
Meskipun dengan tegas anggota yang bersama Kenard melarang Celia, untuk tidak mendekat. Tetap saja perempuan itu memiliki sikap keras kepala. Bukannya mundur, justru melangkah maju dengan berani mengangkat wajahnya seolah menentang.
"Aku tidak akan membiarkan Ken pergi meninggalkanku begitu saja. Mengingat atas apa saja yang kulakukan untuknya. " Dia kembali memegang lengan Kenard penuh harapan.
"Ken, kau tidak akan meninggalkanku, bukan? Ingatlah apa yang sudah kulakukan padamu, Ken. Selama ini aku merawatmu penuh dengan sabar dan perasaan. Aku yang menyelamatkan dirimu, Ken. Kalau bukan karena aku mungkin kau saat ini sudah tidak akan selamat," ucap Celia.
Celia menoleh pada anggota Kenard yang menatapnya tidak suka. Mereka sangat ingin memisahkan Kenard dari sisinya.
"Kalian tidak berhak melarangku. Apa pun yang akan kulakukan padanya itu adalah hakku. Karena Ken adalah milikku, tak ada satu pun orang yang berhak atas dirinya, kecuali aku." Celia melingkarkan tangan di bahu Kenard, bergelayut manja menempelkan pipi ke tubuh Kenard.
Dia merasa dialah orang yang berhak memiliki Kenard seutuhnya. Karena dia sudah berperan penting menyelamatkan hidup Kenard.
"Lepaskan, Celia. Ini memalukan," dengus Kenard tampak risih.
Sedangkan Billy dan geng berdecak sambil membuang muka. Enggan menatap pemandangan di hadapan.
"Kami pikir kau adalah gadis desa yang polos dan lugu. Ternyata dugaan kami salah, kau adalah perempuan yang tidak punya rasa malu," hina Billy sambil menunjuk wajahnya.
Air mata mengalir secara tiba-tiba dari sudut mata Celia. Dia mengeluh
sambil menatap Kenard lekat.
"Sudah cukup. Hentikan semua ini," lerai Kenard tidak tahan melihat perdebatan ini.
"Kalian semua berhenti mengganggu Celia. Lebih baik tunggu saja di depan, biar ku selesaikan masalah ini sendiri. Kami ingin berbicara berdua saja," ucapnya.
Para anggota pun menuruti perintah Kenard. Satu persatu menunggu di atas motor sambil melihat Kenard yang masuk ke dalam rumah bersama Celia. Mereka merasa khawatir sekarang, jika Kenard mengambil langkah salah membuat Xavia kecewa.
Kini Kenard di dalam rumah hanya berdua saja dengan Celia. Perempuan itu masih saja berharap dia mengubah keputusannya. Bahkan air mata masih mengalir dari sudut mata perempuan itu.
Kenard menghela napas panjang, sebelum memulai berbicara. Dia harus hati-hati dalam berucap untuk saat ini. Supaya tidak membuat Celia marah.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak egois, main pergi meninggalkan tempat ini begitu saja, Ken. Ini sama sekali tidak adil buatku."
"Dengar, Celia. Aku tau, kalau kabar ini mengejutkan untukmu, tapi ... inilah kenyataan yang sebenarnya, suka atau tidak tetap harus dijalani. Kau paham?" tanya Kenard berhati-hati.
Celia terdiam, menundukkan kepala tanpa mau menatap mata Kenard.
"Selama ini aku selalu mencari identitas asliku yang sebenarnya. Siang dan malam aku selalu memikirkan tentang hal itu, bahkan dalam hatiku sama sekali tidak tenang, merasa ada yang salah dengan kehidupan yang kujalani sekarang. Dan secara kebetulan, ternyata aku menemukan indentitasku sebenarnya. Mamaku Kenard dan aku adalah bagian dari geng Black Horses."
"Tapi ... pergi juga bukan jalan satu-satunya. Kau masih bisa bergabung dengan mereka tanpa meninggalkan kampung ini," ucap Celia.
"Tetap tidak bisa, Celia. Aku harus pergi dari sini, jika aku tetap tinggal di sini, semuanya akan serba merepotkan. Biarkan aku pergi, lagi pula, walaupun begitu hubungan kita tak langsung putus begitu saja. Kita masih bisa menjalani pertemanan. Kita masih bisa bertukar kabar melalui telepon?" bujuk Kenard.
