
Lukijo dan Shely hanya mematung , tiada sanggup menatap wajah Wati. Bahkan Bu Marimin hanya termangu melihat keduanya menghimpit kedua tangan di dengkul masing-masing.
Keduanya hanya tertunduk dan kadang berpandangan, saat Wati berjalan mundar-mandir di dekat kursi.
Ruang tamu yang biasanya berwarna dengan tawa, terasa sunyi meski suara sandal terdengar memecah sunyi.
Meski sempat beberapa kali Wati berucap, keduanya hanya menanggapi dengan tatapan dan tundukkan.
Bibir Wati bagai terkatup kaku untuk bisa bercakap ceriwis sebagai mana biasanya.
Hela nafas Bu Marimin menyela setiap gerak langkahnya.
Suasana laksana berkabut, ruangan terasa hampa, kaku dan hanya sudut mata yang lebih banyak bicara.
Mungkin hanya ramai di dalam hati yang begitu sesak oleh begitu banyak pertanyaan.
Lesung pipi terindah yang biasa Lukijo lihat pun seakan tertutup oleh pusaran jam dinding yang berdetik.
Senja yang belum lama berlalu, kabut pun belum lagi menutupi seluruh puncak Bukit namun terasa mencekam yang menjalari.
Kisruh di hati, bagai Purnama tertutup mendung hitam, gelap dan penuh misteri di baliknya.
Riang wajah berubah masam dengan tajamnya sorot mata.
Lukijo mengusap keningnya pelan, keringat dingin tiada terasa di telapak tangan-nya.
Shely mencuri pandang dengan sudut atas matanya pada Bu Marimin.
Gerakkan pelan di bahunya, menjawab sorot mata Shely kepadanya, sedang bibirnya tetap terdiam.
Shely kembali meluruhkan tatapnya ke atas meja.
Suara mendehem kuat terdengar.
Lukijo hampir mesem, jika tidak mengingat awasnya mata yang tengah menatapnya dan Shely.
Begitu juga Shely, tentu Dirinya pun bukan hanya tersenyum melainkan tertawa mendengarnya. Karena deheman Wati begitu menggelikan hati, jika suasana tidaklah sekaku sekarang.
Lukijo dan Shely seperti bersepakat tanpa kata menyandarkan tubuhnya di kursi, meski tatap keduanya tertuju pada meja.
Suara sandal pun langsung terhenti.
Seperti siaga Bu Marimin langsung berdiri.
"Bu-de tidur duluan iya Ti," pelan kepada Wati.
Wati hanya mengangguk, namun mata tetap mengawasi Lukijo dan Shely.
Tiada terdengar suara langkah dari kaki Bu Marimin saat berjalan pergi.
"Ti, Aku capek melihatmu berdiri. Duduklah Ti." Shely memecah keheningan.
"Aku juga Ti." Lukijo menimpali.
"Seperti kalian duduk di atas Bukit, mesra gitu!"
Baik Lukijo dan Shely harus saling bertatapan.
Bagaimana bisa mereka tidak mengetahui gelagat di balik semak dan ilalang di belakang mereka?
Mungkinkah suara gemeresek ilalang yang mereka dengar adalah Wati?
Kembali Wati mendehem lebih keras.
Sontak keduanya harus melihat Wati.
__ADS_1
"Senang sekali kalian! canda-tawa di tengah hari terik, enggak pada gerah!"
Lukijo dan Shely sama bertatapan kembali.
"Cieeeeee! masih terasa di atas bukit?" Wati lagi.
Long time a go! rasanya waktu yang baru keduanya lewati, sedangkan senja baru saja mereka nikmati bersama menuruni Bukit, telah lekas sirna karena polah Wati.
Lukijo yang hendak mesem pun harus luruh dalam tertunduk, wajah Wati bagai Mentari tepat di atas puncak Bukit, Menyengat kulit!
Belum lagi rambut pendeknya yang sengaja di kuncit, bagai cemeti yang siap memecut keras.
Shely menutupi wajahnya dengan telapak tanganya, menutupi geli di bibirnya.
"Udah pada kepingin merasakan sakitnya cinta!"
Lukijo dan Shely benar-benar termangu.
"Apa kalian pikir! jika kalian bersama, terus merasa dunia milik pribadi! begitu?"
"Semua terasa indah, semua terasa bahagia jika selalu bersama?"
"Ha! Begitu?"
Lukijo dan Shely kembali bertatapan.
"Waduh!waduh! Masih kurang tatap-tapannya?" Wati dengan duduk.
Lukijo mendehem pelan, Shely menghela nafas.
"Kami hanya merayakan kebahagian Ti," ucap Lukijo mesem.
Shely mengangguk meng-iya-kan.
Bibir Wati melongo, menatap berganti wajah-wajah di depanya. Bahkan keringat dingin Lukijo yang mulai keluar pun tidak luput dari matanya.
