
MESIN waktu itu
nyata, dan sekarang aku sedang berada di dalamnya. Memang, definisi mesin
dengan peralatan serba canggih, sesuatu tentang mekanik di dalamnya, kadang ada
roda gigi, mungkin juga mengalirkan listrik, tidak terdapat di dalam ‘mesin´ ini. Ini hanya sebuah ruangan, ruangan normal serupa seperti ruangan pada
umumnya, ruangan yang tidak memiliki keunikan sama sekali, kecuali sebuah fakta
bahwa ruangan ini memiliki fungsi serupa seperti sebuah mesin waktu.
Ruangan ini mengacaukan aturan sains, posisinya berada di luar dimensi
batas waktu, bisa pergi membawa orang-orang di dalamnya hingga waktu yang jauh
ke depan (meskipun sebenarnya tidak terlalu jauh-jauh juga, sih).
Mau aku buktikan bahwa ruangan ini memang sebuah mesin waktu?
Jika kalian datang ke ruangan ini pada pagi hari, satu detik kemudian
matahari sudah kembali malu-malu untuk menunjukkan dirinya lagi, tanpa perlu
untuk mengaktifkan mesin waktu ini. Tanpa perlu menekan sebuah tombol, tanpa
perlu melakukan apa-apa, mesin waktu sudah otomatis bekerja. Langit sudah
berubah gelap, dikuasai oleh monster biru yang hendak melahap habis matahari
yang masih menyiarkan sisa-sisa warna jingga kuning sebagai sebuah pertahanan
terakhirnya.
Mungkin waktu sudah memasuki petang, mungkin ini masih pagi yang sama,
atau bahkan ini sudah pagi di hari yang berbeda.
Tidak ada yang tahu, tidak ada yang begitu peduli.
Kenapa tidak? Tentu saja karena ruangan ini adalah satu-satunya ruangan
nyaman yang bisa kami nikmati—selain ruangan terbatas yang hanya bisa diakses oleh
para pegawai—yang sangat berbeda dengan ruangan lain di kawasan ini.
Ketika kalian membuka pintunya, udara yang segar, sejuk, dan dingin yang
berasal dari pendingin ruangan (hasil negosiasi panjang antara pengurus)
menusuk kecil dan menggelitik setiap pori-pori yang kalian miliki. Seperti
terlahir kembali, seperti beban di atas pundak akhirnya terjatuh dan terlepas.
Apalagi akibat beberapa ruangan yang pengap dan kurang ventilasi, atau mungkin
selesai beraktivitas fisik berolahraga, memasuki ruangan ini adalah sebuah
kenikmatan dunia tiada tara.
Tapi, kenikmatan ini tentu ada harganya. Muncul sebuah aturan ketat kuat
yang sangat dijunjung, tidak boleh dilanggar oleh seorang pun. Setelah memasuki
ruangan, kalian tidak boleh bergerak satu senti pun kecuali untuk membuka
sepatu dan menggantinya dengan sandal khusus.
Barulah selanjutnya, kalian diperbolehkan untuk mencicipi mesin waktu
ini.
Boleh melihat-lihat sekitar, melihat papan tulis di samping kiri pintu
masuk di dinding bagian barat, yang berhadapan langsung dengan enam meja kayu
dengan formasi ‘U’ bertaplak di depannya. Tidak lupa, ada dua foto presiden di
atas papan tulis serta pendingin ruangan berwarna putih yang dibahas tadi.
Lalu, di dinding bagian selatan—dinding kanan ketika kalian memasuki
ruangan—ada foto pajangan penghargaan, foto kegiatan, juga organigram, dan
foto-foto lainnya yang memenuhi dinding. Ada juga lemari rendah di bawah
foto-foto pajangan untuk menyimpan apapun, rak sepatu di ujung dinding dekat
pintu, dan lemari yang lebih tinggi penuh dengan dokumen penting hingga piala
yang tersimpan di sudut ruangan.
Di bagian ruangan paling timur di bagian belakang, ada sofa kulit yang
cukup nyaman, meja rendah di depannya dengan banyak toples penuh dengan aneka
ragam kudapan di dalamnya, serta karpet empuk yang selalu dicuci dengan rajin,
sebuah tempat yang dikenal sebagai intisari dari mesin waktu itu sendiri.
