
Seperti hari yang kemarin, hanya langkah yang terlihat berbicara dengan aspal jalan dari pada suara di bibir.
Lukijo lebih sering mesem setiap menanggapi perkataan Shely, berjalan berdampingan di menuruni lereng Bukit dengan senja yang sebentar lagi akan terbenam.
Lenggang rasa di hati keduanya lebih lancar menuruni dasar hati mendahului langkah pelan keduanya.
Mata yang lebih sering melihat di sisi-sisi jalan kerap sirna dalam hembus nafas yang tertahan dari kata yang begitu kaku di bibir Lukijo.
Lukijo hanya mesem tersipu ,setiap mengenali penghuni Rumah yang menyapanya berjalan bersama Shely.
Mulutnya tidak berkutik setiap goda yang terdengar di pintu-pintu atau perkarangan setiap kali penghuni Bukit melihatnya.
Risih hatinya kepada Shely membuatnya menatap lentik di mata Shely, namun Shely hanya menanggapi dengan senyum tapi tidak semanis senja di hari kemarin.
Gurat murung jelas nampak menghiasi meski Shely selalu menutupi dengan senyuman.
Gundah di wajah jelita seperti sinar senja yang terhalang punggung Bukit.
Lukijo menghentikan langkahnya, deretan Pohon Sengon berada di bawahnya berdiri.
Shely pun menghentikan langkahnya, heran.
"Ada apa Jo?"
Lukijo mesem hampir nyengir, namun lekas Ia tutupi.
"Tidak Shely, hanya teringat kambingku," jelasnya.
Shely mendekati sisi jalan dengan jurang yang landai.
"Tempat Kau mengarit."
"Sekaligus tempat kami bermain." Lukijo menimpali.
"Bisakah Kita melewatinya untuk sampai ke kaki Bukit?"
Lukijo cepat mengangguk.
"Tapi banyak dengan rumput dan semak." Lukijo mengingatkan.
Shely hanya tersenyum, menyanggupi.
Lukijo segera turun dari atas jalan, melangkah turun ke jalan setapak. Shely mengikuti dari belakang.
Rerumputan liar dan putri malu di bawah Pohon Sengon yang jarang di rawat pemiliknya begitu banyak menumbuhi di bawahnya.
Tiada yang terlihat penuh pesan dan kesan di sekitar area, hanya deretan batang pohon di sisi-sisi jalan setapak.
Lukijo mempercepat langkahnya, mengingat malam akan segera muncul sebelum sampai ke Rumah Bu Marimin.
Semakin lama jalan yang di lalui, semakin terlihat batu-batu hitam di sisi jalan dan tengah pepohohn.
Shely memperhatikan batu hitam bulat cukup besar di dekatnya seperti yang ada di kali.
Lukijo menoleh kebelakang.
"Kita akan melewati Kali, nantinya," jelasnya kepada Shely.
"Ada jembatan Jo?" Shely dengan melihat ke arah depan Lukijo.
Lukijo mesem mengangguk.
Shely senyum melihat batu-batu yang kian banyak di sekelilingnya. Senyumnya kian lebar melihat bebatuan.Dengan cepat mengerakan tanganya.
Lukijo sontak menghentikan kakinya seiring pundaknya yang di pengang Shely. Lalu membalikan tubuhnya.
"Jo."
Lukijo hanya mesem kaku.
"Aku tau, Kau bukan teringat kambingmu?"
Lukijo tetap mesem dengan menundukan tatapanya. Sorot mata Shely begitu indah untuk dapat lama Ia lihat.
"Dulu Aku sering mengarit dan bermain di sini." Lukijo tanpa melihat Shely.
Shely langsung duduk di batu di dekat mereka.
Lukijo mesem melihat Shely.
__ADS_1
"Jalan ini akan melewati kali tempat di mana Kau mencuci."
Lukijo mengangguk.
"Jika Kau ingin menghindari setiap rumah yang ada di pinggir jalan."
Lukijo terpana.
"Aku tau, Kau merasa risih dan enggak enak hati padaku."
Lukijo hanya mesem kembali.
"Jo, Apa Kau enggak sepercaya diri sekali?"
Lukijo terpaku.
"Aku hanya enggak ingin Kau malu. Bahkan pada rerumputan dan pepohonan yang melihatmu berjalan denganku." Lukijo dengan berusaha tersenyum.
Shely menghela nafasnya.
"Aku enggak suka padamu, jadi ... Untuk apa Aku malu?"
Lukijo senyum pahit.
"Lihatlah pepohonon sengon yang baru kita lewati..."
"Sengonnya aja yang songong!" oceh Shely memotong ucapan Lukijo.
Lukijo mengukir senyumnya yang kurang, Kurang menarik! Kurang bagus! Dan kurang segalanya!. Di pepohonan sengon.
Warna senja hanya terlihat di pucuk dan ranting-ranting mungilnya, bahkan Burung Platuk yang melubangi di cabang yang patah seperti malu melihatnya dalam sarangnya.
"Kita akan menyusuri kali," jelas Lukijo mesem.
Shely mengangguk mengetahui.
"Kau lupa? Aku pernah bersamamu bermain," ucapnya mengingatkan.
Lukijo terpana sesaat.
Yah! Ia baru mengingatnya, Ia memang pernah bermain lumpur di pinggir kali bersama Shely Timpuk! Timpukan!.
Lukijo mesem lebar.
