
Celia penasaran dengan tujuan Richard yang sebenarnya. Dia tak habis pikir sebab pria ini mengubah dirinya semaksimal mungkin sehingga sekarang terlihat cantik.
Bahkan dia sekarang di bawa masuk ke dalam rumah besar yang hampir sama dengan rumah yang ditempati Kenard.
Celia celingukan saat turun dari mobil, melihat ke sekeliling, ada banyak mobil mewah dan motor berjejer di bagian depan. Di bagian depan pintu juga ada dua penjaga berdiri tegap selalu waspada.
"Silahkan masuk!" perintah sekretaris Jonh mempersilahkan Celia masuk lebih dulu. Kemudian disusul Richard.
Richard duduk sangat berwibawa di sofa abu-abu sambil menekuk kedua lututnya. Melihat layar tab di tangan mengerjakan hal penting.
"Sebenarnya apa tujuanmu memperlakukanku seperti ini? Bahkan sebelumnya kita tidak saling mengenal. Dan sekarang kau membawaku ke sini, apa kau berniat menculik ku?" tanya Celia.
Richard melirik sekilas kemudian mengalihkan pandanganya pada Celia. Meletakkan tab ke atas meja kemudian berkata,
"Membawamu ke mari, bukan tanpa alasan. Aku ingin menawarkan tawaran kerja sama denganmu. Apa kau setuju? Ah, tidak, aku tak perlu meminta persetujuan darimu, karena kau pasti menerimanya." Richard menyeringai.
"Kerja sama apa? Bahkan aku sekarang tidak sedang memiliki apa pun."
Richard terkekeh. "Kau tau? Kita berdua memiliki satu misi. Kau ingin mendapatkan Kenard, sedangkan aku menginginkan Xavia Linn. Tujuan kita memiliki orang berbeda, tapi... jalan kita sama, akan sama-sama menguntungkan, lalu ... kenapa kita tidak memilih kerja sama saja?"
Celia terdiam, melihat penampilan Richard dari atas sampai bawah. Lelaki yang berpenampilan formal, wajahnya ganas seperti tidak memiliki belas kasihan. Sorot mata tajam begitu mendominasi.
Celia tidak percaya jika orang seperti ini bisa berhati
baik membantunya.
"Kaulah orang yang akan merasa diuntungkan, kalau kau menerima tawaranku. Kau akan mendapatkan Kenard, dan sebagai apresiasi dirimu aku akan memberi hadiah yang cukup besar."
Celia mengigit bibirnya karena bimbang. Sambil mengamati Richard yang berrahang tegas. Ia menelan saliva sambil berpikir.
Setelah dipikir puluhan kali, ada baiknya kalau Celia menerima tawaran Richard. Dirinya sudah tidak punya siapa-siapa sekarang. Kenard orang yang dia percaya bahkan memilih meninggalkannya.
Selain Richard sudah tidak ada orang lain akan membantunya membalas semua perbuatan Kenard padanya. Luka memang tidak ada di tubuhnya, tapi luka dalam hatinya terasa menganga.
Seringai tipis teruslah di bibirnya, Celia memikirkan rencana yang tak akab diduga-duga oleh Kenard sebelumnya. Dia ingin menggoda Kenard, tunggu dia sudah jatuh cinta padanya baru meninggalkannya!
"Baiklah, aku setuju denganmu! Mulai sekarang kita kerja sama," ucapnya berdiri menjabat tangan Richard.
Richard tersenyum senang dengan kesepakatan ini.
akhirnya Celia setuju dengan rencananya.
Celia membisikkan satu rencana pada Richard, kemudian mereka sama-sama saling tersenyum licik.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian...
Richard memberikan kunci sebuah kamar pada Celia.
Setelah bersusah payah, akhirnya dia bisa mendapatkan kunci penginapan Kenard. Itu semua berkat anak buahnya yang baru saja mengajak Kenard berpesta banyak minum sampai mabuk.
"Sekarang waktunya, buat dia bertekuk lutut padamu, sehingga sulit berpaling, Celia." Richard meninggalkan perempuan itu pergi setelah memberikan kunci.
Celia langsung masuk, melihat Kenard yang mabuk sedang berbaring di ranjang. Dia mendekat membantu lelaki itu melepaskan sepatu, jaket dan jam tangannya.