“Gib, bantu beres-beres, dong!” ucap seseorang dari atas karpet. Untuk
saat ini, sebenarnya kami, OSIS, belum merencanakan acara besar dalam waktu
dekat. Ini masih awal semester. Tapi, kepengurusan selalu berusaha untuk
menyibukkan diri demi kemajuan bersama, atau itulah moto utamanya (yang menjadi
moto hidupku juga). Menjadi berguna untuk bersama adalah prinsip yang
membuatku tetap hidup, batinku bangga pada diri sendiri.
“Hm? Bantu apa, nih?” jawabku antusias.
Aku yang sejak tadi hanya berbaring santai memainkan ponsel di atas sofa
langsung menoleh cepat ke arah karpet, mencari tahu apa gerangan yang bisa aku
bantu.
Di atas karpet, terdapat enam murid dengan seragam SMA putih abu yang
duduk lesehan. Seperti yang aku ucap barusan, karpet empuk itu adalah intisari
dari mesin waktu yang kita bicarakan tadi. Sangat empuk, mengelus lembut yang
menyentuhnya, apalagi dengan paparan sinar hangat matahari pagi yang menembus
lewat jendela dengan mantap. Lebih nyaman dibandingkan sofa yang kududuki,
sangat wajar mengapa para anggota OSIS memilih untuk menyibukkan diri di atas
karpet itu.
Sebenarnya, jika tidak ada orang di sekitar, aku pasti sudah menjelajah
waktu hingga esok hari di atas karpet tersebut. Hanya saja, momen itu sangat
jarang terjadi. Apalagi dengan kasus yang sekarang, karpet itu sudah berantakan
oleh banyak alat tulis seperti pulpen, gunting, atau lem, juga kertas yang
berserak di sana-sini, hingga kertas karton warna-warni.
“Bantu bereskan ini, dong! Berantakan banget banyak sampah gak penting.
Kita mau pisah-pisah yang bakal dipakai untuk keliling presentasi.”
“Buset berantakan banget. Kalian jorok amat, sih. Kayak anak kecil aja.
Kkkkk,” tawaku menyindir begitu menilik aktivitas keenam anggota OSIS ini di
seluruh karpet. “Ini mading kapan? Kotor banget. Ewh,” lanjutku berjongkok,
melihat kertas karton yang ditinggalkan dan tidak digubris oleh para anggota
OSIS.
Kemudian, aku mengambil karton tersebut dengan dua jari, menyaksikannya
dengan penasaran dan heran.
Kerta karton berwarna merah muda yang bahkan warnanya sudah pudar memang
tampak lesu dan ditinggalkan. Debu disana-sini, bahkan ada sarang laba-laba? Untung
saja tuan rumahnya sedang tidak ada. Ada juga bekas kertas yang masih
menempel, tulisan spidol yang karakternya sudah hilang-hilangan, hingga basah
bekas air yang tidak menghilang di beberapa sudut karton.
“Program mading untuk penyambutan PTS jadi kita lakukan?” tanyaku pada
seorang yang berada di atas meja, seorang penyelia dari kegiatan ini.
“Iya. Ini, kan? Lo bantu keliling presentasi, ya. Kita kurang orang,
nih. Lagi ada yang izin sakit,” ucapnya sambil berdiri dan menyeka baju.
“Kenapa gak presentasi pakai karton yang kemarin aja? Itu masih bagus,
kan?”
“Kalau kita pake karton itu, madingnya jadi kosong, dong?”
“Hah? Oh iya, ya? Kkkkkk!” jawabku terkekeh malu akan kebodohan diri
sendiri sambil mulai membersihkan dan mengumpulkan berbagai sampah kertas
karton.
Dengan pelukan yang besar, aku tenteng beberapa sampah sekali waktu
dan memindahkannya pada plastik besar yang berfungsi sebagai tempat
sampah sementara. Dengan gesit, aku langsung berpindah tempat untuk tidak
__ADS_1
mengganggu yang lain, menyapu karpet dengan sapu lidi, dan melanjutkan
pembersihan hingga tidak ada satupun debu di atas lantai keramik putih ini.
