
Lukijo menatap silau sinar yang kian mendekatinya, duduk di bawah pohon Jambu Kancing Merah yang masih berbunga.
Pak Prapto baru saja memberikan secangkir kopi manis kepadanya.
Hati-nya semakin berdebar saat Motor Matic menanjak pelan mendekatinya dan berhenti di belakangnya duduk.
"Jo!Jo!"
Suara Khas Wati.
Ia pun hanya menatap kembali kerlap-kerlip di kejauhan, di mana tadi memandang.
"Sulit sekali menemui orang berhidung mini seperti mu Jo!"
Suara yang terdengar seperti mengandung kekesalan.
Lukijo mesem-mesem, dengan menggeser duduknya.Seperti mempersilahkan Wati untuk duduk di sampingnya.
"Seharusnya jangan Kau cari Ti," ucapnya setelah Wati duduk.
Lampu listrik yang tergantung di pinggir jalan cukup menerangi keduanya, meski terhalang dedaunan Jambu.
"Lantas! Aku harus mengais di kandang kambing?" Wati menggerutu.
Lukijo tambah mesem.
"Atau di tempat sampah?" ceplos Wati melihat Lukijo mesem lebar.
"Lebih mudah menemukan seorang pejabat dari pada dirimu Jo," Wati menarik kesal hidung mini Lukijo.
Lukijo mengaduh di sertai tawa.Ia selalu ingin tertawa jika melihat Wati tengah kesal padanya.
"HP-mu ?"
Lukijo mesem- mesem melihat wajah Wati.
"Hp-mu jo!" Wati lagi dengan menarik hidung Lukijo.
Lukijo kembali mengaduh.
"Untuk apa Ti?" dengan memegangi hidungnya.
"Ada yang ingin bicara dengan mu!" Wati dengan melihat HP-nya.
Lukijo menghela nafasnya pelan, melihat gelapnya di kejauhan.
"Siapa Ti, Wati!" Lukijo seperti mengeluh.
"Berikan aja HP-mu," ucap Wati kesal.
Lukijo menoleh mesem.
"Sudah ku jual, buat pulang kampung!" jelasnya.
Bukan kepalang gereget rasa di hati Wati, ingin rasanya menghilangkan hidung Lukijo sekalian dengan cara di arit.
"Kebangetan Jo-Jo!"
"Merantau jauh-jauh?pulang enggak bisa!"
Lukijo tertawa kecil melihat pias wajahWati yang marah.
Terdengar suara di HP Wati berdering.
Keduanya melihat.
"Iya Ndah! Ini Lukijo!" keras Wati melihat wajah seseorang di layar HP-nya.
Lukijo beringsut bergeser dari duduknya.
"Mana Ti? Enggak kelihatan!"
Lukijo memalingkan wajahnya ke samping."
"Malu Dia Ndah!" Wati dengan mendekatkan HP-nya ke wajah Lukijo.
Lukijo langsung berdiri menghindar.
"Jo!"
Suara di dalam HP dengan tertawa.
Wati menarik lengan switer Lukijo yang akan pergi.
"Bicara sama Indah!" kesal Wati di telinga Lukijo.
"Enggak usah video call," pelan Lukijo.
"Halahhhh! Jo-jo!"
Suara di dalam HP kembali menyahuti.
"Ndah, Aku cari tempat terang!" Wati menarik tangan Lukijo menuju bawah tiang lampu listrik di pinggir jalan.
Lukijo dengan berat langkah harus mengikutinya.
"Mana Ti? Enggak kelihatan!" tawa dari dalam HP.
Lukijo seperti malu untuk melihat wajah di dalam HP.
"Bukan orang-nya Ndah yang enggak kelihat! Tapi ini!" gereget Wati dengan mendekatkan HP-nya ke wajah Lukijo dan menarik hidungnya.
Suara ngakak terdengar dari dalam HP.
"Jo!"
Lukijo dan Wati segera melihat ke arah suara.
Lukijo segera mendekati Pak Prapto yang memanggilnya di depan Rumah.
Wati mematikan panggilan di HPnya setelah berbicara sejenak, lalu mendekati pohon Jambu Kancing Merah.
Duduk dengan memperhatikan Lukijo yang tengah berbicara. Lalu melayangkan tatapanya ke arah ke jauhan yang kelam, meski kerlap-kerlip lampu terlihat menghiasi.
"Pak Prapto memberi pisang goreng," ucap Lukijo dengan duduk kembali di samping Wati.
Balai-balai yang tidak terlalu besar di bawah Pohon Jambu, namun cukup untuk duduk empat orang membuat Lukijo meletakkan sepiring Pisang Goreng di tengah antara Ia dan Wati.
