Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Hilang Sekejap Mata


__ADS_3

"Hal bahaya tidak akan terjadi padanya! Kenard adalah pengawal terhebat yang kumiliki, lantas siapa yang bisa mengalahkannya? Tentu saja tidak ada, dia pasti akan kembali setelah ini."


Xavia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Kenard telah menghilang. Di keadaan mata terpejam berbaring di atas ranjang, keringat sebiji jagung mengalir di pelipisnya. Ia masih dalam keadaan setengah pingsan bayangannya sendiri sulit dia kendalikan terus saja berjalan memasuki alam bawah sadar.


Sukmanya terdorong masuk lagi ke dalam alam mimpi yang semakin jauh. Di hadapannya dipertontonkan kilasan-kilasan dari kehidupan sebelumnya, di mana dengan susah payah Kenard mencoba melindunginya dari serangan musuh membawanya berlari dari kejaran para kelompok geng Eagle eye.


"Lari ke sebelah sini, Xavia!" Terus menarik Xavia di belakangnya untuk mengajaknya bersembunyi.


Lalu, sepintas kemudian Xavia kelebatan berganti, dia dihadapkan dengan masa sekarang. Semua kenangan yang mereka


habiskan bersama ditampilkan di sana, dari Kenard membantunya berlatih, hingga moment saat dia mengecup pipinya lembut.


Xavia berdiri mematung bak seorang yang sedang menonton drama kolosal.


Bahkan bibirnya sangat sulit terbuka walau hanya sekedar bergumam menanyakan apa yang terjadi sekarang?


Wajah Kenard dari dua kehidupan itu


perlahan-lahan mendekat padanya, berdiri dengan jarak begitu dekat, mata keduanya hingga saling menatap satu sama lain.


"Kenard? Apa yang terjadi?" tanya Xavia.


Menatap mata Kenard yang berbinar-binar menggenang air mata. Wajah lalaki itu begitu berwibawa dan mengayomi. Tatapannya penuh kasih


sayang melihat Xavia.


"Xavia, aku di sini. Kau sekarang jangan khawatir, dan tolong dengarkan pesanku ini baik-baik. Aku minta padamu mulai saat ini dan seterusnya, supaya kau bisa menjaga dirimu sendiri, kau harus melindungi keselamatanmu dari bahaya yang mengancam," ucap Kenard dengan tatapan penuh makna.


"Apa sebenarnya yang kau katakan. Bukankah ada kau yang selalu menjaga di sampingku?" tanya Xavia.


Kenard menggeleng, tatapannya seolah meyakinkan Xavia.


"Satu lagi dan kau juga harus bahagia di kemudian hari, Xavia. Karena kau sangat layak mendapatkan itu."


Xavia terpaku melihat Kenard, otaknya belum bisa berpikir jernih sekarang.


"Kita akan bahagia bersama, Kenard."


"Turuti saja kata-kataku. Karena itu demi kebaikanmu sendiri, ingat, Xavia. Kau harus melindungi dirimu sendiri. Banyak musuh mengangam di luaran sana, kau pasti bisa menghadapi mereka semua," ucap Kenard.

__ADS_1


"Kenard-"


Belum selesai bicara, bayangan Kenard perlahan-lahan


memudar.


Xavia berusaha menghentikan bayangan itu, tapi dia sama sekali tidak bisa. Hingga dia mengumpulkan tenaganya untuk berteriak sekencang mungkin.


"KENARD, BERHENTI!"


Namun, saat suara itu keluar dari bibirnya, dia tersadar kalau sekarang ada di tempat berbeda, yaitu tempat tidur.


"Apa-apaan ini?"


Xavia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak mau terbangun dari mimpinya. Berusaha memejamkan mata lagi, tapi berkali-kali mencoba tidak bisa. Dia harus dihadapkan dengan kenyataan kalau saat ini di tersadar di ranjang rumah yang disulap bak seperti kamar rumah sakit.


Aroma obat-obatan menyalami indra penciumannya. Membuat dia memijat pelipis karena kepalanya merasa pusing.


Pelayan masuk membawa nampan berisikan wadah berisikan air hangat yang akan digunakan untuk membersihkan tubuh Xavia. Saat melihat kondisi Xavia sekarang nampan yang dia pegang hampir saja terjatuh.


"Anda sudah bangun, Nona?!" Dia langsung berjalan cepat membawa nampan itu keluar lagi dari kamar.


"Kesadaran Nona Xavia sudah kembali, Tuan. Dia sudah membuka matanya lagi!" ucapnya.


