Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Mengkhawatirkan Sesuatu Terjadi


__ADS_3

~BAB 19~


Situasi senang karena kemenangan masih dirasakan dalam kelompok Black Horses saat ini. Kemenangan geng Black Horses berhasil menaklukkan geng-geng kecil di sekitarnya. Mereka telah dibuat bertekuk lutut tanpa ampun sekarang sesuai keinginan Dominic.


“Kemenangan kemarin malam itu barulah awal, di dunia gangster ini belum ada apa-apanya. Masih ada banyak geng-geng yang harus kita kalahkan, sebab selama ini selalu mencari gara-gara di wilayah kekuasaanku.”


Slogan Black Horses menyerang sebelum diserang, oleh sebab itu, setelah kemenangan yang berhasil diraih Kenard dan para anak buahnya, tak serta merta membuatnya merasa puas. Dominic masih memiliki ambisi yang lebih besar dan ingin menaklukkan geng-geng kecil yang tersisa di kota.


“Kali ini aku memutuskan akan pergi sendiri ke pertarungan, sebagai ketua Geng Black Horses aku juga tidak bisa hanya berdiam diri, hanya bertepuk tangan atas hasil kerja keras anggotaku. Pertarungan nanti aku yang akan memimpin sendiri,” sergah Dominic tidak bisa dibantah.


Shane dan Xavia sedang berada di sampingnya terkejut juga sekaligus khawatir. Tetapi Xavia juga tidak bisa mengganggu keputusan sang papa.


“Nona Xavia, apa kau setuju dengan rencana papa Anda?” bisik Shane tanpa Dominic mendengarnya.


Antara ingin menggeleng dan mengangguk Xavia berkata, “Aku setuju kau berencana melakukan penyerangan dengan beberapa kelompok yang seperti parasit, Papa. Aku akan mendukungmu sepenuhnya. Tapi … apakah kau yakin, akan turun sendiri secara langsung?”


Dominic tanpa sedikit pun ragu. “Sudah lama berdiam diri saja, membuat otot-otot papa terasa kaku, sepertinya papa harus turun langsung memimpin para anggota geng kita, Sayang.”


Tatapan Xavia cemas, dia setuju dengan rencana papa, tetapi di sisi lain ada rasa takut jika ayahnya secara pribadi akan pergi ke medan perang lagi. Dia takut, jika Dominic mengalami kejadian seperti di kehidupan sebelumnya.


“Kau jangan khawatirkan apa pun, Xavia. Karena kau paham, kekuatan papa, kan? Aku meragukanku?” tanya Dominic tak sedikit pun mengurangi keinginannya mengubah pikiran.


Xavia yang berdiri kini duduk di sofa tepat samping sang papa, dia menatap Dominic dengan khawatir seperti menatap anak kecil yang sedang menangis. “Bukan seperti itu maksudku, Papa. Kekuatan papa memang tidak diragukan lagi, oleh sebab itu selama sepuluh tahun ini kau menjadi pemimpin kelompok Black Horses, salah satu geng motor yang cukup disegani. Tapi … alangkah baiknya kau tetap di tempat, kita memiliki beberapa anggota yang cukup bisa diandalkan, kau tinggal memerintah mereka, Papa. Kenard salah satunya."


Dominic melihat putrinya itu sangat khawatir sekarang, dia bahkan menggenggam erat pergelangan tangannya sambil menatap memohon. Jika sudah seperti ini Dominic tidak tega.

__ADS_1


“Baiklah Xavia. Karena kau tidak menginginkan aku pergi, maka papa akan menurutimu. Sudah jangan merasa khawatir lagi,” ucap Dominic sambil mengusap pucuk kepala sang putri.


Shane yang berdiri di samping sofa diam-diam ikut tersenyum mendengar dan melihat kedekatan antara anak dan ayah.


“Aku akui, kemampuan Kenard memang sangat tinggi, hal itu membuatmu selalu membanggakan dia. Papa akan mendukung kalian, jika kalian ingin menjalin hubungan kedekatan, dan aku akan mendukungnya penuh untuk maju,” ucap Dominic.


