Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Eksekusi Dilakukan


__ADS_3

Wajah Elliot tampak murung, dia menunduk dan pasrah atas keputusan baru saja yang diambil Dominic. Dia rasa percuma walau memohon dengan berlinang air mata darah sekali pun, sebab dari semenjak kecil hingga dewasa semua orang tahu, bagaimana sifat Dominic, jika sudah mengambil keputusan maka tidak bisa digugat.


Siapa yang menentangnya maka akan menjadi lawannya, itulah sebab para anggota begitu takluk padannya.


DOR!


Tiba-tiba suara tembakan menggema setelah itu suara senyap tidak ada yang berani mengeluarkan satu patah kata pun.


Mimik wajah Dominic tertunduk sangat sedih, mengingat dialah orang berperan penting dari Elliot sejak kecil sampai besar membesarkan. Elliot merupakan satu-satunya anak laki-laki dari kakak Dominic yang telah meninggal.


Sontak sekarang Dominic diselimuti rasa bersalah kepada saudaranya, sebab dulu dia pernah berjanji akan menjaga keponakannya, tapi sekarang justru dialah yang telah menyakiti.


“Urus dia, bersihkan tempat ini jangan sampai ada bekas noda!” perintah Dominic.


“Baik Tuan. Anggap saja, pekerjaan yang sudah kau perintahkan telah selesai,” ucap salah satu anak buahnya.


Beberapa anak buah Dominic seketika mengurus Elliot yang sudah tak berdaya tanpa banyak pertimbangan.


Dominic segera meninggalkan tempat kejadian, bergegas ke rumah utama dengan pikiran kacau. Bayangan bagaimana dia telah melepaskan tembakan masih terngiang-ngiang di kepala.


Sedangkan di belakang, ada Xavia yang berjalan tergesa-gesa mengikutinya. Merasa khawatir dengan sang papa sebab sejak tadi tak bicara apa pun berjalan lurus tanpa sama sekali mempedulikannya.


“Papa tunggu sebentar.” Xavia mencekal pinggiran pintu yang hampir saja tertutup.


Dominic membiarkan anak satu-satunya itu masuk ke dalam ruangannya. Dia duduk di kursi hitam sambil memijat pelipis yang terasa berdenyut. Selama Dominic belum bicara, Xavia tidak akan tenang, gadis itu memutar matanya memikirkan topik apa yang akan digunakan untuk menghibur sang papa.


Dominic menuang anggur dari dalam botol ke gelas di meja hadapannya. Menenggak cairan berwarna merah itu hingga tandas.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja, Papa?” tanya Xavia. Meski pun dia tahu sekarang Susana hati sang papa sedang tidak baik-baik saja. “Anggur di dalam botolmu sudah habis, mungkin kau ingin meminum air lemon, biar mengurangi rasa pusing?”


Dominic menggeleng. “Tidak perlu, Xavia. Aku baik-baik saja sekarang, kau jangan khawatir,” jawab Dominic memaksa kedua bibirnya untuk tersenyum.


Xavia terkekeh menggeleng beberapa kali sambil menghela napas berat. “Kau tidak bisa berbohong padauk, Papa. Aku tahu alasan kesedihanmu kali ini. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, Papa. Karena wajar kalau seorang penghianat mendapat hukuman yang berat. Jika baik, tidak akan kita perlakukan seperti itu. Dengar Papa, dia saja sangat tega mengkhianati kita dan Black horses. Kenapa kita tidak tega menghukum atas perbuatan yang sudah dia lakukan?”


“Semua yang telah kau katakana sangat benar, Xavia. Tapi hal itu juga tidak menutup kemungkinan, kalau mendiang ibu Elliot pasti akan kecewa suatu saat.”


Ucapan Xavia tak mengubah apa pun, sebab Dominic masih saja bersedih meskipun dia tahu kenyataan kalau Elliot adalah orang bersalah.


Xavia tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan sang papaa sendirian, berdamai dengan perasaannya sendiri. Xavia keluar memberi ruang untuk supaya Dominic menenangkan perasaan yang saat ini sedang kacau.


