
"Jo!"
Meski kaget Lukijo hanya mesem melihat Shely dengan wajah ceria.
"Wati Jo!"
Suara Shely seperti ter-engah karena berlari kecil.
Lukijo segera berdiri, rumput dan arit masih tetap Ia pegang.
"Wati sudah enggak gila Jo!"
Lukijo mesem lebar mendengar pengakuan Shely.
"Maksudmu?" menahan geli di hatinya.
"Wati Jo! Sekarang sudah mulai manis dengan kevin Jo!" Wajah dan Bibir Shely terlihat begitu indah.
Lukijo tersipu, mata Shely terasa lebih bersinar dari hari-hari kemarin.
"Namanya juga Bundanya," ucapnya dengan memasukan rumput di tangannya ke dalam karung.
"Tapi Jo, ini terasa beda Jo!"
Lukijo mesem dengan duduk dan kembali mengarit.
Shely mengikutinya.
Lukijo langsung menghentikan mengarit.
"Jo, kita ke puncak yuk!" senyum Shely bersemangat.
Lukijo segera berdiri kembali, Shely mengikuti lagi.
Mengusap kening dengan punggung tanganya, Lukijo mesem. Terasa lemas tubuhnya mendengar ajakan yang sepertinya baru kemarin Ia dengar.
Perlahan menatap Shely.
Wajah cantik itu masih tersenyum hangat padanya, lesung pipinya bagai terasa dalam menembus ke palung rasa. Keringat yang belum membasahi keningnya terasa harum tertiup angin yang berhembus.
Kembali tatapnya luruh berkalang rerumputan di jemari kakinya yang tidak beralas.
Hatinya sungguh tidak kuasa jika harus berlama-lama menatapnya.
"Hayolah Jo!" Shely berharap.
Lukijo kembali mesem, meletakka aritnya di atas karung.
"Hampir siang begini, untuk apa Shel?"
Heran bercampur iba Lukijo menatap ceria wajah Shely, iba rasanya melihatnya berkeringat dan bergatal-gatal dengan ilalang, sementara tiada satu pun yang dapat di rasakan di saat siang hanya akan ada terik yang menyengat.
Shely berdecak pelan, seperti kecewa.
"Kalo malam, Aku takut-lah, Jo," keluhnya lagi.
Lukijo menatap perbukitan di kejauhan, namun matanya cepat melihat tanganya yang di gerak-gerakan Shely.
"Jo?"
Lukijo mesem mengangguk, sepertinya Ia tidak ingin mengecewakan wajah yang tengah berlangit cerah dan indah tersebut.
"Tapi Shel?" Lukijo melihat karung dan aritnya.
Shely tersenyum lebar.
"Ngaritnya di puncak Jo," tawanya senang.
"Apa?" Wajah Lukijo berubah pucat. menatap lemas jemari kakinya. Masalahnya kini Ia tidak membawa sepada atau pun Motor milik Pak Prapto, bisa tambah kapalan kakinya! berjalan sambil memikul rumput.
Setengah memaksa Shely menarik tangan Lukijo.
"Iya! Sebentar Shel!" Melepaskan jemari Shely, lalu mengambil karung yang belum terisi penuh dengan rumput, membawanya mengikuti langkah kecil yang riang.
__ADS_1
Lukijo mesem-mesem, Ceria dan riang kembali seperti saat pertama Ia jumpai di puncak Bukit.
Lambai dari gerai rambut yang terurai lepas, bagai sutra yang menaklukan ilalang-ilalang liar.
Suara alam bagai ikut menyalami halus tangan yang gemulai menyentuh pucuk-pucuk ilalang hijau yang tumbuh memagari jalan setapak.
Kicau dan mengembek di kejauhan turut berdecak riuh akan pesona wangi yang menyebar terbawa angin yang berlalu.
Goyang malu pakis di cadas yang tertimpa titik air yang merembes dari atasnya turut mewarnai harunya langkah, bagai mengalahkan dedauan sang putri malu yang kian malu terinjak langkah yang ceria.
Sinar Mentari yang mulai terik terasa semakin sejuk saat hati turut merasakan wajah dengan lesung pipit tersenyum penuh rasa bahagia.
Hati pun hanya mampu bersyukur atas segala keindahan yang terlihat, atas segala ciptaan yang begitu indah.
Lukijo mengaduh pelan hampir tersungkur, jemari kakinya tersangkut akar pohon.
Shely tertawa geli.
Lukijo nyegir tertahan, berjalan kembali mendahului Shely.
Shely pun berlari kecil menyusul.
Jalan kembali menanjak di sertai sengat Mentari yang memayungi keduanya.
Ceria Shely bagai angin sejuk yang mengupas keringat yang keluar.
"Apa berat Jo?"
Shely dengan melihat karung yang di gendong Lukijo dengan satu tangan memegang ujung mulut karung.
"Iya berat Shel." Senyum Lukijo pahit.
"Apalagi jalannya menanjak," ucapnya lagi.
Shely membuka kedua bibirnya sedikit.
