
Celia memanfaatkan kurangnya bukti yang dimiliki Kenard. Dia cukup senang sebab ternyata Richard menyusun rencana dengan sedemikian rupa sehingga tidak bisa ditemukan kesalahan sedikit pun di dalamnya.
"Apa ada orang di sini?! Kalian cepat kemari!" teriak Celia yang kini sedang duduk di vila milik Kenard itu.
Dia bersikap seolah-olah dia adalah nyonya di masa depan.
Setelah mendengar teriakannya, empat staff langsung berdiri menghampirinya seiring menyipitkan mata.
"Kalian dari tadi sedang apa saja? Dari pada cuma duduk diam, lebih baik cucikan sepatuku, tadi terkena lumpur saat ada mobil sialan lewat." Dia memberikan perintah
kepada staf di vila selayaknya nyonya besar.
sementara para staf hanya bisa merasa marah tapi tidak
berani berbicara. Mereka saling menatap kemudian menuruti permintaan Celia.
"Lihatlah, siapa dia? Memerintah kita, sudah seperti seorang nyonya saja. Apa dia pikir, dialah selama ini yang memberi sumber kehidupan pada keluarga kita?" rutuk pria yang membawa sepatunya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, membersihkan sapatu ini bukan satu-satunya perintah, setelah banyak perintah yang sudah kita kerjakan, dia masih saja tidak membiarkan kita dengan tenang." Perempuan di sebelahnya menimpali.
"Kita harus memberitahu pada Kenard, tentang keluhan kita. Supaya perempuan itu berhenti bersikap semena-mena." Ucap pria satu lagi.
"Iya, kurasa seperti itu lebih bagus. Tuan Kenard harus tahu, bagaimana sikap perempuan ini, selama dia tidak ada, bahkan dia merasa lebih berkuasa dibandingkan Nona Xavia."
Mereka berempat berbicara sambil melihat Celia yang sedang duduk di kursi sambil senyum senyum sendiri melihat handphone.
Saat perempuan itu melihat ke arahnya, keempat staff itu pura-pura melihat ke objek lain. Mereka sangat kesal dengan tingkah Celia, tetapi tidak berani mengutarakannya.
Seolah paham dengan ketidaksukaan para orang-orang tersebut. Celia bahkan sengaja, menemukan cara untuk menambah kekesalan mereka.
__ADS_1
"Segera bersihkan! Kalian jangan suka membicarakan orang di belakang. Apa perlu aku ganti pakaian kalian dengan afron?!" pekik Celia dari tempatnya.
Suaranya begitu nyaring hingga membuat orang di dalamnya merasa berisik.
Setelah perlakuan Celia yang semena-mena, para staff Kenard memutuskan untuk menemui Kenard. Mereka akan mengatakan tentang apa yang sebenarnya dilakukan Celia pada sesama anggotanya.
"Bos, kami harap kau bisa memikirkan ini matang-matang. Celia itu bukan perempuan yang baik, sikapnya sangat arogan, suka memerintah. Dia merasa kami semua harus menuruti semua keinginannya," keluh Joe pada Kenard pada saat mereka di markas.
"Benar Bos, perempuan itu sepertinya mempunyai keinginan menyiksa kami dari jauh-jauh hari. Hingga sekarang saat ada kesempatan dia langsung lepas kendali," ucap Robert.
Kenard menatap beberapa staff yang berdiri di hadapannya itu. Semua keluhan sudah dilimpahkan padanya.
"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau posisi Celia ada pihak Nona Xavia. Pasti telah terjadi penindasan dan kekerasan sebagainya. Nona Xavia memang sangat luar biasa, tidaklah salah kalau dia menjadi ketua kami, karena dia adalah perempuan bijaksana dan menghargai para anggota black horses, tak peduli apa pun posisinya. Kalau aku menjadi kau, Bos, mungkin aku sudah meninggalkan perempuan itu, dan kembali kepada Nona Xavia, yang jelas sangat berbeda dengan Celia, perempuan kampungan itu," ucap Joe mencoba menghasut.