"Benarkah?"


"Iya, Tuan."


Setelah mendapatkan kabar itu, Dominic seketika meninggalkan tempat duduknya segera menemui Xavia di kamar. Momen ini yang sudah dia tunggu-tunggu, mendengar kabar putri tercintanya itu sudah sadar tentu ini adalah kabar yang menggembirakan.


"Xavia, akhirnya kau sadar juga, Sayang!" Dia langsung memeluk putri satu-satunya itu dengan penuh kasih sayang.


"Papa."


Menangkup wajah Xavia dengan kedua tangan menatapnya penuh sayang. "Sekarang kau tampak terlalu kurus, Xavia. Papa tidak tega melihatmu seperti ini."


Mata Xavia fokus ke satu titik, tatapannya kosong dan hampa. Air mata mengalir dari


sudut matanya.

__ADS_1


"Semua ini salahku, Papa. Aku yang bersalah atas semua kejadian ini!" Dia menangis tersedu-sedu. Tak kuasa menahan tangis di depan sang papa. "Kenard menghilang gara-gara aku. Andai saja aku tak memutuskan untuk melanjutkan pertaruhan ini, pasti dia baik-baik saja sekarang."


"Sett ... siapa yang akan tahu terjadinya keburukan yang akan menimpa kita. Sudah, berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Xavia," ucap Dominic kembali memeluk Xavia. Mengusap usap rambutnya bagian belakang menenangkan.


"Semua yang terjadi di luar kendali kita, Xavia. Kau tidak bersalah," imbuhnya.


"Tapi Kenard tak kembali, Papa. Sesuatu telah terjadi padanya."


"Kau tenangkan pikiranmu. Sekarang papa sedang berusaha keras, meminta seluruh jaringan geng kita untuk mencari keberadaan Kenard. Tak butuh waktu lama, dia pasti akan segera ditemukan dan datang menemuimu. Oleh sebab itu, papa


minta padamu, untuk selalu menjaga kesehatan, kau harus makan-makan bergizi supaya badanmu tidak kurus seperti ini, jangan sampai saat Kenard kembali dia melihat situasimu seperti sekarang, dia pasti akan berpaling ke perempuan lain jika itu terjadi," kelakar Dominic. Mencoba mengendurkan ketegangan.


Xavia sedikit tersenyum walau tak mengurangi kesedihan dalam hatinya. Mungkin dia lebih baik mengikuti ucapan sang ayah, sebab bisa saja Kenard kembali sewaktu waktu. Dia tak mungkin menemui dengan keadaan kurus, pucat dan lemas.


Dominic mengambil makanan yang tersaji di sebelah ranjang Xavia. Setelah mendapati kabar Xavia sadar, pelayan langsung membawakan makanan ke kamar. Sebab selain kurang tidur sejak kemarin Xavia juga tidak makan.


Pertarungan kali ini cukup mengeras energi dan pikiran. Dan bahkan sampai saat ini, Xavia masih tidak bisa tenang.


"Baiklah Papa, aku mengerti semua ucapanmu." Lagi pula, Kenard dalam mimpi juga perpesanan padanya untuk menjaga dirinya sendiri.


"Kalau begitu makanlah! Aku akan menyuapimu?"


Xavia mengangguk. Dia saat ini diperlakukan seperti anak kecil, disuapi dari tangan Dominic sambil bersila di atas tempat tidur.


"Apa kau tahu, Xavia? Dulu, sewaktu kecil kau selalu menolak untuk makan disuapi oleh pelayan ketika sakit. Kau selalu ingin makan suapan dari tangan papa," cerita Dominic.


Xavia mengangguk.


Tak terasa makanan di piring tinggal satu sendok suapan terakhir.


Pelayan langsung sigap mengambil piring dan bekas perlengkapan lainnya yang digunakan Xavia keluar kamar.


"Kau istirahatlah. Karena menghadapi dunia kau membutuhkanku tenaga dan pikiran yang sehat," ucap Dominic. "Dan urusan soal Kenard, biarkan papa yang mengurus."


"Baik Papa. Tapi tolong temukan Kenard segera, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya," pinta Xavia menatap penuh permohonan.


Kedua bibir Dominic tersenyum berat. Tatapan matanya seolah tersirat makna.


Menepuk satu pundak Xavia pelan kemudian berbalik badan. Meninggalkan kamar sambil berjalan keluar tergesa-gesa.

__ADS_1


__ADS_2