Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Mengasah Kemampuan


__ADS_3

~Bab 12~


Dominic sejak tadi diam telah memberi Elliot cukup banyak ruang untuk berbicara, dan dia telah menjadi pendengar kini mengernyitkan dahi mengurai pikirannya.


Ada rasa tidak setuju ingin dia utarakan, tetapi mengingat pemuda di hadapannya adalah keponakannya sendiri, yang mana telah memilki ikatan darah begitu kental ia memutuskan untuk mempertimbangkan keinginan Elliot.


“Bagaimana Papa, apakah tidak sebaiknya kita tetap menunjuk Kenard sebagai pemimpin gangster kita? Kurasa tidak ada yang lebih pantas dari pada dia.” Xavia berusaha memastikan kalau sang papa tidak terpengaruh dengan ucapan Elliot.


Meski pun tidak setuju, Dominic memilih menahan diri untuk tida memarahi si keponakan. Di depan semua orang Elliot akan kehilangan citra baiknya jika semua itu terjadi.


Tatapan Dominic mengintimidasi, dia dengan dingin bertanya,


“Elliot, katakan dengan jujur, sebenarnya apa yang membuatmu tidak senang jika Kenard memimpin pertarungan, selain alasan tidak memiliki ikatan darah? Apa yang membuatmu tidak puas?”


Elliot melirik penampilan Kenard yang kini berdiri tegap di hadapannya menggunakan kemeja biru dan celana hitam yang juga sedang menanti jawaban darinya.


“Katakan, Elliot?” titah Dominic tidak sabar.


Elliot mendesak bibirnya naik ke atas membentuk lengkungan seiring mengangkat kedua pundak.


“Menurutku dia masih terlalu muda. Dan belum terlalu berpengalaman menghadapi musuh yang terbilang cukup memiliki nama besar, aku yakin dia tidak akan sanggup, kau sudah salah besar telah memilihnya! Hanya orang bodoh yang akan mempercayai orang seperti dia,” ucap Elliot berdecih masih menatap Kenard sini.


Siapa pun yang berada di sana pasti bisa menangkap, aura tidak suka yang tersemat di wajah Elliot.


“Kenard bukan seperti apa yang kau bilang, Elliot. Dia sudah cukup lama hidup bersamaku, dan dia juga sudah banyak membantu Black Horses!” bantah Dominic tidak terima.


Dia menggeram mendengar Elliot merendahkan Kenard. Itu berarti sama saja telah meragukan pilihan Xavia. Dia mengepalkan tangan, melangkah maju selangkah akan memarahi keponakannya itu, tapi dengan cepat Xavia menahannya sambil menggelengkan kepala samar mencegah dia hampir saja kehilangan kontrol.


“Serahkan saja padaku, Papa,” ucap Xavia lirih, menenangkan kemarahan sang papa.


Dengan wajah tagap, perempuan berambut ikal itu berdiri tepat di hadapan Elliot dan berkata,

__ADS_1


“Baik, jadi itu yang menjadi alasan ketidakpuasanmu, Elliot?” Dia mengangguk-angguk membuat Elliot semakin terlihat kesal.


“Begini saja, karena kau tidak puas, maka bagaimana kalau kita mengadakan kompetisi antara kalian dua? Kurasa hal itu cukup adil, untuk menilai, mana yang pantas memimpin, atau mana yang pantas menjadi pengikut.”


Elliot menyeringai meremehkan tantangan Xavia.


Dia menggeleng tidak habis pikir. “Kau sedang bercanda? Tentu aku tidak akan mau menerima tantangan konyol seperti itu!” tolaknya.


Para anggota geng yang berada di sana turut serta mengangguk. Ide yang diberikan Xavia cukup brilian sehingga mereka mendukung keputusan putri Dominic.


“Kurasa kau sangat benar, Nona Xavia. Tak ada yang lebih pantas dari pada sekedar bertarung untuk menunjukkan siapa yang layak menjadi ketua kami,” ucap salah satu dari mereka.


“Iya, dia benar. Lebih baik mereka berdua melakukan kompetisi, ini akan adil.”


“Kau mendengar mereka, bukan? Elliot, apa kau takut sehingga menolak tantangan ini?” sergah Xavia sengaja memberikan percikan bahan bakar membuat pikiran Elliot memanas.


Xavia tahu, orang seperti apa Elliot ini. Dia tidak akan tahan jika seseorang merendahkannya.