Kenard masih diam mendengarkan mereka bicara. Duduk sambil seiring melipat kedua tangan di depan dada.
Perasaan Xavia terhadap Kenard adalah hal yang sudah mereka ketahui sebelumnya. Tetapi sejak Kenard kembali,
perasaannya tidak lagi sekuat dulu.
Kenard merasa tidak nyaman mendengar ini,
tetapi semakin dia berusaha mengingat kenangannya, semakin sulit baginya.
"Aku akan membicarakan ini dengan Celia, mulai sekarang aku akan memintanya untuk bersikap baik pada kalian," ucap Kenard kemudian pergi menemui Celia yang sedang membaca majalah laki-laki di ruang tengah villanya.
"Kenard, dari mana saja kau? Aku sejak tadi menunggumu, tapi tak datang-datang. Kenard, hello? Kau ingin aku membantu melakukan sesuatu?" tanya Celia memasang wajah polosnya.
Siapa saja yang melihatnya maka akan kasihan. Tapi siapa tahu, kalau semua kepolosan di wajahnya adalah hanya tipu muslihat.
__ADS_1
"Celia, akhir akhir ini aku terlalu banyak mendengar keluhan tentangmu. Tidak bisakah kau di sini bersikap baik dan berhenti berprilaku kasar pada para anak buahku? Bahkan kau sampai menampar salah satu dari mereka, hanya gara-gara masalah sepele."
"Kenapa kau begitu? Aku tak melakukan apa pun! Kurasa akan wajar jika seseorang yang salah kita tegur!" Celia masih saja mencoba mengelak.
"Kau sekarang ini tinggal di villaku, Celia. Maka kalau kau tidak mau menuruti perintah di rumah ini, berarti kau harus meninggalkannya sekarang juga," ancam Kenard.
Tiba-tiba Celia menangis tampa mengeluarkan suara. Perempuan itu menatap Kenard dengan mata berkaca-kaca.
"Kau lupa siapa yang menyelamatkanmu, Ken? Tidak pantas kalau kau justru memihak pada mereka, yang jelas-jelas tidak membantu apa pun saat kau mengalami kesulitan! Seharusnya kau memberiku kehormatan yang seharusnya!"
Kenard tidak tahu harus
berkata apa. Celia selalu saja menggunakan kelemahannya, dengan cara mengungkit tentang balas budi.
"Selalu saja mengungkit tentang kebaikan yang kau berikan padaku, Celia. Lalu, kau ingin aku melakukan apa? Supaya hutang budiku bisa impas?" tanya Kenard.
Celia menyeringai mengusap air matanya kemudian menatap lekat mata Kenard.
"Aku sudah melakukan banyak hal padamu, Kenard. Tidak hanya menolongmu saja, tapi aku juga sudah memberikan kehormatanku padamu, maka sekarang aku meminta pertanggungjawaban darimu. Kita harus segera menikah."
Kenard mengerutkan dahi mendengarnya. Menikah? Tentu saja bukan hal yang sama sekali dia inginkan!
"Kita akan menjadi pasangan yang saling melengkapi, setelah menikah nanti, Ken? Kau mau bukan, jika kita melanjutkan rencana yang sempat gagal ini?" Celia mendekat mencoba merangkul, tapi dengan cepat Kenard memalingkan muka mundur menjauhinya.
"Ada hal penting yang harus ku selesaikan, aku harus pergi." Dia meninggalkan Celia begitu saja untuk menghindarinya.
"Ken, tapi kita belum selesai membicarakan ini! Kau mau ke mana? Tungg!" pekik Celia.
Berada di samping perempuan itu, lama-lama bisa membuat kepala Kenard semakin berdenyut. Dia segera mungkin keluar dari rumah menstater motor hitamnya meninggalkan halaman.
__ADS_1