
Bab 6
Desingan peluru melesat tepat mengenai sasaran di papan kayu yang berbentuk manusia berjarak seratus meter di depan. Seulas senyum tipis menghiasi wajah Xavia Linn setelah berhasil mengenai target.
Akhir-akhir ini Xavia berlatih sangat keras bersama sang papa. Mulai dari berlatih ketangkasan, bela diri dan belajar menembak. Sesuai keinginan Dominic, Xavia dengan cepat menguasai tehnik bertahan dari serangan musuh.
Dominic mencoba kekuatan Xavia, menggunakan cara mengadu dengan salah satu anggotanya yang kuat. Dominic mengamati dari kejauhan aksi anaknya yang bersusah payah melawan lawannya, bahkan sampai beberapa kali terkena pukulan.
Tetapi beberapa saat kemudian, Xavia bangkit, dengan cepat menggunakan satu kaki untuk menyerang, disusul serangan kemudian membuat lawan terjatuh.
Dada Xavia naik turun menstabilkan napas yang terengah-engah, meski pun capek ia merasa puas. Dari belakang suara tepuk tangan Dominic dalam ruangan khusus digunakan latihan itu, membuat Xavia menoleh seketika. Ia tersenyum melihat sang papa merasa puas atas kerja kerasnya.
“Sangat bagus, Xavia. Papa menyukai caramu menembak dan bela diri sekarang, bisa menyusun strategi-strategi untuk menjatuhkan lawan, kau mengalami perkembangan luar biasa cepat, sampai papa sendiri pun tak menduga nya, tetaplah berlatih," ucap Dominic kagum.
“Semua ini juga karena papa, andai saja papa tidak ada di sampingku, saat ini aku pasti kebingungan, harus melakukan apa.” Xavia kini terlihat lebih energik dibanding sebelumnya.
“Ada yang papa ingin sampaikan padamu, Xavia. Aku ingin menggantikan posisi Billy yang selama ini berjaga di sampingmu, dengan seseorang yang ku anggap lebih professional.”
Xavia mengernyitkan dahi dalam bingung. Ingin bertanya sebab dipindahkannya Billy menjadi orang lain. Tetapi kata-katanya urung ketika melihat sesosok laki-laki tinggi berkulit putih di bagian dagu ditumbuhi bulu-bulu halus masuk ke dalam ruangan, menghampiri mereka.
“Mulai saat ini Kenard lah, yang menemanimu, dia akan menjadi pengawal pribadimu, ke mana pun kau pergi.”
Xavia menatap Kenard yang kini berdiri di samping sang papa, sambil tersenyum menyapanya. Seketika pupilnya membesar.
__ADS_1
“Selamat siang, Xavia, sesuai perintah Tuan Dominic, aku akan berjaga di sampingmu, selama yang kau inginkan,” ucap Kenard.
Xavia tersipu, kemudian ingatannya kembali berkelebat tentang di kehidupan sebelumnya, bagaimana pengorbanan Kenard terhadapnya. Dia orang yang sangat setia, bahkan ketika Xavia menikah dengan orang lain, Kenard masih tetap pada pendiriannya, yaitu mencintainya sepenuh hati. Masih teringat jelas ketika lelaki itu menyelamatkannya dari serangan Richard.
Kenard berusaha keras untuk membuatnya bisa lari dari serangan Richard. Masih jelas pula, saat lelaki itu dengan napas terengah-engah berlumuran darah mengucap,
“Aku amat sangat mencintaimu, Xavia.” Kata-kata itu terus saja terngiang tidak bisa hilang dari dalam ingatan. Masih terasa sangat jelas dalam pelukannya, Kenard menyatakan cinta dengan tulus.
“Ehem!” Dominic berdehem, seketika menarik paksa kesadaran Xavia dari lamunan. “Papa harus pergi, ada urusan penting, kau lanjutkan saja bicara dengan Kenard, tanyakan saja tentang apa pun, begitu pula denganmu, Kenard. Semakin banyak bertukar informasi, maka akan mempermudah urusan kalian ke depan. Kau juga bisa bertanya, tehnik bela diri pada Kenard.”
Tatapan Xavia lurus pada wajah Kenard. Ia benar-benar tidak menyangka, dipertemukan lagi oleh waktu yang mengulang dengan Kenard. Mungkin ini adalah jalan penerang untuk perasaannya ke depan.
