Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Penghianat Terdekat


__ADS_3

Kenard kebingungan dengan situasi tersebut. Tapi dia tidak punya waktu untuk terus


memikirkan cara berlama-lama. Dia memutuskan untuk memimpin sekelompok kecil anggota yang tersisa


untuk menarik perhatian dari pihak musuh.


Hingga sebelumnya yang berencana menyergap musuh kini berbalik melawan seorang yang tak diketahui dari mana.


Pertarungan terjadi sangat sengit, Kenard terus saja membalas serangan yang ditujukan pada mereka. Begitu pun dengan para pengikutnya.


Situasi semakin membara saat Kenard kehabisan peluru, memilih melawan dengan tenaganya untuk menjatuhkan lawan. Kenard dan para anak buah berjuang sampai akhir.


Hingga tenaganya kian melemah, pertarungan mereka hingga di atas jembatan yang menghubungkan kota bagian timur dan barat. Di wajahnya terdapat aliran air yang deras berwarna keruh.


Kenard kehilangan keseimbangan saat didorong ke samping hingga terjatuh, kedua tangannya memegang pinggiran jembatan sambil berusaha naik le atas.


Lawannya menyeringai di atasnya, mengacungkan senjata api tepat di atas Kenard.


Dor!!


Suara tembakan menggema mengenai tangan Kenard yang digunakan untuk berpegangan. Kenard terjatuh ke bawah.


Para anak buah Black Horses datang untuk membantu sudah terlambat. Saat mereka sampai Kenard sudah jatuh ke dalam sungai. Mereka semua berteriak memanggil namanya, tapi kemunculan Kenard tak kunjung tiba.


"BOS! DI MANA KAU?!" Sebagian dari mereka ada yang mengawasi dari atas jembatan, sebagian lagi mencari di bawah pinggiran area aliran sungai.


Ada pula yang mengejar pelaku penyerangan yang berlari menjauh.


***


Begitu mendengar cerita tentang Kenard dari bibir Billy, Xavia merasa sakit hati. Bagaimana rencana yang dia


atur bisa diketahui oleh musuh? Pasti ada mata-mata yang memberikan informasi tersebut.


"Sangat mustahil jika mereka mengetahui rencana yang tersusun sangat tertutup. Hanya orang-orang penting Black Horses saja yang tau," ucap Xavia.


Dahinya mengernyit kala memikirkan menerka-nerka apakah ada penyusup dalam kelompoknya, sesuai yang Xavia putuskan untuk menyelidiki kebenaran dan membalaskan dendam


untuk Kenard.


Xavia turun tangan sendiri untuk melakukan penyelidikan berlanjut. Dia datang ke lokasi terjadinya pertarungan antara Kenard dan seseorang tidak dikenal itu.

__ADS_1


"Di sinilah Kenard terjatuh, Nona."


Xavia melihat noda darah di atas pembatas jembatan. Sudah dipastikan itu adalah bekas noda darah milik Kenard.


"Informasi apa lagi yang belum kau berikan padaku, Billy?" tanyanya.


"Ini Nona, seseorang itu meninggalkan jejak, sebelum kemudian melarikan diri setelah penyerangan terjadi." Billy memberikan kunci motor lengkap dengan gantungannya.


Xavia mengernyitkan dahi menatap kunci di depan matanya. Detik berikutnya dia langsung bergegas kembali ke markas untuk mengetahui milik siapa kunci bergantungan perak berukir tersebut.


Semua orang di sana tidak ada yang mau mengaku. Bahkan mereka menunjukkan kunci milik mereka masing-masing.


Shane mendekat dan melihat barang yang dibawa Xavia. "Ini adalah milik Elliot, sudah kuduga dia selama ini pasti terlibat," ucapnya.


Billy dan Xavia terkejut setelah mendengar pernyataan Shane.


"Saya juga sudah curiga, kalau Elliot terlibat. Diam-diam tampa sepengetahuan yang lain, dia meninggalkan pertarungan. Dan pada saat serangan tiba-tiba terjadi dia juga tidak nampak, Nona. Sepertinya dia adalah orang yang terlibat memberikan bocoran informasi pada lawan."


Kecurigaan Xavia semakin kuat dengan tidak adanya satu orang di sana sekarang. Dia langsung pergi meninggalkan markas dan pergi ke rumah Elliot.


Dia tahu selama ini sepupunya itu tidak menyukai Kenard. Tapi Xavia tidak menyangka kalau Elliot berani bertindak di luar batas seperti ini.


