
Wati mengamati sepeda kumbang dengan kedua peleknya yang telah banyak berkarat, sementara Lukijo hanya mesem menyiram seluruh body sepeda dengan air di dalan ember plastik berwarna hitam.
"Sudah lama Ti, enggak lihat sepeda?"
Lukijo tanpa melihat Wati yang tengah memperhatikan barang antik dan langka.
"Ku rasa, di kota madya memang sudah jarang orang memakainya."Lukijo lagi. Sementara tangannya semakin sibuk dengan kain bekas kaos berlumur sabun diterjen membersihkan body sepeda.
Lukijo menoleh pelan.
Wati terlihat masih memperhatikan.
Lukijo melebarkan bibirnya, memeras busa sabun di lap kain.
"Ti, yang tengah Kau lihat, Aku atau sepeda ini Ti?" Tanya-nya heran akan sikap Wati.
Yang di tanya pun seperti memilih bungkam mematung berdiri.
"Masih pagi Ti, telat! Untuk berpikir lebih menarik sepeda butut di bandingkan diriku! itu kan yang tengah Kau pikirkan?" Lukijo dengan kembali mengusap sepeda dengan lap kain.
Namun bungkam bagai tidak bergeming dari bibir wati, hanya sorot matanya yang berganti melihat, antara. Sepeda dan Lukijo.
Lukijo mesem.
"Atau Kau enggak tahan ingin membantuku mencuci sepeda?" gelinya lagi.
Ekspresi bungkam di bibir Wati tentunya yang membuatnya harus mesem-mesem geli. Seperti anak kecil yang tengah memperhatikan-nya.
Suara gemerecik dari air yang mengguyur sepeda terdengar lebih banyak terdengar dari pada suara Wati yang ada kalanya menerbangkan Burung kecil yang kaget di ranting kopi.
Warna pagi memang tiada menentu, seperti mendung dan terang. Tiada ubahnya sikap Wati yang saat ini tengah di rasakan Lukijo, kadang sedih kadang riang dan kadang-kadang membuat bulu kuduk berdiri mendengar tawanya.
Hal itu pun yang kini membuat Lukijo menerka dalam hatinya, Mungkin efek dari rasa hati yang tengah di Wati rasakan.
"Ti, jika Kau sudah lelah melihat, mending sarapan dulu." Lukijo menoleh kembali Wati yang masih bungkam. Namun bersiap pula untuk menahan rasa kaget, jika sewaktu-waktu Wati akan tertawa tiba-tiba, atau menangis.
Lukijo meringis tertunduk, menahan tawa melihat Wati menatapanya.tajam.
"Biasa aja Ti, melihatku. Aku bukan mahluk halus kesiangan," gelinya lagi di perhatikan bak melebihi barang antik.
Lukijo mesem kembali kini dengan mengelap kering sepeda kumbang.
Wati masih lagi memperhatikan.
Lukijo memperlambat gerak tanganya, Wati mendekatinya.
Kembali mesem.
"Sudah selesai Ti, telat! Jika Kau ingin ikut membersihkan," ucapnya ketika Wati telah di depan-nya.
Namun tetap saja bibir di depanya seolah enggan untuk bergerak.
Tangan Wati bergerak pelan, memegang stang sepeda.
Lukijo mesem.
"Jangan membayangkan jika yang Kau pegang adalah tangan..."
"Gila! Gila!"
Lukijo kaget dengan menutupi lehernya yang di pukul-pukul Wati dengan Lap kain yang di ambil dari tangan-nya.
"Gila Kau Jo! Sudah gila!"
Lukijo segera menghidar.
__ADS_1
"Bicara sendiri!" seru Wati lagi.
Lukijo terpana, bisa-bisanya Wati menuduhnya gila.
"Kenapa Jo?"
Bu marimin dari balik pintu dapur, melihatnya lalu Wati.
"Wati Bu-de, kemasukan lelembut sumur!" kesalnya dengan prilaku Wati barusan.
Cepat beringsut mendekati Bu Marimin saat Wati mendekati dengan tatapan tajam.
"Bu-de, Aku sarapan dulu, lapar," kilahnya dengan menyinap di belakang Bu Marimin.
Bu Marimin hanya menggeleng pelan, melihat Wati berbalik kembali mendekati sepeda.
Suara gemercik air terdengar.
Bu Marimin hampir berteriak saat akan masuk ke dalam dapur, Lukijo hampir menabraknya untuk keluar kembali.
Lukijo menggaruk pelan belakang kepalanya.
Gayung plastik di tangan Wati bagai air hujan yang tengah mengguyur deras sepeda yang hampir kering.
"Bu-de, Wati Bu-de," ucapnya seperti mengeluh ke pada Bu Marimin dengan berjalan mendekati Wati.
Wati menghentikan guyuran dari gayung di tanganya, melihat Lukijo mendekat.
"Jarang mandi sepertimu Jo."
Lukijo mesem pahit dengan lebih mendekat, memegang stang sepeda.
"Karat semua Ti, jika sering di cuci," ucapnya melihat sorot tajam Wati.
