
Bukan kepalang bingungnya Lukijo menatap lengang pekarangan Dapur yang nampak bersih bagai tersapu angin pagi yang kencang, kemepul asap di pembakaran sampah dedauan kering nampak pula menggumpal pekat meski sedikit.
Wajah bingungnya kian hingar dengan celingak-celinguk ke samping kanan dan kiri dapur, namun tiada satu pun sosok yang tengah Ia cari.
Hanya sapu lidi yang tersandar di dinding dapur yang terlihat, seperti habis di pergunakan.
Sedangkan sosok Bu Marimin dan Wati bagai lenyap tertelan sinar terang Mentari pagi yang bersinar.
Kesiangan memang Ia bangun, namun biasanya setiap pagi yang terdengar dan membuatnya terbangun, suara Wati tengah bercanda dengan Bu Marimin tengah menggoreng Nasi. Tapi Aneh! Bahkan wajan dengan berbokong hitam masih bersih tergantung di dekat tungku api, seperti belum terjamah minyak dan Nasi.
Kemana mereka berdua? mungkin itulah kata yang berjubel yang ada di benaknya, seraya menggaruk pelan kepalanya berjalan mendekati sumur.
Bahkan Shely pun tidak muncul bersama jelitanya mentari pagi.
Seperti tidak biasanya Bu Marimin pergi tanpa memberitahukan padanya, yang biasanya jika Ia belum bangun, pasti di bangunkan jika akan pergi.
Lukijo menatap silau sinar yang mengenai wajahnya.
Dengan rasa malas membuka pintu kamar mandi.
Cuci muka Ala kadarnya, alias guyur bayam. Seperti orang yang tengah mencuci daun bayam yang akan di sayur. Asal celup, remas dan di siram. Dan itu pun masih mendingan.
Biasanya Lukijo hanya mengelap wajahnya dengan satu tangan, lantas mengelap kering dengan sarung ,bahkan burung-burung pun Takjub melihat rasa malasnya.
Lukijo membuka pelan pintu kamar mandi, menatap segar ranting-ranting yang beradu pelan di terpa angin.
Dengan rasa malas yang masih mengantuk di tubuhnya, Ia pun kembali menuju dapur.
Semalaman Ia begadang bersama Pak Prapto, sembari menemani saat Istrinya tengah pergi ke Rumah Anaknya di kota kabupaten. Jadi bangun pun Ia harus kelewat pagi, Kesiangan dikit!
Efek semalam kini membuat perutnya terasa lapar.
Tangan-nya pun urung meraih wajan yang telah bersih meski hitam tetap saja mengukir bokong wajan ,meski di cuci memakai berbungkus-bungkus sabun cuci.
Matanya tertuju pada piring di atas meja yang di tutupi piring pula di atasnya.
Pelahan membukanya.
Matanya terlihat suka dan bingung. Rupanya Bu Marimin sudah menggoreng Nasi untuknya.
Dengan sigap karena lapar Ia pun segara membawanya ke ruang tamu.
Seperti biasa Ia pun lebih suka bersarapan di kursi tamu. Bukan tanpa alasan. Ia bisa sarapan sambil melihat orang atau kendaran di jalan depan Rumah, meski sejarang rasa hatinya di kala cinta hanya melintas cepat dalam hidupnya.
Sebuah suapan segera Ia lakukan, sebelum tubuhnya belum lagi duduk di kursi.
Kriuk garing! Dari oncom goreng yang di iris tipis, bagai suara Kursi yang baru Ia duduki.
Mulutnya kian asyik mengunyah pelan, bagai lupa dengan rasa bingungnya akan keberadaan Bu Marimin. Namun Iya sudah-lah! Toh, Bu Marimin tidak akan pernah kesasar di Bukit, pikirnya bercampur penuh nasi goreng di mulutnya.
Segera bangun berdiri, langsung ke dapur kembali dengan piring masih di tangan-nya.
__ADS_1
kembali keluar dengan kedua tangan memegang masing-masing gelas minum dan piring yang sejak tadi Ia pengang.
"Jo!"
Hampir! Nyaris! Tumpah kedua benda yang Ia pegang. Suara di dapur begitu gahar mengagetkanya.
"Nasi goreng ku mana Jo?"
Percikkan air minum dari gelas yang Ia pegang pun telah sedikit yang menumpahi meja.
Wajah kusam sehabis bangun tidurnya, meski bukan hanya saat bangun tidur bahkan keseharian pun terlihat kusam and ugly, langsung menoleh asal suara.
"Eloh jo? Nasi goreng ku..."
Lukijo terpaku menatap wajah Wati yang mendekati menatap lekat piring yang tengah Ia pegang.
Kriuk! Garing terasa hatinya, mengingat Nasi goreng yang belum lengkap habis termakan olehnya, ternyata milik Wati.
"Aku enggak tau Ti," dengan menaruh pelan ke atas meja berikut gelasnya.
"Aku pikir Bu Marimin menyisahkan untukku," ucapnya lagi memandangi Nasi goreng.
