SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
24. Ikrar Cinta Ku.


__ADS_3

Lukijo mendengus kesal, Wati menarik - narik sarungnya.


"Ada apa lagi Ti?" kesalnya membenarkan sarung yang di pakainya.


Wati berganti mendengus kesal.


"Mikir jo! Mikir!" Ocehnya menjadi.


Lukijo menggaruk keras kepalanya.


"Apa lagi yang harus ku pikirkan Ti?" kesalnya tidak mengerti.


Wati melongo dongkol, pias diwajahnya bagai ingin menelan hidung mini Lukijo.


"Apa yang Kau katakan pada keluargaku! Hah?"


"Aku mengatakan Apa Ti?" Lukijo balik bertanya.


Wajah Wati terliahat geram.


"Pasti Kau memberitahukan,iya kan?"


"Iya, tapi yang mana ,kah?"Lukijo balik lagi bertanya.


"Halahhhh! Hidungmu Jo!Jo!"


Lukijo kini menggaruk keras hidungnya.


"Bukanya keluargamu udah sejak lama mengetahui hidungku Ti?"


Wati langsung menarik sarung Lukijo.


Lukijo menahannya.


"Kalo sobek? Bu Marimin bisa marah Ti! Ini sarung Nasib!" kesal Lukijo.


Wajah Wati yang tadinya beringas, luntur perlahan bersama gerak tanganya. Mengamati seksama sarung yang di pakai Lukijo.


"Jika Kau tertarik? Gantikan aja." Lukijo melihat Wati bagai seorang yang tengah melihat-lihat barang di pasar.


Wati menarik kembali sarung, tapi dengan perlahan.


"Apa yang Kau lakukan Ti? Menyentuh sama dengan membeli!"


"Aduh!!" Lukijo lekas nyengir, hidungnya di tarik paksa Wati.


"Wati! Wati! Mengapa Kau selalu menarik hidungku dengan tangan!" Kesal Lukijo berdiri menjauh.


Wajah Wati menjadi gemas ngedongkol.


"Pake Tang?" Dongkolnya lepas.


"Sekali-kali pake bibirmu Ti!" Lukijo dengan berlari keluar kamar.


Bu Marimin yang baru saja menyapu lantai, hanya terpaku memegangi sapu melihat Lukijo yang berlari cepat keluar Rumah di ikuti Wati.


"Songong! Kau Jo!" Pekik Wati berusaha menarik sarung Lukijo.


Tawa Lukijo melebar hingga ke jalan dan terus hingga mendekati gubuk di dekat persawahan.


Namun Lukijo tidak menghentikan larinya, hingga melihat Wati ter-engap di dalam Gubuk.


Dengan tawa dan nafas yang tersengal Ia pun berbalik mendekatinya.


Wati duduk mengawasinya.


"Keluargamu bukan Aku yang memberitau Ti. Tapi mereka pun pasti akan curiga melihat kebiasaan lamamu." Lukijo dengan menyandarkan punggungnya di tiang Gubuk.


Wati mendengus kesal.


"Mereka pasti menegurmu, iya kan?" Lukijo melihat puncak Bukit dengan nafas masih tersengal.


Wati mengusap keningnya yang berkeringat.

__ADS_1


Lukijo mesem.


"Ti, apakah janji yang kalian ikrarkan di atas batu kali Ti? Hingga sampai saat ini pun Kau seperti..." Lukijo melayangkan tatapnya ke arah jalan yang menuju Kali.


Hembus angin pagi terasa menyesakan udara yang terhirup hidung, Wati menatap hampa persawahan.


Lukijo mendehem pelan, melihat rona di wajah yang kembali murung.


"Andai waktu dapat kembali? Apa yang ingin Kau lakukan Ti?"


Wati menundukkan wajahnya sayu.


"Aku hanya ingin hidungmu mancung Jo."


Suara pelan Wati membuat mesem Lukijo.


"Hanya itu Ti?"


Wati mengagguk lemas.


"Masih ada dua permintaan lagi Ti." Lanjut Lukijo geli.


Wati menggeleng lemas.


Lukijo membuang nafasnya berat.


"Sepertinya si Mbok-ku harus menikah dengan lain orang sebelum Aku lahir," ucapnya dengan duduk.


"Ku rasa akan tetap mendem Jo"


Lukijo.mesem lebar, suara lemah Wati bagai selentingan belalang kecil yang baru terbang di depanya.


"Berarti Kau pun menyadari, Apa yang Kau lakukan akan sama seperti saat ini?"


Wati mendehem,matanya kembali menelisik persawahan.


Lukijo mesem kecil, berharap sebuah anggukan tadi yang Ia lihat.


"Aku percaya Ti," jawab Lukijo melihat sinar mata Wati yang redup.


Wati tersenyum mencibir, melayangkan kembali tatapnya.


"Lho! Aku selalu percaya padamu," jelas Lukijo menanggapi bibir Wati.


