
Xavia berdiri di balkon kamarnya penuh rasa kesal, bahkan dari bibirnya terus saja mengumpat. Saat mengetahui sang papa baru saja mengadakan pertemuan dengan Richard, lelaki yang sangat dia benci.
Bahkan sebelumnya Xavia memarahi Shane karena tidak memberitahunya, tentang rencana pertemuan itu.
"Richard menggunakan cara untuk mendekati Papa. Dia tidak tahu, kalau aku sudah mengetahui semua niat liciknya!"
"Tenang saja, Nona, Tuan Dominic pasti tau langkah apa yang harus dia ambil. Sebaiknya kau tenangkan diri lebih dulu."
Sebelum melihat sang papa kembali, Xavia tidak bisa diam. Dia mondar mandir melihat pintu masuk, menunggunya.
Beberapa menit kemudian, datanglah orang yang dia tunggu-tunggu. Xavia bersyukur setidaknya orang tuanya itu kembali dengan keadaan baik-baik saja.
Setelah pertemuan yang kurang menyenangkan dengan Richard, dia pikir tak akan ada urusan lagi dengan pria itu. Ternyata dugaannya salah, justru Xavia tidak menyangka kalau Richard berani bertindak sejauh ini, menemui papanya dan membicarakan hal yang dia tidak disukai.
Selepas bertemu dengan Richard, Dominic segera menemui putrinya, menyampaikan pembicaraan yang mereka bahas sebelumnya.
“Dia mengatakan kalau berniat akan menikahi dirimu, Xavia. Dia juga mengatakan akan bersedia membantumu jika menghadapi kesulitan,” kata papa Dominic duduk di kursi belakang Xavia, sama-sama melihat awan cerah.
"Dia tak akan keberatan menjadi penyokong terbesar bagi kelompok black horses."
"Richard pikir, dia itu siapa? Apa dia pikir, setiap wanita akan bersedia menikah dengannya? Dia itu terlalu percaya diri, sampai dengan berani menawarkan pernikahan padaku!" Emosi Xavia berada di atas ubun-ubun, kalau berhubungan dengan Richard.
Menyebut namanya saja sudah membuat Xavia muak, apa lagi berhadapan dengannya yang terus mencoba mengeluarkan kata-kata rayuan semakin membuat Xavia mual.
"Seharusnya papa langsung saja menolak, saat dia mengajukan tawaran ingin bertemu denganmu. Dia itu pria licik dan kurang ajar! Orang tidak tau diri sepertinya tidak pantas didekati."
Dominic menggeleng terkekeh melihat kemarahan Xavia. Wajah putri satu-satunya itu bahkan sampai merah.
"Apa dia pikir, aku akan menerima lamarannya begitu saja. Bahkan walau dia laki-laki satu-satunya di dunia ini, aku tidak akan mau."
"Memang benar Richard menyampaikan lamaran terhadapmu. Tapi ... apa kau pikir papa akan membiarkan putri satu-satunya ini mengorbankan hidup hanya karena seorang seperti dia?" tanya Dominic sambil menghisap cerutu yang terselip di antara dua jarinya.
__ADS_1
"Jadi jawaban apa yang papa berikan pada pria licik itu?"
Dominic menjawab dengan santai. "Tanpa banyak pertimbangan aku langsung saja menolak lamaran dia. Enak saja, dia pikir setelah merayuku, aku akan memberikanmu padanya? Tidak akan segampang itu, Xavia. Kau sangat pantas mendapatkan pria yang lebih baik darinya," tuturnya.
Mendengar jawaban sang papa, kemarahan Xavia pun berangsur-angsur reda. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Richard di kehidupan ini. Cukup di masa lalu saja yang penuh luka akibat penghianatan Richard.
"Bagus sekali, terima kasih papa, karena kau telah mengerti diriku."
Dia memikirkan apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya membuat dia merasa illfeel. Setelah cukup tenang, dia tidak dapat berhenti memikirkan Kenard.
"Akan kulakukan yang terbaik demi putriku dan black horses, Xavia."
