SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
14. Mendung di Puncak Bukit.


__ADS_3

Lukijo memagang tangan Shely erat seperti tidak ingin melepasnya dalam dingin dan pekatnya kabut. Senter kecil tanpa baterai di tangannya pun turut erat di gengam menyinari jalan yang semakin mengerucut gelap.


Suara desak-desik ilalang yang keras tertiup angin kencang bercampur kilat dan gemuruh di kejauhan, seperti tidak menyurutkan langkah tergesa keduanya menembus angkernya puncak Bukit.


Lukijo seperti tidak ingin melihat ke belakang di mana Shely Ia gandeng mengikuti gerak langkahnya. Hanya satu di benaknya, akan Wati yang tengah berada di atas Bukit tengah malam.


Angker Bukit kian menjadi saat kilatan kian beruntun di kejahuan .


"Jo."


Suara lelah Shely terdengar bersahut gemuruh di kejauhan.


"Kita harus menemui Wati segera Shel." Lukijo tanpa menoleh ke belakang.


"Mengapa Wati seberani ini Jo?" Shely dengan melirik ke sisinya berjalan. Gelap dan bersuara dedaunan dan ilalang yang tersentuh kaki yang berjalan menyibak gelap.


Hening, tiada terdengar suara Lukijo menyahuti.


Sementara kilat semakin terlihat terang saat keduanya hampir di tepi puncak Bukit.


Lukijo menatap ke sekeliling depan arahnya berjalan. Senternya terarah kemana matanya mencari.


"Wati pernah melakukanya," ucapnya menyibak gelap sesaat setelah kilat terlihat. Menghentikan langkahnya.


"Gelap sekali Jo?" Shely merapatkan tubuhnya di tangan Lukijo, melihat kesekeliling puncak Bukit.


Lukijo tidak menjawab, kembali berjalan dengan tetap memegang tangan Shely.


Sebuah sosok terlihat, saat keduanya mendekati rumpun ilalang di pinggir jurang puncak Bukit.


Lukijo mematikan senter dan langkahnya kembali. Suara orang terisak membuatnya bertatapan dengan Shely dalam gelap.


Terang Kilat kembali terlihat, begitu pula sosok Wati. Terduduk memeluk lututnya menatap jauh ke arah kilat yang bermunculan.


Pelan Lukijo melepas tangan Shely. Berjalan pelan mendekati Wati.


Suara Isak bukanya mereda mengetahui ada yang datang, tapi tetap terdengar menggugah lirih hati yang mendengarnya.


Lukijo berdiri pelan di sisi Wati, melihat sayu kilat terang di kejauhan.


Shely langsung mendekap Wati, dan ikut terisak, meski tidak tahu dengan apa yang tengah bermukim di hati saudaranya kini. Hanya keadaan Wati yang membuatnya turut bersedih.


"Kita pulang Ti." isak Shely tersendat.


Isak Wati semakin keras menjawab.


Lukijo menundukkan wajahnya, isak keduanya bagai sembilu yang mulai melukai hatinya. Terasa menyayat hati.


Angker Bukit bagai hilang dalam rasa yang tengah berkabut pilu, deras angin yang berhembus bagai hangat dalam derai yang menguras gulananya hati.


Pekik rasa bagai suara guntur di kejauhan yang membuyarkan gugusan Bintang-bintang yang bertengger di angkasa hitam, nampak lengang dalam gulungan awan hitam.


Rinai kasih yang berujung pilu terasa menggema di dasar jurang yang juga terlihat kelam berkabut.


Hanya gumpalan kabut yang tebal menyelimuti sekeliling puncak, bercampur isak yang tengah mengapung di dalam kalbu.

__ADS_1


"Mengapa kalian menyusulku?" Isak Wati berat.


Shely kian erat mendekap kepala Wati di dadanya.


"Kami mengkhawatirkan mu Ti," jawabnya masih turut terisak.


"Biarkan Aku sendiri!" Wati dengan meronta dari dekap Shely.


"Aku enggak ingin kalian di sini!" serunya lagi melihat Lukijo dan juga Shely.


"Ti..." Shely kian terisak.


Lukijo membungkukkan tubuhnya, memberikan senter yang Ia pegang ke pada Wati. Namun Wati menolaknya.


"Mungkin Kau bisa melihat keadaan Nasib Ti, di sana ... Di mana angan mu hanya tertuju padanya," ucap Lukijo pelan.


Wati terisak menatap Lukijo.


"Cobalah Ti." Lukijo dengan memberikan senternya lagi.


"Jika memang Kau percaya dengan kata hati mu." Lukijo lagi.


Meski isak menyahuti, tangan Wati meraih senter di tangan Lukijo.


Menghidupkanya bersama isaknya, mengarahkannya di antara kilat di kejauhan.


