
Damai pagi baru saja memeluk hangat alam yang baru saja terjaga, penuh hikmad pucuk - pucuk ilalang yang terdiam di hampir seluruh Bukit yang menumbuhi, dengan kebun-kebun kopi dan pepohonan liar yang berbaris rapat.
Lembab tanah di bawah rerumputan liar akan segera mengering bersama jalan aspal yang juga basah.
Namun Lukijo masih lagi bergumul sarung di atas dipan kayu yang kering.
Mata memang terbuka, menelisik di luar Rumah dari jendela kayu papan yang tidak rapat.
Suara di perkarangan dapur sejak tadi Ia nantikan.
Terdengar memang suara sapu lidi beradu dengan tanah, tapi jelas bukan Wati atau pun Shely yang tengah menyapu.
Bu Marimin lah yang tengah menyapu, mengingat jika Wati atau pun Shely pasti suaranya lebih dahulu menyentuh pagi dari pada tanah basah.
Telah hampir beberapa hari keduanya tidak lagi Nongol dan berkunjung seperti waktu kemarin.
Seperti sepakat untuk mogok menyapu saja.
Lukijo menutupi sekujur tubuhnya dengan sarung, kantuknya mengusik kembali ketimbang menunggu Wati atau pun Shely yang membuatnya bagun kelewat pagi.
Suara Gemeresek di belakang Rumah menembus sarung yang menutupi telinganya.
Lukijo sontak membuka matanya dengan sarung di kepalanya.
Suara Gemerenceng di arah dapur terdengar lebih nyaring dari sapu lidi Bu Marimin.
Seperti terkejut, langsung bangun dengan sarung di lingkarkan di bahu dan pingangnya.
Rasa penasaran membuat kantuknya lenyap seketika.
Lukijo mesem di depan pintu dapur.
Rambut hitam pendek tengah asyik menggoreng sesuatu di Wajan kecil.
Sejak kapan Wati datang? Sedang sejak tadi rasanya Ia menunggu dengan telinga terbuka? Mesemnya mengukir asap tipis dari dalam kenceng.
Lukijo berjalan pelan, seperti tidak ingin lagi mengusik Wati yang tengah menggoreng Nasi.
Setidaknya ada yang membuatkan sarapan pagi untuknya. Mesemnya dengan pelan menuju keluar dapur dan berniat langsung ke kamar mandi. Cuci muka dahulu sebelum makam, kebiasaan yang sulit untuk dirinya rubah di setiap pagi.
Aroma bawang bawang goreng dan bumbu laninya seperti mengudara di angkasa pagi. Membuat bersin di mulut.
Lukijo menutupi mulutnya dengan sarung, kakinya turut terhenti di tengah pintu dapur. Sementara tatap jengkel Wati yang kaget langsung menghujam ke wajahnya.
Lukijo mesem-mesem.
Wati seperti mendongkol menatap.
"Apa kabarmu Ti?" Lukijo seperti orang yang lama tidak berjumpa.
Bukan jawaban yang manis yang keluar dari bibir Wati. Tapi suara Wajan yang beradu dengan Sutil yang sengaja di aduk keras di nasi yang baru di goreng yang terdengar menyahuti.
Lukijo makin mesem dengan beranjak dari tengah pintu ,sebelum sutil melayang ke arahnya.
Bu Marimin memperhatikanya.
Lukijo Cuek Bebek! Selonong ke dalam kamar mandi.
Air di dalam Bak mandi terguyur di wajahnya. Segera mengusap wajahnya dengan sarung, dan segera keluar lagi.
Bu Marimin melihatnya lagi.
Lukijo mesem mendekati.
Bu Marimin meneruskan menyapu.
"Bu-de, kapan Wati datang?"
__ADS_1
Bu Marimin hanya diam melihat ke arah dapur.
"Bu-de?" Lukijo kembali.
Bu Marimin meluruskan punggungnya.
"Sejak semalam Jo."
Lukijo bengong kecil, melihat ke dapur. Lalu melihat Bu Marimin.
"Tapi,Bu-de?"
"Kau pulang, Wati udah tidur Jo." Jelas Bu Marimin meneruskan menyapu.
"Jadi semalam?" Lukijo menggaruk keningnya pelan.
"Semalam Wati menunggumu." Bu Marimin lagi.
Lukijo terpana.
"Ada apa Bu-de?"
Suara Gemeresek! Dari sapu Bu Marimin menjawab.
"Katanya sih, Wati mau menghukum-mu Jo." Bu Marimin dengan berhenti menyapu.
"Jo!"
Lukijo dan Bu Marimin sontak menoleh.
"Jo, Wati memanggilmu."
Lukijo menatap segan Bu Marimin.
"Aku kok, jadi takut Bu-de?"
"Jo!"
"Udah sana Jo, dari pada Wati memanggilmu dengan suntil di tanganya?" Bu Marimin kembali menyapu.
