
Berjalan tergesa-gesa Xavia menemui Dominic yang sedang duduk di dalam ruangannya mengerjakan sebuah konsep untuk gangster Black Horses.
“Ada perlu apa kau mencari ku, Xavia? Apakah ada hal penting?” tanya Dominic mengalihkan pandangannya dari struktur strategi di hadapannya.
Xavia mengamati tulisan-tulisan di papan putih hasil dari tangan sang papa beberapa saat, sebelum kemudian dia kembali menatap Dominic. Ingin menyampaikan apa yang akan menjadi tujuannya yaitu, mengajaknya berdiskusi tentang misi balas dendam terhadap Richard.
“Apa yang sudah Richard lakukan sangat tidak bisa ditolerir, dia sangat mengancam bagi hidupku. Maka aku menemui mu, Papa. Karena berpikir bagaimana kalau kita membalas atas apa yang sudah dia lakukan padaku?”
Kemarahan Xavia berada di atas ubun-ubun ketika menyebut atau mengingat nama Richard, darahnya mendidih bergejolak rasa dendam yang membara. Xavia tak sabar ingin segera melihat pria licik itu hancur dan memohon ampunan padannya!
Dominic menanggapi tanpa komentar ide Xavia, dia memikirkan sesuatu sambil mendesak bibirnya ke atas membentuk lingkungan tipis.
“Aku tidak mau duduk diam saja di tempat, Papa, menunggu serangan demi serangan orang-orang yang dia kirim untuk menghabisiku. Aku tidak mau membiarkan dia seenaknya, kita harus mengambil langkah untuk menyerang mereka.”
Dominic yang baru saja mencerna ucapannya itu berjalan duduk ke kursi hitamnya, melihat putrinya itu peduli. Bagaimana pun dia harus waspada karena keselamatan Xavia selalu terancam.
“Kita akan membalas perbuatannya, Xavia. Tapi tunggu, sepertinya kita akan melakukan itu pelan-pelan dan bertahap. Kita akan mengambil strategi racun, diam-diam tanpa rasa, tapi mematikan. Kurasa kau bisa bersabar untuk itu?” tanyanya.
Xavia mengangguk.
Walau keinginan balas dendam Xavia menggebu-gebu dia masih menggunakan akal sehatnya untuk mengangguk. Menyetujui pendapat sang papa. Seolah belum puas dengan apa yang mereka akusi selama ini, Dominic dan Xavia memilih untuk memperbesar status gangster.
“Sebagai seorang ayah yang membesarkanmu, aku tahu apa yang sudah kau rasakan saat ini. Asal kau tahu, kalau aku lebih merasakan dari sekedar apa yang kau pikirkan. Membalas dendam itu perlu, kita kumpulkan para anggota untuk menyusun ini semua!”
…
__ADS_1
Setelah perencanaan mereka berdua cukup matang, Dominic, pria paruh baya tapi masih nyentrik itu ditemani Xavia Linn berdiri selangkah di belakangnya. Beberapa anggota penting gangster berkumpul di hadapan mereka, setelah Dominic meminta.
Jika sudah lama situasi seperti ini, para anak buah Dominic sudah paham, pasti akan ada hal penting yang akan dibicarakan. Tak satu pun dari anggota gangster yang Sebagian besar memakai pakaian hitam itu mengeluarkan kata-kata. Mereka berdiri tegap dengan pandangan lurus ke depan menatap ketua geng menunggu instruksi.
“Jadi langkah kita sebelum melakukan penyerangan ke kelompok Eagle eye, kita harus menyerang lebih dulu, kelompok-kelompok kecil yang bekerjasama dengan mereka, jika mereka melemah, aku rasa tidak ada lagi yang membantu eagle eye!” ucap Xavia.
“Jadi itu adalah rencana untuk melakukan penyerangan pada geng Eagle Eye, kita akan memulai dengan menaklukkan sekutu mereka, beberapa anggota kita sudah berhasil menyusup, mereka akan memberikan informasi-informasi penting tentang apa yang akan anggota eagle eye dan sekutunya lakukan pada kita, langkah selanjutnya setelah menemukan titik lemah kelompok mereka, kita akan menyerang langsung pada pusat markas mereka. Aku tahu ini tidak mudah, tapi… apa kalian setuju dengan rencana ini? Kita lakukan ini secara bertahap,” Dominic sambil menghisap cerutu dari sela-sela dua jarinya.
