
Lukijo merapatkan sarungnya, meski hawa dingin malam belum lagi mengusik bulu halus di tengkuk dan tangan-nya. Suara Wati dan Bu Marimin jelas terdengar tengah asyik mengobrol, kadang pula terdengar tawa dari keduanya.
Jentik-jentik bintang di angkasa begitu banyak mengecil di arakan awan putih yang cerah.
Kabut di puncak Bukit telah nampak menyelimuti hampir sekujur dedaunan hijau yang menumbuhinya.
Hampir larut, namun Wati belum lagi pulang. Hal itu yang membuat Lukijo duduk termangu di depan Rumah menatap lengang Shely yang duduk nekad sendiri di gubuk.
Semakin hari, sepertinya prilaku Wati semakin memperhatinkan. Bukan karena sakit, namun sikapnya acuhnya terhadap anak kandung dan suaminya yang kian merusak tenangnya pikiran.
Belum lagi Shely yang kini ikut larut dalam sedih.
Lukijo menggaruk pelan punggungnya yang terasa gatal, nyamuk malam begitu doyan menggigitnya. Tepukan kesal pun seakan tidak lah mampu mengusir suara mengiang resing dari sayap-sayap mungil yang mengepak malam.
Suntuk mata pun terasa begitu menggoda untuk terpejam, namun keberadaan Wati dan Shely yang membuatnya bertahan dalam gelap dan nyamuk-nyamuk lapar.
Lukijo menutup mulutnya yang menguap.
Suara Wati masih lagi terdengar dari dalam Rumah.
Ketipuk! Suara benda yang terjatuh dari samping Rumah terdengar.
Lukijo hanya menatap kelam di mana Shely tengah duduk dalam kesendirian. Sempat tadi Ia menemaninya, namun Ogah untuk di ajak ke Rumah Bu Marimin. Pikirnya agar Shely duduk di dalam Rumah sembari menunggu Wati selesai berbincang dan pulang. Namun Shely ngeyel untuk menunggunya di gubuk yang tanpa penerangan.
Lukijo kembali menutupi mulutnya yang menguap.Diam dalam sunyi, bagai berbicara bersama diri sendiri, suara keroncongan pun kadang terdengar bersahutan dengan suara jangkrik di belakang Rumah.
Perlahan berdiri, memutar cepat pinggangnya yang terasa pegal akibat lama duduk di kursi kayu.
Suara gemeretek di pinggangnya bagai suara tulang yang tengah saling beradu.
Perlahan duduk kembali dengan melihat dan berharap wajah Shely keluar dari gubuk. Namun malam sepertinya menyembunyikan-nya dalam hening.
Lampu dan suara knalpot motor gunung saling bersahutan di lereng-lereng berkabut, yang baru saja melewati jalan di depan Rumah.
Hangat malam terasa jauh mendaki, tanpa meninggalkan sedikit pun untuknya dan Shely yang menunggu Wati keluar dari Rumah.
"Jo!"
Lukijo tersentak kesal.
"Shely mana jo?"
Wati dengan celingak-celinguk di depan pintu.
Lukijo melebarkan bibirnya kesal.
"Itu! Di gubuk," ucapnya menunjuk dengan sorot mata.
"Apa?" Wati dengan keluar Pintu.
"Shely menunggu-mu Ti," jelas Lukijo hampir menguap.
Wati memperhatikanya.
"Aku enggak pulang Jo, menginap malam ini," ucap Wati dengan tatapan mencari sosok Shely yang memang tidak terlihat.
"Apa?"
Lukijo kini yang terlihat heran.
__ADS_1
Wati menanggapi dengan tatapan dan senyum kecil, lantas kembali masuk ke dalam Rumah.
Bibir tebal Lukijo terkatup cepat, menoleh lekas ke arah gubuk. Sepertinya Shely melihat Wati, dengan berlari kecil keluar dari gelapnya malam mendekatinya.
Lukijo melihat ke dalam Rumah.
"Jo, Wati sudah mau pulang?"
Suara engap Shely terdengar begitu dekat.
Lukijo menggaruk kesal keningnya, tanpa menoleh langkah yang telah berhenti di dekatnya.
"Shely, cuaca sebentar lagi sepertinya akan hujan, kita masuk aja," mesem pahitnya dengan membawa kursi kayu ke dalam Rumah.
"Cerah begini jo?" Shely dengan mengikutinya.
Lukijo segera menutup pintu Rumah, saat Shely telah ikut masuk.
Suara canda terdengar dari arah dapur.
