SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
16.Bulan Sabit.


__ADS_3

Malam begitu hitam dan Bintang-bintang seperti tiada satu-pun yang berkerlip barang sekejap. Mega putih yang berarak pelan di cerahnya malam-pun bagai sirna dengan sinar terang Bulan Sabit yang tengah bertahta di kelopak mata yang tengah menatapnya.


Seperti biasa meski sudah biasa melihat atau pun menyapa, tetap saja kabut dingin dan kaku bagai prisai baja di tubuh Lukijo. Susah bergerak apalagi bercanda dalam derasnya kata yang terucap.


Suasana hati yang sering sekali Ia alami bila bersama seorang lain jenis, apalagi yang Halus! Bisa loncat kocar-kacir kata-kata di dalam bibirnya dengan sendirinya sebelum terpikir atau pun terbesit di benaknya.


Sementara Lambai dedauan kecil PJKM seperti tidak sabar mendengarnya beceloteh meski terbata untuk menghangatkan malam dan kabut.


Lukijo hanya melirik dengan sudut mata dan tatapan menunduk memainkan jemari kakinya setiap kali hembus nafas dan mendehem terdengar dekat di sisinya.


"Itu bulan ke mana separuhnya iya jo?"


Lukijo mengusap pelan celana jeans yang menutupi dengkulnya, mesem pahit menguliti hati.


"Jo-jo, apa enggak bisa ngomong dari pada mesem?"


Lukijo menahan tawanya, menahan debar di dada untuk berucap, melihat Bulan Sabit yang terlihat mencolok dalam gulitanya angkasa.


"Di makan burung hantu yang separuhnya," ucapnya seperti bergumam.


"Doyan tuh, Burung?"


Lukijo kembali mesem, lalu menggeleng tertunduk.


Shely melebarkan bibirnya bertanda kesal.


Lekuk indah di dekat bibir yang tengah terukir, begitu indah di antara sinar yang menyentuhnya meski hawa dingin ikut membelainya.


Hanya saja Lukijo tidak melihatnya.


Sinar mata Shely yang sejak berjalan kaki mendaki dengan sayu, perlahan terbuka dengan sinar cerah. Menatap tenang Bulan Sabit yang sejak tadi pula bagai enggan di tatapnya.


Suara mendehem dan hembus nafasnya bagai sirna di desik ilalang di tepi jalan.


Hal itu membuat Lukijo seperti ingin menolehnya. Namun debar hatinya membuat gerak di lehernya terasa berat.


Hening kembali mengusik suasana. Sementara tidak jauh dari mereka terduduk, tepatnya di belakang mereka, Pak Prapto yang sejak tadi pula mengamati dalam gelapnya malam, bersembunyi di balik rerimbunan ilalang pagar pembatas kebun samping Rumah. Terduduk dengan bangku kecil seperti berkomat-kamit, seperti mengutuk kebisuan yang sejak tadi di dengarkanya.


Tepuk kesal tanpa bersuaranya kepada nyamuk - nyamuk kebun, bagai langkah raja rimba yang tengah mengintai mangsa.nyaris! Tanpa suara.


Meski lation di kulitnya hampir habis untuk melumuri kulitnya dari serangan Nyamuk, namun gigitannya masih lagi dapat menyentuh kulitnya.


Rasa Gatal ingin menggaruk, bercampur rasa gatal ingin berbicara atau memaki Lukijo membuatnya harus mencabut gemas pucuk ilalang yang menempel di antara kedua matanya.


Untuk turun tangan agar dua insan saling bercengkrama dalam tawa atau canda pun sepertinya sudah tidak mungkin baginya, sudah hampir larut. Matanya sudah meminta untuk di pejamkan.


Dengan amat perlahan, dengan rasa kekecewaan akan sikap bungkam Lukijo kepada Shely segera mengedap ke arah belakang rumah, seperti memang tiada harapan baginya untuk melihat ataupun mendengar suara Lukijo bersenandung dalam rayu.

__ADS_1


Geletrekkkkkkk!


Wajah Pak Prapto bagai pucat pasi, sebuah benda sengaja di timpukkan ke arahnya dan mengenai batang pohon kecil yang menutupi jalan membungkuknya. Daun jendela kamar samping Rumahnya terbuka satu. Nampak pula kepala istrinya mengamati ke tempatnya terdiam terkejut. Untung baginya, dedaunan pohon kecil yang rimbun yang menjadi pagar pembatas rumah dan kebunya begitu rapat selain ilalang yang tumbuh.


Namun sinar lampu dari dalam kamar pastinya akan membuatnya terlihat jika lama di perhatikan, Mujur! Kembali baginya, istrinya kembali menutup jendela dengan tatapan tetap ke arahnya.


Suara langkah pun terdengar hampir mendekati, matanya pun melihat sosok Lukijo tingak-tinguk seperti mencari asal suara barusan. Namun cepat kembali setelah melihat suasana samping Rumah yang gelap.


