
BAB 7
Dulu, Xavia memang wanita lemah dan manja, selalu mengandalkan sang papa dan orang suruhannya. Tetapi untuk pada masa kali ini, hal berbeda bisa ditemui. Dia terus saja belajar dari dasar dengan bersungguh-sungguh, berlatih sangat keras, jika gagal selalu mencoba lagi, hingga benar-benar berhasil sekarang.
Keberadaan Kenard juga sangat berperan bagi Xavia selama ini. Xavia dan lelaki itu menjadi best partner. Mengelola beberapa industri mereka, membentuk geng baru bernama The Vicious, merupakan bagian dari geng Black Horses.
The vicious merupakan tempat perekrutan dan tangan kanan Black horses, walau terbilang masih tergolong muda geng yang merupakan di bawah tanggungjawab Xavia ini cepat berkembang di wilayah dalam negeri dan beberapa negara lainnya.
Dalam waktu sebentar mereka sudah menguasai beberapa bagian wilayah. Kini terhitung anggota mereka berjumlah seribu, mereka juga terus bergerak aktif membentuk jaringan.
“Produksi minuman kita semakin meningkat, pengiriman sampai ke sepuluh negara. Kamu luar biasa, Xavia, papa sangat bangga padamu,” ucap Dominic sambil mengelus kepala.
“Bagaimana pun aku sekarang, apa pun yang kulakukan, semua karena Kenard, Papa. Bukan hanya sekedar pengawal, dia juga merangkap pekerjaan menjadi, penasihat, coach, sekaligus kakak untukku, aku sangat beruntung kau menunjuk dia jadi orang terdekatku,” balas Xavia sambil menatap mata Kenard penuh makna.
Sedangkan lelaki itu tidak banyak bicara, hanya tersenyum sedikit kemudian menunduk untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya.
“Aku hanya melakukan yang seharusnya menjadi tugasku saja, selebihnya ini semua karena kegigihan Xavia,” ucapnya.
Bisnis Xavia Linn kian hari semakin berjalan lancar. Berita mengenai penjualan-penjualan barangnya sampai ke telinga geng Varon. Mereka merasa semenjak berdirinya geng Xavia, posisi geng Varon tergeser. Beberapa anggota mereka pun ada yang memutuskan masuk ke dalam geng Black Horses.
Pada saat Xavia dan Kenard di markas, yang dari kejauhan mirip seperti istana di tengah-tengah pepohonan hijau. Mereka dikejutkan dengan kabar yang dibawa oleh salah satu anak buah yang bernama Ronald.
“Geng Varon datang ke pabrik, mereka membuat masalah di sana. Mengobrak abrik barang, meminta supaya produksi dihentikan,” ucap Ronald.
“Tidak bisa dibiarkan mereka. Mereka harus membayar lebih, atas apa yang sudah mereka rusak.” Seketika kedua tangan Xavia mengepal seiringnya dengan rahang mengeras. Gadis berambut ikal panjang sepunggung berwarna dark brown itu memanas.
Kemarahan Xavia semakin menjadi-jadi kala melihat dari rekaman di hpnya. Aksi brutal geng Varon amat sangat tidak bisa ditolerir. Mereka sudah cari masalah dengan Xavia Linn!
“Brengseek sekali mereka!” geramnya. Kemudian menoleh pada Kenard yang siap di sampingnya.
“Kenard, temui mereka, buat mereka berhenti dan meminta ampun atas perbuatannya kali ini! Benar-benar tidak bisa dibiarkan!”
__ADS_1
Varon salah, sebab telah membangunkan singa tidur. Sangat terang-terangan mencari masalah.
“Baik, Xavia. Keinginanmu akan terpenuhi,” ucap Kenard menyipitkan mata, wajahnya memperlihatkan sikap seorang petarung sejati. Lelaki memakai jaket hitam dipadu kaos hitam memakai kalung kecil di lehernya itu, bergegas pergi menemui geng Varon.
Mengendarai motor Harley diikuti oleh para anak buahnya. Kenard berada di barisan depan, dengan kemarahan membara berhenti di depan pabrik yang kini terjadi kericuhan akibat ulah Varon.
Di depan pabrik yang memiliki halaman luas itu, kini antara geng Varon dan Black Horses saling berhadapan. Dengan mata sinis di kedua belah pihak. Masing-masing menyimpan dendam menyala.
