
“Urusanku sangat banyak, tidak ada waktu hanya sekedar meladeni hal tidak penting seprti ini. bawa dia keluar.”
Di luar dugaan Celia, ternyata Xavia sama sekali tidak terpancing dengan umpan yang dia berikan. Bahkan Perempuan itu terlihat santai duduk bersandar di kursi seiring dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Dua orang penjaga sudah siap menarik Celia, mengikuti perintah sang ketua. Celia menarik tangannya yang akan dipegang oleh mereka, dia menatap sinis penuh dengan kebencian ke arah Xavia.
“Tidak usah memegangku, aku bisa pergi sendiri tanpa kalian suruh. Aku kemari berharap kau bisa membantu mempercepat urusan pernikahanku dengan Kenard, ternyata kau tidak bisa membantu apa pun. Kau bahkan tidak mau tahu, yang bahkan orang yang selama ini banyak memberi bantuan padamu.”
Xavia hanya menyunggingkan bibir sambil mengedahkan satu tangan, mempersilahkan Celia pergi.
Melihat dirinya tidak dapat mempengaruhi Xavia, Celia mengepalkan kedua tangan di samping tubuh menahan kesal. Dengan cepat ia berbalik meninggalkan tempat tak menoleh lagi. Derap kaki terdengar menggema kian memenuhi sepanjang jalan menuju keluar.
Xavia menatap punggung Celia yang berangsur menjauh darinya. Bibir tipisnya tersenyum terpaksa. Ia percaya Kenard bukanlah seseorang yang sembarangan, dia tak akan mengambil keputusan secepat itu tanpa berpikir. Apa lagi soal pernikahan dan tentang Perempuan yang akan menemani seumur hidupnya.
Akan tetapi sedetik kemudian, dia berpikir bahwa sejak kembali dari kampung nelayan, Kenard tidak berperilaku seperti sebelumnya kepadanya. Dia bahkan cenderung tertutup meski pun banyak membantunya dalam pekerjaan, tetapi dia tak sedekat dulu.
Berbagai upaya sudah Xavia lakukan untuk membuat Kenard kembali seperti dulu lagi. Tapi semakin dia paksa, lelaki itu kian berbeda. Bahkan tidur bersama Celia terang-terangan dalam satu kamar.
“Alex dan lainya sudah mengusir perempuan tadi, memastikan dia tak akan bisa seenaknya masuk ke dalam sini, Nona Xavia.” Billy yang baru datang berdiri sopan di hadapan Xavia.
Xavia tak menjawab, dia menenggak minuman dalam gelas untuk mendinginkan tenggorokannya.
“Maaf, Nona Xavia. Kalau tak keberatan, bolehkan saya bertanya?” tanyanya segan.
“Silahkan tanya saja.”
“Ini mengenai Kenard, sebenarnya kalau menurutmu, apakah benar dia dan perempuan tadi memiliki hubungan spesial? Kalau menurut saya, Kenard itu tak menyukai perempuan seperti itu, sebab seleranya adalah perempuan sepertimu.”
“Ya, aku juga tidak dapat menjamin, kalau dalam dua tahun mereka hidup bersama. Entah Kenard pernah memiliki rasa terhadap Celia atau tidak. Entah, hanya keduanya yang tau.”
__ADS_1
Billy manggut-manggut paham.
Mendadak mood Xavia berubah menjadi kacau. Walaupun dia sama sekali tak berpihak dengan hubungan antara Celia dan Kenard. Tapi dia benar benar merasa sangat kacau.
Setelah bertemu dengan Xavia, secara kebetulan Billy datang ke markas bertemu dengan Kenard. Pria itu sedang mengurus pekerjaan geng, sedangkan Kenard tengah menyiapkan persiapan perang dengan geng musuh.
“Seharusnya kau bisa memperingatkan tunanganmu untuk tidak datang menemui Nona Xavia. Dia pasti kecewa setelah ini,” ucap Billy tak bisa menahan diri.
Kenard menaikan satu alis. “Kau sedang membicarakan apa?” tanyanya.
“Kau tidak mengerti?”
Kenard menggeleng.
Billy menghela napas sebelum bicara. “Sebelum aku datang kemari, perempuan yang mengklaim dirinya sebagai tunanganmu datang ke rumah, dia menemui Nona Xavia, mengajaknya membicarakan pernikahan antara kau dan dia.”
“Apa perempuan yang kau maksud Celia?” tanya Kenard.
Kenard seketika mengerutkan dahi. Dia tak mengira Celia bisa bertindak sejauh ini.
Rahangnya seketika mengeras karena merasa sangat kesal usai mengetahui Celia yang mencari masalah dengan Xavia.
“Kau tak tau bagaimana perasaan nona Xavia saat ini. Dia pasti sedang sedih sebab kedatangan perempuan itu.” Billy yang pada dasarnya tak menyukai Celia sengaja menambah sedikit tekanan supaya membuat Kenard semakin kesal pada Celia.
Kabar itu tidak Kenard sukai. Ia kemudian buru-buru pulang mencari Celia.
Pada saat sampai rumah dia melihat Celia berbaring santai di atas sofa dengan masker wajah dan juga pijatan pembantu bak seorang putri.
Sikap Celia yang semakin seenaknya saat ini membuat Kenard mengepalkan tangan, ia semakin kesal.
__ADS_1
Brak!
Seketika mereka tersentak saat mendengar meja yang didorong menggunakan kaki oleh Kenard.
Dua orang pelayan itu sigap berdiri sambil menundukkan pandangan.
“Kenard, kau membuatku terkejut! Apa yang terjadi?” Dalam keadaan wajah bermasker Celia duduk menatap Kenard.
“Kenapa harus datang menemui Xavia?!”
Celia pura-pura tidak paham.
“Apa yang kau dapatkan setelah datang dari sana, hem?”
“Aku tidak berniat apa-apa Kenard, hanya mengajaknya membicarakan pernikahan kita saja, mungkin Xavia bisa membantu. Tapi ... kata Xavia, dia tak mau ikut campur dengan hubungan kita, dia memintaku untuk membicarakan denganmu.”
“Sudah kubilang, aku tidak mau menikah denganmu!”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Kenard. Dengan napas tersengal sengal Celia menahan amarah.
“Kau-“ desis Kenard kesal sambil memegang pipinya.
“Walau kau berusaha keras menolak, aku tidak akan membiarkanmu bebas dari tanggung jawab!”
Sebelum Kenard membalas sikapnya, Celia menangis dan cepat naik ke lantai atas kembali ke kamar.
“Argh! Sialan!”
__ADS_1
Kenard menjambak rambutnya sendiri terduduk kebingungan di atas sofa.
Celia telah berhasil mengacak acak hidupnya. Dia menjerat Kenard dengan embel-embel balas budi dan hubungan satu malam itu.