"Iya! Memang! Kami turut bahagi dengan kembalinya Dirimu!" Tanggap Shely.
Lukijo mesem mengagguk.
"Memangnya, Aku pergi kemana? Tiba-tiba kembali?"
Lukijon maupun Shely senyum berbarengan.
"Untuk kesadaranmu Ti."
Dengan sorot mata tajam Wati langsung melihat Lukijo.
"Apa?" Tanyanya keras.
Lukijo Nyaris merubah duduknya.
"Apa Kau pikir Jo, Aku hilang kesadaran?" Wajah Wati terlihat tidak suka.
"Kami enggak bilang seperti itu ... Hanya saja sikapmu yang membuatnya," jelas Shley melihat bibir Lukijo seperti terkancing.
Senyum tidak suka pun terukir di wajah Wati akan ucapan Shely padanya.
"Sikapku yang mana?"
"Kau lupa dengan Kevin, Kau acuhhkan Suamimu, lalu Kau anggap rumah bu-de, tempat sekarang dalam menempuh kebahagian akan masa depan keluargamu," jelas Shely.
"Tempatmu di sisi suamimu dan anakmu Ti, istanamu adalah bersama mereka." Lanjut Shely seperti sedih mengingat sikap Wati akhir-akhir ini.
Lukijo hanya mengangguk kecil setiap kata yang keluar dari mulut Shely.
__ADS_1
Wati tersenyum sinis, semakin sinis melihat wajah Lukijo.
"Asal Kau tau Jo! wajahmu semakin rusak bila Kau mengangguk!" Wati seperti mencurahkan rasa tidak sukanya.
Lukijo mesem kecil mengangguk kembali. Hal itu membuat wajah Wati melengos menembus kerasnya bata merah dinding Rumah.
Lantas cepat melihat Shely dengan tatapan yang sama kepada Lukijo.
"Apa Kau pernah mengalami biduk Rumah tangga Shel?" Tanyanya pelan namun penuh sidirian.
"Atau kalian ingin merasakannya?" Wati melihat kembali wajah-wajah di depanya bergantian.
"Namun bukan denganmu Jo!"
Lukijo benar-benar merubah duduknya, bersandar menjadi hampir merunduk. Matanya tertuju pada jemari kakinya yang Ia silangkan.
"Karena Shely enggak bakal memilihmu!"
Lukijo semakin menatap lekat jemari kakinya. Sandal jepitnya pun Ia lepaskan.
"Shely, Shely hanya lari dari cinta yang telah menyakitinya, Shely hanya mencari penghibur dari lara hatinya."
Lukijo menahan nafasnya, melihat Wati dengan sudut atas matanya.
"Bukan begitu Shely?" Wati menatap tajam Shely.
Lukijo termangu, sentil nafas Shely seakan mengenai.
Shely terdiam terpaku.
"Apa Kau lihat Jo, Bahkan Shely enggak bisa mengangguk!"
Lukijo mesem pahit. Menatap pelan mata yang tengah menatapnya.
"Apakah ini juga yang tengah Kau rasakan Ti?"
Wati menyandarkan keras punggungnya ke kursi. Tiada berkdekip melihat Lukijo.
"Apa karena Nasib bersama yang lain, lantas Kau merasa di acuhkan oleh kebahagian?" Lukijo menghela nafas ringan. Menatap pias di ujung kemarahan.
"Lalu Kau mengacuhkan kebahagianmu, kelurgamu?" Kembali menghela nafas namun terasa berat. Pias di wajah Wati tiada bergeming menatapnya.
"Kami hanya merasa kehilanganmu yang dahulu,"
"Bagaimana Kau mengagungkan cinta, di atas bukit. Meski kabut begitu dingin selimut kesetiaanmu mampu menghangatkan setiap hati yang melihatnya." Bibir Lukijo bergetar pelan, seperti menahan sebuah sesak di dalam dada.
"Jika kini Kau berubah, Aku mengerti Ti, tapi ...,"
Lukijo mengusap keningnya, tertunduk kembali. Sorot Mata Wati seperti sembilu yang mulai mengiris hati.
"Tapi, apakah seperti ini caramu untuk membalas cintamu yang hilang?" Menatap lekat kembali wajah Wati.
Lukijo mengatupkan bibirnya yang akan kembali berucap, mata Wati terlihat tergenang bening hangat.
Menyandarkan tubuhnya, saat Wati berdiri menatapnya berkaca-kaca. Lalu terisak dengan berlari ke luar Rumah.
"Ti!" Shely dengan mengejarnya.
Lukijo menoleh Wajah Bu Marimin yang terpana keluar dari pintu kamarnya. Menatapnya dengan tanya.
Lukijo mesem pahit. Menundukan tatapnya ke arah meja.
Hanya langkah Bu Marimin yang sayup, pelan mendekati pintu Rumah.
Lukijo menelan ludahnya, menahan sesak di hatinya yang terasa kering.
__ADS_1
...****************...