Pekerjaan mudah, tapi orang-orang justru tidak bisa selesaikan dengan
baik.
Ada yang tidak bisa, ada yang malas untuk mencoba.
Ada-ada saja memang, ucapku dalam hati.
“Udah? Lo bawa kardus ini, Gib!” ujar sang penyelia dari bawah daun
pintu yang terbuka sambil menunjuk kardus yang berisi macam-macam di samping
rak sepatu.
Mendengar instruksi yang sederhana, aku langsung bergegas mengangkat
kardus yang dimaksud. Namun, rupanya ini lebih berat dari yang aku duga?
“Buset! Apaan nih berat banget? Balkis, lo masukin apa aja ini, bego? Dosa-dosa
lo juga, ya?” protesku pada Balkis, sang penyelia yang sejak tadi mengatur alur
kegiatan.
“Mana ada. Peralatan dan macem-macem doang.”
“Kkkkkk, ya kali, kan? Kebanyakan—”
“Udah. Diem lo, Gib. Serius serius,” potong Balkis dengan tegas dan
langsung mengarahkan instruksi kepada keenam anggota OSIS lain yang sama-sama
berada di daun pintu, beberapa bahkan sudah berada di luar ruangan di koridor
depan. “Dengan Ragib, kita berpasangan dua-dua, ya? Kalian semua sudah paham
materinya, kan? Pokoknya jelaskan saja kita mau mengadakan lomba untuk bikin
mading dalam rangka penyambutan PTS.
Memang masih lama. Dua tiga bulan lagi? Makanya, suruh tiap kelas bikin
yang bagus. Bisa kata-kata semangat, bisa juga ringkasan materi, apapun
terserah gimana kreatifnya masing-masing kelas!” jelas Balkis dengan singkat
dan sedikit wibawa, seorang siswa yang sebenarnya masih duduk di kelas 11, serupa
denganku. Kita pun sama-sama memiliki tinggi sekitar 165 senti, serupa seperti
keenam anggota OSIS, kecuali satu pasangan yang sudah kelas 12.
“Yuk berangkat sebelum bel bunyi,” ajak Balkis kemudian membubarkan
kumpulan sekaligus menutup pintu ruangan.
Sebenarnya, aku masih ingin berada di dalam mesin waktu ini.
Sangat nyaman, selalu bikin ketagihan.
Tapi, mau bagaimana lagi?
“Kis, gue ikut lo aja, kan?” tanyaku setelah Balkis praktis menutup
pintu OSIS.
“Hem,” angguknya.
Bersama Balkis dan para pengurus OSIS lainnya—yang sebenarnya sudah
meninggalkan kami terlebih dahulu—aku pun mulai menyisir gedung sekolah ini.
Karena ruangan OSIS berada di lantai dua paling timur, pembagian kelompok pun
mudah. Dari empat kelompok yang dibagi Balkis tadi, satu kelompok pergi ke
selatan ke arah gedung serbaguna, dua kelompok pergi ke gedung di arah barat
daya yang terbagi atas lantai satu dan dua, dan akhirnya aku dan Balkis yang
pergi ke arah barat.
Pergi melewati koridor, kami langsung melewati ruang komputer yang kosong
melompong, kecuali terdapat penampakan beberapa tangan dari balik meja yang
sedang menggenggam ponsel (maklum, ruangan komputer pun menggunakan karpet.
Pasti nyaman bagi para murid untuk berbaring). Lalu, kami melewati juga ruang
guru yang besar di bagian kiri, beberapa kelas lain, sampai akhirnya berada di
kelas destinasi, kelas 12 IPS-3.
Tanpa basa-basi, Balkis langsung mengetuk pintu yang setengah terbuka
itu. Tidak menunggu balasan, lelaki dengan rambut cepak, hidup mengempis, kumis
perhatian kakak kelas. Dengan sigap, Balkis yang menduduki jabatan sebagai
wakil ketua OSIS langsung menunjukkan karisamanya sebagai orator (walaupun
akhirnya tetap gagal oleh Agung selaku ketua OSIS sekarang).
