SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
18. Lena Dalam Rinai


__ADS_3

Rintik hujan yang terus membasahi dedaunan PJKM bagai tiada surut sejak siang. Deru angin memang telah berhenti tidak begitu deras, namun tiada cukup menerangi jalan dan suasana yang terlihat samar.


Lukijo menoleh Shely. Mesem kecil melihat wajah yang hampir mengantuk.


"Aku udah bilang tadi pagi, untuk apa ke puncak bukit?" Seperti iba melihat Shely yang menahan kantuk.


"Udah semalam enggak tidur," ucapnya lagi.


Semalaman Ia menemani Shely menatapi bintang-bintang di bawah PJKM. Meski tiada satu pun bintang yang terlihat tertutup mendung. Hanya sekedar mengusir gulananya hati akan sikap Wati.


Paginya menuruti keingan-nya melihat Matahari terbit, dan itu pun tiada kesampaian. Mendung bagai enggan untuk pergi dari semalam.


Dan saat pulang harus berbasah-basah sedikit karena gerimis yang turun, Mujurnya hujan deras turun mengguyur setelah sampai kembali di Rumah Pak Prapto.


Lukijo kembali mesem melihat wajah yang mulai memejamkan matanya.


"Shely, tidurnya di dalam Shel!"


Bu Prapto dengan membawakan dua gelas teh hangat, melihat Shely terpejam.


Shely membuka matanya, menggerakkan tubuhnya dari kursi dan tersenyum dengan malas.


"Hujan seperti ini, bisa awet sampai sore!"


Bu Prapto melihat keluar Rumah dari jendela kaca.


"Jo, duduk jo."


Lukijo hanya mesem.


"Biar Bu-de, biasa berdiri." Shely menimpali Bu Prapto.


"Pak prapto belum pulang Bu?"


"Paling juga sedang berteduh jo." Bu Prapto seperti tahu dengan kebiasaan suaminya jika tengah berada di kebun.


"Shel?"


"Biar Bu-de, Aku tiduran di kursi aja," sahut Shely yang masih menyandarkan kepala di kursi.


"Mau Ibu temani, atau Lukijo?"


Shely mesem lebar.


Lukijo menggaruk pelan keningnya.


"Lukijo aja Bu-de, Aku lagi kepingin suasana hening," jawab Shely menutup matanya lagi.


Bu Prapto senyum geli kepada Lukijo.


"Iya sudah Jo, temani Shley. Bu-de tiduran di kamar."


"Dari tadi juga udah di temani Bu-de," sahut Lukijo melihat Shely.


"Kesempatan mu Jo, untuk menatap Shely sepuasmu," bisik Bu Prapto.


Lukijo langsung melayangkan tatap ke arah meja.


Bu Prapto mesem geli, dengan beranjak ke dalam.


Dengan perlahan seperti takut mengganggu mata yang tengah terpejam segera duduk di depan Shely.

__ADS_1


Ucapan Bu Prapto seperti benar-benar merayunya untuk melihat wajah Shely.


Hatinya terasa ada yang menusuk lirih dari kevakuman di ruang dalamnya akan geliat rasa yang indah. Wajah Shely bagai ingin mengusik kembali rindu yang telah rebah di dasar hati, untuk kembali muncul dalam gelombang cinta yang lara.


Bibir yang tipis dengan bulu yang begitu halus dipipi nampak bersih dalam tatapan.


Lukijo mengelus dadanya dengan rasanya, mencoba membuang semua keinginan angannya untuk kembali bangkit dalam gelora cinta.


Sepertinya Ia tidak ingin lagi berharap dalam harapan yang kosong, Ia tidak sanggup lagi mengusik rembulan yang indah dengan cinta yang akan memberi gelap di ujung terang, Ia hanya ingin hati yang bisa menerima semua keburukan-nya, meski itu pun bagai mencari jarum di tumpukan jerami.


Wajah yang indah hanya akan Ia miliki dalam angan dan mimpi saja, dekat dengan Shely menjadi temannya sudah cukup menyanjungkan hatinya.


Lukijo kembali mengusap dadanya dengan rasa, akan langkahnya yang selalu terseok dalam keheningan malam di saat cinta para insan tengah ramai bermanja di terangnya rembulan, hanya mampu menatap tanpa bisa menikmati arti dari cinta yang sesungguhnya.


Yang sesungguhnya kini hanya ada kabut dingin meyelimuti hati yang beku, sesungguhnya yang ada bagai lena dalam hujan di saat cerah menaungi.


Suara mendehem pelan terdengar.


Lukijo langsung memejamkan matanya dari tatapnya ke pada Shely.


Senyum di hatinya terukir mengingat tatap mata Shely jika saja tahu Ia memperhatikan, terasa mata Wati jika tengah ngambek.


