
Senyum matahari begitu cerah dan terasa hangat, berjuntai di mata penuh dengan mutiara berkilauan di pucuk-pucuk ilalang yang mulai bergoyang di terpa angin. Namun senyum di bibir yang manis terlihat getir dan suram.
Lukijo mematung berdiri tanpa kuasa dan berani menoleh barang sedetik pun, setelah melihat rona wajah Wati yang berdiri di sampingnya mematung pula.
Hanya ada kesedihan yang terasa menjalari dari setiap hembus lirih angin yang tengah menerpa wajah.
Burung-burung remaja yang melintas jauh di atas pematang sawah yang mulai menghijau, seperti berkicau dalam irama yang menyayat rasa.
Seruling-seruling alam yang terdengar di kejauhan menjadi pengiring guratan-guratan awan putih yang bersih di angkasa.
Gemercik air yang mengalir di saluran kecil pinggir persawahan seperti membawa cipratan-cipratan perih yang terasa.
Lukijo semakin bungkam, Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pada perubahan Wati, yang kemarin-kemarin begitu sumringah dan penuh canda, kini pagi terlihat suram bersama wajahnya.
"Jo."
Lukijo segera menoleh.
"Jo."
"Jo."
Lukijo yang baru akan menjawab harus kembali terdiam.
"Jo."
"Sudah pulang Ti." Lukijo melihat Wati yang masih menatap hampa pematang sawah.
Sebuah jenggutan kecil membuat Lukijo mengaduh pelan pula.
"Bagaimana perasaan mu jo?"
Lukijo seperti terbengong dalam hati mendengar pertanyaan Wati. Seharusnya Ia yang bertanya akan keadaan orang di samping nya yang tengah bersedih.
"Pada mu maksudmu?'jawabnya dengan mengalihkan tatapan ke arah puncak Bukit.
Kembali jenggutan pelan terasa di kepala. Lukijo pun kembali mengaduh.
"Perasaan mu saat ini yang bagaimana Ti?" Dengan sedikit menjahui Wati.
"Iya itu, Bagaimana perasaan mu melihatku?"
Lukijo melebarkan bibirnya, terasa aneh polah Wati pagi ini.
"Biasa aja Ti," ucapnya lugas.
Langsung tertawa tertahan melihat tangan Wati yang akan menjenggut ulang rambutnya.
Wati pun menolehnya.
"Jangan banyak melamun Ti," geli Lukijo. Namun langsung tertunduk melihat telaga jernih di mata Wati.
"Ada apa Ti?" ucapnya dengan berusaha menatap lagi wajah Wati.
"Aku pikir hanya orang jelek seperti ku aja yang merasakan sakit, ternyata orang cantik juga terlihat sakit." Lukijo mesem seperti ingin membendung Telaga jernih yang akan segera jatuh.
Lukijo benar-benar tersentak. Wati memeluknya dengan menangis.
Debar angin yang sejak tadi terasa menerpa, hilang bagai di terpa sedu yang terdengar di telinga.
Kaku tangan dan rasa yang melanda tanpa tahu harus berbuat apa.
Lukijo seperti mati rasa di tubuhnya, kaku terdiam tanpa bisa bergerak. Hanya mata yang berusah melirik Wajah Wati yang terbenam di pundaknya.
__ADS_1
"Jika Kau dalam keadaan enggak sedih, pasti kau lebih memilih memeluk batang pohon kelapa dari pada Aku Ti, " ucapnya pelan dengan mata melihat deretan pohon kelapa di kejauhan.
Hanya Isak Wati dan sengal pilunya yang terasa di pundak menyahuti.
Lukijo seperti menggaruk kepala dengan rasanya. Ia benar-benar bingung jika harus menenangkan seseorang yang tengah menangis.
"Mungkin pohon pisang Ti, enggak terlalu keras untuk di peluk," ucap Lukijo lagi.
Hanya isak yang kian kuat terasa.
Lukijo mulai panik.
"Ti, kita ke rumah Bu-de Marimin aja," ucapnya dengan tangan akan menyentuh pundak Wati.
"Jika ada melihat kita...,"Lukijo tidak kuasa meneruskan ucapan-nya.
Wati semakin tersengal di pundaknya.
Diam membeku sepertinya menjadi pilihan, membiarkan sejenak Wati mencurahkan air mata akan perasaan yang tengah di alami.
Lukijo menatap pematang persawahan, Ia dapat merasakan sebuah hati yang tengah terpukul. Meski Ia pun tidak mengetahui duduk perkara yang dialami Wati.
Sedu-sedan kian terasa di pundak.
"Nasib Jo!"
Lukijo tercekat, melirik rambut Wati yang tidak lagi sepanjang dahulu.
"Nasib kenapa Ti?" tanya-nya was-was mendengar nama yang di sebutkan Wati.
"Nasib Jo!"
"Iya Nasib kenapa? Apa Nasib ada di bukit?"
Wati menggelengkan kepalanya.Dengan perlahan melepasakan dekapan-nya. Mengusap kedua matanya yang tengah basah. Menatap Lukijo pilu.
"Ada apa Ti? Ada apa dengan Nasib?" pelan Lukijo.