“Selamat pagi menuju siang kakak-kakak sekalian. Perkenalkan, nama saya
Balkis, perwakilan dari OSIS,” dan bla bla Balkis memperkenalkan diri sekadar
formalitas belaka.
Meski terlihat banyak kakak kelas yang acuh tidak peduli, masih sibuk
berbicara dan bergosip dengan teman sebangku, atau bahkan memainkan ponselnya,
Balkis tetap melakukan prosedur untuk perkenalan diri di depan kelas dengan
mental bajanya.
Setelah sesi perkenalannya, Balkis mengambil beberapa kertas karton dari
kardus yang aku bawa, mengambil juga spidol untuk menulis di papan tulis,
menggambar sesuatu di atasnya, menjelaskan hadiah dari lomba, selama tujuh
menit kedepan. Di akhir presentasi, kami langsung pamitan masih dengan antusias
yang tidak pudar, meskipun tidak ada satupun pertanyaan yang keluar.
Yah, ini memang pemandangan sehari-hari.
Terkadang, tidak semua siswa tertarik untuk melakukan apa yang OSIS
tawarkan. Apalagi sekarang jam istirahat pertama, beberapa dari mereka pasti
merasa terganggu dengan kehadiran kami, pikirku berusaha meyakinkan diri.
Merasa canggung di koridor, aku tepuk saja punggung Balkis dengan keras.
Berusaha untuk menyemangatinya, berusaha untuk sedikit bergurau dengannya.
“Kelas tadi bau banget, ya! Bau keringat? Kkkkk. Semuanya juga laki-laki.
Mereka baru selesai olahraga, ya?”
“Gak perlu hibur gue. Udah biasa. Memang gak bisa presentasi hanya
sekali dua kali. Lagipula, ada satu dua murid yang tertarik, kok,” ucapnya
percaya diri.
“Kkkkk, yasudah. Istirahat masih lama, kan?”
“Harusnya bisa sampai kelas 11, sih.”
Dan seperti biasa, rutinitasku dengan Balkis berjalan dengan lancar.
Memperkenalkan diri dengan mental baja, Balkis presentasi dengan penuh
antusias, dan aku hanya berbicara jika dibutuhkan. Secara umum, kondisinya
selalu bisa Balkis kendalikan sekehendak dan sesuai keinginannya. Semuanya diam
memperhatikannya, semuanya patuh dan tunduk padanya. Kalau Balkis yang jadi
ketua OSIS, entahlah apa yang akan terjadi pada sekolah, pikirku setiap
melihat karisma Balkis dalam berbicara.
Aku pribadi tidak masalah menjadi peliharaanya.
Asalkan bisa tetap dibutuhkan, mungkin juga mendapatkan jatah menikmati
mesin waktu, aku bisa hidup dengan tenang.
“Ragib, tunggu dulu! Balkis, Bapak pinjam Ragib, ya!” ucap seorang guru
yang pitak dan beruban dari balik meja guru di depan kelas. “Dia cuman jadi
buruh dan tukang angkut kamu saja, kan?”
“Tidak bisa, Pak. Saya masih ada tugas untuk diselesaikan. Saya masih
butuh Ragib.”
“Ah, sudahlah. Tidak perlu membantah. Lagipula kamu sendirian juga bisa,
kan? Ragib, bantu Bapak bawa buku tugas yang tadi pagi dikumpulkan ini. Bapak
mau lanjutkan di ruang guru,” pinta sang guru yang sedang mengencangkan ikat
pinggang sembari menunjuk tumpukan buku di atas meja guru.
“Eh? Hah? Emm, jadi gimana ini?” ucapku bingung melirik Balkis dan Pak
__ADS_1
Doktor, sang guru pitak yang beruban ini.
