Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah

Serangan Balik Wanita Dianggap Lemah
Reward Spesial


__ADS_3

~Bab 13~


Malam hari, seharusnya orang-orang tertidur pulas di atas peraduannya masing-masing, tapi tidak bagi orang di dalam dapur besar keluarga Linn.


Beberapa pelayan dan para juru masak terlihat tegang berdiri dengan kedua tangan bertaut di depan perut. Mereka menunggui Xavia sedang berkutat di dapur.


Ketika selesai pertandingan, dia langsung bergegas memasak beberapa menu khusus. Itu sebagai perayaan atas keberhasilan Kenard telah memenangkan kompetisi dan menjadi pemimpin.


Sekali lagi laki-laki itu membanggakan dirinya. Maka dia harus memberikan lelaki itu sedikit perlakuan special sebagai penghargaan.


“Kau letakkan masakan yang itu, di sebelah sana ya!”


Semua pelayan sangat sibuk saat masakan telah selesai diolah, mereka membantu Xavia menyajikan di atas meja.


Pelayan perempuan membawa piring besar berisi udang itu mengangguk patuh. Meletakkan piring di pinggiran meja di samping hidangan lain, di tengah-tengah meja ada lilin yang menyala di atas tangkai bercabang empat dan ada sebotol anggur. Rencana berjalan lancar sesuai dengan keinginan Xavia, ia tersenyum lega.


Kenard sudah selesai membersihkan dirinya, memakai kaos putih dibalut dengan jaket hitam berwarna hitam datang menghampiri Xavia setelah mendapatkan undangan dari salah satu pelayan.


Luka masih membekas di sudut bibirnya, Kenard melihat heran makanan yang tersaji dia atas meja dirancang selayaknya makan malam romantis.


Tetapi bukan itu yang membuat dia keheranan, dia menatap Xavia yang sangat antusias mempersiapkan ini semua, sungguh pemandangan yang sangat langka, bahkan Kenard terkagum-kagum seperti melihat peradapan dunia di depan mata.


“Xavia, ini semuanya kau yang masak?” tanyanya.


Xavia mengangguk cepat.


“Benarkah?” Kenard masih tidak percaya ini.

__ADS_1


“Aku sengaja memasak beberapa menu special malam ini, khusus untukmu, karena kau sudah berhasil memenangkan pertarungan dengan Elliot, kau berhasil membuktikan kalau penilainya terhadapmu adalah salah. Maka kita wajib merayakannya, bukan?” Xavia menarik kursi di samping Kenard sambil tersenyum mempersilahkan bodyguardnya duduk.


“Mari duduk dan makanlah, kau harus memberi penilaian terhadap masakan yang sudah kubuat susah payah hari ini, bahkan mengurangi setengah waktu tidurku yang seharusnya mimpi indah.”


Kenard masih terpaku, dengan menatap membeku dia masih tidak menyangka, seorang putri tunggal seorang ketua geng Black horses yang mampu mendapatkan apa pun yang dia inginkan dalam sekejap, dia kini bersusah payah memakai celemek putih berenda mengingatnya di pinggang belakang, memasak untuk dirinya.


“Woah!” Melihat Xavia seperti ini tidak pernah ada dalam catatan sebelumnya. “Aku tak menyangka, kau bisa seperti ini, Xavia.”


“Makanlah, rasakan dengan benar setelah itu kau baru bisa berbicaralah!” perintah Xavia tidak sabar menuang beberapa sendok makanan di atas piring Kenard.


“Baiklah, aku juga sudah tidak sabar melakukan hal itu.” Kenard penasaran bagaimanakah rasa masakan gadis yang selama ini dia ketahui bahkan masuk dapur pun hampir tidak pernah.


Kenard menyendok makanan mendorong ke dalam mulutnya. Mengunyah secara perlahan, mengejutkan rasanya di luar yang dia kira, sampai pupilnya membesar.


Kedua alis sedikit terangkat, wajah Xavia sudah sangat antusias menatapnya. Dia tidak sabar menunggu kata-kata penilaian terlontar dari mulut manis Kenard. “Bagimana apakah rasanya enak?”


Jawaban Kenard membuat pipi Xavia bersemu senang. Setelah mendapatkan pujian, dia pun tak ragu untuk memakan masakan dia sendiri. Di kursi bersebrangan keduannya saling berhadapan satu sama lain.


