Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Mencari Kebenaran


__ADS_3

"Pasti ada yang salah, semalam aku tidak melihatnya, bagaimana bisa berakhir satu ranjang dengannya?"


Kenard merasa sangat bingung, dia tidak tahu bagaimana bisa telanjang di tempat tidur bersama Celia. Padahal terkahir dia ingat, masuk kamar tanpa seorang pun ada di dalam sini. Ah, dia sangat pusing sekarang karena efek terlalu banyak minum semalam.


Seharusnya wanita ini tidak di sini, batinnya sambil mengepalkan tangan. Ia merasa kesal, tapi berusaha menahan.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Celia? Dalam sekejap kenapa kau ada di kamarku? Apa kau diam-diam menyelinap?" tanya Kenard curiga.


Celia langsung menggeleng dia menyangkal tatapan Kenard yang terlihat mencurigainya. "Selama kita tinggal satu rumah, di kampung nelayan, apa pernah aku menyelinap ke kamarmu, pintu rumah itu tidak memiliki pintu, bahkan aku hanya masuk kalau ingin mengobati mu. Sekarang kau menuduhku seperti itu?"


"Lalu apa yang terjadi malam tadi, membuat kamu di sini?" tanya Kenard dingin.


"Semalam kau terlalu banyak minum sampai mabuk berat, terbukti sekarang kau tidak mengingat apa-apa bukan?"


"Iya, aku memang tidak mengingat apa-apa. Tapi ... apa separah itu kondisiku?" tanya Kenard masih belum percaya.


Celia mengangguk meyakinkan. "Bahkan kau bertindak di luar kendaliku, Kenard. Semalam kau memaksaku untuk melayani mu, aku sudah berusaha menolak, dan berusaha membuatmu sadar. Tapi ... aku semakin tak berdaya saat kau membabi buta, bertindak secara liar, bahkan lihat ini?" Menunjukkan luka memar di bagian lengannya sendiri.


"Kau memaksaku dengan kasar, Kenard!"


Kenard memijat pelipisnya sendiri merasa pening mendengar cerita Celia. Dia tak menyangka kalau pesta semalam berakibat seperti ini.


Sekarang dia tak tahu, harus melakukan apa pada perempuan di hadapannya ini, dan Xavia yang telah marah.


"Tidak mau tahu, pokoknya kau harus bertanggung jawab atas segala kesalahan yang telah kau lakukan tadi malam, Kenard! Kalau terjadi sesuatu padaku, kaulah orang pertama yang kucari."


Melihat sorot mata Celia yang menggebu gebu. Pikiran Kenard menjadi tak yakin tentang kebenaran ucapan Celia. Dia mengerutkan dahi beberapa saat sebelum kemudian memutuskan untuk mengajak Celia pergi.


"Kita akan pikirkan nanti, sebaiknya sekarang kau pergi dari sini. Aku akan mengantarmu." Kenard masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya.


Memutar keran shower deras turun membasahi punggung kekarnya. Kedua tangan bertumpu ke dinding keramik memukul dengan satu tangan, seiring kepala tertunduk ke bawah.


Setelah siap mengenakan pakaiannya, Celia menyeringai puas. Duduk di sofa mengambang ponsel lalu mengirim pesan.


"Rencana yang sudah kita susun susah payah, akhirnya sukses. Selamat atas untuk kerja keras kita berdua."


Pesan terkirim.


Celia kembali tersenyum sambil menatap pantulan dirinya sendiri dari dalam cermin. Secara bertepatan Kenard keluar dari dalam kamar mandi.


***

__ADS_1


Richard melihat pesan tersebut dia tersenyum puas. Dia sudah


lama merasa tidak suka pada pengawal Xavia itu. Sengaja menggunakan pemeran pendukung


wanita untuk memisahkan mereka adalah keuntungan baginya.


"Bagus, Celia. Tidak salah aku memilihmu sebagai alat bantu untuk mendapatkan misi-misi ku," ucapnya sambil tersenyum.


Menyesap anggur dari dalam gelas di tangannya hingga habis. Pelayan perempuan cantik dan seksi di belakangnya segera menuangkan lagi ke dalam gelas hingga terisi setengah.


Richard menyesap sedikit anggurnya, kemudian melirik dari balik gelas pelayan itu masih berdiri di hadapannya.