Nafas lega terhembus perlahan bersama debar di dada, dengan lembali berjalan membungkuk.


Sinar meski tiada sempurna dari Bulan Sabit yang berusaha menipis kelam sekitar Rumah, terasa bagai rinai kecil yang dingin terjatuh di tubuh-tubuh dedaunan yang berubah hitam di saat malam.


Wajah Pak Prapto berlumur tenang berjalan berdiri mendekati pintu paling belakang dapurnya.Meski misinya malam ini terlihat kacau.


Sengaja memang Pak Prato mengitip Lukijo dan Shely untuk mengetahui tindak-tanduk keduanya bila hanya berdua saja.


Ternyata lebih ramai jangkrik yang mendengkur di kebun samping Rumah di bandingkan Lukijo, sunyi senyap bagai puncak Bukit.


Rasa ingin menyalahkan Lukijo bagai menggumpal sedingin kabut melihat sikapnya yang lebih banyak bungkam dari pada bergumam.


Dengan pikiran kesal dengan hawa dingin dan gatal,perlahan membuka pintu dapur yang sengaja tidak di kuncinya.


tangannya tertahan, ternyata pintu terkunci.


Suara mengaduh di dalam hatinya bagai melengkapi kejengkelan hatinya. Istrinya pastilah yang telah menguncinya.


Masuk dari depan akan membuat Lukijo dan Shely curiga, sedangkan Pesannya ke pada Istrinya jika keduanya mencari, untuk mengatakan Dirinya tengah melihat Kambing yang akan di jual kepadanya di bawah Bukit.


Rasa menyalahkan istrinya pun mulai merasuki benaknya.


Beringsut pelan dari pintu dapur, melihat kembali di mana Lukijo dan Shely berada dari dinding samping Rumah.


Hampir terkejut, tiada terlihat bayang hitam keduanya di bawah pohon Jambu.


Sambil melihat kebelakang, mengawasi sekeliling, rasa penasaran untuk kembali ke depan pun membuatnya melangkah pelan mengendap.


Gelap di samping Rumah membuatnya hampir tidak terlihat jika dari depan Rumah.


Pak Prapto menghentikan langkahnya setelah menunduk melewati jendela kamar di mana istrinya berada di dalam.


Matanya mulai melancong ke penjuru depan Rumah. Tiada terlihat keberadaan atau tengah sembunyi kedua sosok yang tengah di carinya.


Rasa aman dan penasaran membuatnya melangkah mendekati pohon jambu.


Bulan Sabit terlihat tertutup awan tebal, meski masih terlihat samar sinarnya.


Lalu segera menuju jalan.

__ADS_1


Kembali mata dan tubuhnya bergerak mengawasi, ternyata memang Lukijo da Shely telah kembali pulang, pikirnya dengan berjalan pelan menuju Rumah.


Ruang tamu yang telah di matikan lampunya, membuatnya pun yakin keduanya tidak mungkin berada di dalam.


Perlahan membuka pintu, lalu menutup kembali. Tangannya segera menyentuh sesuatu di tengah dinding ruangan.


Seketika lampu di tengah ruangan menyala.


Bukan saja ruangan yang kini terlihat terang namun matanya pun terlihat terang karena terbuka membesar.


Lukijo, Shely dan Istrinya sudah duduk di kursi tengah menatapnya.


"Larut sekali pulangnya Pak ...?" Mesem Lukijo.


"Lama lho, kami menunggu Bapak," timpal Shely mesem manis.


Istri Pak Prapto mengucek kedua matanya seperti tengah menahan kantuk.


"Ahhhh, biasa Jo, Shely mengobrol sebentar tadi," kilah Pak Prapto dengan duduk di samping Istrinya.


"Sayang sekali Pak Prapto melewati sesuatu," uca Shely.


"Maksudnya?" Pak Prapto tersenyum.


Lukijo mesem-mesem.


"Bulan sabitnya baru aja di makan habis burung hantu," jelas Shely.


Mata Pak Prapto tertuju pada Bulan Sabit di luar Rumah yang terhalang atap Rumah.


"Bapak pasti pernah mendengar jika burung hantu doyan makan bulan?" Shely lagi.


Pak Prapto seolah terkejut dari tatapanya. Melihat Shely dan lukijo dengan tersenyum.


Perlahan bangkit berdiri, melihat Istrinya yang hanya diam menatapnya.


"Bapak baru tau itu ... biasanya burung hantu hanya dapat merindukan bulan aja Shel."Pak Prapto senyum lebar.


"Biasanya Lukijo yang sering makan bulan," ucapnya lagi.


"Itu butoijo Pak," sangkal Lukijo.


Pak Prapto nyengir.


"Iya sudah Bapak mau basuh tubuh dulu," ucapnya lagi.


Lukijo dan Shely bertatapan tersenyum. Lalu melihat Pak Prapto yang berjalan sedikit tergesa. Kedunya pun seperti paham bagaimana rasanya berdiam diri di gelap dan ilalang dan nyamuk kebun.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2