SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
21. Melukis di Atas Air


__ADS_3

Lukijo mesem pahit, melihat kembali angker di kejahuan. Baru saja Pak Prapto meninggalkan-nya untuk tidur dari duduk berbincang bersamanya.


Jika tadi Ia duduk bergelayut kaki, kini menyelimuti tubuhnya dengan sarung duduk bersila.


Matanya bagai melirik setiap suara yang terdengar dari jalan di bawahnya.


Angannya terasa menyeruak menggoyangkan daun PJKM yang hampir tiada bergerak tertutup kabut tipis.


Cerita Pak Prapto akan masa mudanya seperti mempengaruhi lamunan untuk sejenak singgah dalam renung sunyinya.


Apa yang pernah di alami Pak Prapto, begitu mirip dengan perjalanan cintanya.


Cinta yang selalu dirasakan begitu mudah menguap, entah karena kekurangan diri, mungkin karena memang bukan untuk di miliki, namun setidaknya Pak Prapto jauh lebih beruntung ketimbang Ia.


Perlahan melepaskan nafas dingin.


Tiada keindahan yang bisa di nikmati saat suasana malam di bukit, semua terasa tertutup kabut dan dingin. Meski kerlip bintang-bintang masih sanggup terlihat di angkasa.


Teh tubruk hangat yang di sungguhkan Istri Pak Prapto telah hampir habis di dekatnya terduduk. Tapi hangat hanya memenuhi di dalam benak.


Lukijo menggerakan tubuhnya, melipat ke dalam mulut kedua bibirnya yang tebal. Nyamuk usil menggigit di lehernya, sedikit gerakan sarung di leher akan mengagetkan Nyamuk yang asyik menikmati santap malamnya.


Tumben! Shely ataupun Wati tiada terlihat sejak pagi dan malam ini? Hatinya bagai berbicara dengan kabut yang melayang.


Suara mengembek terdengar.


Lukijo mesem tertunduk.


Suara Kambing di kandang samping belakang Rumah bagai mengejeknya dalam kesendirian malam.


Kembali menghela nafasnya.


Sebuah rasa mulai lirih menjalar di hati ketika mata melihat di kejauhan. Hatinya mulai terpikat akan sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Sepertinya Ia ingin melangkah jauh kembali, menyusuri jalan yang belum pernah Ia jajaki, menemukan kembali warna malam di tempat yang asing.


Kembali mengibaskan sarung di lehernya, Nyamuk usil belum lagi kenyang mengusiknya.


Meneguk kembali air teh yang tinggal seteguk.


Kecap manis terasa tertelan di kerongkongan.


Perlahan menoleh Rumah Pak Prapto, terlihat pintunya masih terbuka sedikit, meski lampunya telah di matikan.

__ADS_1


Rumah di mana Ia tumbuh dalam canda duka dan keluh kesah tawa, tiada yang berubah bahkan suara mengembek masih jelas terdengar, meski bukan suara milik Kambingnya dahulu.


Perlahan berdiri, sarung pun masih menyelimuti dari leher sampai di bawah lututnya. Rasa hatinya ingin sekali berdiri sambil meluruskan pinggangnya. Sejak tadi Ia hanya terduduk.


Pelan melangkah menuruni jalan tanah setapak dengan rerumputan liar di sisi-sisinya menuju jalan yang dahulu masih berbatu.


Lampu listrik di atas tiang kayu, cukup menerangi dan menghangatkan mata untuk sekedar berdiri di tengah jalan.


Lukijo menoleh ke jalan gelap yang menurun, lalu melihat ke jalan yang mengarah ke puncak Bukit, terlihat lengang dan gelap berkabut.


Sorot dan suara Motor Gunung lebih banyak terdengar di kaki-kaki Bukit yang lebih banyak Rumah dari pada lereng dan puncak Bukit.


Desik ramai ialalang di depan-nya terdengar seiring angin yang berhembus.


Sesaat memandang di mana tadi Ia menatap.


Puncak Gunung di kejauhan hampir tiada terlihat olehnya. Sebuah bayang wajah bagai terukir mengantikannya.


Wajah Shely saat malam kemarin, hanya terdiam menatapnya sebelum pulang ke rumah Wati.