***


Dominic merupakan ketua geng black horses itu mengadakan pemakaman yang sederhana. Sengaja Menyusun makam Elliot ada di samping makam Orang tuanya. Dia berdiri tegak melihat para anak buahnya menimbun jasad Elliot dengan tanah.


Semua anggota black horses datang sebagai penghormatan terakhir mereka, Dominic dan Xavia berdiri dalam jarak paling dekat menaburi gundukan tanah itu dengan kelopak bunga mawar. Dominic terdiam beberapa saat duduk di samping makam.


“Kau pergilah lebih dulu, Xavia. Tinggalkan papa sendirian di sini, ada hal yang ingin kuselesaikan sebentar di sini, aku ingin melanjutkan membaca doa untuk mereka,” ucap Dominic.


“Baiklah, setelah selesai bergegaslah kembali ke rumah, sebab aku menunggumu.”


Xavia mengangguk menuruti keinginan sang papa, yang tampak sedang duduk sambil memegang batu nisan. Kepalanya tertunduk, berbicara seperti bicara selayaknya dengan seseorang yang masih hidup.


Dalam hati Xavia berbicara sambil melihat sang papa dari ke jauhan. “Seandainya Elliot menghargai, kasih sayang yang diberikan papa padannya, mungkin sekarang papa tidak akan sesedih seperti ini. Dan incident berdarah ini tak akan terjadi.”


***

__ADS_1


Xavia kembali ke rumah dengan diiringi anak buahnya.


Sesampainya di rumah, dia segera membersihkan diri, mengganti pakaian kemudian berbaring di tempat tidurnya. Walaupun hari ini menyedihkan, tapi setidaknya balas dendam atas kejadian yang menimpa Kenard sudah terbalaskan. Seringai tipis ter ulas di bibirnya tanpa sadar.


“Aku sudah memberi pelajaran pada orang yang telah berkonspirasi untuk melenyapkan mu, Kenard.”


Namun sedetik kemudian dia merenung memikirkan tentang di mana Kenard berada. Sekarang dan apakah dia masih hidup atau tidak.


Sudah banyak anak buah yang dia kerahkan dalam pencarian, tapi satu pun dari mereka tidak ada yang kembali membawa kabar baik tentunya.


Tapi justru sebagian dari mereka ada yang beranggapan, kalau Kenard telah tewas. Tentang tubuhnya belum ditemukan mereka menganggap telah dimakan binatang buas.


“Kalian jangan berkata seperti itu! Sama sekali ucapan kalian tidak berdasar, mengambil kesimpulan sendiri. Dengar baik-baik! Aku sangat yakin, kalau Kenard masih hidup, selama jasadnya belum ditemukan, kita semua akan beranggapan seperti itu.”


“Kami minta maaf, Nona. Dan kami akan mencarinya lagi sampai ketemu.”


Kenard adalah pengawalnya yang spesial. Maka dia tidak akan terima jika seseorang mengatakan keburukan tentangnya.


Masih di atas ranjang, Xavia terpejam sayup-sayup ia mulai hanyut dalam mimpi.


“Xavia, aku di sini. Kau sekarang jangan khawatir, dan tolong dengarkan pesanku ini baik-baik. Aku minta padamu mulai saat ini dan seterusnya, supaya kau bisa menjaga dirimu sendiri, kau harus melindungi keselamatanmu dari bahaya yang mengancam.”


Xavia ternyata mengalami mimpi yang terulang. Posisi, pakaian dan gaya bicaranya sama seperti beberapa tempo lalu.


“Satu lagi dan kau juga harus bahagia di kemudian hari, Xavia. Karena kau sangat layak mendapatkan itu.”


Xavia terpaku melihat Kenard, otaknya belum bisa berpikir jernih sekarang. Dia ingin kembali ke dunia nyata, tapi sayangnya tidak bisa. Terpaksa dia berdiri di hadapan Kenard, menatap wajah laki-laki itu penuh makna.

__ADS_1


Hingga kemudian dia terbangun, membuatnya merasa gelisah memikirkan apa maksud dari mimpi itu sebenarnya.


Dia segera menyambar gelas berisi air putih di meja samping tempat tidur untuk menenangkan perasaannya sendiri.


__ADS_2