"Tapi kan, isinya rumput jo, bukanya enteng?" heranya.
Lalu berjalan lagi.
"Jo, bawa Jo! Nanti pak Prapto marah!" tawa Shely melihatnya.
"Oh, iya!" Lukijo dengan berlari kecil mengambil kembali karungnya.
Keduanya pun tertawa berjalan.
Lembayung hati bagai berwarna di tengah terik, saat Lukijo menatap tawa di wajah Shely, hatinya benar-benar terpukul, ternyata Shely benar-benar cantik.
Ilalang, semak dan pepohonan pun bagai turut berbisik Cantiknya Shely!.
Langkah yang kian menanjak dengan berpagar cadas dan ilalang di atas dan sisi jalan bagai menuntun langkah untuk terus hingga ke puncak tanpa harus terhenti di persimpangan.
Hanya keindahan yang hijau di kejahuan yang bisa menghentikan langkah untuk sejenak menghirup lepas udara alam yang berhembus.
Suara knalpot Motor Gunung terdengar mendekati menuruni jalan.
Lukijo segera melebarkan jaraknya berjalan dari sisi Shely.
Semakin lama-semakin jelas Motor yang mendekati dengan tumpukan rumput di boncenganya. Lukijo mesem mengenali yang tengah mengendarainya.
"Jo!"
Lukijo makin mesem, saat Motor berada dekat di depanya dan bernenti seperti menghalangi Ia dan Shely berjalan.
"Eaaalaah, Jo!Jo! Ngarit kok, majikannya di bawa!"
"Pulang bisa gatal semua Jo!Jo!"
"Anu Mbah!" Lukijo seperti kikuk untuk menjelasakan kepada lelaki dengan kumis dan jenggot yang telah beruban semuanya.
"Ini Shely Mbah, saudaranya Wati," jelasnya kemudian.
"Wati! Eaalaaahh! Lah kok! Cantiknya sama?"
__ADS_1
"Gimana toh, Mbah? dari keturunan yang sama Mbah," tanggap Lukijo.
"Jangan malu lho, kalo jalan dekat Lukijo."
Shely tertawa kecil.
"Ini juga lagi ngempet Mbah," jawabnya melihat Lukijo.
Lukijo mesem pahit, sepahit jambu yang masih baru berbuah dari bunga.
"Mbah aja kadang malu!"
Shely hampir ngakak.
"Iya udah Jo, Mbah pulang duluan!"
"Oh iya Mbah, hati-hati!"Lukijo mesem lega. Segera menyingkir di samping Shely yang tengah tersenyum manis.
Suara bising knalpot kembali terdengar memekakkan terik mentari, disertai tawa kekeh sang Mbah memperhatikan keduanya.
Laju pelan Motor dengan muatan rumput di belakangnya begitu berhati-hati di jalan yang menurun.
Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum kembali berjalan mendaki.
Lukijo mesem menatap dekil kakinya, senyum Shely tiada pernah hilang.
Kembali hatinya terusik, dan kembali pula menyesali diri yang terasa timpang bila berjalan dengan seorang yang cantik.
Terkadang ingin sekali Ia menghempaskan getar lirih di hati ke dalam jurang di sisi jalan, agar tidak ada asa yang kembali menyiksa dirinya, biarlah cinta dan rindu milik mereka saja. Biarlah Ia berjalan tanpa itu semua, semisal hanya akan membuatnya berjalan dalam derita.
"Jo, kenapa diam aja? Nyesel!"
"Eng-gak Shel!"
Lukijo hampir melepas karung di pundaknya karena kikuk, namun mesemnya terlepas di antara sinar Mentari yang menembus rindangnya pepohonan tepi jalan.
"Memikirkan sesuatu?"
Lukijo menoleh Shely dengan sisa keberanian hatinya.
Lalu mengangguk.
Shely tersenyum.
Habis sudah keberanian di dalam hati, luruh kembali menatap dekilnya kaki melihat rekah bibir yang berlesung mungil namun indah, bagai membekukan sinar Mentari yang terang.
"Apa yang Kau pikirkan?"
Terasa semilir angin lembut yang menerpa, saat suara pelan Shely mengiang di telinga.
"Setidaknya Aku enggak memikirkan Mu."
****Shely**** langsung mendorong pundak Lukijo dengan senyum cemberut.
Lukijo menahan tawanya.
"Hanya akan membuatku masuk ke jurang!"
Lukijo dengan berlari.
"Jo!" Shely berlari mengejar Lukijo.
"Rem Ku pakem Jo!" Serunya Lagi dengan tertawa.
Lari kecil keduanya bagai membelah jalan yang semakin mengecil dan berakhir setapak, penuh ilalalang yang memagari.
Terik tiada terasa menyengat hanya keringat yang mulai membasahi, namun tawa di bibir Shely adalah pengelap yang lembut mengusap hati.
Lukijo membalikan badanya, melihat wajah di belakangnya lekat dengan tawanya, hati pun berbisik lirih.
"Cantiknya Shely."
...****************...
__ADS_1