Lukijo kembali mesem pahit. Pastinya Wati akan menyamakan warna tanganya dengan handel stang sepeda, tebak di benaknya.
"Rem-nya, enggak ada Jo, Aku ingin Kau memasangnya, yang ada talinya," ucap Wati melihat-lihat roda depan dan belakang.
Lukijo menggaruk pelan keningnya yang berkeringat.
"Dari jaman sepeda ini lahir Ti, ini sepeda enggak punya tali puser!" Lukijo kesal.
"Aku enggak mau tau, pokoknya yang ada tali pusernya!" balas wati lebih kesal.
"Pake bekas sedal jepit aja Ti,"
"Aku enggak mau Jo! Harus ada tali remnya!" Wati dengan berjalan marah meninggalkan Lukijo yang terbengong kecil.
Bu Marimin mesem lebar dengan mengikuti Wati nyelonong masuk kedalam dapur.
Gemas rasa ingin menggaruk keras kepala atau menggerus habis hidungnya sendiri membuat Lukijo menatap lemas sepeda.
Kemana Ia harus mencari Tali rem sepeda Kumbang? Tanya di hati yang menggema di dalam sumur di dekatnya.
Dengan rasa lemas bercampur malas Ia pun bergegas ke dalam dapur.
Langsung menuju ruang tamu.
Terlihat dari jendela kaca Bu Marimin tengah membersihkan halaman depan.
Segera menoleh Wati yang duduk cemberut di kursi tanpa menolehnya.
"Aku mau memakainya Jo!"
Lukijo yang belum sempat untuk duduk pun hanya berdiri memegang kursi.
__ADS_1
"Mengapa warga di sini mengganti rem dengan sandal jepit yang sudah putus? Selain jauh mencarinya Ti, Kau juga enggak akan sampai menggoes pedalnya," ucapnya dengan duduk.
Wati melengos tidak perduli.
"Biar Kau, Ku bonceng," Lukijo melihat rona marah di wajah Wati.
"Mengurangi resiko rem blong akibat kaki mu yang tidak sampi menginjak rem,"
"Memangnya akan Kau pake kemana Ti?"
Wati menatapnya Lukijo tajam.
"Ke atas Bukit!" serunya kesal.
"Kalo ke atas bukit, kita tuntun aja Ti, enggak sanggup Aku menggoesnya," mesem Lukijo.
Semakin mesem, tertawa kecil.
Wati mengalihkan tatapnya.
Lukijo menghela nafasnya pelan, melihat keseluruh ruang.
"Ti, mungkin Kau enggak akan percaya," tanpa melihat Wati.
"Saat Aku mengenang seseorang, sepertinya semua yang pernah ku lihat atau ku dengar selalu saja terbayang akan-nya."
Lukijo mesem saat melihat Wati, yang langsung melihatnya.
"Sudah Ku bilang Kau pasti enggak percaya," ucapnya lagi. Melihat tatap Wati.
"Saat Aku meninggalkan Bukit, Aku pernah menjalin sebuah hubungan." Lukijo seperti ingin meyakinkan tatap mata dan bibir bungkam Wati.
"Tapi!" Lukijo mesem, menarik nafas berat.
"Tapi, semua berlalu seperti kabut saat pagi, hilang ... Hanya meninggalkan jejak di tubuh yang dingin,"
"Begitu mengiris hati, bagai membekukan seluruh rasa," Kembali menghirup nafas berat.
"Tapi semua pun, harus Aku jalani Ti, entah salah siapa?"
"Karena meski Aku menyalahkan diriku sendiri atau pun keadaan, semua tetap enggak akan kembali seperti sedia kala,"
"Hanya merelakkan, hanya melanjutkan langkah kembali kini yang bisa Aku terima,"
"Karena yang terlepas dari ku, memang bukanlah tercipta untuk ku."
Lukijo menghela nafasnya. Mata yang tengah berkaca menatapnya, bagai sembilu yang kembali mengiris hatinya akan semua yang pernah Ia alami.
Meski perjalanan cintanya tidaklah seindah kebanyakan orang, setidak Ia dapat merasakan akan rasa di hati tentang sakitnya sebuah perpisahan, kenangan dan wajah seseorang.
"Ti, tali rem yang kau inginkan, enggak akan sama kau pasang seperti semula. Akan ada yang di rubah jika kau paksakan di pasang,"
"Cinta yang ada, seperti tali rem yang akan Kau coba pasang kembali, mungkin bisa, tapi ada yang hati yang lebih terluka karena kau tanggalkan untuk di gantikan yang baru,"
"Anakmu Ti, serta Suamimu." Lukijo menghela nafasnya pelan. Wati hanya terisak dengan meninggalkanya.
Perlahan menundukkan wajahnya, sepertinya apa yang Ia ucapkan salah. Tapi Ia hanya ingin Wati berubah menjadi yang baru bukan seperti dahulu.
Perlahan melihat ke depan Rumah, rupanya Bu Marimin telah usai menyapu.
Terdengar suara isak keras dari arah dapur.
Lukijo menghela nafas berat, sepertinya Wati menangis di pelukan Bu Marimin kembali.
...****************...
__ADS_1