SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
9. Bunga-bunga Kopi


__ADS_3

Lukijo mengucek lagi kedua matanya, rasanya baru saja Ia terbangun dari tidur namun seperti bermimpi melihat Wati tengah membantu Bu Marimin membersihkan pekarangan belakang Rumah.


Rasa tudak percayanya membuatnya kembali lagi ke kamar dengan kembali berbaring sambil melihat ke sekeliling kamar.


Lalu bangkit kembali menuju jendela. Membukanya pelan, dan memang nampak sinar Matahari belum lagi seutuhnya bersinar, nampak kemerahan di kejauhan.


Seperti berpikir menoleh ke pintu kamar, seperti ingin melihat Wati di belakang Rumah.


Suara dari sapu lidi yang beradu dengan tanah yang masih basah akan embun dan dedaunan kering yang jatuh, bagai nyaring mengisi pagi yang akan segera muncul.


Pertanyaan dalam hati pun berjubel memenuhi rongga-rongga dada, menyeruak mendahului sinar Matahari yang juga akan segera muncul.


Dengan cepat bergegas ke arah dapur, dimana pintunya akan membawanya melihat Wati yang tengah menyapu.


Sarung yang semalam menjadi selimut hangatnya pun masih lagi melingkari pundak dan pinggangnya.


Suara - suara kokok ayam saling bersahutan di kejauhan pun bagai marak menyambut pagi kembali, berseling suara laparnya kambing-kambing di dalam kandang.


Lukijo mengucek kembali matanya, bukan karena rasa heranya tadi, tapi memang ada kotoran di matanya.


Wati melihatnya, seolah acuh kembali menyapu di dekat Bu Marimin yang tersenyum melihatnya.


Lambai dedaunan rimbun bagai sunyi tanpa desik tertiup angin segar sebab tetes embun masih lagi menetes di pucuk-pucuknya.


Bunga-bunga kopi yang berwarna putih seperti harum di antara gelap yang masih menyelimuti di rapatnya ranting-ranting yang bersentuhan.


Kicau Burung juga terdengar bernyanyi pagi.


"Tumben udah bangun Jo?"


Wati kembali melihat Lukijo menanggapi pertanyaan heran Bu Marimin.


Lukijo mesem dengan melangkah mengantuk mendekati sumur.


Suara sapu Lidi ditanah kembali terdengar.


"Ada yang lebih tumben Bu-de!" Lukijo dengan menutup pintu kamar mandi yang terbuat dari papan.


Suara air dari gayung plastik yang jatuh kelantai semen kamar mandi pun terdengar.


Lukijo mengusap wajahnya yang basah dengan sarung dengan keluar kamar mandi.


"Raup Jo!"


Suara Bu Marimin terdengar bersamaan sapu lidi di tangan-nya.


"Guyur bayam Bu-de!" Wati bersuara.


Lukijo nyengir di balik sarung yang mengusap wajahnya.


"Sekalian di depan Ti! terus di bakar sampahnya!" serunya bersandar di dinding sumur dengan memegang tali timba.


Wati melengos cepat.


Bu Marimin tertawa kecil.


Lukijo mesem, menatap kemerahan di sela-sela batang-batang pepohonan samping Rumah.


Nampaknya Matahari akan segera muncul. Kembali melihat Wati, rambut pendeknya menutupi pipinya yang tembem.


"Jo! Pak Prapto masih menyuruhmu mengarit?"


Bu Marimin menghetikan menyapunya.


"Ia Bu-de." Lukijo memasukkan timba ke dalam sumur.

__ADS_1


Terdengar suara tetesan air yang jatuh kedalam sumur sisa embun yang menempel di tali timba.


Perlahan demi perlahan Lukijo mengulur tali timba ke dalam sumur, sambil mesem memperhatikan Wati yang tengah sibuk menyapu.


Bu Marimin pun seperti memberi isyarat padanya agar jangan mengganggu Wati dahulu.


Lukijo mesem mengangguk. Menarik tali timba dengan perlahan.


Sinar Matahari benar-benar bersinar cerah, menerobos dari setiap celah kecil apa pun yang mengahalanginya untuk menyinari Bumi.


Embun-embun kian hangat dan akan segera sirna menguap tanpa jejak kembali.


Suara Motor gunung meraung seperti medekati dari kejauhan, yang akan segera lewat di jalan depan Rumah.


Hijau-hijau akan kembali nampak dalam terangnya hari, seterang warna gaun bermotif Bunga putih yang tengah di gunakan Wati. Bergerak pelan seiring tubuhnya yang tengah menyapu.


Lukijo mesem memperhatikan, seiring suara air yang jatuh ke dalam Bak mandi.


Begitu pula Bu Marimin senyum-senyum setiap kali matanya melihat.


Lukijo nyengir tertahan melihat Wati berhenti menyapu, mengusap keringat yang mulai jatuh di keningnya seraya melihat rerimbunan kebun kopi.


"Capek! Biasa masih tidur pagi!" serunya geli.


Bu Marimin menahan tawanya.


Dengan sorot mata jengkel Wati melengos kembali menyapu.