Para anggota geng Dominic hanya sebentar mempertimbangkan, setelahnya mereka mengangguk satu sama lain. Mereka itu begitu patuh lalu, bagaimana bisa menolak perintah orang yang paling dihormati di geng ini.
“Saya setuju, Bos, kebetulan, saya juga sudah tidak sabar melihat kehancuran mereka.”
“Saya juga setuju, Bos. Siapa yang sudah mengganggu ketua kami, maka mereka akan berurusan dengan kami, tubuh kita memang berbeda, tapi jiwa geng Black Horses adalah satu tujuan!” pekik salah satu anggota menimbulkan semangat yang lain.
“Setuju!”
Kini Xavia melangkah maju, mengambil alih menjadi pembicara. Wanita yang terlihat cantik dan manis ini siapa sangka kalau dia memiliki sikap seperti seekor singa. Tatapannya tajam berwibawa. Dia melirik ke samping sebentar sebelum kemudian melanjutkan bicara,
“Baiklah, karena kalian semua sudah setuju aku ingin memilih seseorang sebagai pemimpin pertempuran yang akan dilakukan. Dan pilihanku bertujuan pada Kenard, dia yang selama ini selalu mampu mengalahkan geng lawan,” usul Xavia melirik ke samping melihat Kenard.
Kenard tak keberatan dengan ini, dia mengangkat wajahnya sambil menatap balik Xavia. Dari sorot matanya dia setuju.
“Bagaimana, Kenard, apa kau keberatan?” tanya Xavia.
Kenard dengan cepat menggelengkan kepala. “Sama sekali tidak, Xavia. Aku tidak percaya, kalau kau memilihku,” ucapnya.
__ADS_1
“Karena aku merasa kau yang paling pantas, Kenard, jangan buatku kecewa,” balas Xavia penuh percaya.
“Kau jangan khawatir, aku berjanji tidak akan membuat kecewa, akan membimbing kelompok gangster kita menang di setiap pertempuran,” Kenard membuat semua orang yakin dengan kata-katanya.
Bahkan sang papa tersenyum puas sambil memegang kumisnya, melihat Kenard yang berani penuh percaya diri.
Tak ada sedikit pun keraguan Nampak di wajahnya. Semua orang setuju dengan keputusan ini, kemampuan Kenard selama ini memang tidak diragukan lagi. Pantas kalau dia ditunjuk menjadi pemimpin pertempuran mereka.
“Aku tidak setuju!” pekik seorang tiba-tiba muncul dari belakang para anggota. Kedatangan dia menyita perhatian semua orang.
Begitu juga dengan Dominic dan Xavia Linn. Mereka mengernyitkan dahi melihatnya.
“Itu adalah pilihan konyol, bagaimana kalian menyusun rencana yang begitu buruk seperti itu?”
Elliot, sepupu Xavia, dia datang menjadi satunya orang yang menentang rencana mereka.
“Paman, aku adalah keponakanmu, akulah orang yang pantas kau tunjuk, karena aku adalah satu-satunya pria dari keturunan keluarga Linn.” Dengan rasa penuh percaya diri Elliot maju berdiri di samping Dominic.
Lelaki itu merasa paling pantas sebab selain dia, Dominic tidak memiliki keturunan laki-laki. Dengan wajah tagak dia merasa berkuasa di sana.
“Sebelumnya, Xavia telah berlatih keras untuk membela dirinya, tapi apa yang terjadi? Bahkan dia hampir saja terbunuh karena tidak bisa melawan, artinya, dia belum cukup kuat, termasuk dengan Kenard, aku khawatir kejadian serupa akan terulang kembali, tidak bisa dibiarkan,” ucapnya lagi.
Semua orang masih terdiam, memberikan ruang bagi pria ini untuk terus bicara menyampaikan pendapat. Dalam pertarungan besar mereka memang harus membicarakan matang-matang. Oleh sebab itu mempertimbangkan usulan perlu dilakukan.
“Paman, seharusnya kau tidak menyetujui ide dari Xavia. Orang yang dia pilih, hannyalah orang berasal dari luar, bagaimana dia bisa mempertanggungjawabkan pertarungan ini? Pikirkan ini baik-baik!” tentang Elliot keras.
__ADS_1
Mata Xavia menyipit mendengar pendapat Elliot, walau Kenard orang luar yang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Linn, dia tetap yakin kalau Kenard akan memenangkan pertarungan di bawah kemimpinannnya.