Mungkin jika sang Pungguk nebeng pesawat luar angkasa, bisa jadi akan sampai ke Bulan.


Dengan cepat mengalihkan tatapnya ke arah ranting-ranting tinggi di pinggiran kebun kopi, Tapi sang pungguk harus jadi astronot dahulu baru bisa naik pesawatnya, Angan-nya kembali berbisik resah di hijau-hijau dedauan muda.


Tapi biayanya dari mana?


"Jo!"

__ADS_1


Lukijo tersentak, kelewat kaget, suara Shely membuyarkan lamun Ngawur-nya.


"Iya Shel?" Seperti gelagapan.


"Pagi-pagi, apa yang Kau lamunkan?"


Lukijo mesem malu, tertunduk menghindari tatap indah mata Shely.


"Ah, enggak Shel. Hanya mengingat Wati, biasanya sehabis menyapu Ia dan Bu-De membuat Nasi goreng setiap pagi, buat sarapan," jawab Lukijo mesem tertahan.


"Serius?" Shely menoleh ke arah pintu dapur.


Lukijo mengangguk pelan, meski Shely tidak melihatnya.


Shely menoleh pelan, Lukijo segera memalingkan wajahnya ke arah Bu Marimin yang telah usai menyapu.


"Bu-De! Sudah selesai?" Shely dengan mendekati Bu Marimin yang berjalan ke arah dapur.


"Sudah Shely." Bu Marimin dengan masuk ke dapur.


Shely segera menyusul.


Lukijo mesem menutupi mulutnya dengan usap tanganya memperhatikan.


Suara Pagi akan kembali bising dengan penggorengan dari dalam dapur.


Nasi Goreng pagi akan kembali mengecapi di lidah-lidah hari yang beranjak terik.


Hari ini, pagi ini ada yang berbeda dari pagi yang kemarin-kemarin.


Senyum dari jelita yang baru saja beranjak dengan lenggang wangi, bersulam lesung pipit yang Aduhai! Mengusik hati, bagai terngiang di dinding-dinding dalam sumur, menggema halus membuat riak kecil dari tetesan air yang jatuh di ujung-ujung Pakis yang menumbuhinya.


Sebuah rasa bagai mengapung di riak tenangnya, seakan ingin di timba naik ke permukaan untuk di alirkan dalam Bak-bak hati hingga penuh, untuk dapat di rasakan jernih dan segarnya sebuah kesan akan cinta yang mengalir lirih.


Hela nafas begitu ringan saat mata, mengenang kembali ranum senyum yang baru saja terukir manis di hijaunya dedauan kopi, begitu menggoda angan untuk terus tergambar dalam sepoi angin yang datang.


Ranting-ranting kering yang basah dibawahnya, akan kembali mengering dengan sinar terik yang tidak lama lagi berkembang pesat di seantero kebun di belakang Rumah.


Suara kokok dan mengembek yang kian jarang terdengar, berganti suara knalpot-knalpot Gunung yang mengusik telinga dan udara, membangunkan langkah-langkah tanpa alas atau bersepatu bot kuli-kuli kasar, untuk kembali menapaki tanah dan rerumputan liar, mengais punggung-punggung Bukit dengan harapan.


Tiada Keruwetan lalu-lalang padat kendaran, atau pun pejalan kaki sebagimana di tengah-tengah kota atau pasar.


Hanya ada kesunyian dan senyum dari wajah-wajah tanpa alas untuk menyambut alam pagi kembali.


Lukijo makin melebarkan senyumnya, suara Gemerenceng dari dalam dapur telah terdengar, mata sesaat tertegun kembali. Bibir ranum, meski di dalam dapur nampak gelap, namun jelas Shely tengah tertawa kepadanya, dan yang pasti itu kerena suara nyaring dari wajan Bu Marimin.


Lukijo tertunduk menutupi tawanya.


Dan hal itu membuat Shely makin tertawa geli.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2