Wati senyum melihatnya.
"Biasanya ada jahe hangat iya Jo," pelan Wati mengingat masa yang telah berlalu.
__ADS_1
Lukijo mesem mengangguk.
"Indah juga sudah pindah, si mbok mu ikut mbak mu. Enggak seperti dulu ya jo," ucap Wati lagi.
Terdengar suara HP berdering.
Wati menoleh Lukijo, dengan mengangkat panggilan masuk.
"Iya Ndah," ucap Wati dengan memberikan HP-nya kepada Lukijo.
"Indah Jo, bukan siapa-siapa," ucapnya lagi melihat Lukijo terdiam.
Lukijo menatapnya.
"Jo!"
Terdengar suara dari HP yang sengaja di loadspeker.
"Iya Ndah," ucap Lukijo meraih HP Wati, meski bukan lagi Video call.
"Kemana aja Kau Jo?"
Lukijo mesem, melihat Wati kembali.
"Bertapa Ndah!" sahut Wati menimpali.
Terdengar suara Indah tertawa.
"Pulang bukannya bawa keris, malah bawa miris Ndah!" Wati lagi.
Indah semakin ngakak.
Lukijo menahan tawanya.
"Enggak usah di tahan-tahan! Tertawa aja!" kesal Wati mendorong pelan pundak Lukijo.
Lukijo hampir bersandar kepala di batang pohon Jambu.
"Jo!"
Suara Indah kembali terdengar.
"Iya Ndah, Indah enggak perlu menayakan kabar Ku," ucap Lukijo melihat Wati lagi.
"Eeloh! Kenapa Jo?"
Suara Indah heran.
Lukijo menghela nafasnya pelan.
"Kau kan, tau Ndah ... Kabar ku sedari dahulu bagaimana?"
"Ngenes Ndah!" Wati menimpali ucapan Lukijo.
Indah kembali tertawa.
Lukijo tertawa kecil.
"Iya kan siapa tau, ada perubahan!"
Suara Indah lagi.
"Hidungnya aja masih segitu-gitu aja Ndah! Enggak ada perubahan!" sahutWati lagi.
Wati melotot.
"Jo!"
"Iya Ndah!" Lukijo sedikit terkejut.
"Jo-Jo! Andai Aku boleh meminta..."
"Indah minta apa? asal jangan minta Aku jadi tampan aja Ndah!" potong Lukijo.
Wati yang sejak tadi hanya senyum. Langsung ngakak kesetanan.
Lukijo melihat HP di tanganya, panggilan di akhiri.
"Ti, efek gelombang kejut letupan tawa mu Ti! Mati langsung HP Mu!" Lukijo memberikan HP.
Wati masih dengan tertawa menerima HP-nya.
Namun terdengar kembali dering HP.
"Kenapa di matikan Ndah?" Wati masih dengan sisa tawanya.
Namun hanya suara tawa yang terdengar menyahuti dari speker mungil HP.
Lukijo melebarkan bibirnya, saat Wati melihatnya dengan ngakak kembali.
"Bahagiakan hidup mu Ndah! Wati!" serunya.
"Jo!Jo!" suara Indah terdengar mereda.
"Jo! Kapan Jo?"
"Apanya Ndah?" sahut Lukijo balik bertanya.
"Wati sudah punya anak, Aku juga. Lantas Kau kapan Jo?"
"Sama kambing maksud mu Ndah!?" Wati kembali menimpali ucapan Indah.
Lukijo menarik gemas pipi Wati.
Wati mengaduh tertawa kecil.
"Ndah! Lukijo ada kemajuan! Sudah berani memegang pipiku Ndah!" serunya di sertai tawa.
Suara tawa Indah kembali menyahuti.
"Kasar banget Ndah tangan Lukijo rasanya!" seru Wati lagi dengan memegang ulang pipi yang di cubit Lukijo.
Lukijo mesem.
"Jo!"
Suara Indah kembali terdengar.
"Kenapa lagi Ndah? Tuhan sudah memberiku rupa yang seperti ini ... Jadi jangan meminta lagi untuk merubahku jadi tampah Ndah!" Sahut Lukijo langsung.
Tiada terdengar suara tawa baik Wati maupun Indah.
__ADS_1
Lukijo menatap heran baik layar HP maupun wajah Wati.
Perlahan menggaruk kening yang dingin oleh udara yang berhembus.
"Diam kalian lebih menyakitkan ku, dari pada tawa kalian," ucapnya dengan meletakkan HP di dekat Wati.