“Apa kau bisa mengembalikan kondisi pabrik seperti semula?” tanya Kenard bertatapan dingin mengintai.
“Untuk apa harus mengembalikan kondisinya? Hem, bahkan kami akan menghancurkan markas kalian setelah ini!” ancam ketua geng Varon.
“Kalian dengar apa yang barusan dia katakan?” tanya Kenard pada anak buahnya.
Merah semua mengangguk. “Dan kami tidak akan membiarkan kalian satu langkah pun mendekati markas kami!” ucap mereka serentak.
Kenard menyeringai kemudian maju sambil mengepal sebab tak sabar ingin memberikan mereka pelajaran, secara cepat meninju wajah ketua geng Varon.
Saat Kenard menekan satu tangannya mencekik leher ketua geng Varon, tiba-tiba salah satu anak buah mereka datang membawa senjata tajam. Beruntung Kenard dengan cepat menyadari sehingga hanya terkena bagian lengan kembali menyerang pria itu.
Akibat memancing kemarahannya, anak buah geng Varon banyak berjatuhan, mereka kalah dipukul tanpa ampun oleh geng Black Horses. Hingga tergelak tak berdaya.
“Ampuni kami, maka kami berjanji akan kembali membereskan kekacauan yang sudah kami perbuat,” ucap ketua geng Varon.
Kenard menyeringai lagi memandang pria di bawahnya. Sambil menyalakan rokok yang terselip di bibirnya. Menyalakan api di korek cekup lama menatapnya tajam.
“Bakar markas mereka!” ucapnya kemudian berlalu pergi.
Kenard dan para anggota geng kembali membawa kemenangan. Membuat Xavia tersenyum puas, tapi senyumnya menghilang ketika melihat luka menganga di lengan Kenard.
“Kau terluka, Kenard.” Ia menatap dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
“Tidak perlu menganggapnya serius, Xavia. Ini hanya luka kecil,” ucap Kenard menenangkan.
Xavia menatap kasihan pada Kenard. Kemudian memerintahkan salah satu pelayan mengambil kotak obat.
Dalam ruangan hanya menyisakan mereka berdua itu, Xavia membantu membuka jaket Kenard perlahan-lahan.
Luka goresan terlihat jelas di lengan kekar milik Kenard. Dengan degup jantung tak stabil Xavia membersihkan luka dengan kain putih yang sudah dibasahi dengan air hangat dan cairan antiseptik.
Suara ******* Kenard terdengar mengalun di telinga Xavia, saat merasakan rasa perih. Membuatnya lebih berhati-hati.
Dalam satu sofa hitam keduanya duduk berhadapan sangat dekat. Sebegitu dekatnya bahkan bisa saling memperhatikan bulu mata. Tatapan berangsur ke bawah, bola mata mereka bergerak satu arah saling memantulkan bayangan masing-masing di dalamnya.
Percikan rasa itu kembali muncul. Tanpa sadar, sekarang tangan Kenard memegang satu tangannya yang memegang perban.
“He um… kain perbannya basah, aku akan mengambil yang baru.”
Saat sadar Xavia langsung berbalik badan untuk mengambil perban baru di belakangnya.
Lagi-lagi Kenard mendesah kesal, ia kecewa sebab momen intens mereka harus berakhir begitu saja. Ia terkekeh, dengan pikirannya sendiri.
Xavia kembali mengobati luka Kenard dengan kain perban yang baru. Tapi posisi kini berbeda dari sebelumnya, perempuan itu terlalu berkonsentrasi menatap luka sehingga mengabaikan Kenard yang terus menatapnya.
Dalam situasi itu, Xavia mencoba menyingkirkan perasaan aneh, yang saat ini ada di kepalanya. Apa dia memiliki perasaan lebih pada lelaki ini?
Ah, bisakah seperti itu? Dia adalah seorang kakak bagi Xavia bagaimana mungkin ia memiliki perasaan “aneh” terhadapnya?
Xavia menghela napas dalam sambil memejamkan mata beberapa saat. Menstabilkan perasaannya, kemudian mengangkat wajah sambil tersenyum.
“Akhirnya selesai!” ucapnya lega yang telah selesai mengobati luka Kanard.
Kenard memandangi lukanya sambil menyunggingkan bibir. “Lumayan menegangkan,” ucapnya.
__ADS_1