Kenard begitu menikmati sehingga dia merasa akan sulit melupakan momen ini.


“Tapi Xavia, ngomong-ngomong dari mana kau mendapatkan keterampilan memasak seperti ini? Rasanya bahkan setara seperti masakan seorang chef terkenal,” ucapnya.


Mimik wajah Xavia seketika berubah ketika tepat pertanyaan dilontarkan Kenard.


Pikirannya masuk ke dalam masa lalu ketika menjadi istri Richard. Dia belajar memasak dari satu menu ke menu yang lain dengan keras, sampai pada akhirnya benar-benar bisa mempraktikkan.


Dengan bodohnya Xavia merendahkan diri bahkan bekerja keras di dapur sepanjang hari, hanya untuk menjadi istri yang baik di mata Richard. Apa pun dia lakukan, mengusahakan yang terbaik untuk membuat lelaki itu tersenyum puas lalu memujinya dengan mesra. Betapa bodohnya Xavia pada saat itu, hanya dengan rayuan dia bertekuk lutut di hadapan seorang pria.

__ADS_1


“Apa terjadi sesuatu, Xavia? Kau baik-baik saja, bukan?”


Xavia seketika tertarik dari pikiran yang hampir saja menenggelamkan dirinya ke masa lalu hidup bersama Richard, pria yang amat sangat dia benci. Dia berdehem untuk menutupi kegelisahannya.


Senyuman di wajah Xavia berubah menjadi tegang, melihat Kenard yang masih menunggu jawaban.


“Ah, aku tidak apa. Hanya saja, aku tidak menyukai pertanyaanmu, jadi, jangan bertanya lagi tentang dari mana aku bisa memasak. Lebih baik kau lupakan saja, yang terpenting rasanya cukup enak, bukan?”


Xavia memutus interaksi tatapan di antara mereka. Dia kembali melanjutkan makan dengan hikmat berpura-pura tidak memikirkan apa pun.


“Kau yakin tidak ada masalah?”


Xavia mengangguk sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. “Sudah kubilang, jangan banyak bertanya,” ucapnya. Dia tidak ingin pertanyaan-pertanyaan Kenard mendorongnya ke dalam ingatan masa lalu yang memikirkannya saja membuatnya sakit.


Meskipun Xavia berusaha menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya. Feeling Kenard yang memberi sinyal sesuatu telah terjadi, tidak bisa dibohongi, dia terus saja memperhatikan Xavia yang bergerak mengabaikan.


Satu alis Kenard terangkat, dia merasa yakin, kalau perempuan di hadapannya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Dalam situasi ini Kenard merasa tidak senang. Akan tetapi di momen. sekarang suasana begitu romantis, maka dia tidak akan merusaknya dengan pertanyaan yang membuat Xavia tidak suka hingga merusak suasana hatinya.


“Baiklah, aku minta maaf. Sekarang lupakan saja pertanyaanku yang mengganggu pikiranmu, lebih baik kita fokus untuk menghabiskan makanan-makana yang enak ini. Jika tidak, akan sayang jika setiap sendoknya jika dilewatkan begitu saja. Daging asap ini rasanya seenak, tidak pernah dijumpai rasa seperti ini sebelumnya,” puji Kenard memakan dengan lahap.


Kekesalan dalam hati Xavia seketika berubah menjadi senyuman, mendengar pujian Kenard. Ia tersipu di hadapannya tak berani berada satu garis lurus dengan mata lelaki itu.


“Kau belum mencoba yang ini? Baiklah, sekarang cobalah. Jika dipadukan dengan bumbu yang sebelah sini rasanya lebih enak. Buka mulutmu.” Kenard mendorong garpu berisikan daging ke mulut Xavia.


“Bagaimana? Benar bukan, kataku?” tanya Kenard.


Dada Xavia berdebar-debar sendok yang masuk ke mulutnya seperti mengantarkan aliran listrik ke dalam dirinya. Detak jantungnya bertalu-talu menaikkan panadangan melihat pria mata bermanik biru dan memiliki lirikan yang menggoda itu. Tatapan Kenard sangat menenangkan, mengubah suasana hati Xavia seketika menjadi bahagia.

__ADS_1


Di bawah langit malam keduanya menghabiskan malam romantis bersama dengan isi hati masing-masing.


__ADS_2