SENJA DI BIBIR PUTIH

SENJA DI BIBIR PUTIH
8. Telaga di lesung pipit


__ADS_3

Lukijo hampir mengerutkan keningnya mendengar cerita Shely.


"Bener Jo!"


Mata Shely hampir pula membeliak lebar karena ingin menyakinkan apa yang baru Dirinya ungkapkan.


Lukijo mengikat kembali karung yang berisi rumput di boncengan sepeda motor tril milik Pak Prapto yang menyuruhnya mencari rumput untuk Kambingnya.


"Apa Wati mengatakan tentang Nasib?" ucapnya dengan tangan sibuk menarik tali yang di buat dari ban dalam motor yang telah banyak bekas tambalan.


Shely menggeleng cepat dengan memperhatikan.


"Wati hanya menangis terus Jo!"


Lukijo menyelipkan Arit di lipatan karung yang memang tidak Ia isi, lalu menyelipkan di antara silangan tali karet di atas karung di motor.


Baru selesai Ia mengarit, Shely datang dan bercerita tentang Wati yang masih sering menangis seperti pagi kemarin saat berada di Gubuk persawahan.


"Jo, sebenarnya apa yang terjadi jo?"


Lukijo melihat wajah di dekatnya, nampak rasa penasaran terukir di sorot mata Shely, meski lesung di dekat bibirnya yang serupa dengan di wajah Wati nyaris hilang di pias yang resah.


"Justru Aku tadi bertanya padamu," jawabnya yang memang belum mengetahui. Mengingat kemarin pun Wati keburu pulang.


Rona resah kian terpancar di raut yang bersih, sebersih embun yang belum lama terbangun oleh hangatnya Matahari.


Lukijo menatap lekat kakinya yang basah oleh sisa-sisa embun di balik rumput yang baru Ia arit. Begitu berbeda dengan kaki orang di dekatnya, bagai lumpur pekat dan pasir putih di pantai yang indah.


"Mungkin Wati belum mau bercerita ya Jo?"


Lukijo mesem tertahan mengangguk, melihat senyum Shely yang tidak seindah biasanya.


"Kasihan Kevin Jo."


Lukijo termangu terdiam.


"Wati kok? Berubah?"


Lukijo hanya menghela pelan nafasnya, pertanyaan Shely membuatnya menatap jauh menuruni lereng Bukit. Terlalu banyak kisah yang terukir di setiap jalan dan lembah yang pernah di telusuri Wati dan juga Nasib.


Bahkan tempat yang Ia dan Shely berdiri pun tidak luput dari jejak cinta keduanya.


Bagaimana Wati akan melupakan Nasib? Sedang Bukit masih lagi tegak berdiri dalam setiap pandangan, sedang cinta masih lagi tertanam di bebatuan koral yang telah terlapis aspal, bagai menjadi fosil abadi setiap kali kaki menapakinya.


Jika kini ada duka yang kembali terkuak karena hal yang menurut Wati tidak adil untuk hatinya, pantas-lah Air mata kembali menggenangi rasa yang lama mengering.


Akan kembali meluap meski cinta tidak akan mungkin lagi berpadu seperti dahulu. Tapi rasa di hati akan menuntunya dalam luka dan penyesalan.


Lukijo meluruhkan tatapanya, menatap gersang tanah basah di bawah telapak kakinya.


Perlahan melihat Shely.


"Shely, kita ke rumah pak Prapto."


Shely mengangguk sedih. Segera berjalan menuju Motor Maticnya.


Suara khas knalpot motor gunung pun terdengar memecah keheningan saat Lukijo menarik tuas gas.


Terdengar kokokan di kejauhan menyahuti.


Rumput-rumput liar yang terinjak ban yang berputar, rebah sesaat dalam liatnya tanah yang akan segera mengering dalam sinar terik yang mulai meninggi.


Wajah lereng Bukit akan kembali basah bukan dengan kabut dan embun pagi, tapi dengan keringat para penghuni Bukit yang mengulitinya dengan harapan.


Caping-caping Gunung akan juga menghiasi setiap hijau yang tumbuh bagai payung-payung hati yang teduh akan usaha yang di jalani.


Parang dan cangkul menjadi pena untuk mencatat di setiap lembar tanah yang di tanami di atas Bukit, dalam jerih payah akan masa depan dan pengharapan.


Lukijo segera membawa Motor ke belakang Rumah Pak Prapto, sementara Shely telah duduk manis di bawah PJKM alias Pohon Jambu Kancing Merah, tentu dengan senyum berlesung pipit mungilnya.


Lukijo mesem, melihat Pak Prapto yang masih berselimut sarung, setengah menggigil duduk nongkrong di ambang pintu dapur.


