
BAB 8
“Kau sudah memberikan obat, tapi alangkah baiknya kau juga menutupi luka supaya lebih steril tidak terkontaminasi oleh bakteri.” Kenard berkata sambil menyeringai memperlihatkan luka yang sudah tak mengeluarkan darah.
Xavia menghela napas dalam, bersusah payah ia untuk menghindari tatapan Kenard, justru ia melupakan menutup luka.
“Ah, baiklah!” Dengan gerakan cepat, Xavia melilitkan kain kasa panjang untuk menutupi luka goresan di lengan Kenard hingga tertutup sempurna.
Sekali lagi tanpa menatapnya, sebab ia menghindari interaksi yang bisa membuatnya berpikir lebih. Ia tergesa-gesa mengunting kain kasa. Dari tadi Kenard tak henti menatapnya membuat wajahnya menghangat, menjadi bersemu.
“Terima kasih, Xavia. Dengan kau mengobatinya pasti sakitnya tak akan terasa,” ucap Kenard menggoda.
Xavia dengan buru-buru mengakhiri interaksi dengan pria itu. Kenard tak boleh sampai melihat ekspresinya saat ini, sekuat mungkin menahan dagup yang berdetak kencang berdebar-debar, tapi tidak bisa. Jangan sampai Kenard mendengar apa yang dia rasakan saat ini.
“Kalau ada yang sakit di bagian lainnya, sebaiknya kau bisa obati sendiri,” ucapnya. Berlalu pergi dari samping Kenard menuju ke taman belakang, untuk menghindar dari Kenard yang sampai detik ini tak mau berpaling menatap.
Di sana, ia menemui kucing kesayangannya, duduk di kursi sambil mengelus-elus bulu yang lembut sesekali mengajaknya bicara, membicarakan isi hatinya.
Meskipun begitu, ia tak bisa berhenti memikirkan Kenard. Ia tahu dan memahami cinta lelaki itu untuknya di kehidupan sebelumnya. Akan tetapi Xavia merasa tidak yakin, apakah Kenard masih akan tetap menyukainya dalam kehidupan kali ini?
“Tidak mungkin.” Xavia menggeleng menepis perasaan yang berkecamuk dalam pikirannya.
Ia baru saja lahir kembali dan melewati pernikahan yang penuh kejahatan. Hal itu sudah cukup menjadi pelajaran bagi Xavia. Tak mau kepolosannya karena jatuh cinta dimanfaatkan oleh orang lain.
__ADS_1
Penghianatan Richard adalah bukti nyata, kalau cinta adalah hal semu. Terasa indah saat dijalani, tapi amat sakit saat ditinggalkan.
Hati Xavia berdenyut nyeri saat mengingat tatapan mata Richard terakhir kalinya. Dengan bodohnya, ia bisa jatuh cinta pada lelaki licik itu. Dia mempermainkan perasaan dengan mudah.
Di balik sikap manisnya bahkan dia adalah rubah sebenarnya. Pria yang sama sekali tidak punya perasaan, otaknya selalu dipenuhi dengan ambisi haus akan kekuasaan.
“Aku tidak akan lagi berhadapan terhadap cinta. Cukup.”
Sekali saja, itu membuat dirinya terperosok dalam penghianatan. Lagi-lagi tangan Xavia mengepal setiap mengingat Richard. Penghianatan pria itu pula yang membuat Xavia setelah lahir kembali menjadi wanita berbeda. Dia menjadi sesosok yang tak tersentuh oleh pria.
Hari-harinya terlalu sibuk untuk melindungi ayah dan bisnis gengnya. Tanggung jawab penuh ada di tangannya membuat dirinya tak main-main saat mengambil keputusan. Ia sengaja merebut wilayah kekuasaan geng Eagle Eye. Sudah lama tidak bertemu dengan teman lamanya itu, Xavia memutuskan untuk membalas dendam pada mereka.
Jika ambisi yang menjadikan Richard tetap bertahan, maka ambislah yang akan menghancurkannya. Begitulah kirannya monolog Xavia. Tak segan melakukan berbagai cara untuk menghancurkan Richard. Tak peduli apa pun resikonya.
Xavia ditemani Kenard bahkan rela jauh-jauh menemui pemasok senjata dan minuman yang biasa dikirim oleh Richard. Masuk ke dalam organisasi bahaya untuk menawarkan kesepakatan dengan mereka.