Pakaian Celia cukup seksi mengenakan dress merah tua. Dia berangsur mendekat hingga duduk condong satu tangannya mengusap paha berangsur ke dada.
Sentuhan setiap sentuhan yang diberikan Celia begitu menggoda, membuat Kenard terbuai hingga membiarkan Celia memagut bibirnya.
Hasrat Celia meluap-luap tapi, beberapa detik kemudian dia menyadari kalau Kenard tak bereaksi apa-apa sekarang. Bahkan tangan yang dia angkat terjatuh lemas ke atas kasur tanpa tenaga.
"Dia terlalu banyak minum, sampai membuat tidak berdaya seperti ini, huh!" gerutu Celia karena gagal memadu kasih dengan Kenard.
Cukup lama.
Hingga beberapa detik.
Celia menemukan ide.
Dalam keadaan Kenard tak sadarkan diri, dia melepaskan semua pakaiannya. Memberantakkan sekelilingnya termasuk seprai dan pakaian mereka berdua dia membuat situasi senatural mungkin, seolah-olah mereka baru saja bercintaa.
***
Xavia mendapatkan satu notifikasi pesan dari orang tidak dikenal. Saat membuka dia mengerutkan dahi melihat isi pesan tersebut.
"Aku melihat pria kesayanganmu, Kenard, sedang bersama perempuan. Dia selama ini mengkhianatimu."
Dia langsung menghapus pesan setelah membacanya, dia tak percaya dan menganggap kalau itu adalah orang iseng.
Tak lama kemudian satu pesan kembali masuk.
"Aku tidak sedang berbohong, bisa membuktikan kalau kau bersedia."
Menghela napas, Xavia sedikit ragu
dengan pesan tersebut tapi, memang benar Kenard tidak pulang ke rumah sejak kemarin malam.
Xavia membalas pesan orang tak dikenal itu.
__ADS_1
"Di mana kau melihatnya?"
Satu pesan masuk bertuliskan alamat lengkap sebuah penginapan.
Xavia ingin membuktikan sendiri, dia pergi mengendarai mobil hitam mendatangi alamat yang diterapkan pesan tersebut.
Kebetulan pintu tidak tertutup sepenuhnya, Xavia langsung masuk ke dalam berjalan ke arah ranjang yang terhalang oleh kamar mandi di sisi sebelah kiri.
Benar saja, dia melihat Kenard sedang berbaring dengan Celia, perempuan yang beberapa hari datang ke rumahnya. Xavia mengepalkan tangan sambil berdecih, tidak menyangka melihat Kenard dalam keadaan telanjang dengan wanita lain dalam satu ranjang.
Xavia bengong dan
tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh dirinya.
Celia tersentak gelagapan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Xavia! Se-sedang apa kau di sini?!" teriaknya terkejut. Dia buru-buru memakai pakaiannya.
Kenard terbangun dari tidur setelah mendengar Celia bersuara keras. Membuka matanya sambil mengusap-usap pelipisnya. Dia baru menyadari kalau Xavia berdiri
sedang menatapnya marah.
Kenard semakin terkejut saat melihat Celia di sampingnya yang situasi berantakan.
"Celia, kenapa kau di sini?!" tanyanya memulihkan kesadarannya.
Dia merasakan ketakutan dan gugup, berusaha mengingat kembali apa yang terjadi padanya
semalam.
"Kenard! Jelaskan pada Xavia, kalau kita semalam sebenarnya-" Kata-kata Celia menggantung sengaja memperkeruh suasana.
Kenard tidak mengingat apa pun. Dia turun dari ranjang dan berusaha
menjelaskan apa yang terjadi.
Namun Xavia sudah terlanjur menangis melangkah mundur.
"Selesaikan dulu masalah kalian berdua ini, baru bisa mencari ku dan menjelaskan." Xavia pergi meninggalkan mereka.
Celia yang diam-diam di belakang Kenard tersenyum senang dengan kekacauan ini.
"Kenard, aku tak menyangka kalau akan terjadi seperti ini," ucapnya polos.
__ADS_1
Secara bersamaan Kenard memijat kepala kembali sakit. Apa lagi saat melihat Celia yang menghampirinya.
"Kau kenapa, Ken? Apa perlu aku memberikan pijatan?" tanya Celia.