Mengayun empat jarinya memanggil. Pelayan mendekat dengan patuh.


"Karena aku sedang senang hari ini, minumlah ini!" perintahnya.


Pelayan itu merasa tidak enak. Tangannya gemetar antara mau mengambil atau menolak.


"Ambil."


"Baik Tuan."


Memegang dengan kedua gelasnya, pelayan muda dan seksi itu gugup.


Pelayan menekuk kedua lututnya duduk di hadapan Richard. Dia meminum sambil ketakutan.


Richard tersenyum puas melihatnya.


***


Setelah membuat Celia menyingkir, Kenard langsung pergi ke penginapan lagi. Dia pergi ke bagian CCTB untuk melihat kejadian detailnya.


"Aku mau melihat rekaman jalan menuju kamar nomor 407 dan area parkir lengkap!" pinta Kenard pada dua orang petugas yang berjaga di hadapan layar monitor.


"Tunggu sebentar, kami akan mencobanya dulu. Sebab sejak kemarin terjadi eror sistem," ucap pekerja.


Setelah beberapa menit dua orang itu mengotak atik komputer barulah memberi jawaban.


"Maaf, Tuan kami sudah mencoba mengambil hasil rekaman tadi malam. Tapi ... cctv mengalami eror. Rekaman tidak bisa didapatkan."


Kenard membuang muka seiring dengan meninjau dinding sebelahnya untuk melampiaskan kesalahannya. Sebelum kemudian pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Kenard menemui beberapa anak buah yang bersamanya malam kemarin.


"Kalian melihat tidak, aku semalam mabuk berat sampai harus ke penginapan. Apa kalian lihat siapa saja yang bersamaku?" tanya Kenard.


Mereka menggeleng. "Bagaimana kami bisa tahu, Bos. Saat mabuk kau pergi meninggalkan tempat, dan setelah itu kami tidak tahu kau pergi dengan siapa."


"Benar, kami tidak tahu apa-apa, karena berjaga-jaga dari jauh."


Argh!


"Kalian harusnya lebih waspada berada di sampingku!"


Anak buahnya itu tertunduk merasa bersalah.


Darah Kenard terasa panas karena kesal, kedua tangannya berkacak pinggang sangat marah karena tidak


dapat membuktikan ketidak bersalahannya kepada Celia.


"Aku yakin ini adalah tindakan manipulatif Celia, dia pasti merencanakan ini semua sejak awal!" gerutunya sambil berpikir, dengan siapa Celia bekerja sama untuk melakukan ini semua.


Kenard langsung menemui Celia, ke tempat dia mengantarkan pulang sebelumnya. Saat pintu terbuka, tatapannya marah padam dengan mata elang begitu mendominasi.


"Kenard, kau baik-baik saja, kan?" tanya Celia kebingungan.


Kenard berangsur mendekat mengintimidasi secara impulsif dia menciptakan ketakutan di matanya.


"Jangan menggunakan ekspresi polos di wajahmu untuk menutupi semua kebohonganmu, Celia. Lebih baik kau akui saja, apa yang sudah kau lakukan semalam?!" tanya Kenard menekan.


"Apa yang kulakukan semalam? Semalam kita bercintaa dengan sangat panas."


"Bukan itu keterangan yang kuinginkan! Kau semalam telah menjebakku, bukan? Aku yakin kejadian ini pasti sudah direncanakan sejak awal."


Celia tetap kekeh menggeleng, bersikap seolah olah tidak mengerti yang diucapkan oleh Kenard. Dia menggunakan air matanya untuk menutupi kebohongan.


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Kenard. Kau menuduhku melakukan kecurangan semalam. Padahal aku adalah pihak yang sangat dirugikan di sini! Kau telah mengambil segalanya dariku, hal yang ku pertahankan sejak lama, tapi kau justru memutar balikkan fakta," ucap Celia dengan tatapan mata berkaca-kaca.


Bukan kasihan Kenard justru semakin menggertakkan gigi. Memegang bahu Celia kasar memaksanya untuk mengakui semua.


"Yang terjadi semalam benar-benar tidak ada settingan, Kenard. Jangan mengelak kalau kita sudah sama-sama bercintaa. Terima saja kenyataan ini, dan aku juga sudah memaafkan mu,"


Kenard tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan Celia terus

__ADS_1


mengganggunya.


__ADS_2