"Kami enggak berikrar apapun Jo."


Lukijo langsung menghela nafas lega. Terasa plong udara yang menerpa wajahnya mendengar pengakuan Wati.


"Tapi Aku mengatakan padanya, Aku akan selalu menjadi miliknya ... "


Udara terasa mulai menyumpeki di dada, Lukijo termangu berat.


Menatap Rambut pendek Wati.


"Sampai kapan Ti?" Tanyanya lemas. Sedangkan saat ini baik Wati maupun Nasib sudah sama-sama berdua.


"Sampai Kau menemukan jodohmu Jo," jelas Wati tersenyum kaku.


Lukijo menarik nafas berat, ucapan Wati bukanlah yang sebenarnya.


"Kau akan selalu jadi milik Nasib, kalo begitu." Lukijo menanggapi.


Wati tersenyum lebar. Menatap berat persawahan. Desir nafasnya terasa lembut terbawa angin yang segar.


Lukijo mesem-mesem, mengayunkan kedua kakinya, menatap pasrah puncak Bukit.


"Berat iya, Jo?"


Lukijo mesem pahit.


"Berat Ti, seberat cinta yang Kau rasakan," jawabnya menunduk.


Wati mendorong kesal pundak Lukijo yang baru menyindirnya.

__ADS_1


Lukijo mesem lebar, derai tawa Wati terasa membawa warna kembali setelah sejenak hilang di bibirnya.


Wati yang dahulu periang dengan rambutnya yang panjang, begitu mudah mengurai kata dan tawa padanya. Mengejeknya jika kesal meski bukan untuk menyakiti hatinya, menyanjungnya di kala diri terpuruk rasa ,agar kembali bangkit, untuk tidak putus asa.


Jika akhir-akhir ini Wati sedikit berubah, Ia mengerti. Karena tidak semua hati setegar batu karang di lautan yang tidak goyah meski badai menghempas, tidak semua hati mudah melupakan cinta dan ikranya seperti mudahnya kabut yang lenyap di sinaran pagi.


Lukijo berdiri dengan menggulung sarung yang melingkari pinggangnya. Mesem kecil melihat pematang sawah.


"Apakah selama ini Kau pernah berikrar Jo?" Wati memperhatikanya.


Lukijo semakin mesem lebar, melihat kedua kakinya yang tidak bersandal. Akibat tertinggal di dalam kamar.


"Wati! Wati!" Seperti tengah menertawakan sebuah lelucon.


"Mungkin aja Jo?" Wati seperti tidak menyukai tawa Lukijo.


"Apa yang harus Aku ikrarkan Ti?" Melihat Wati.


"Sedang cinta di dalam hatiku, cepat hilang sebelum Aku sempat berikrar!" Dengan duduk kembali.


Wati senyum kecil.


"Lagi pula untuk apa Aku berikrar? Aku enggak bisa memenuhinya. Tapi, mungkin jika Aku seperti Nasib, Aku akan selalu setia padamu."


Wati berdiri, segera mendorong tubuh Lukijo dengan kedua tangan.


Lukijo tertawa memegangi tiang Gubuk agar tidak terdorong ke lantainya.


Wati menatapnya dengan wajah merona.


"Tapi sepertinya percuma juga! Kau pun kini telah milik orang!"


Wati menarik kesal sarung di kaki Lukijo.


Lukijo memegangi sarungnya.


"Ti!" Menahan tarikan Wati. Lantas berlari setelah tangan Wati terlepas dari Sarungnya.


"Bener Jo! Bener! Hanya wanita kurang waras yang memegang ikrarmu!"


Wati dengan mengejar Lukijo yang berlari ke arah Rumah Bu Marimin.


Lukijo hanya tertawa melihat di belakangnya Wati mendahuluinya dengan berusaha menarik Tanganya.


Namun dengan cepat Ia pun berbelok ke samping Rumah.


Wati berhenti sejenak tersengal.


Lukijo yang sempat melihat Wati sebelum terhalang dinding Rumah, menghentikan larinya di bawah jendela Kamar.


Nafasnya pun terasa tersengal. Lalu perlahan berjalan.


Mesemnya kembali terukir, melihat Wati telah berada di dekat sumur.


"Capek Ti!" Berkeluh dengan mendekatinya.


"Iya-lah! Capek! Wanita mana yang sanggup berikrar denganmu? Hanya membuat capek hidup!"


Lukijo mesem ditahan. Lalu menghembuskan nafasnya. Sesak di dadanya akibat berlari masih terasa.


"Jo! Wati!"


Keduanya melihat Bu Marimin bersamaan.


"Sarapa dulu!"


Keduanya pun bertatapan. Lalu tersenyum.


"Iya Bu-de!" Wati dengan tergesa menghampiri Bu Marimin di pintu dapur.


Sementara Lukijo bergegas ke dalam kamar mandi.Cuci tangan sebelum makan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2