Kenard tanpa menunggu persetujuan melangkah pergi ke kamar. Mengambil barang-barang penting miliknya memasukkan ke dalam tas. Setelah selesai dia membawa tas di atas pundak keluar dari kamar.
"Kenard, kumohon!" Celia bersikeras untuk mengikuti langkah Kenard yang sama sekali tidak peduli padanya.
Lelaki itu terus saja berjalan membawa barang-barang penting miliknya akan pergi ke luar.
Celia dengan cepat berdiri di hadapannya, merentangkan kedua tangan menghalangi langkah Kenard.
Kenard seketika berdecak kesal sambil memalingkan muka. Rasanya sulit sekali membuat Celia mengerti tentang kondisinya sekarang.
"Jangan meminta yang tidak-tidak, Celia. Karena aku tak akan membawamu bersamaku, di sinilah tempatmu yang sedangkan tempatku ada bersama Black Horses."
Celia terbengong setelah mendengar penolakan Kenard.
Secara bersamaan Kenard meletakkan amplop berwarna coklat berisi penuh di meja.
"Ini ada beberapa uang, mungkin bisa membantu untuk memberi keperluanmu nanti. terima kasih sudah merawatku selama ini. Ingat, namaku Kenard, bukan Kenzie."
Kedua mata Celia membola, dia tidak terima pemberian Kenard. Namun lelaki itu sudah membawa tasnya keluar dari rumahnya.
__ADS_1
"Apa kau menanggap semua yang kulakukan demi uang, Ken!" teriaknya marah.
Namun Kenard dan anggotanya sudah meninggalkan halaman rumah. Suara motor mereka berangsur menjauh dari desa nelayan.
Warga sekitar berkumpul di rumah kedekat ke rumah Celia. Mereka melihat Celia yang terlihat menyedihkan setelah kepergian Kenard.
Salah satu warga yang tidak menyukai Celia pun melirik sinis, seolah olah mengejek. "Ya ampun, kasihan sekali hidupmu, pertama kau pernah ditinggal calon suamimu, dan sekarang harus terulang lagi. Dia lelaki yang kau puja sekarang pergi dan tak peduli padamu, sangat miris, aku tidak bisa membayangkan jika jadi kau, entah bisa berani menghadapi kehidupan selanjutnya atau tidak."
"Kau bilang apa tadi?" Mendengar ucapan yang mengejek tentu saja Celia tidak terima.
Dia maju menantang perempuan sebaya dengannya yang berdiri di ambang pintu.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku? Bukankah semua yang kubilang tadi benar, Bik?" tanya perempuan itu pada orang di sampingnya justru mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri, yang justru merebut suami orang lain? Lebih baik mana dariku?!" celetuk Celia tidak menantang.
Emosi perempuan di hadapannya juga semakin tersulut. "Jelas saja beda, tapi setidaknya saya tidak akan ditinggalkan oleh laki-laki seperti kamu! Mereka bisaa bertekuk lutut di depanku, sedangkan kau sendiri?" Perempuan itu tersenyum mengejek.
"Terlalu bangga dengan wajahmu jelek ini!" Celia maju menjambak rambut perempuan tidak tahu malu itu.
Hingga keduanya sama-sama saling membalas.
"Setidaknya aku tidak akan pernah menangisi lelaki sepertimu!"
"Kau!"
Perkelahian semakin sengit di antara keduanya tidak ada yang mau mengalah.
Warga melerai mereka berdua hingga terpisah. Celia mengusir mereka semua yang sudah menganggu.
Dalam keadaan berantakan dia memikirkan wajah tampan Kenard. Dan perempuan yang membeli ikannya tempo hari, dia penampilan tinggi semampai dan wajahnya cantik sangat serasi dengan Kenard.
__ADS_1
Celia menepis bayangan yang membayangkan mereka berdua. Dia tidak ingin ditinggalkan begitu saja. Menjadi bahan ejekan para warga seperti tadi.
Dia memutuskan untuk mengikuti Kenard ke kota.