
"Aku takut Wati ..."
Shely setengah berbisik.
Lukijo menundukkan wajahnya, bibir Shely terasa dekat di telinganya.
"Gila maksudmu?" Setengah berbisik pula.
Shely mengangguk pelan.
"Enggak mungkin Shel." Lukijo pula.
Keduanya kembali memperhatikan Wati yang duduk di depan pintu dapur.
"Orang gila enggak makan sebanyak itu," ucap Lukijo dengan kembali menyapu.
Shely pun kembali dengan sapunya.
Keduanya sejak tadi memperhatikan tingkah Wati yang tengah makan, namun dengan cara yang tidak biasanya di lakukan.
Biasanya Wati langsung menyapu bersama Bu Marimin bila datang, tapi kini langsung makan tanpa banyak kata bengong mengunyah menatap ke arah pedalaman kebun kopi.
Hal lain yang membuat keduanya tidak habis pikir, Bu Marimin yang biasanya rajin menyapu setiap pagi, terlihat sibuk menggoreng nasi yang tengah di makan Wati.
Lantas keduanya pun di suruh berganti menyapu.
"Tapi Jo." Shely di sela suara sapu lidinya.
"Justru lebih mirip orang yang tengah kerasukkan," lanjutnya melirik kembali Wati.
Lukijo pun melihat Wati.
Lalu keduanya segera membuang tatapan masing-masing saat Wati melihat ke arah mereka.
"Bukan-kah itu termasuk gila Shel?" Lukijo pelan.
"Tapi, coba Kau lihat lagi. Wati selalu melihat ke arah kebun," sahut Shely. Berusaha melihat Wati.
Lukijo menjatuhkan sapu lidinya, lalu mengambilnya dengan cara membungkukkan tubuhnya.
"Justru Wati melihat kita," bisik Lukijo dengan berdiri.
Keduanya pun kembali menyapu kembali ke arah samping Rumah.
Rona pagi terasa aneh, bergulir cerah membawa wajah yang bungkam.
Hanya merah di bibir Shely yang menghibur kokok di kejahuan dan kicau riang Burung-burung mungil menyambut pagi.
Lukijo, meski malas dan kantuk masih bergelayut di wajahnya, kian asyik menyapu seakan hilang hawa kantuk yang biasa menggerogoti paginya melihat senyum rekah dan lesung indah di wajah Shely, Kaya semangat gitu nyapunya!.
Keluh lidah yang biasanya menjadi penyakit kambuhanya saat bersama wanita, seakan sirna bagai sinar pagi yang menguapkan embun pagi, seakan telah terbiasa bersama, seakan tiada lagi canggungnya hati.
"Jo, apa kita harus menyapu sampai perkaramgan depan?" Shely dengan meluruskan pingganya.
Lukijo pun melakukan hal yang sama.
Ternyata menyapu terlihat pekerjaan yang mudah, namun terasa berat juga, apa lagi di pinggang. Itu yang tengah keduanya rasakan.
"Biasanya Iya," sahut Lukijo, mengingat kebiasaan Wati dengan Bu Marimin.
Shely mengusap keningnya pelan.
Lukijo memperhatikan. Hatinya kembali berdesir, terasa indah dan cerah pagi yang berkeringat hangat. Perlahan menundukkan tatapnya saat Shely melihatnya.
"Kenapa Jo?"
Lukijo semakin menunduk dengan meneruskan menyapu.
"Kasihan Wati."
__ADS_1
"Iya Jo, semakin sakit sepertinya," timpal Shely.
Suara nyaring dari sapu keduanya yang menggores tanah lembab saling sahut dengan pekik unggas dan mengembek di kejauhan.
Saling tersenyum jika mata tiada sengaja, atau sengaja beradu dalam pegalnya pinggang.
"Jo." Shely dengan mata tidak percaya.
Lukijo langsung mengikuti arah tatapan Shely.
Keduanya bertatapan lemas.
Bagaimana tidak! Bersih tanah karena baru saja mereka sapu, harus kembali terlihat kotor.
Wati terlihat tanpa dosa membuang sampah dapur, bagai menebar pakan pada hewan ternak, atau ikan di kolam.
"Jo, gila jo!" Shely seolah hilang kesadaran. Menatap kosong perkarang kotor.
Lukijo mesem kesal.
"Sabar Shel," ucapnya seperti menyesali sikap Wati.
"Tapi pegel Jo," sahut Shely pula.
"Aku pun merasakannya," balas Lukijo.
"Pinggang ku Jo."
"Aku pun merasakannya Shel," sahut Lukijo lagi.
Shely menghela nafasnya.