Dengan lemas Wati duduk di depanya, menatap tanpa gairah Nasi goreng yang telah tergerus hampir setangah.
"Aku tengah menemani Bu-De ke kebun samping, mencari jantung pisang buat di sayur," lemas Wati pelan, seperti kelaparan.
"Aku buatkan lagi Ti," sesal Lukijo hendak berdiri.
Lukijo mengurungkan niatnya beranjak ke dapur, menggaruk keningnya pelan dengan mata melihat Wati.
Wati mengibas-ngibaskan telapak tanganya ke arah wajah dan area lehernya.
Lukijo mesem melihat keringat di wajah Wati. Sepertinya memang Wati butuh sarapan sehabis berolah raga khas orang kampung, mencari lauk di dalam kebun.
Lukijo makin mesem lebar.
Wati pun menatap curiga.
"Kenapa senyum-senyum Jo?" Tanyanya dengan pias mulai Kriuk! Garing dan garang.
Lukijo hampir terkekeh menyaksikannya.
"Ti, apa sebenarnya yang Nasib perbuat padamu Ti?" tawanya seakan tidak terbendung.
Wajah Wati kembali berubah, tidak lagi berona merah murka tapi semu-semu indah gitu! Saat mendengar nama yang baru di sebutkan Lukijo.
Senyumnya pun mulai terukir terang layaknya sinar Mentari yang benderang di halaman depan Rumah.
Bias-bias kenangan terlukis kembali dari binar matanya yang tertunduk untuk menutupi hatinya di atas meja.
Lukijo menggaruk kesal kepalanya melihat jelas polah Wati.
__ADS_1
"Ti, Apakah yang Kau lakukan kini, karena Nasib? Jika Iya, untuk apa lagi Ti? Semua yang kalian alami bukanya telah lama berakhir?" tanyanya pelan.
Sepertinya memang Ia harus menanyakan ke pada Wati akan apa yang telah di lakukannya setiap hari di Rumah Bu Marimin.
Wajah Wati berubah kembali, nampak lengang dan sunyi bercampur hawa sedih mulai terlihat.
Lukijo menghela nafasnya pelan.
"Iba-lah pada anak mu Ti, Nasib bukan lagi untukmu, begitu juga Dirimu Ti," ucapnya kembali.
Wati menatap tajam dengan berdiri seperti tidak menyukai dengan apa yang dikatakan Lukijo.
"Kau enggak tau apa-apa tentang semua ini Jo, jadi jangan mengingatkan ku akan keluarga Ku!" seru Wati setengah melotot.
Lukijo mesem pahit menatap Wati.
"Ti, Aku memang enggak tau apa-apa tentang kalian saat ini, Aku hanya tau Kau telah berumah tangga, begitu pula Nasib," balasnya kemudian.
"Sudah Ku bilang barusan Jo!" Wajah Wati kian kesal.
"Lalu mengapa Kau enggak memberitahukan pada ku atau Shely Ti?"
"Setidak nya, Aku enggak heran melihat mu setiap hari menemani Bu-De, Aku enggak heran melihatmu mengabaikan anakmu."
"Percuma Jo!"
"Percuma? Percuma Kau lakukan semua ini Ti, semua enggak akan seperti dahulu Ti." Lukijo tetap dengan suara pelan. Hatinya terasa Kriuk! garing begitu prihatin melihat Wati.
Wati hanya terdiam menatap keluar Rumah, hidungnya kembang-kempis menahan gelora di hatinya.
Lukijo mengusap pelan wajahnya, melihat Wati berlari keluar Rumah dengan terisak.
Bingung kembali menjalar di benaknya akan semua yang belum lagi Ia ketahui, sedang Wati hanya bisa menjelaskan kepadanya dengan tangisan.
Perlahan melihat kembali Nasi goreng di atas meja, lalu melihat keluar Rumah di mana masih terlihat Wati berlari pulang.
Kriuk! garing hatinya terasa sedih, melihat Wati yang selama ini Ia kenal begitu baik padanya dan keluarga Bu marimin.
Lukijo berdiri, melangkah pelan mendekati pintu Rumah. Matanya menerawang di tengah persawahan dan puncak Bukit yang tertutup ranting dan pepohon, seperti ingin mencari jawab akan kesaksian kasih yang selama ini menjadi saksi akan cinta Wati dan juga Nasib.
Namun hanya terasa bisu kian menjalari saat mata tersapu angin yang berhembus sepoi.
Lukijo menundukkan wajahnya, daun pintu yang di pegangnya pun ikut bungkam, dia mana menjadi saksi akan canda keduanya pula.
"Jo!"
Lukijo segera menoleh ke arah dapur, Bu Marimin memanggilnya.
Dengan sedikit berlari Ia pun segera menuju asal suara, mungkin Ia bisa coba membujuk Bu Marimin untuk bercerita barang sedikit tentang Wati. Pikirnya dengan meraih piring dan gelas di atas meja.
...****************...
__ADS_1