Rona yang terpancar semakin suram meski air mata yang jatuh telah juga di usap, Wati menatap pilu Rumah Bu Marimin seperti sebuah sayatan menggores di dalam sanubarinya.
Lukijo menatapinya dengan tanya, menatap rambut Wati yang hanya sepanjang di bawah dagunya. Dahulu panjang hingga menutupi seluruh punggung hingga ke pinggangnya, hitam bagai gumpalan awan mendung yang halus.
Lukijo menghela nafasnya pelan. Mengalihkan tatapanya di atas puncak Bukit yang menghijau. Sebuah kesan seperti terpancang tegak di sana, meski semua hanya tinggal janji cinta yang telah usai.
Kembali melihat rambut Wati.
Sepertinya Ia memahami, jika nama orang yang di sebut Wati membuatnya menangis, namun masalahnya apa sebenarnya yang tengah terjadi? Bukankah Nasib dan Watib masing-masing sudah menemukan jalan cintanya sendiri. Lalu apa lagi yang kini Wati tangisi?
Lukijo menundukkan wajahnya, tanya di hatinya bagai berembun di rerumputan liar di sela jemari kakinya yang bersandal jepit.
"Jika Aku tau?"
Lukijo tersentak pelan melihat Wati.
"Nasib."
Bibir Wati seperti bergetar berucap.
Lukijo seperti heran dengan yang Wati katakan, bukankah Dirinya sudah mengetahui tentang Nasib.
Menatap mengamati saat Wati duduk di lantai gubuk dengan rasa yang lemas, mengusap kembali pipinya yang basah.
"Aku bingung Ti, sebenarnya Nasib kenapa?"
__ADS_1
Lukijo menatap pilu.
"Aku juga Jo, bingung." Isak Wati terisak pelan.
Dering dari HP terdengar.
Wati segera melihat layar HPnya.
"Bunda!"
Suara Anak Lelaki terdengar dari Speker mungil HP.
"Kevin, tunggu sebentar Nak. Bunda lagi mau pulang!" Wati berbicara tanpa mendekatkan HP di telinganya, dan langsung mengakhiri panggilan.
Menoleh Lukijo.
lukijo mesem, perlahan menundukan tatapan.
"Mungkin semua memang sudah suratan ya Jo?"
"Apa Kau ingat akan Erika?"
Lukijo cepat menoleh.
"Erika." ucapnya di hati. Tentu Ia mengingatnya tapi, mengapa tiba-tiba Wati bertanya tentang Erika?
"Ayah Kevin, adalah teman Erika."
Lukijo termangu, tiada menyangka. Ia mengenal Erika sebagai teman baik Nasib. Karena Nasib pernah menceritakan padanya, lagi pula Erika pernah mengunjungi Bukit.
"Lho! Bukanya baik Ti?" tanya-nya dengan sedikit heran.
Wati termangu hampa di antara linang yang kembali jatuh.
"Semua hanya untuk menjahui Aku dan Nasib Jo!" Serunya tiba-tiba.
lukijo terbengong tidak percaya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Wati.
Tangis isak kembali terdengar.
Lukijo menahan nafasnya pelan, hati seperti terjalar rasa yang tengah di rasakan oleh wajah cantik yang tengah merasa sakit.
Menatap dengan diam Wati yang berdiri dengan mengusap-usap matanya.
Terus menatapi tanpa bisa berkata apa-apa hanya mampu melihat tubuh kecil Wati yang menjahuinya, melangkah pelan menuju Rumah Bu Marimin dimana Shely terlihat tengah menunggunya di atas Motor Matic untuk menjemputnya pulang.
Masih terdiam menatapi saat Wati menolehnya pelan sambil berjalan.
Sepertinya Wati memang harus pulang mengingat anak lelakinya mencarinya.
Lukijo menghela nafasnya pelan, melihat lembar-lembar awan putih yang tengah berjalan pelan seperti di puncak Bukit.
Perlahan tertunduk melihat jemari kakinya, hati berdesir pelan, kisruh cinta seperti memang akan selalu ada dalam setiap langkah meski semua telah berakhir, memang sulit untuk benar-benar melupakan se-seorang yang terbenam di hati. Akan selalu terngiang saat hati mengingatnya, akan selalu terkenang saat hati merasa sedih.
Kembali melihat ke arah puncak Bukit. Mungkin perjalan cintanya tidak seindah seperti Wati dan Nasib, Setidaknya Ia masih sendiri untuk dapat merasakan duri sebuah cinta.
Perlahan menoleh ke arah Rumah, sepertinya Shely telah membawa Wati pulang ke Rumahnya.
Hanya terlihat pintu Rumah yang masih terbuka.
Kembali Menghela Nafasnya pelan, menatap sesaat Puncak Bukit sebelum kakinya beranjak,
Sinar matahari seperti kemilau di kejahuan, seperti Air mata Bunda yang baru jatuh dan terus jatuh berlumur di hijaunya puncak Bukit.
__ADS_1
"Nasib!Nasib!" ucapnya di hati dengan melihat ke arah Rumah dan mendekati.
...****************...