Kembali membuka matanya, menatap kembali wajah yang masih terpejam. Sementara rinai hujan belum lagi terdengar menghilang, hanya suara Shely yang kini tiada terdengar, yang kini sering mengiang di telinganya.


Bengitu hening dan tenang melihat wajah bersih dengan rambut yang mulai memanjang sepunggung, mirip seperti Wati dahulu.


Lukijo menelan ludahnya pelan, memalingkan kepalanya menatap awang-awang Rumahnya dahulu.


Sesaat kembali kenangan bagai bermunculan di genting-gentingnya yang bersawang, semua telah berlalu, masa-masa bermain bersama Wati telah juga larut termakan waktu.


Suara mengembek terdengar dari samping belakang Rumah.


Suara lapar dari dalam kandang seperti ikut menggugah kenangan yang belum terusik oleh angannya.


Suara yang khas baginya di setiap harinya.


Lukijo hampir tersentak bangun, namun jari telunjuk Bu Prapto di bibir, membuantnya perlahan bangkit untuk mendekatinya di tengah pintu ruang tengah.


"Cantik iya, Shely?"


Lukijo hampir melebarkan bibirnya.


Berharap tadi Bu Prapto memberitahukan sesuatu yang penting untuknya.


"Lantas kenapa Bu-de?" tanya-nya melihat Shely yang benar-benar tertidur.


"Sikat Jo," bisik Bu Prapto.


Lukijo menggaruk pelan keningnya yang tidak terasa gatal, namun kesal.


"Apa yang harus Aku sikat Bu-de? Shely enggak main kotor-kotoran," dengan melihat Shely kembali.


"Eehhhhh." Kesal Bu Prapto dengan telunjuk mendorong pundak Lukijo.


"Sikat hatinya Jo, perasaanya, cintanya Jo," gemasnya kemudian.


Lukijo mesem, menggaruk belakang kepalanya.


"Bu-de keterlaluan nih, Iya enggak mungkin bisa Bu-de,"


"Bu-de ingin Aku nyemplung ke jurang karena putus asa?"

__ADS_1


Bu Prapto menahan tawa dan kesalnya.


"Coba Bu-de lihat ... Wajah Shely dengan wajahku, bagai air jernih yang mengalir di atas lumpur." Lukijo seperti mengeluh.


"Berat Bu-de bagiku jika harus membendungnya dengan kedua telapak tanganku," kesahnya lagi.


"Itu kan, hanya perasaanmu aja Jo."


Lukijo kembali menggaruk pelan keningnya,


"Bukan karena perasaanku Bu-de, tapi memang itu lah adanya," jelasnya pelan.


Bu Prapto seperti menghela nafas kesal.


Suara mendehem terdengar.


Bu Prapto segera bergegas kedalam.


Lukijo pun segera kembali untuk duduk.


"Udah berhenti hujan-nya Jo?"


Urung sudah niat hati untuk duduk kembali mendengar suara berat orang yang habis terbangun dari tidur. Dan langsung mendekati jendela kaca yang berwarna gelap.


"Udah Shely," ucapnya hampir terbata.


"Iya tah!" Shely dengan berdiri.


Lukijo mesem menolehnya.


"Sebentar sekali tidurnya Shel? Tanya-nya sebenarnya heran.


Nampak senyum tipis berhias lesung indah yang menjawab.


Lukijo mengusap dadanya dengan rasanya, menatap Shely yang baru bangun saja terlihat cantik.


Semakin terasa kaku tubuhnya, saat Shely mendekatinya. Melayangkan tatapan di kejauhan yang tertutup rinai yang mampu Ia lakukan, meski debar pun mengusik hatinya.


"Masih deras jo."


Lukijo mesem pahit, mendengar keluh yang berdiri di sampingnya.


Tetes-tetes rinai di atas genting, laksana suara hati yang menggema di dekat wajah yang ayu. Riak-riak kecil yang tercipta di tanah, bagai lirih rasa hati di dekat bibir yang manis.


Suasana rinai kecil mulai terasa nyaman, meski tiada kata yang mampu terucap dalam kekakuan diri, meskitelah terbiasa bersama.


Terasa nyaman saat mata hanya menatap di kejahuan yang tenang.


Gelontrengggggggg!!


Hampir copot jantung Lukijo dan Shely mendengar suara benda yang jatuh di belakang.


Keduanya pun saling bertatapan.


"Enggak apa-apa Jo!!Shely!! Teruskan aja!!"


Lukijo segera menundukan wajahnya. Sepertinya Bu Prapto sengaja membuatnya untuk bertatapan dengan Shely.


Kembali mengusap hatinya dengan rasa, rasa jengkel dan rasa gimana gitu! menatap lekat mata Shely, Seperti malu tapi seneng gitu!


...****************...

__ADS_1


__ADS_2