"Indah!" Wati tanpa memegang HP.
"Iya Ti!" sahut Indah dalam HP.
"Ada enggak sih Ndah? Mesin atau apa ke' yang bisa merubah wajah jadi tampan?" Wati melihat Lukijo.
Lukijo melebarkan bibir tebalnya.
"Jalan satu-satunya ya ... cetak ulang Ti!" Jawab Indah setengah tertawa.
Lukijo melahap pelan pisang goreng seolah tidak memdengarkan.
"Coba sih, Ndah. Cari di toko-toko online, siapa tau ada," ucap Wati lagi.
"Se-misal enggak ada Ti?" sahut Indah seperti menahan tawa.
"Iya udah! Kita hayutin aja di kali!" Wati dengan bernada kesal.
Indah tertawa.
Lukijo mesem, masih menguyah.
"Ndah HP-ku hampir nge-drop Ndah! kalo mau caci-maki Lukijo cepetan!" Wati memberikan HP kepada Lukijo.
Lukijo makin mesem.
"Ndah! Bahagiakan hidumu!" ucapnya masih menguyah.
"Iya Ndah! Caci maki aja!" timpalWati.
Indah ngakak.
"Jo!Jo!" di sela Tawanya.
Lukijo mesem-mesem.
Wati melirik sebel.
"Jo!"
Lukijo hampir tercekat mendegar suara Indah lagi.
"Kenapa Ndah?" sahutnya melihat Wati.
Wati melengos cepat.
"Aku serius Jo, sudah punya gandengan jo?" suara Indah lagi.
"Gandengan! Gandengan apa Ndah? kambing aja yang biasa Lukijo gandeng sama tali tambang lepas! Apalagi cewek!" seru Wati menyahuti.
Suara Indah kembali tertawa.
Lukijo menggaruk kepalanya keras.
Wati senyum sinis.
"Enggak Ti, mau Aku tawari," suara Indah masih terdengar tertawa.
"Ndah!Ndah! Seperti enggak tau Lukijo aja? Lukijo jangan di beri harapan terlalu besar! malah jadi beban dalam hatinya, bukanya di terima malah di biarkan beku bersama keminderan hidupnya," timpal Wati lagi nyerocos.
Lukijo makin mesem dengan menggaruk kepala.
"Biar Lukijo gandengan sama pohon sengon aja Ndah, leluasa dia mencurahkan isi hatinya yang kaku!" Serunya Lagi
"Wati Kenapa ya Ndah?" Lukijo dengan melihat kelam di kejahuan.
"Kenapa?kenapa?"
"Kesal Aku dengan mu Jo!"
"Di tawarin Shely minta sapi!" Wati dengan gemas menarik-narik kerah sweater Lukijo.
Bukan kepalang memang perasaan Wati melihat sikap dingin Lukijo kepada Shely yang sengaja Ia dekatkan.
"Ti!" Suara Indah memanggil.
"Iya Ndah!" Wati masih menatap kesal Lukijo yang mesem-mesem.
"Lambat-lambat aja!"
"Biar Lukijo nyaman dulu!" Suara Indah lagi.
"Keburu meletus Ndah! Bukit!"
"Enggak bakal Ti! Bukit bukan gunung berapi!" seru Lukijo menanggapi ucapan wati.
"Maksudnya! maksudnya!" Wati kembali menarik-narik kerah Lukijo.
Lukijo tertawa tertahan.
"Kelamaan Jo! mau jadi salju abadi?" kesal Wati.
"Beku selamanya! enggak cair-cair!" Suara Indah di HP menyambungi ucapan Wati.
"Ndah! anak mu berapa?" Lukijo dengan berdiri.
"Satu Jo, kenapa?"
"Wati juga satu Ndah." Lukijo berjalan mendekati tiang lampu di pinggir jalan.
Wati mengikutinya.
"Memang kenapa jo?" tanya Indah terdengar.
Lukijo menoleh Wati yang berjalan di belakangnya. Lalu memberikan HP.
Wati memegang HPnya dengan speker masih di perbesar.
"Jo! kenapa?" suara Indah lagi.
"Enggak apa-apa Ndah! kalo udah banjir dari salju yang mencair beri tau aku!" Lukijo berlari dengan cepat menuruni jalan.
"Jo!" Wati mengejarnya dengan geram.
Lukijo terus berlari sambil menunjuk-nunjuk di belakang Wati yang mengejarnya. Seperti masa kecil yang pernah mereka lewati, untuk sekedar menakut-nakuti Wati. Dimana Wati akan menangis ketakutan.
__ADS_1
...****************...