Suara berdesik dingin ilalang terdengar nyaring di sekeliling mereka.


Wati terisak kuat tertuduk, meski sorot senter tetap menyala.


Lukijo menghela nafasnya, kilat di kejauhan bagai menyilaukan hatinya.


"Lalu apa yang tengah kau tunggu di atas sini?" ucapnya di antara suara guntur di kejauhan.


"Hanya ada kenangan yang telah terkubur di atas sini, kita enggak mungkin menggalihnya kembali, hanya akan membuat kita ikut terkubur Ti, dalam sakitnya perasaan kita sendiri." Lukijo seperti menyesali akan tindakkan Wati.


"Lihat Aku Ti, Aku enggak seberuntung kalian ... dalam cinta, dalam hidup dan dalam rasa kebahagian, Aku enggak seberuntung kalian,"


"Tapi Aku hanya berusaha menerima untuk enggak menyesali dengan semua yang berlalu dalam langkahku," pelan Lukijo dengan pula duduk di hadapan Wati.


"Ti." dengan memegang tangan Wati yang memegang senter, mengambilnya lalu mematikan.


"Kau, Nasib, adalah teman-temanku yang terbaik, selalu menasehati ku dalam ketidak sempurnaan hati dan raga ku. Apa Kau mengingatnya Ti?"


Suara berat isak Wati seperti menyahuti.


"Sedang Aku enggak bisa berbuat apa-apa pada kalian, bahkan di saat kalian tengah bersedih karena mengalami masalah,"


"Tapi, Aku hanya ingin Kau kembali ... Kembali dengan hidupmu saat ini." Lukijo memegang arat tangan Wati. Menghela nafasnya saat tangan Wati bergerak pelan seperti minta di lepaskan.


Lukijo melepaskan tanganya, hati kian perih melihat Wati kembali memeluk lututnya teriring isak yang belum mereda.


"Dan biarkan Nasib menjalani hidupnya saat ini pula Ti." Lukijo lagi.


Wajah Wati terangkat cepat, menatap tajam Lukijo. Terlihat derai bagai menggores di pipinya dengan kemilau sakit. Bibirnya pun bergetar seperti menahan beban yang tidak bisa terucap.

__ADS_1


Lukijo beserta Shely hampir berdiri berbarengan, melihat Wati lekas berdiri dan berlari meninggalkan.


"Ti!!" Pekik Shely seketika.


Lukijo seperti termangu menatapi tubuh kecil Wati yang menyelinap cepat dalam pekat dan dingin kabut di antara hitam yang mengerubungi jalan setapak.


"Jo!" Shely manarik-narik tangan Lukijo.


Lukijo kian terpaku.


"Jo?"


Lukijo benar tidak bisa bergerak saat isak Shely terasa di pundaknya.


Desik ilalang masih menderu di angin yang berhembus kencang, mendung di atas Bukit pun terasa kian menghitam.


Lukijo menahan nafasnya dalam, percuma mengejar Wati hanya akan membuat perasaanya tidak tenang. Ia yakin Wati pasti ke Rumah Bu Marimin lagi, untuk menangis lagi hingga tertidur dalam belaian Bu Marimin seperti dahulu lagi.


"Wati akan baik-baik aja Shel," ucapnya lirih tanpa bisa menoleh.


Shely mengangkat wajahnya, mengusap pipinya yang basah dengan air mata dan dinginnya kabut.


"Jo," lirihnya pula.


Lukijo menundukkan wajahnya, seperti ingin menyembunyikan dari tatapan Shely.


"Apakah tadi Kau yang berucap ke pada Wati?" Shely lagi.


Lukijo seperti orang yang baru sadar dari tidurnya.


"Aku bicara apa Shel?" bingungnya melihat Shely. Lalu melihat kesekelilingnya.


"Aku enggak bicara apa-apa?" Lukijo lagi, melihat bingung Shely lagi.


"Jo! Jangan membuat ku takut." Shely memengang erat tangan Lukijo dengan melihat kesekelilinya yang gelap-gulita.


"Jo, kita pulang jo."


"Jo!"


Lukijo tergagap sadar, menatap lemas wajah Shely.


"Tapi Shely, bagaimana kita pulang dalam keadaab gelap?" wajah Lukijo memelas melihat Shely.


"Maksud mu?" Shely semakin takut.


"Wati membawa senter kita Shel." Lukijo seperti merasa bersalah.


"Atau sengaja agar kita yang bermalam di sini," ucapnya lagi.


"Joooooo." Shely hampir terduduk lemas. Dengan tatap mata tidak sanggup lagi melihat ke kesekelilingnya yang membuat bulu kuduknya semakin berdiri. Terasa kian angker, meski orang yang Dirinya pegangi tanganya pun tidak kalah angkernya dari puncak Bukit di mana kini Dirinya berada.


"Joo," ucapnya kian lemas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2