“Aku senang sekali berjumpa denganmu lagi, Kenard. Kuharap kau tidak keberatan jika nantinya aku terlalu memiliki banyak permintaan,” ucap Xavia.
“Tentu saja, tidak akan keberatan. Kau orang yang spesial, aku tak akan melupakan itu,” ucap Kenard.
**
Kenard menjadi pengawal Xavia Linn, ternyata tidak seperti yang dia bayangkan. Ia kira Xavia akan selalu membuat masalah dan selalu marah padannya saat membuat kesalahan. Sebelumnya Xavia bersikap manja, menjadikan Billy bulan-bulanan perintah dan omelannya.
Namun cerita berbeda Kenard dapatkan, semenjak ditunjuk jadi bodyguard oleh Dominic, Kenard tak pernah sekali pun mendapat marah dari Xavia. Justru tiap hari, mereka selalu makan bersama-sama dalam satu meja, berlatih bersama dan Xavia bahkan sering mengajaknya jalan-jalan naik motor dia di belakang memeluk dirinya erat dari belakang.
Perubahan sikap yang cukup mencurigakan, perubahannya bahkan 180 derajat dari sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada Xavia? Rasa penasan terus bergejolak dalam dada Kenard, hingga ia memutuskan untuk mempertanyakan pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala.
__ADS_1
Di taman belakang rumah keluarga Linn yang luas, pinggir-pinggir terdapat tanaman potong, sedangkan di tengah ada kolam renang berisi air biru jernih. Kenard melihat Xavia tengah duduk santai di pinggirannya sambil memainkan ponsel.
Ini adalah kesempatan untuk bicara dengan Xavia.
“Apa sebaiknya aku mengambilkan minuman untukmu juga, Ken?”
“Tidak perlu, Xavia. Seharusnya akulah yang menyediakan untukmu, bukan sebaliknya,” ucap Kenard saat kini mereka sama-sama duduk berdampingan.
“Tidak masalah, aku suka melakukan itu,” ucap Xavia sambil tersenyum. Dia akan beranjak berdiri langsung ditahan oleh Kenard satu tangannya meminta untuk tetap duduk.
“Xavia, aku ingin bertanya padamu. Tentang sikap yang kau tunjukkan selama ini, kau jauh berbeda padaku, kau menjadi sangat baik dan menyayangiku. Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Apa, kau punya perasaan lebih?”
Seketika Xavia berhenti menatapnya dengan wajah yang bersemu, senyuman di bibirnya perlahan memudar, memalingkan muka kemudian berdiri menghindari Kenard. Berhenti di posisi membelakangi Kenard sambil terkekeh menahan tawa.
“Jangan salah tangkap karena sikapku selama ini, Ken. Aku bersikap ramah dan perhatian, karena memang aku sudah menganggap kau adalah kakakku sendiri, tidak lebih.” ucap Xavia hanya menoleh sedikit ke samping. Tak menatap wajah Kenard.
“Hanya sebagai kakak?” tanyanya ulang.
Xavia mengangguk. “Iya, sebagai kakak, tidak ada yang lebih pantas dari itu. Memangnya kau menginginkan apa? Tidak mungkin aku menganggapmu musuh, bukan?” kelakarnya.
Seketika Kenard menghela napas panjang, menarik rasa yang berat di dalam dada. Terkejut, sebab jawaban Xavia tidak seperti yang diaa harapkan. Perempuan itu justru menganggap dirinya sebagai seperti itu, ia tak menyangka ini akan terjadi. Oh, no!
Sejak kecil Kenard sudah mempunyai perasaan yang berbeda padannya, tetapi Xavia sama sekali tidak menyadari.
__ADS_1
Dengan sikap Xavia yang baik memberi perhatian lebih selama ini, Kenard berpikir bahwa dia telah menyadarinya. Tapi ternyata salah, ternyata Xavia masih menjadikannya sebagai kakak.
“Bullshitt, siapa yang ingin dijadikan kakak? Aku tidak mau, yang kuinginkan ialah menjadi kekasihnya, argh!” kesal Kenard dalam hati sambil menjambak rambutnya sendiri menunduk di kursi.