"Masih meriang Pak?"


Tanya-nya dengan mengangkat rumput dalam karung dari atas Motor.


"Haduh jo! Pegal semua rasa tubuhku Jo,"


Lukijo mesem mengerti. Meletakkan rumput di dekat kandang.

__ADS_1


Kandang yang pernah terisi Kambing-kambingnya masih tetap seperti dahulu, hanya ada beberapa bilah-bilah Bambu dan papan yang terlihat bekas di perbaiki di bagian muka Kandang dan pintu.


Suara mengembek yang juga pernah akrab di telinga membuatnya menatap satu-persatu Kambing yang mulai asik menikmati rumput segar yang baru Ia ambil.


"Jo, biar Bapak aja nanti yang memberi makan."


Lukijo mesem mendekati Pak Prapto.


"Bukanya Pak Prapto masih sakit?" tanya-nya melihat wajah yang lemah menahan rasa meriang.


"Udah mendingan Jo, hanya masih terasa lemas," ujar Pak Prapto mengggigil pelan.


"Bapak tadi yang memberi tau Shely di mana Kau mengarit."


Lukijo mesem lebar dengan duduk deprok bersandar dinding Rumah.


"Pacar mu Jo?" tanya Pak Prapto mencoba tersenyum.


Lukijo tertawa pelan menggeleng.


"Iya enggak pantas toh Pak, kalo majikan baru pantas," jawabnya dengan melihat ke arah Shely tengah duduk.


Pak Prapto seperti merintih dengan tawa kecilnya.


"Apa karena Shely orang pribumi jo?"


Lukijo menoleh, mesem lalu tertunduk mengukir tanah dengan helai rumput kering.


"Shely seperti Wati bagi ku Pak, pribumi yang cantik serta manis. Menjadi teman mereka udah cukup membanggakan dalam ketidak sempurnaan hidup ku Pak," jelasnya tanpa menatap wajah Pak Prapto.


Pak Prapto memperhatikan dengan semakin merapatkan sarung di tubuhnya.


"Tapi setidaknya ada yang membuat hati mu merintih saat malam jo," ucapnya menahan nyeri di tubuhnya.


Lukijo mesem.


Suara mengembek terdengar dari kandang.


"Selain mereka?" lanjut Pak Prapto.


"Mungkin Pak." Lukijo menghela Nafas. Menatap sinar terik yang menyelinap di genting kandang.


"Hingga Dia sanggup menerima Diri Ini Pak." melihat rumput kering di tanah.


Angan-nya seperti kembali menyeruak dalam helai kering rumput. Gurat-gurat rapuh kenangan bersama tawa yang jauh dalam aroma rebusan gula merah, tercium samar dalam ingatan. Cinta yang pernah di rasakan, dimana rindu terasa merintih di saat malam begitu indah terasa saat kasih berada dekat di sisi.


"jo, Aku akan segera menemui mu!"


Kata terakhir yang Ia ingat, sebelum sebuah mobil membawa sosok yang Ia sayang pergi membawa harapan-nya.


Setiap malam, setiap suara minyak yang tengah mendidih terdengar dari gerobak gorengan di mana Ia bekerja. Setiap itu pula mata selalu melihat di pinggir jalan setiap sinar lampu kendaran atau orang yang membeli gorengan, berharap mendegar kembali suara kasih yang memanggilnya.


Namun harap memanglah seburuk rupanya, hari demi hari yang berganti semakin menipiskan asanya.


Namun Ia pun mengerti, jika kasih tidak-lah kembali bukanlah semua salahnya, restu kedua orang tua di atas segalanya.


Dan di Bukit Ia kembali bukan hanya dengan tangan hampa tapi sebuah pelajaran akan cinta yang sebenarnya bahwa cinta tidak akan sanggup mengalahkan rupa dan kasta, setulus apa pun cinta.


Surga kasih yang di cita-citakan terlalu berat untuk dapat di raih hanya dengan mengandalkan cinta di hati, tanpa adanya dukungan dari segi rupa dan materi.


Hanya Telaga sunyi yang akan menjadi saksi bening nya kasih yang terbenam dalam dinginnya asa, kian tertutupi bunga terapung yang menjalar menutupi sebuah rasa dari sebuah hati.


"Jo!"


Lukijo langsung menoleh Pak Prapto.


Pak Prapto hampir tertawa, namun nyeri di tubuhnya seperti menahan gerak di bibirnya.


Lukijo mesem dengan berdiri. Melihat ke arah Shely meski terhalang dinding Rumah. Sepertinya Ia harus segera menemuinya.