Meski ragu dan penuh rasa bahaya yang tengah mangancam akan panggilan Wati kepadanya, Lukijo berjalan mendekati.
Tatapan Wati tiada lepas memperhatikannya.
"Iya, Ti. Ada apa?" Lukijo sebelum dekat dengan Wati yang berdiri di tempatnya bersin.
"Sarapan dulu Jo."
Rasa was-was dan juga takut akan Wati yang masih marah padanya, membuatnya terpana.
"Udah hayoo!" Wati langsung menarik tangan Lukijo masuk ke dalam dapur. Meletakan Sutil dengan langsung mengambil Sepiring Nasi Goreng di atas meja makan yang sudah Ia siapkan. Sementara tangan yang lain tetap menarik tangan Lukijo ke ruang tamu.
Lukijo bagai sapi yang di cucuk hidungnya, mengikutinya.
"Duduk!"
Lukijo pun langsung terduduk
"Kalo berdiri, kurang sopan Ti. Kursi kan, memang buat duduk," ucapnya mesem pahit.
Wati hanya terdiam dengan duduk di samping Lukijo.
Lukijo memperhatikan Nasi Goreng yang di letakan Wati di meja.
Tumben! Pikirnya melihat sarapan paginya sudah tersedia, Terus! Ada telur dadarnya menghiasi di tengah-tengah Nasi. Biasanya juga meski Wati membuat Nasi Goreng untuknya, pastinya masih ada dalam Wajan Alias, ngambil sendiri!.
Tapi pagi kini ...
__ADS_1
Lukijo mesem.
"Enggak usah! Mesem-mesem!" Wati dengan jengkel menarik Hidung Lukijo.
Lukijo mengaduh sakit.
"Makan aja!" Wati lagi setelah melepas tarikannya.
"Iya Ti, Aku memang lapar!" Lukijo dengan mengambil Nasi Goreng.
Namun kembali merasa heran, sendok di piring yang di pegangnya ternyata ada dua buah.
Lukijo menatap heran Wati.
Tanpa basa-basi, Wati segera mengambil sendoknya.
"Berdua Ti?"
Kembali Wati hanya menyendok Nasi Goreng tanpa menjawab Lukijo.
Lukijo terpana, sepertinya Ia tidak bermimpi terbang ke atas Bulan semalam? Tapi pagi kini Wati mengajaknya makan sepering berdua.
"Makan Jo," ucap Wati sambil mengunyah.
"Tapi Ti, telur ayam siapa ini Ti?" Lukijo menatap bulat telur dadar yang akan Ia potong kecil dengan sendok.
"Makan aja!" Wati lagi masih mengunyah."
Tanpa pikir panjang atau pun bertanya lagi, Lukijo segara melahap Nasi Goreng di sendoknya.
"Kok, asin Ti?" Lukijo menahan kunyahan-nya.
"Halahhh!" Wati seperti tidak menghiraukan, kembali menyedok ulang Nasi Goreng.
Lukijo mesem, kembali mengunyah.
Namun kunyah di mulutnya kembali terhenti, perlahan menatap Wati.
Wati pun menatapnya dengan mengunyah.
Melayngkan tatapnya ke luar Rumah, Lukijo menahan haru di hatinya.
Anganya tiba-tiba menggores sinar pagi yang terang. Berhembus di antara pematang persawahan, membelai pucuk-pucuk ranum yang di lewati.
Sungai di pinggir di bawah persawahan angan-nya terhenti. Di atas batu besar tepatnya, tempat biasa kebanyakan warga dusun mencuci pakaian.
Di atas batu hitam itu pula pernah ada Mata seorang kekasih yang berpijar bagai Bulan Purnama yang tengah bertahta di sebuah malam.
Yah! Ia mengingatnya saat Wati dan Nasib, bersamanya tengah menikmati Bulan yang sempurna.
Deru pelan Air sungi kala itu begitu kemilau tertimpa sinar emas dari angkasa, saat itu Ia pun melihat di kesediriannya, binar mata bahagia selalu terpancar di Mata Wati dengan saling bersuapan dengan Nasib.
Ia memang menemani mereka, Ia pernah tersenyum melihatnya.
Lukijo mengunyah kembali, tertunduk di isak yang mulai terdengar. Seperti takut melihat wajah Wati di sampingnya.
Semakin menunduk saat Wati meletakan sendok di piring yang Ia pegang, semakin takut saat merasa Wati berdiri terisak dengan langsung meninggalkanya.
Mengangkat Wajah, mengunyah begitu pelan.
Kini Ia mengerti begitu sulitnya Wati melupakan Nasib.
Kini Ia pun merasa pijar di Mata Kasih akan ada di Purnama hati di sepajang malam keduanya.
Lukijo menatap lemas Nasi Goreng di pangkuanya. Hatinya seperti merasa bersalah akan hujatnya kepada Wati.
...****************...
__ADS_1