Ketika kelas 12 di bagian barat sudah kami kunjungi semua, di kelas 11
IPS-4 ini, di kelasku ini, masih ada Pak Doktor yang sejak awal jam
istirahat—bahkan sejak jam pembelajaran pertama—masih duduk di kursi gurunya di
depan kelas. Mau bagaimana? Empat jam pelajaran pertama sampai istirahat
pertama di jam sepuluh, Pak Doktor ini dengan tamak mengambil seluruh pagi
kami. Sesuai dengan panggilannya, ‘Pak Doktor’ (kami lupa nama aslinya) memang
sangat antusias dengan dunia akademik, apalagi karena lulusan S3.
“Sudah kamu bantu saya saja, Gib. Memangnya sejak kapan kamu jadi
anggota OSIS resmi? Kamu hanya main dan bantu di sana-sini saja, kan? Lagipula,
saya ada pembicaraan penting denganmu. Biarkan saja Balkis urusi ini sendiri,”
jawab Pak Doktor.
“Siap, pak! Laksanakan! Sori, Kis. Kkkkk!” maafku pada Balkis dengan
tawa seperti biasa. Aku pun menyerahkan kardus kepada pemilik aslinya, yang
terlihat sedang kesal, dengan bola mata yang dipalingkan.
Yah, inilah yang menjadi alasan mengapa Balkis tidak menjadi ketua OSIS.
Karena baginya, hanya ada hitam dan putih saja. Dia hanya bisa menjadi
orang yang karismatik, atau menjadi temperamen jika kehidupannya diganggu.
Bagaimana mungkin orang temperamen bisa memimpin? Itulah pertanyaan semua
orang.
Dan dengan begitu, aku pun langsung melangkah menuju meja guru dengan
taplak merah dan komputer yang mati, mengambil tumpukan buku dengan sampul
coklat yang berisi tugas-tugas yang kebanyakan dilakukan di pagi buta, di kelas
ini, diantara kepanikan siswa-siswa (karena aku pun termasuk dari kelompok
itu).
Aku dan Pak Doktor keluar dari kelas, pergi menuju arah kiri koridor,
melewati jalurku tadi saat pergi berkeliling, sampai pada akhirnya sampai di
ruang guru yang sama nyamannya dengan ruangan OSIS. Memiliki pendingin ruangan,
ukuran ruangan yang luas dan besar, dan yang paling penting tidak pengap.
Di ruang guru ini, terisi lengang beberapa guru yang sedang sibuk
mengurusi dokumen, melakukan sesuatu di laptop, sedang berbincang bergosip
dengan guru lain, atau bahkan sedang sarapan dengan gorengan atau bubur ayam.
“Yasudah, taruh disini saja,” kata Pak Doktor yang langsung duduk di
kursi kulit empuknya. Beliau langsung meregangkan tubuh dan menghembuskan napas
panjang.
Mau bagaimana lagi? Pak Doktor memang terlihat sebagaimana orang tua
yang uzur umurnya. Mungkin sudah sekitar setengah abad? Rambutnya yang tipis
dan pitak mulai diinvasi oleh uban yang putih, bahkan abu-abu. Meskipun
ubun-ubunnya sudah ada penggundulan, kumisnya masih tebal. Mukanya banyak
keriput, sedikit mengerucut ke bawah, dan memiliki mata yang selalu terlihat
marah dan emosi.
“Siap, pak!” patuhku pada instruksi Pak Doktor. Aku langsung menaruh
tumpukan buku catatan yang jumlahnya sekitar 40 di atas meja dan pamit undur
diri karena merasa tidak dibutuhkan lagi.
“Tunggu, Ragib. Saya mau bicara,” henti Pak Doktor.
“Eh, iya. Bapak mau berbicara dengan saya, ya? Ada apa, pak? Bapak mau
minta pijit lagi? Kkkkk. Sadar umur, Pak. Sudah tua harusnya banyak
berolahraga. Jangan baca buku terus,” gurauku membalas Pak Doktor, berusaha
untuk tidak membahas topik terkait pelajaran atau apapun. KARENA AKU PASTI
AKAN DIOMELI LAGI, NIH!
“Sebentar saya minum dulu.”
Siap, pak!
Itu sama sekali tidak membantu. Aku malah makin cemas, nih!