Biasanya Shely tersenyum jika akan pulang, meski terkadang telihat getir karena ulah Wati. Tapi kemarin, senyum di wajah jelitanya sirna bersama lesung indahnya.


Sebenar Ia tidak pernah memperdulikan akan ucapan Wati, malam kemarin. Karena Ia pun merasa itu hal yang biasa baginya.


Ia pun tidak ingin percaya, bahwa cinta di atas segalanya. Seorang yang bisa menerimanya hanya karena cinta, hanya melukis di atas air saja. Sulit untuk bisa melakukanya. Karena memang Ia pun bukan seorang yang bisa di jadikan pilihan, meski pilihan lain pun tidak ada.


Jika Wati mengatakannya hanya untuk membuatnya semakin kerdil hati atau sadar diri, mungkin jauh sebelum Ia melihat dan merasakan sebuah wajah yang terbanyang-bayang saat pertama berjumpa, Ia telah kerdil dan sadar.


Ia hanya mampu merayu kabut yang pekat. Bahkan kabut pun berwajah dingin saat di rayu.


Ia hanya mampu melukis cinta di atas khayal, bahkah itu pun tidak pernah sempurna, meski sebatas mimpi.


Ia hanya mampu membuat bahagia malam dengan warna hitam kesukaannya, bukan membuat bahagia hati yang melihatnya.


Suara mengembek kembali terdengar.


Lukijo kembali mesem. Bayang wajah Shely kian sirna bersama hembus yang menerpa wajahnya.


Kembali angannya mengepak di tengah kegelapan yang jauh.


Banyang hatinya kian turut jauh meninggalkan, mengusung rasa yang banyak terkubur di dasar terdalam. Jika Ia pernah tersentuh cinta, mungkin itu sekedar pewarna dalam langkah kakinya.

__ADS_1


Kini Ia hanya ingin merayu hatinya, untuk tetap melangkah di jalan kepasrahan.


Ia hanya membuat bahagia hatinya dengan berbubungan dengan rasa syukur, atas apa yang telah jalani.


Karena kabut pun tidak akan pernah berubah hangat ,seperti asap di pembakaran, seperti dirinya tetap dingin akan cinta dan rindu.


Karena Bukit pun akan tetap berdiri meski badai menerjangnya, seperti Ia juga akan terus berjalan meski luka terlampau banyak menusuki.


Lukijo menghela nafasnya, coba tersenyum dengan malam dan gelap di sekitarnya.


Kembali menoleh jalan yang mengarah turun dari tempatnya berdiri.


Tetap lengang berkabut, seperti langkahnya.


Pelan mendongak keatas, kerlip bintang kecil masih juga menatapnya, seakan heran melihatnya tengah berdiri.


Lukijo mesem sendiri, terasa kecil Dirinya dengan keindahan, memang kerdil hatinya di antara kemilauan.


Ia seperti mengenali dirinya di tengah riuh bintang-bintang.


Yah! Ia bukan pewaris menara cinta yang menjulang di lubuk-lubuk hati, Ia bukan kado terindah alam yang memukau.


Yah! Ia debu yang menempel di batu bernilai, tiada bernilai. Ia warna yang memudar di terangnya sinar, tiada terlihat. Ia gelap di dasar jurang yang terjal, merindingkan mata yang melihat.


Lukijo lekas menoleh ke arah jalan yang menurun, suara Motor Gunung dan sorot lampunya membuyarkan anganya.


Sedikit berlari kembali menuju PJKM di mana Ia tadi terduduk.


Sarungnya pun Ia tutupi hingga kekepalanya. Seperti takut jika Motor yang akan melintasinya mengenalinya.


Lukijo segera berdiri, suara Motor seperti memutar arah kembali. Dengan penasaran Ia pun kembali ke arah jalan di mana Ia tadi berdiri.


Ternyata benar, suara Motor terdengar kian menjauh menuruni lereng Bukit.


Decak halus di bibirnya, melihat sandal jepitnya. Hampir terputus di ibu jari kakinya.


Lukijo menoleh jalan setapak di bawah PJKM, lalu menghembuskan nafasnya.


Jalan bertanah tanpa akar atau batu saja membuat langkahnya hampir terperosok, bagaimana dengan jalan yang penuh aral?


Lukijo mengusap wajahnya dengan sarung, seperti ingin mengusap rasa hatinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2