Awalnya Xavia canggung saat para mafia itu menatapnya dengan bengis. Tapi kemudian dorongan dari dalam hatinya yang begitu kuat ingin membalas dendam pada Richard, seketika rasa canggung itu hilang. Bahkan ia bicara dengan kosa kata yang baik dan benar secara lancar. Tak jarang pula, ia memberikan kata rayuan untuk mendapat kepercayaan mereka.
“Jika kau memutuskan memasok barang-barang dari kami, aku akan pastikan, kau akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apa lagi tujuan sebuah bisnis kalau tidak menginginkan keuntungan? Aku berani memberikan harga di bawah barang yang sebelumnya anda ambil,” ucap Xavia duduk berhadapan dengan ketua mafia yang sedang berpikir itu.
“Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?” tanya ketua mafia.
“Black Horses bukan geng yang berdiri di atas kebohongan. Kalau kau ingin mempercayai itu, alangkah baiknya kau mencobannya lebih dulu. Sebab kalau tidak dicoba, bagaimana kau bisa tahu?”
__ADS_1
Setelah berpikir cukup lama ketua mafia itu mengangguk angguk mengerti, menatap orang kepercayaan yang berdiri di sampingnya. “Baiklah, aku akan memberikan kesempatan kerja sama dengan geng kalian. Kuharap tidak membuat kecewa,” ucapnya setuju.
“Saya pastikan tidak akan, Tuan.”
Kedua sudut bibir Xavia tertarik, ia menyeringai puas setelah berhasil menjerat. Tidak hanya satu, bahkan Xavia berhasil membujuk rayu beberapa organisasi untuk memasok barang darinnya. Xavia menggunakan ingatan kehidupan sebelumnya untuk bersaing. Ia mengingat, mereka sangat berhasil dalam penjualan minuman dan senjata.
Setelah masa percobaan, akhirnya mereka memutuskan berkerja sama dengan Xavia. Geng The semakin di atas awan saat menguasai pasar. Xavia juga mengirim beberapa anak buahnya untuk menjadi mata-mata di perusahan Richard. Sehingga ia bisa bergerak lebih cepat, sebelum mereka meluncurkan produk terbaru, produk Xavia sudah menguasi pasar lebih dulu.
Kelakuan Xavia terang-terangan sengaja mengundang masalah telah memancing kemarahan Richard, ketua geng eagle eye.
Darah Richard memanas sangat geram menatap layar computer di hadapannya, ia melihat foto-foto Xavia yang dia dapatkan dari anak buah. Rahang Richard mengeras seiring menggertakkan bibir.
“Apa dia orangnya?” tanyanya.
“Benar, Bos, dia adalah orang yang di balik jatuhnya produk kita di pasaran. The vicious merupakan geng yang baru saja dia bentuk. Tapi perkembangannya sangat pesat, ditambah lagi mendapat kontribusi dari black horses, menjadikan mereka semakin berkuasa dan disegani,” jawab anak buah Richard.
Richard memperbesar layar, melihat lebih jelas foto-foto Xavia Linn putri satu-satunya Dominic. Richard mengecek data Xavia. Menatap lekat mata berwarna coklat itu muncul rasa nyeri di dadannya tiba-tiba. ia menekan, tak mengerti rasa apa ini? Seperti ada yang aneh dalam perasaannya saat mekihat wajah gadis itu. Tak ingin semakin terhanyut dalam tatapan Xavia mematikan. Richard menekan tombol off untuk mematikan layar komputernya, dia berusaha menghindari perasaan yang berkutat di kepala.
“Jadi apa yang harus kita rencanakan untuk membuat mereka kalah, Bos? Jika dibiarkan, pasti mereka akan semena-mena,” tanya anak buahnya.
Richard sedang duduk di kursi hitam dengan kedua kaki saling bertumpu sambil memijat pelipisnya yang terasa pening itu. Berpikir cukup lama, hingga beberapa menit. Bayangan wajah Xavia berkelebat dalam ingatannya. Seketika membuat kelopak matanya terbuka.
“Bunuh saja wanita itu, kalau dia tetap hidup akan terus menajadi pengganggu saja. Aku yakin, dia adalah sumber kekuatan bagi Dominic. Setelah kehilangan putrinya, maka mereka pasti akan kehilangan sebagian kekuatannya.”
__ADS_1