Lukijo menatap Shely.
"Sebentar lagi hujan," ucapnya mengajak Shely duduk.
Shely duduk dengan pandangan menatap ke arah Dapur. Dirinya tidak tahu apa yang tengah Lukijo maksud.
Desir angin begitu terdengar saat deduanan samping dan belakang Rumah bergesekan riuh.
Lukijo menyandarkan kepalanya dengan memejamkan mata.
Suara tawa Wati begitu jelas terdengar di benaknya.
iyah! Sepertinya Wati memang tengah mengusik kembali segala tentang apa yang pernah di lewatinya.
"jo! Ayo gabung!"
Ia pun masih ingat di malam, dimana Wati mengajaknya ke dapur. Kala itu Ia pun sama terduduk mengantuk di ruang tamu Rumah.
Ajakan Wati saat itu Ia jawab dengan kantuk yang sangat.
Jika kini Ia melihat lagi hal yang mirip dengan masa yang lewat,"Wati? Nasib? Ada apa dengan keduanya?" tanya di hatinya dalam gelap mata yang terpejam.
"Jo."
Lukijo membuka matanya pelan, melihat Shely yang pelan memanggilnya.
"Apa Kau ingin pulang Shel?" tanyanya menjawab panggilan Shely.
Hening sesaat menjalari, bahkan Shely hanya termangu tanpa menjawab.
Suara berbincang dari arah dapur seakan sirna terbawa angin dingin yang berhembus masuk ke dalam Rumah.
Lukijo memalingkan wajahnya ke arah dapur.
Lalu terdenyum kecil ke arah Shely.
"Sudah Ku bilang, suasana gerimis menyelimuti dapur," ucapnya ke pada Shely.
Shely pun manggut mengerti. Lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kayu menghela nafas berat.
__ADS_1
"Sebentar lagi pun hujan akan turun." Lukijo lagi dengan merapatkan ke dua tangan ke tubuhnya dengan mesem, seolah menahan hawa dingin dari hujan.
Shely mesem getir.
"Jo!"
Sontak Lukijo yang baru akan kembali memejamkan matanya terhentak kaget, begitu juga Shely.
"Ayo gabung!"
lantang Wati dari pintu dapur.
Lukijo terpana, bertatapan dengan Shely yang turut heran.
Wajah Wati berpias sumringah ceria, seperti guratan senja yang cerah.
"Jo, enggak jadi hujan," bisik Shely.
"Dari pada kalian diam-diam-an!" Wati dengan mendekati.
"Pake telepati ngobrolnya?" Wati menatap bergantian.
Lukijo melebarkan bibirnya dengan kesal, begitu juga Shely.
"Pantas mesra banget!" geli Wati memukul pundak Lukijo.
"Halah! Ti-Wati!" Lukijo dengan menghindari tangan Wati yang akan memukul ulang pundaknya.
"Iya-nya!" bela Shely.
"Cieeeee! enggak terima Shely Jo!" gelak Wati duduk di dekat Shely.
Shely melengos kesal, bukan kepalang.
Wati kian menertawakan kedunya, geli di ujung malam melihat wajah yang masing-masing suntuk di ambang kengantukan.
Shely segera berdiri dengan meninggalkan Wati.
Lukijo pun langsung menatap pias Wati, seperti ingin bertanya.
"Temani Jo, takut nyasar ke sawah. gelap soalnya!" senyum Wati seperti menjawab sorot mata Lukijo.
Lukijo segera berdiri dan tanpa menggubris senyum senang yang tengah mengembang, Ia pun segera menyusul Shely yang telah keluar Rumah.
Riang malam kian menebarkan hening dalam pekat yang menyelimuti halaman depan Rumah dan juga jalan di depannya.
Nampak Shely berjalan menuju arah pulang.
Lukijo segera bergegas, sedikit berlari dengan mulut ingin memanggil wajah yang tengah berselimut kecewa. Namun tatapan mata di ambang pintu Rumah yang menahan bibirnya untuk terbuka.
Wati dan Bu Marimin meperhatikan-nya, di senyum-senyum yang tertutup remang cahaya lampu di luar Rumah.
"Jo! Bawa kembali harapan mu!"
Lukijo memperlambat langkahnya, suara Wati bagai menggugah hewan malam untuk menertawakanya dalam ejek kepak-kepak mungil di rengah persawahan.
"Dasar Wati!" Gerutu hati, seolah malu jika ada yang mendengar teriakkan Wati.
...****************...
__ADS_1