Sekarang dengan kemarahan yang menggebu-gebu, Xavia dikawal anak buahnya sampai di depan rumah Elliot.


"Tuan Elliot sekarang tidak ada, Nona Xavia," jawab mereka.


Xavia tidak percaya begitu saja. "Periksa di dalam, kalau ada, suruh dia keluar untuk menemuiku!" perintahnya.


Anak buahnya langsung menjalankan perintah. Masuk ke dalam rumah Elliot mencari.


"Nona, Elliot tidak ada di dalam. Sepertinya memang dia sedang pergi," ucap salah satu dari mereka.


"Kalian pasti tahu, di mana Elliot sekarang, bukan? Sekarang katakan padaku!"


Mereka menggeleng. "Kami tidak tahu, Nona. Tuan Elliot tidak memberikan informasi apa pun pada kami. Bahkan kedatangan kami ke mari juga karena sedang ingin menemuinya."


"Apa kalian tahu, selain di sini Elliot sering menghabiskan waktu di mana?"


"Ya, saya tahu, dia sering menghabiskan waktu di salah satu tempat hiburan," jawab anak buah Elliot.


Setelah mengetahui alamatnya, Xavia beserta anak buahnya bergegas ke sana dengan amarahyang memuncak.

__ADS_1


Dan ternyata sepupunya itu sedang berada di sebuah tempat karaoke sambil merangkul seorang wanita cantik dengan pakaian sexy yang menuang anggur ke dalam gelasnya.


Elliot tampak menikmati harinya kini. Wajahnya sumringah tanpa memikirkan kekacauan yang ada dalam geng Black Horses.


Diiringi dengan kemarahan membara, Xavia membuka pintu


ruangan dengan tendangan. Tatapan matanya berkilat seperti sebilah pedang yang siap menembus dada.


"Apa-apaan kau ini, Xavia?! Kau sangat tidak sopan! Kurang ajar, sialan!" bentak Elliot tak terima kesenangannya terganggu.


Xavia hanya tersenyum dalam


kemarahannya. Dia melepas sarung tangan kulitnya dan menampar sepupunya berkali-kali.


"Kenapa kau menamparku, bangsatt?!" pekik Elliot.


Ingin melawan tapi dua anak buah Xavia lebih dulu memegang kedua tangannya. Hingga membuatnya kesulitan bergerak, Elliot hanya terdiam di bawah penindasan Xavia yang menatapnya sengit.


"Bahkan tamparan tidak cukup untuk membalas semua pengkhianatan yang kau lakukan! Aku bisa berbuat lebih untuk menghukumu, Elliot!"


Tanpa Xavia menyebutkan kesalahan, Elliot pun sudah mengerti tentang kesalahannya apa. Meskipun begitu tidak ada sedikit pun rasa bersalah tersemat di wajahnya.


Lelaki itu justru mengangkat wajahnya untuk menatap Xavia tajam penuh pengancam. Dia keras kepala, dan mendapatkan tamparan dari sepupunya itu adalah sebagai bentuk penghinaan terhadap dia.


"Turunkan matamu! Aku tidak suka kau melihatku seperti itu!" teriak Xavia marah.


"Apa hakmu memerintahku seperti itu?" tanya Elliot menantang.


Kemarahan Xavia semakin terpancing, kedua tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah padam.


"Aku akan menunjukkan diriku siapa," ucap Xavia.


"Kalian, bawa Elliot pergi dari sini!" perintahnya.


Anak buahnya langsung maju menarik Elliot pergi dari sana.


Dalam tawanan anak buah Xavia, Elliot memberinya ingin melepaskan diri.


Kegaduhan yang terjadi di tempat itu membuat orang-orang di sekitar sana takut. Sesosok Elliot yang sebelumnya menjadi si paling jagoan kini menjadi pusat perhatian, karena diperlukan seperti seorang tawanan.


"Aku tidak akan tinggal diam, dengar apa yang sudah kau lakukan padaku hari ini, Xavia! Kau sudah mempermalukanku!"

__ADS_1


Xavia hanya berdiri diam sambil menyeringai. Menganggap sepupunya seperti tikus sedang menyicit.


Sambil berjalan pergi Elliot mengancam. "Kau akan merasakan pembalasanku, Xavia! Lihat saja, aku akan kembali membawa kesengsaraan dalam hidupmu, ingat itu!"


__ADS_2