“Bagaimana, Elliot? Apa kau tidak mau berubah pikiran?”


Menatap tajam Kenard sambil menyeringai tipis, merasa sombong. Dia akan membuat Kenard tidak berdaya, sehingga orang-orang yang sebelumnya memilih dia akan menundukkan kepala merasa malu karena kekalahan Kenard.


“Kenard, apa kau setuju dengan ideku ini?” tanya Xavia.


Kenard pria tinggi itu menatap Elliot beberapa saat, tak kalah dinginnya. “Tentu saja setuju, Xavia. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan kesempatan ini?” ucap Kenard sambil tersenyum dingin.


“Bagus, mereka akan mengatur kompetisi untuk kalian,” ucap Xavia.


...


Tengah malam suasana terasa dingin menyelimuti pusat kota, tapi tidak berlaku pada orang-orang dalam ruangan petarungan itu. Mereka sibuk berseru membara mendukung jagoan mereka masing-masing, hingga semakin lama hawa terasa semakin panas.

__ADS_1


Begitu pula yang dirasakan oleh Elliot dan Kenard yang sedang berada di tengah area pertarungan, tanpa mengenakan pakaian atas hanya memakai celana panjang.


Xavia dan Dominic berdiri tepat di samping area pertaruhan, menyaksikan secara langsung pertarungan yang telah terjadi.


Elliot menatap Kenard sengit dan mengangam. Sedangkan Kenard biasa saja menghadapinya. Menangkis semua serangannya yang sangat cepat dan lincah.


Situasi semakin memanas saat Elliot berhasil menendang Kenard sampai terjatuh. Dengan bangga di tengah-tengah permainan Elliot mengangkat kedua tangannya ke atas, seolah-olah pertandingan telah selesai dan dia pemenangnya.


“Kalian semua lihat?! Akulah pewaris Dominic, maka akulah yang pantas!” teriaknya sambil mengitari sekitar area.


Satu pukulan yang mengenai wajahnya sama sekali tidak berarti apa-apa bagi Kenard. Dia bangun dengan mudah, kembali memberikan perlawanan pada Elliot, memukul balik sehingga skor mereka sama.


Pertarungan sudah berlangsung lama, hasilnya tetap seimbang. Kenard menangkis dan menyerang dengan tapat, begitu pula sebaliknya.


Elliot menatap sinis sambil menyeringai. Dia tidak puas dengan ini, mendidik kuat Kenard menendang leher, hal salah satu larangan yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan dalam bertarung.


Beruntung Kenard secara cepat menghindar. Membalas memukul wajah dengan mudah hingga berkali-kali. Tak hanya berhenti di situ saja, Kenard memutar tubuhnya dengan gaya melompat kaki maju ke depan menendang dada Elliot hingga membuat pria itu terjatuh tak berdaya.


Semua orang yang membentuk lingkaran menonton pertandingan itu bersora, permainan telah selesai dan Kenard sebagai pemenangnya.


Sedangkan Elliot memicing kesal dengan beberapa memar di wajahnya. Dengan terpaksa dia harus menerima kekalahannya ini.


“Yeah, sudah kuduga, kalau kau pasti menang!”


Pendukung Kenard bersorak gembira salah satu dari mereka mengangkat satu tangan Kenard dengan bangga. Secara bersamaan Kenard melihat ke sini kanan Xavia berjalan sambil tersenyum menghampirinya.


“Kau keren banget, Kenard, setelah melewati pertandingan yang cukup lama, akhirnya kau bisa mengalahkan Elliot! Aku tidak salah memilih, kalau kau memang yang lebih pantas dari pada siapa pun,” pujinya bangga.


Antara ingin menjawab atau tersenyum, pipi Kenard memerah mendengar pujian yang keluar dari bibir Xavia, mampu menembus kalbu. Hati Kenard kini sangat bahagia sehingga tanpa sadar perasaannya mendorong tubuhnya ingin memeluk Xavia.


Namun ketika tubuh telanjang dadanya menempel pada tubuh gadis itu, gagal. Saat tiba-tiba melihat Dominic kedua tangan bertaut di belakang pinggang, berdiri tepat di samping Xavia Linn.

__ADS_1


“Tuan Dominic sejak kapan berada di sana,” gumamnya tidak ada yang mendengar.


Dia memilih menahan diri, sedikit mengurangi jarak dari posisi hadapan Xavia.


__ADS_2