"Pak, Aku pamit dulu."


Pak Prapto pun berdiri dengan meringis nyeri.


"Iya Jo, jangan sia-sia kan orang cantik yang tengah duduk sendiri," guraunya coba melihat ke depan Rumah.


Lukijo mesem tertahan.


"Pak Prapto bisa aja." dengan meninggalkan Pak Prapto.

__ADS_1


"Jo, biasakan untuk bisa! Kalo untuk yang cantik!" Pak Prapto dengan tawa meringis.


Lukijo menoleh mesem.


"Sayangnya Aku enggak bisa Pak!" sahutnya sambil berjalan.


Pak Prapto langsung merapatkan sarungnya lagi. Sepertinya hembusan angin membuat tubuhnya kembali menggigil, dengan hampir tertatih masuk ke dalam Rumah.


Lukijo mesem tertunduk saat mata Shely melihatnya mendekat.


Desir angin seperti desir langkah kaki yang kaku mendekati teduhnya balai di bawah PJKM.


Rasa hati ingin duduk di dekat wajah yang tengah sendu menatap pegunungan di kejauhan, namun resah hati menahan tubuh untuk tetap berdiri.


"Jo, duduk jo"


Lukijo menoleh pelan dan hatinya seperti tercekat, Ia melihat ada bekas air mata di pipi Shely.


Sepertinya telaga jernih telah juga menggenangi lesung mungil di pipi Shely.


Segera memalingkan wajah saat Shely melihatnya.


"jo."


Suara Shely lesu kembali memanggilnya.


"Bediri aja Shely," ucapnya mesem tanpa menoleh.


"Enggak apa -apa Jo, duduk aja dekat ku"


Lukijo makin mesem.


"Apa-apa Shely, kalo Aku duduk di samping mu, kambing di belakang pasti pada teriak," kini dengan melihat Shely.


Shely tersenyum meski terlihat sendu.


Lukijo mengurut hati dengan menahan nafas pelan. Lesung pipit kembali terlihat di antara bekas telaga yang bening, hatinya seperti turut berdesir, begitu beruntung orang yang bisa membelai pipi disampingnya, suara hatinya seperti bergelantungan di atas ranting kecil PJKM.


"Jo, jika kau tetap berdiri Aku pulang aja!" Shely dengan berdiri.


Lukijo mesem menatapnya.


"Iya udah, aku juga mau pulang," ucapnya pelan.


Shely menatap pilu.


Lukijo makin mesem.


Meski sedikit kesal akan ucapan Lukijo, Shely segera menarik tangan Lukijo menuju jalan.


Lukijo hanya mengikuti tarikan Shely, sempat melihat jemari yang melingkari tanganya, kedua warna yang sudah tidak asing lagi baginya. Kedua warna yang sulit di satukan.


Jalan yang akan menurun, akan terus menurun hingga ke kaki Bukit.


Meski langkah keduanya berdampingan membelah kerasnya aspal terlihat lembut. Namun canggung hati begitu keras tertutupi dengan senyum kaku Lukijo diantara senyum sedih Shely.


Tiada banyak kata yang terucap, hanya langkah ramai membuat jejak tanpa bekas.


Rona sedih Shely semakin membuat Lukijo semakin bungkam tanpa tahu harus berbuat apa.


"Jo, sebenarnya Wati kenapa ya Jo?"


Pertanyaan Shely membuat Lukijo melihat jemari kakinya yang dekil dan sedikit masih bertanah becek.


"Nanti kita tanyakan bareng-bareng Shel," jawabnya menoleh pelan wajah yang tengah menanti jawabanya.


"Kita olah raga jalan dulu, biar pikiran kita juga berkeringat," sambunngnya dengan mesem kaku.


Shely mesem sedikit cemberut, namun langkahnya semakin di percepat. Seolah ingin mangajak berlari di jalan yang lumayan menurun.


Lukijo pun mengikutinya.


Keduanya pun berlari kecil, seperti menghilangkan kekakuan hati yang tengah resah dan sedih.


Lambai-lambai ilalang pinggir jalan dan di atas tebing yang mereka lalui, bagai menyertai dengan desik khas tertiup angin. Kadang tawa Shely sedikit menghiasi di bibir yang tengah sedihnya akan sikap Wati.


Keduanya pun kadang berlari kecil, kadang berjalan seperti mengikuti kata hati, membelah punggung Bukit yang beraspal,, tapi mungkin keduanya lupa akan sepeda motor yang di parkir didepan Rumah Pak Prapto.


Hanya desir angin yang berbisik mengingatkan, namun mereka tidak akan pernah mengerti suara silir di telinga.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2