"Dan yang terbaik adalah tidak memiliki hubungan dengan Richard."
Xavia duduk di samping sang papa untuk memberitahukan apa yang dia lihat beberapa waktu lalu.
"Oh iya, Papa. Ada hal yang ingin ku ceritakan padamu."
"Silahkan Xavia. Aku akan mendengar dengan baik."
Satu alis Dominic terangkat,
begitu diberitahu Xavia, bahwa mungkin saja Kenard masih hidup, seketika Dominic berdiri. Bibirnya tersenyum bahagia.
"Di mana dia sekarang? Benarkah dia masih hidup? Kalau memang masih hidup, kenapa dia tidak menemui kita. Tidakkah dia tau, kalau kita sedang mencarinya selama ini? Sudah dua tahun lamanya, ini adalah kabar yang menggembirakan, Xavia."
Melihat sang papa yang begitu antusiasnya, dengan berat hati, Xavia berkata, "Tapi ... sayang sekali, Papa. Pada saat bertemu denganku, dia sama sekali tidak mengenal ku, bahkan dia memiliki nama berbeda, bukan lagi Kenard. Kemungkinan Kenard mengalami amnesia. Dia tidak mengingat apapun termasuk aku."
Dominic duduk secara perlahan setelah mendengar. Secara perlahan bibirnya tersenyum.
"Itu adalah hal yang bagus, kalau dia mengalami amnesia. Dengan begitu dia
__ADS_1
bisa istirahat dari geng black horses, dan hidup dengan damai di kampung dia tinggal. Hidupnya pasti penuh dengan kebahagiaan. Sangat berbeda saat bersama kita yang dipenuhi oleh carut marut pertikaian."
Xavia tak terima dengan persepsi sang papa, dia ikut berdiri di belakang Papa ingin membantah. "Tapi ... Papa-"
Namun sedetik kemudian setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan sang papa adalah benar. Dia pun memilih diam mengurungkan niat bicaranya.
Selama dalam lingkup Black Horses Kenard sudah terlalu
banyak membantu keluarga dan membuat nama geng mereka menjadi naik. Menaklukkan beberapa kelompok hingga mereka mendekati posisi kejayaan.
"Kau benar, Papa. Mungkin ini saatnya untuk Kenard istirahat, tugasnya membantu kita sudah cukup banyak selama ini," ucap Xavia.
Kenard tidak hanya membantu di kehidupan sekarang, tapi dia juga berperan andil di kehidupan sebelumnya. Membuat Xavia sangat berjasa padanya.
"Syukurlah kalau kau paham akan itu, setidaknya kau memikirkan ketenangan orang lain," ucap Dominic membalik tubuh tersenyum pada Xavia.
"Iya papa, tidak selalu kita harus bergantung pada orang lain atas apa yang kita hadapi."
"Jadi, langkah apa yang akan kau ambil untuk ke depannya, Xavia?" tanya Dominic.
"Aku adalah ketua geng sekarang, Papa. Maka akulah yang harus menyelesaikan
masalah keluarga Richard dan Bleu Sky."
Xavia sudah bertekad, bahwa akan memimpin kelompok black horses sampai berada di titik kemenangan. Mengerahkan beberapa orang penting untuk berlatih lebih keras supaya kuat menghadapi pertarungan yang cukup sengit.
"Rasa tanggung jawab di dalam dirimu sangatlah besar, Xavia. Papa bangga padamu dan berharap kau meraih kemenangan membuat para musuh takluk di bawah kendali black horses."
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Black horses, menjadikan usahamu untuk merintis bersusah payah tidak sia-sia," ucap Xavia dengan penuh rasa percaya diri.
"Selama dua tahun ini kau sangat tidak diragukan. Maka begitu pula dengan hari berikutnya," ucap Dominic.
__ADS_1
Dalam dua tahun, dia bisa memegang kendali Black Horses sendiri. Mengalahkan beberapa musuh, maka dalam hal ini, Xavia ingin Kenard yang sedang mengalami amnesia tidak
boleh terlibat lagi.