Lukijo segera medekatinya.


"Bu-de, biar Aku yang menyapu," ucapnya dengan mengambil sapu lidi dari tangan Bu Marimin.


Bu Marimin senyum menggelengkan kepalanya, lalu beranjak ke dapur meninggalkan Wati yang tetap acuh tidak seperti biasanya.


Bu Marimin yang akan masuk ke dapur pun seperti tertahan kakinya mendengar ucapan Wati.


Lukijo memukul pelan bokong Wati menggunakan sapu lidi.


"Enggak sopan! Kurang ajar!" Wati dengan segera memukul balik.


Lukijo cepat menghindar dengab berlari ke samping Rumah, tentu dengan di buntuti Wati.


"Aku hanya memukul setan Ti! biar cepet keluar!" seru Lukijo berlari dengan tertawa.


"Setan!setan! Kau yang setan Jo!" balas Wati dengan rona marah.


Suara unggas di pematang sawah terdengar meyoraki keduanya yang saling uber mengitari Rumah.


Tawa Lukijo dan oceh marah Wati silih berganti seperti igin mengusir pagi yang telah terbit.


Goyang ranting perlahan terdengar seiring bayu yang berlalu santai.


Senyum ceria Bu Marimin ikut menyertai setiap kali keduanya melewatinya di depan pintu.


Nafas yang mulai menyesak di dada karena berlari dan tertawa membuat Lukijo menghentikan larinya, Bu marimin senyum lebar melihatnya.


Dengan ter-engap Lukijo melihat ke samping Rumah.


Namun Wati yang mengejarnya tidak terlihat di balik dinding Rumah.


Lalu melihat Bu Marimin.


"Capek mungkin Jo?" Bu Marimin seperti tahu apa yang akan di katakan Lukijo.


Lukijo meringis dengan duduk nongkrong melepas nafas engapnya.

__ADS_1


Namun sepertinya Wati belum lagi berhenti mengejarnya, dari dalam dapur, dari balik tubuh Bu Marimin dengan berseru kesal langsung berkari ke arahnya dengan sapu lidi terangkat di atas kepala.


"Hayo Kau Jo, setan hidung mini!"


Lukijo yang tidak sempat lagi untuk berlari hanya pasrah menutupi kepalanya dengan kedua tangan.


Wati yang berdiri di belakang Lukijo, seperti seoarang algojo yang telah siap dengan ayunan sapu lidinya.


Lukijo meringis mengaduh, Wati menarik kupingnya untuk berdiri.


"Aku hanya mukul setan Ti," ucapnya seperti memelas.


Wati pun memukul bokongnya.


Lukijo mengaduh, Wati memukulnya terus-menerus cukup keras.


Lukijo yang akan mangap mengaduh harus tertahan,, tiba-tiba Wati berhenti memukulnya seiring Bu Marimin yang masuk ke dalam dapur.


"Bu-de!" Wati dengan menaggalkan sapunya dan mengejar Bu Marimin.


Lukijo pun mengikutinya dengan heran.


"Bu-de," suara Wati begitu pelan.


Lukijo mendekati pun Bu Marimin yang duduk di kursi dapur dengan baru mengusap air matanya.


"Ada apa Bu-de?"


Wati dengan seperti bersimpuh di depan Bu Marimin.


Senyum Bu Marimin pun terukir pelan menjawabnya.


Lukijo menatap dengan menyandarkan tubuhnya di dinding Rumah.


"Bu-de, apa kami merepotkan Bu-de?" ucapnya seperti menyesali kejadian barusan.


"Enggak Jo, Wati." Bu marimin menatap bergantian keduanya.


"Bu-de, Bu-de hanya ingat Nasib,"ucapnya lagi seperti ingin menangis.


"Ingat Nasib saat bercanda bersama Wati," menyentuh pundak Wati.


"Wati juga memakai baju ini," tersenyum dengan air mata yang jatuh.


Wati terisak dengan memeluk Bu Marimin.


Lukijo menarik nafasnya pelan, melihat ke luar pintu dapur, menatap jauh ke dalam kebun kopi yang berbunga.


"Baju ini kesukaan Nasib Bu-de!" Isak Wati keras.


Bu marimin tersedu manggut-manggut, membelai kasih wajah Wati.


Lukijo bergerak pelan, keluar dapur meninggalkan suara tangis yang tengah memenuhi dalam dapur.


Diantara rasa hatinya yang ikut ter-enyuh, mata semakin dalam melihat ke pepohon rapat kebun kopi.


Bunga-bunga kopi bagai beralih bermekaran di gaun hijau Wati dalam harum kenangannya.


Masih hangat terasa di sinar Mentari yang meneranginya.


Semua memang telah berlalu anatara Wati dan Nasib tapi Bunga-bunga kopi akan terus bermekaran selama hati melihatnya.


Lukijo menundukkan wajahnya menatap kelam dekil kakinya, seiring isak yang belum reda kian mengepul menembus genting atap dapur yang biasanya hanya kepulan asap di pagi hari dari pembakaran kayu di bawah tungku.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2