"Hati-ku Jo," ucapnya kemudian.
"Aku pun meras..." Lukijo seperti tidak sanggup melanjutkan ucapanya.
Lukijo mesem tertunduk.
"Aku pun merasakan hal itu," balasnya dengan menginjak kaki kirinya sendiri.
Hampir saja Ia keceplosan berkata.
"Benarkan Jo, apa yang Ku katakan, Wati sudah gila."
Wajah Shely berubah memelas.
"Enggak Shely, Wati hanya menunda kita," balas Lukijo meyakinkan.
"Maksud-mu?" lesu Shely.
"Agar kita enggak sarapan," lesu Lukijo pelan.
Keduanya pun bertatapan.
Kening berkeringat keduanya bagai liur yang keluar menahan dahaga dan perihnya perut.
Telah hampir setengah putaran Rumah yang telah di sapu bersih, harus mengulang kembali karena ulahnya Wati.
"Perutku kok, mulai enggak enak iya Jo?"
"Aku pun turut merasakan," sahut Lukijo lagi.
"Aku ingin ke kamar mandi Jo."
"Aku pun turut ..." Lukijo menahan bibirnya, melihat wajah Shely.
"Wati ke dapur," kilahnya kemudian.
Mata Shely yang akan terbuka lebar, kembali meredup kembali.
__ADS_1
"Tapi Aku kok, was-was iya Jo?"
"Jangan-jangan Wati menimpukku dengan piring."
"Memang Wati beneran gila Shel?" heran Lukijo.
"Lah, itu buktinya!" telunjuk Shely mengacung ke arah sampah yang berserakan.
Lukijo menggaruk keningnya seperti ingin menerka.
Tiba-tiba Shely memegang bibirnya pelan.
"Bibiku kok, gatel iya Jo?"
Lukijo menatap pelan dan malu bibir merah Shely.
Lalu cepat tertunduk.
"Aku belum merasakannya,"
"Aduhhh!"
Lukijo langsung memegangi hidung super mininya yang di tarik tanpa ampun.
Bengong ! bercampur heran dan sakit yang Ia rasakan. Sakit karena tangan yang menarik hidungnya terasa kasar. Heran bagaimana bisa Ia tidak melihat Bu Marimin sudah ada di dekatnya.
Suara Ngakak terdengar membelah kebengongan Lukijo.
Lukijo langsung melihat.
Wati terpingkal geli dengan merapatkan punggungnya di sudut samping Rumah.
"Mangkanya Jo! Jangan kebanyakkan nunduk!!" seru Wati keras
Lukijo tertunduk kembali, lalu perlahan melihat Bu Marimin.
"Sebenarnya salah ku itu apa Bu-De?" tanyanya heran.
"Jo-jo, memang kau belum merasakannya?"
"Memang belum Bu-De," jawab Lukijo melihat Shely yang senyum-senyum.
"Dusta Bu-De! Dusta!!" Pekik Wati menimpali.
"Dusta! Dusta!" Solot Lukijo mengikuti ucapan Wati.
"Memang benar Ti! Bu-De! Aku belum pernah merasakan bibirku di gigit nyamuk!" sangkal Lukijo kesal.
"Ohhhhh! Mau di gigit tawon?"
Suara ngakak Wati menyahuti ucapan Bu Marimin.
Shely tertawa kecil.
"Jangan Bu -De! Nanti tambah besar bibirnya!!" pekik Wati lagi.
"Kalo tanduk kambing, sering Jo?"
Tawa Wati kian menjadi, bagai tiada mampu menopang tubuhnya di dinding, lengser dengan terduduk lemas melepas tawanya mendengar dan mengingat peristiwa masa bermain bersama Lukijo seperti apa yang baru di tanyakan Bu Marimin.
Tanduk demi tanduk yang pernah Ia menghujam keras bokong dan wajah Lukijo, bagai sapaan sayang dan rindu padanya, setiap kali mengembala atau pun tengah membersihkan kandang.
Dan sayang-nya Lukijo tidak memiliki cukup tanduk untuk membalasnya.
Wati memegangi perutnya yang mulai terasa keram karena tertawa dalam angannya yang melancong ke masa-masa lalu. Sisa-sisa bekas tandukan kambing Lukijo laksana mengukir gurat di lereng-lereng Bukit dan puncak Bukit, tiada akan pernah terkikis dalam ingatan meski waktu meng-hujan-ninya, tiada akan pernah membeku dalam ingatan meski dinginnya kabut mengubah masa,
dan tiada akan pernah terulang meski kandangnya tetap berdiri bersama hari.
...****************...
__ADS_1