“Saya langsung ke intinya saja. Kamu ini nilai selalu jelek di bawah
rata-rata. Sering remedial, bahkan remedial pun harus remedial lagi. Kamu gak
capek ngulang-ngulang hal kayak gitu? Kamu tahu sendiri, kan? Kamu bukan
anggota OSIS resmi. Tapi kenapa selalu main dan bantu-bantu disana? Atau kamu
memang suka menjadi babu orang lain, ya? Hahaha. Saya tidak mau ikut campur
sih. Tapi, coba kamu introspeksi diri. Tanya ke diri kamu sendiri, kamu itu mau
jadi apa?
Memangnya ada pengurus organisasi yang nilainya jelek? Jadi pengurus
organisasi itu harus punya otak yang encer. Kalau kamu dihadapi pada
permasalahan, bagaimana kamu bisa mencari solusi jika nilai akademikmu saja
jelek? Mau bergantung sama orang lain? Kamu gagal jadi orang organisasi. Nilai
sudah jelek, organisasi pun gagal, kamu mau jadi apa!? Saya ini khawatir sama
kamu, makanya selalu kasih tahu kamu, tidak bosan-bosan. Tapi kamu sendiri
sepertinya tidak ingin berubah, ya? Lelah juga saya,” bentak Pak Doktor dengan
ceramah panjangnya yang selalu memekakkan telinga.
Oh, bukan membahas tugas ya? membahas masa depan?
Pak Doktor selalu berhasil untuk bikin murid-muridnya cemas, nih!
“Siap! Saya ingin jadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, pak!
Kkkk,” balasku dengan tegap dan posisi hormat.
Mendengar jawabanku hanya lelucon lainnya, Pak Doktor hanya
geleng-geleng kepala. Dari gesturnya, beliau seperti berkata bahwa ‘anak ini
sudah tidak bisa diharapkan lagi’. Tapi, dalam satu hembusan napas yang
lain, Pak Doktor justru bersiap untuk menjawab, bersiap menerkam, menghina,
memarahiku lagi, dengan tujuan mulianya untuk memberikan pelajaran untukku
(yang sebenarnya tidak aku butuhkan juga).
“Kamu gak paham!? Saya ulangi, ya. Gimana caranya kamu bisa berguna, kalau
kebutuhan dasar saja kamu masih bergantung kepada orang lain? Tugas lihat
kerjaan teman, pergi ke kantin nunggu ajakan teman, apa-apa menunggu teman. Di
OSIS pun hanya menjadi badut dan pesuruh saja. Kamu tidak berusaha untuk
berpikir, apa?” bentak Pak Doktor dengan gerakan jari yang menunjuk sisi
pelipisnya. “Kalau begini terus, kamu harus tinggal kelas lagi. Mau? Tapi
guru-guru pun sudah lelah dengan kamu, Gib. Kami paksa saja kamu naik kelas,
tapi kamu ditendang ke sekolah lain, ya. Bagaimana?”
Tinggal kelas lagi? Kenapa jadi masalah? Aku tidak masalah, kok.
Pak Doktor ini kenapa benci sekali kepadaku, sih? Guru-guru lain juga.
Aku salah apa, sih? Padahal aku selalu berbuat baik dan membantu kalian, loh?
Tapi, kalau tentang pindah sekolah baru sebuah masalah besar!
Sia-sia saja usahaku tiga tahun disini.
“Aduh, saya tidak bisa berpikir, pak. Nanti kalau lama-lama berpikir
jadi pitak seperti bapak. Ada pilihan lain, tidak? Kkkkk,” jawabku santai.
“Hahhh. Itu juga yang harus dirubah dari kamu, Gib. Mulutmu itu, loh?
Dijaga sedikit bisa, tidak? Sembarangan saja kamu berbicara. Tidak ada rem,
tidak ada yang mengontrol. Tak tempeleng juga kamu. Mau?” ancam Pak Doktor
masih berusaha menceramahi.
Oh, aku baru ingat. Pulang nanti jadi nongkrong di warung stasiun, kan?
Aku lupa memeriksa ponsel semalam.
__ADS_1
Kira-kira mereka masih mau bermain di tingkat emas tidak, ya?