
Lukijo seperti ingin menahan nafasnya dalam-dalam dan kalau pun sanggup Ia mungkin tidak akan mengeluarkannya kembali. Bukan kepalang kesal Ia melihat Wati kembali menangis memandangi photonya sendiri bersama Nasib.
"Ti! Apa lagi? Ti!" Kesalnya sembari mondar-mandir di depan Wati.
Dan Bukannya terdiam dari tersedu, Wati semakin menangis.
Lukijo menghentikan langakah kakinya, berdiri tepat di depan Wati.
"Ti! Bukan Kau yang capek menangis, tapi Aku yang mendengarkannya!" Lukijo dengan kesal.
Namun tangis Wati yang keras menyahutinya.
Lukijo menghembuskan nafas kesalny.
"Ti! Ti! Lihat photo Nasib menangis, giliran melihat photoku jerit! Ngakak!" oceh Lukijo dengan berjalan ke pintu rumah. Warna Senja yang baru saja muncul terasa hangat menyentuh wajah saat berada di ambang pintu.
Perkarangan yang baru saja di bersihkan Wati dan Bu Marimin bagai berserakan rasa di hati yang kian berkecamuk oleh sikap Wati.
"Ti, Bak di kamar mandi baru aja Aku isi. Seharusnya tadi Kau menangis, jadi Aku enggak perlu repot untuk mengisinya." Lukijo seperti mengeluh. Tatap matanya tertuju pada kepulan debu di perkarangan Rumah.
"Ti! Nasib sudah ...."
"Aku sudah Tau Jo!!"
Lukijo langsung balik badan mendengar suara keras Wati.
"Lantas?" Kesalnya pula.
Wati menatap tajam dengan isak di bibirnya.
"Apa Aku enggak boleh menangis?"Wati dengan berdiri.
Lukijo menggaruk kesal kepalanya.
__ADS_1
"Setiap saat maksudmu?" Menyandarkan punggung di daun pintu.
Wati semakin mendekati, dengan Photo dalam dekapnya.
Lukijo memalingkan wajahnya dari tatap Wati.
"Apa Kau benar-benar enggak bisa melupakan Nasib Ti?" Tanpa melihat Wati.
Wati terdiam, menyandarkan kepalanya di tiang pintu di depan Lukijo. Menatap kosong ke luar Rumah.
Lukijo kini memperhatikan.
"Seperti Aku enggak bisa menerima keberadaanmu di hidupku Jo." Lirih Wati.
Lukijo melebarkan Bibir tebalnya. Sempat-sempatnya Wati mencela-nya.
"Sampai kapan Ti?" Lukijo mengikuti arah tatapan Wati.
Lukijo melirik, dengan rasa gatal di kepalanya.
Sinar senja semakin terasa mengusik dalam bening di pipi Wati. Lukijo menghela pelan.
"Ti, apa Kau lihat debu yang terbawa angin itu ...?"
Wati terisak mengangguk.
"Seperti Nasib Ti, telah hilang terbawa kebahagiannya. Begitu pula dirimu Ti." Pelan Lukijo.
Wati kini menatapnya lagi.
"Ti, jangan pisahkan kebahagian kalian dengan rasa lama yang telah dingin." Tambah Lukijo.
Wati bergerak, menyadarkan punggungnya di tiang Pintu, menghadap Lukijo.
__ADS_1
"Seharusnya Kau memberitahukan padaku Jo, karena Kau tau Nasib pergi bersama siapa ...." Wati dengan mengusap air matanya.
Lukijo menatap pilu, dengan mengambil photo di tangan Wati yang lain.
"Ti." Lukijo menatap Wajah di dalam Bingkai kayu.
"Seharusnya Kau pun ingat, bahwa Aku pun pergi, setelah Nasib pergi." pelannya.
Wati terisak tertunduk.
Lukijo kembali menghela nafas melihatnya.
"Ti, Sebelum pergi sebenarnya Nasib mengatakan sesuatu padaku tentang Kalian."
Wati langsung melihat Lukijo.
Lukijo mesem kecil.
"Memang Nasib berharap saat Ia kembali, akan menemukan salah satu dari kalian." Lukijo menghela nafas sejenak dengan menatap kembali wajah di dalam Bingkai.
"Namun di satu sisi, Nasib pun mengatakan...,"
"Jo!"
Lukijo dan Wati menoleh berbarengan ke arah asal suara.
Terlihat Pak Prapto mengendarai sepeda Kumbang mendekati mereka.
Wati mengusap-usap pipi dan Matanya. Lukijo mesem-mesem ke pada Pak Prapto.
"Jo!" Pak Prapto dengan turun dari sepeda Kumbangnya.
"Ada apa Pak?" Lukijo segera mendekati.
__ADS_1