Lukijo hanya melayangkan tatapnya di batu yang Shely duduki. Warna hitamya hampir menyerupai dalam relung hatinya, begitu kusam akan rasa yang terkubur.
Lukijo menghela nafasnya pelan.
"Shely, Kita pulang," ajak Lukijo dengan kembali berjalan.
Shely senyum-senyum memgikuti.
Jalan yang memang menurun berpagar rerumputan liar kian membawa dekat ke rumpun Bambu.
Lukijo kembali menoleh Shely yang berjalan mulai merapat.
Rumpun-rumpun Bambu yang akan mereka lewati terlihat bergitu angker.
Lukijo segera berbelok ke sisi jalan berumput sebelum sampai dekat di bawah Rumpun Bambu.
Shely mengikutinya Blasukan di tengah kebun, matanya pun masih sempat melihat Rumpun Bambu.
"Jo, bukanya Kita melewati pohon bambu?" Tanya-nya setelah lewat cukup jauh.
"Serem! Shely." Tanpa menoleh Shely di belakangnya.
Shely langsung menyelinap ke depan Lukijo.
Lukijo tertawa tertahan.
"Apa di kota kabupaten enggak ada bambu?" Senyum Lukijo.
"Ada! Di gunung!" Seru Shely hampir tersandung.
Lukijo mesem-mesem.
"Enak! Enak! Tinggal di kota, malah ke kebon?"
Shely langsung menoleh Lukijo dengan lesung pipitnya.
__ADS_1
"Hitung! Hitung! Liburan!" jawabnya kemudian.
"Sambil menyembuhkan hati?"
Shely pun menghentikan langkahnya, berbalik badan.
Lukijo tertunduk.
"Jika Aku hanya untuk menemuimu, sepertinya berlebihan," ketus Shely.
Lukijo mesem mengangguk.
Shely kembali berjalan sebelum melepaskan tatapan yang kurang suka kepada Lukijo.
Lukijo terdiam mengikuti. Matanya mengarah ke kejauhan di mana pematang sawah yang masih tertutup pepohonan.
Angan-nya mengukir warna senja yang kian memudar, membenarkan apa yang di katakan Shely. Bukan hanya berlebihan namun Kelewatan enggak mungkin! Jika ada yang ingin menemuinya, apalagi seorang wanita.
Lukijo senyum pahit melihat langkah kakinya di reremputan. Melepaskan jejak rasa di hatinya.
"Bagaimana denganmu Jo?"
Tercekat kaget, Lukijo hampir menabrak tubuh Shely dari belakang.
"Apa yang membuatmu enak tinggal di bukit?" Toleh Shely.
"Shely, Shely." Bibir tebal Lukijo berucap legam.
"Kenapa denganku?"
Lukijo tertunduk, meluruhkan tatap mata Shely.
"Apa Aku harus menunjang dagumu dengan pohon sengon atau bambu, agar Kau mau menatapku saat berbicara?"
"Apakah nyalimu lebih kecil dari daun kelor! Atau Kau memang enggak punya nyali?"
Lukijo mesem, mengangkat wajahnya ragu. Dan kembali luruh.
"Aku hanya bisa melihat keburukanku, Aku memang enggak pernah punya nyali untuk dapat melihat keindahan." Mesemnya melihat wajah Shely namun lekas menatap jemari kakinya sendiri.
"Kenapa Jo?" Shely dengan sinis.
Lukijo menarik nafas dengan beringsut begitu pelan, wajah Shely begitu dekat terasa.
"Apa Kau merasa, memang Kau jelek dan buruk? Hingga putus asa dengan keindahan yang enggak bisa Kau miliki?"
Lukijo mematung sesaat, melihat sekilas bibir manis yang baru berucap.
"Sekarang Kau telah menjawab sendiri dengan apa yang tadi Kau tanyakan." Lukijo dengan berjalan meninggalkan Shely.
Shely berdecak kesal.
"Jo!"
Lukijo cuek, terus berjalan meski Shely menarik tanganya.
Lukijo terpaksa menghentikan gerak langkahnya, namun bukan karena tarikan tangan Shely, tapi sandalnya japitnya terlepas terinjak Shely.
Shely melepaskan tangan Lukijo.
"Apa Kau ingin mengatakan orang desa itu lebih punya etika berbicara dari pada orang kota?"
"Bukanya Kau yang baru mengatakan?" Lukijo dengan memakai kembali sandalnya. Lalu kembali berjalan.
Namun Shely benar-benar menarik tangan Lukijo keras.
Lukijo hampir terjatuh dengan menabrak bahu Shely.
Shely mengaduh ikut terdorong kebelakang beberapa langkah.
"Maaf Shely," pelan Lukijo melihat wajah yang menahan sakit.
"Aku hanya ingin mengatakan ..." Lukijo mesem menyesali yang baru saja terjadi.
"Apa yang Kau katakan benar Shely, Aku hanya mampu memiliki keburukan dalam setiap langkah kakiku. Dan, sepertinya Aku terlalu songong lebih dari sengon di sana, dengan merasa bangga akan apa yang Aku miliki." Lukijo mesem lebar.
Perlahan menyingkir, memberikan jalan agar Shely melangkah terlebih dahulu.
Shely terdiam menatapnya, memegangi bahunya dengan melangkah kecil.
__ADS_1
Lukijo mesem mengikuti, sesaat menengok pepohoan Sengon yang jauh tertinggal.
...****************...