“Tapi, Papa, jika kau melakukan itu, apa ini tidak terlalu berisiko bagi Kenard?” tanya Xavia. Dia hanya merasa khawatir bahwa keunggulan Kenard akan menarik kecemburuan dan persekongkolan dari orang lain.


Salah satunya adalah Elliot, sepupunya itu sudah melihat kemampuan Kenard, dan menganggapnya sebagai duri dalam daging. Berbagai rencana licik dia rancang untuk menjatuhkan pengawalnya itu.


“Dan jika dia Mendapatkan terlalu banyak pujian, kemungkinan akan menimbulkan kecurigaan di antara para anggota inti.” Xavia berbagi pemikirannya dengan ayahnya.


Dominic menyeringai sambil terkekeh kemudian.


“Sudah sewajarnya pemuda sesusiannya untuk proses menjadi dewasa, perlu mengalami cobaan. Dia harus bisa melewati semuanya, jika tidak bisa mengatasi sedikit kecemburuan dan persekongkolan disekitarnya, dia tidak akan mencapai hal-hal yang hebat di kemudian hari,” tuturnya.


Semua yang dikatakan Dominic, Xavia menganggap perkataan ayahnya masuk akal, dia tidak banyak bicara lagi untuk berdebat.


Setelah bicara beradu pendapat dengan sang papa, Xavia pergi ke halaman rumah depan, mendekati Kenard sedang menyuci motor gede kesayangannya sendirian.


Lelaki berkaos hitam tanpa lengan itu terlalu sibuk berjongklok di samping motor, sehingga tak mengetahui kedatangannya di samping.


Xavia berdiri melipat kedua tangan depan dada, sambil menyadarkan pinggulnya ke jok motor, posisinya di atas Kenard. Membuat lelaki itu mendongak menatapnya.


“Kau membutuhkan bantuanku?” Xavia menaik turunkan alis memberi tawaran.

__ADS_1


Kenard tergelak, menganggap tawaran Xavia hanya bercanda sebab tidak akan melakukan pekerjaan seperti ini. “Katakan, apa yang membawamu datang menemuiku?” tanyanya meletakkan kanebo ke atas tangki motor.


Xavia menarik Kenard secara tiba-tiba mengajaknnya duduk di kursi besi bercat putih. “Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Kenard. Papa baru saja bicara denganku, kalau dia punya rencana untuk menjodohkan kita.”


Kenard langsung menoleh tersenyum. “Itu adalah rencana yang bagus,” ucapnya berbinar, dia sangat senang karena itu berarti dia bisa dengan cepat maju dan meminta persetujuan dari papa Xavia untuk menikahinya.


Xavia tidak mengerti dengan reaksi Kenard saat ini, mengapa dia begitu gembira?


Bukankah selama ini Kenard hanya berpikir menikmati kehidupan yang penuh dengan kegembiraan dan sensasi.


Entahlah.


Xavia sendiri sudah lelah hidup dalam ketakutan masa lalu yang menghantuinya, mengkhawatirkan orang yang dicintainya terluka. Sayangnya, posisinya tidak memungkinkannya untuk mundur, jadi dia. hanya bisa terus menyusuri jalan kegelapan, terlibat dalam perjuangan hidup atau mati dengan geng lain.


“Kita akan melakukan penyerangan terhadap beberapa kelompok kecil di wilayah Castora. Papa ingin menaklukkan mereka untuk memperkuat kelompok kita.”


Kenard menganggapnya dengan remeh, tidak sulit baginya untuk mengatakan,


“Aku sudah siap untuk membunuh musuh. Membawa black horses berada di atas puncak adalah keinginanku.”


Xavia menatap mata Kenard lekat-lekat, dia terlihat khawatir seperti mengkhawatirkan ayahnya tadi.


“Kenard, kau memang selalu memenangkan pertarungan akhir-akhir ini, tapi aku minta padamu untuk memperhatikan keselamatanmu, itu sangat penting.”


Perasaan hangat melonjak di hati Kenard saat mendengar ucapan Xavia, dia tak menyangka perempuan ini begitu perhatian.

__ADS_1


“Terima kasih sudah mengingatkanku, Xavia.”


Kenard merasa, Xavia adalah orang satu-satunya yang khawatir padannya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya erat.


__ADS_2